Home » » Bosan Di Bumi, Saatnya Plesir ke Ruang Angkasa

Bosan Di Bumi, Saatnya Plesir ke Ruang Angkasa



Jakarta -Luar angkasa sudah memesona manusia sejak ribuan tahun lalu. Bangsa Mesir, Yunani, maupun Romawi begitu terpana melihat langit dan terciptalah mitologi sampai astronomi. 

Di masa modern, luar angkasa masih menggugah rasa penasaran. Impian untuk menjelajah luar angkasa dituangkan dalam berbagai metode, mulai dari pengembangan pesawat ulang alik sampai film fiksi ilmiah seperti Star Trek.

Pendaratan manusia di bulan pada 1969 semakin membuka peluang manusia untuk bertualang ke langit luas. Sejumlah misi luar angkasa pun bermunculan, yang muncul baru-baru ini adalah Curiousity (robot tanpa awak) yang menjelajahi Mars.

Kini pergi ke luar angkasa bukan hanya untuk keperluan penelitian. Para miliuner yang mungkin sudah bosan berlibur keliling bumi mulai melirik luar angkasa sebagai destinasi pelesiran baru.

“Saya sudah pernah ke Kutub Selatan dan melihat bangkai Titanic di dasar laut. Jadi destinasi yang belum saya kunjungi adalah di atas, luar angkasa,” kata Richard Garriot, miliuner yang meraup fulus sebagai perancang video game.

Liburan luar angkasa (yang sering disebut space travel) kini menjadi industri yang berkembang cukup pesat. Sejumlah perusahaan pun bermunculan seperti: Virgin Galactic, RocketShip Tours, Space Adventures, MirCorp, dan Benson Space Company. 

Biasanya para “turis” akan dibawa ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (International Space Station/ISS). Memang hanya miliuner yang mampu pelesiran sampai ke luar angkasa. Soalnya, biasanya kelewat mahal.

Space Adventures, misalnya, menyediakan perjalanan ke ISS menggunakan pesawat Soyuz dengan harga US$ 20-40 juta (Rp 240 juta-480 miliar).

Hingga saat ini baru Federasi Luar Angkasa Rusia yang menyediakan transportasi untuk keperluan pariwisata galaktik. Pihak Rusia sebenarnya sudah mulai membatasi turis luar angkasa pada 2010, karena ISS mulai padat. Namun di lapangan, penerbangan ke luar angkasa tetap dilayani dengan frekuensi mencapai lima kali dalam setahun.

Turis pertama yang menginjakkan kaki di ISS adalah Denis Tito, seorang pengusaha asal Amerika Serikat. Pada 2001, Tito yang menggunakan jasa perusahaan Space Adventures tinggal di ISS selama sepekan. Tito dikabarkan harus membayar US$ 20 juta untuk perjalanan ini.

Sejumlah miliuner lainnya mengikuti jejak Tito bertualang ke luar angkasa. Di antaranya adalah Mark Shuttleworth (Afrika Selatan) pada 2002 dan Gregory Olsen (AS) pada 2005. Meskipun tidak ada angka resmi, tetapi Shuttleworth dan Olsen ditengarai mengeluarkan biaya sampai US$ 20 juta.

Dalam satu dekade ke depan, badan penerbangan AS atau Federal Aviation Adminisration (FAA) memperkirakan wisata luar angkasa akan menjadi industri bernilai miliaran dolar. Saat ini industri wisata luar angkasa masih dalam tahap menuju masa keemasannya.

“Saat ini mungkin bisa diibaratkan kita seperti masa-masa awal Wright bersaudara menciptakan pesawat terbang. Namun inilah gerbang menuju masa keemasan industri penerbangan,” tegas Mike Massee, juru bicara perusahaan pembuat pesawat luar angkasa XCOR Aerospace.

0 komentar:

Posting Komentar

Flag Country

free counters