2 Badai Matahari Menuju Bumi

2 Badai Matahari Menuju Bumi


Para pakar meramalkan sebagian komunikasi radio dan peralatan untuk mengetahui lokasi di Bumi atau GPS dapat terganggu.

Para ilmuwan di Dinas Ramalan Cuaca Antariksa Amerika disiagakan untuk dua badai matahari yang datang berturut-turut yang diperkirakan akan melanda Bumi dalam beberapa hari mendatang.

Para pakar mengatakan badai kuat demikian adalah biasa, tetapi dua badai berturut-turut adalah sangat jarang. Badai matahari terjadi karena ledakan-ledakan pada matahari melemparkan partikel-partikel matahari yang bermuatan magnet ke medan magnet Bumi.

Para pakar meramalkan sebagian komunikasi radio dan peralatan untuk mengetahui lokasi di Bumi atau GPS dapat terganggu.

Mereka mengatakan mereka tidak memperkirakan terputusnya penyaluran atau transmisi listrik di seluruh dunia, tetapi mereka mengatakan mereka akan mengawasi keadaan dengan seksama.

Ditemukan Bintang yang Lebih "Dahsyat" dari Matahari



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan sebuah bintang yang lebih berbahaya dari ledakan pijar matahari, yakni DG Canum Venaticorum atau DG CVn. Setidaknya, NASA mencatat ada sekitar 10.000 kali ledakan yang lebih kuat dari yang pernah ada.

Padahal, diketahui, pijaran matahari saja sudah mampu melumpuhkan energi serta sangat mengganggu sehingga dapat memengaruhi komunikasi di Bumi. Lalu apa yang terjadi dengan bumi jika bintang ini memiliki kekuatan ledakan lebih dari matahari?

NASA merilis, puncak ledakan DG CVn itu mencapai suhu 360 juta derajat fahrenheit atau setara dengan 200 juta celsius. Kekuatan tersebut mengalahkan pusat panas yang terdapat di matahari, sekitar 12 kali lebih panas.

"Ini peristiwa yang sangat kompleks. Kami dulu beripikir DG CVn ini tidak berlangsung lama tapi ternyata kami mencatat setidaknya ada tujuh kali letusan kuat selama sekitar dua minggu ini," kata Astrofisikawan Goddard Space Flight Center NASA, mengutip Daily Mail, Kamis, 2 Oktober 2014.

Meskipun kekuatan ledakannya lebih besar dari matahari, ukuran DG CVn ini malah lebih kecil dari matahari, hanya sekitar sepertiganya.

NASA mengaku kecolongan dengan keberadaan DG CVn ini. Mereka tak mengetahui secara detail apa yang terkandung di dalamnya.

"Sistem ini (DG CVn) kurang dipelajari karena tidak ada dalam daftar. Namun ternyata bintang ini mampu menghasilkan ledakan pijar yang begitu besar," ungkap Rachel Osten seorang astronom dari Space Telecope Science Institute.

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar bintang yang berada di tata surya ini berjarak sekitar 100 tahun cahaya dari tata surya. Para astronom memperkirakan DG CVn ini sudah berusia 30 juta tahun yang lalu, dimana umur tersebut sekitar kurang 0,7 persen dari usia tata surya.

NASA sendiri belum memutuskan apakah akan menyelidiki bintang tersebut, dengan meluncurkan instrumen lainnya seperti pesawat ulak alik, atau tidak.

NASA mencatat, ledakan pijaran terbesar yang terjadi pada matahari itu terjadi pada November 2003 yang dinilai sebagai X 45. Sedangkan, pada DG CVn, bila dilihat dari jarak planet yang sama dengan bumi dan matahari, akan menjadi 10.000 lebih besar, dengan kata lain sekitar X 100.000.

Namun, Osten mengatakan untuk 11 hari ke depan, ledakan pijaran yang berada di DG CVn itu akan berangsur-angsur melemah.

2 Badai Matahari Menuju Bumi



Para pakar meramalkan sebagian komunikasi radio dan peralatan untuk mengetahui lokasi di Bumi atau GPS dapat terganggu.


Para ilmuwan di Dinas Ramalan Cuaca Antariksa Amerika disiagakan untuk dua badai matahari yang datang berturut-turut yang diperkirakan akan melanda Bumi dalam beberapa hari mendatang.

Para pakar mengatakan badai kuat demikian adalah biasa, tetapi dua badai berturut-turut adalah sangat jarang. Badai matahari terjadi karena ledakan-ledakan pada matahari melemparkan partikel-partikel matahari yang bermuatan magnet ke medan magnet Bumi.

Para pakar meramalkan sebagian komunikasi radio dan peralatan untuk mengetahui lokasi di Bumi atau GPS dapat terganggu.

Mereka mengatakan mereka tidak memperkirakan terputusnya penyaluran atau transmisi listrik di seluruh dunia, tetapi mereka mengatakan mereka akan mengawasi keadaan dengan seksama.

Ledakan Misterius Bintang Ini Sejuta Kali Kilau Matahari



Ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berhasil menangkap citra ledakan salah satu bintang terbesar, V838 Monocerotis. Bintang ini merupakan bintang merah yang terletak di konstelasi Manoceros. 

Sebelum meledak, V838 telah tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar yang pernah diamati oleh para astronom. Kemampuan bintang ini disebutkan mampu menghasilkan cahaya 600 ribu kali lebih banyak dari matahari, Daily Mail, Senin 16 Juni 2014. 

Ledakan bintang yang direkam dari kumpulan data teleskop Hubble mulai 2002 hingga 2006 itu menunjukkan fenomena yang berbeda. Bila biasanya ledakan supernova--ledakan sebuah bintang dalam sebuah galaksi-- diikuti dengan lontaran material di antariksa, namun ledakan dari V838 tidak.

Alih-alih menghalangi pandangan, bintang V838 justru menampilkan kilau cahaya yang sangat terang, disebutkan satu juta kali lebih kilau matahari. Tak heran, saat meledak, V838 mampu menciptakan gema cahaya berkembang yang menerangi debu kosmik di sekitar bintang itu. 

Astronom mengaku sebelumnya belum pernah melihat ledakan seterang dan sekilau ledakan V838.

NASA menganalisis kedahsyatan cahaya dari kilau ledakan itu. Luas ledakan itu sampai di sekitar lapisan bintang besar itu. Struktur mirip pusaran air pada bintang V838, kemungkinan dihasilkan oleh efek medan magnet dalam ruang angkasa diantara bintang-bintang tersebut. 

Masih misterius

Sejauh ini ledakan bintang itu masih menyisakan misteri. Para ilmuwan tidak mengetahui apa yang menyebabkan bintang raksasa itu meledak. Ilmuwan awalnya memperkirakan ledakan adalah hasil dari supernova atau denyut panas dari bintang yang tengah sekarat. 

Namun asumsi itu telah dikesampingkan usai temuan bintang V838 yang diprediksi merupakan bintang muda. 

"Saat dikombinasikan dengan kilau tinggi dan perilaku ledakan yang tak biasa, karakteristik itu mengindikasikan binatang V838 mewakili jenis ledakan bintang yang belum diketahui," tulis laporan paper dari US NAVAL Observatory, University of Arizona dan Badan Antariksa Eropa (ESA). 

Paper kolaborasi itu menyatakan peneliti belum mendapatkan penjelasan fisik yang benar-benar memuaskan. 

Posisi V383 terletak sekitar 20 ribu tahun cahaya arah konstelasi Monoceros, sedangkan gema cahaya dalam gambar terletak berdiamater sekitar 6 tahun cahaya.

Ayo Amati, "Saudara Kandung" Matahari Tampak dari Indonesia Malam Ini




Beberapa hari lalu, astronom mengumumkan bahwa mereka telah menemukan bintang yang merupakan "saudara kandung" matahari. Bintang bernama HD 126826 itu berjarak 110 tahun cahaya atau 1,04 kuadriliun kilometer.


Astronom amatir, Ma'rufin Sudibyo, mengatakan, bintang tersebut bisa dilihat malam ini dan sepanjang bulan bisa dilihat dari Indonesia. "Bintang ini bisa dilihat dari Indonesia sejak sekitar pukul 9 malam hingga pagi hari, di langit sisi utara," katanya.



Ma'rufin mengungkapkan, ada tiga syarat utama agar warga Indonesia bisa melihat bintang ini. Syarat mutlaknya adalah memiliki atau menggunakan binokuler. Bintang ini terlalu redup untuk bisa dilihat dengan mata telanjang.



Syarat kedua, memilih tempat yang cukup gelap untuk pengamatan. "(Bintang ini) tidak bisa dilihat dari lingkungan urban atau kota, seperti kota-kota kecil, apalagi Jakarta," ujarnya saat dihubungi Kompas.com, Selasa (13/5/2014).



Tempat yang bisa dipilih adalah yang belum banyak mengalami polusi cahaya, misalnya pedesaan ataupun pantai-pantai yang belum banyak dikembangkan sebagai obyek wisata. Banyak pantai di wilayah selatan Jawa masih memungkinkan menjadi lokasi pengamatan.



Kepemilikan peta langit atau perangkat lunak astronomi seperti Stellarium dan Starry Night adalah syarat lain. Peta atau perangkat lunak itu akan membantu pengamat menentukan lokasi bintang.



HD 126826 atau disebut juga HIP 87382 dalam katalog bintang lain akan terlihat di langit utara. Tepatnya, bintang tersebut berada di sebelah kiri dari bintang Vega, bintang terang di rasi Lyra.



"Rasinya mudah dicari. Pada waktu tersebut, lihat saja ke langit utara, identifikasi selempang galaksi Bimasakti, lalu cari bintang terang di samping kirinya, itu bintang Vega. Nah, si HIP 87382 tidak jauh dari rasi itu," kata Ma'rufin.



HD 126826 sebenarnya bukan bintang baru. Namun, lewat pengukuran orbit serta analisis kimia dengan metode spektrometri, astronom baru mengetahui bahwa bintang itu lahir dari awan gas yang sama dengan matahari. 



Nama HD 126826 adalah nama dalam katalog bintang Henry Draper. Sementara itu, HIP 87282 adalah nama dalam katalog Hipparcos. Peta langit atau perangkat lunak astronomi biasa menggunakan salah satu dari dua nama tersebut.


Lubang Raksasa Tampak di Kutub Matahari




Wahana antariksa Solar and Heliospheric Observatory (SOHO) mendapati sebuah lubang raksasa di atmosfer matahari. Area gelap yang dikenal sebagai lubang korona ini mencakup hampir seperempat bagian matahari dan memuntahkan material dan gas ke ruang angkasa.

Lubang korona terlihat di bagian kutub utara matahari antara 13-18 Juli. Dalam video yang dirilis hari ini, Selasa, 30 Juli 2013, Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menyatakan lubang korona merupakan daerah yang lebih dingin ketimbang atmosfer matahari atau korona dan mengandung material surya yang kecil. 

Di area yang kosong ini, alih-alih kembali ke permukaan matahari, medan magnet matahari justru tercerabut keluar menjadi badai matahari. 

"Meski belum jelas penyebabnya, lubang korona berkorelasi ke area tempat medan magnet melambung dan terlepas," kata Karen Fox, ilmuwan NASA di Pusat Penerbangan Antariksa Goddard di Greenbelt, Amerika Serikat.

Fox menambahkan lubang korona mempengaruhi cuaca di ruang angkasa karena mengirimkan partikel matahari sekitar tiga kali lebih cepat daripada yang dilepaskan dari area lain pada atmosfer matahari.

Perubahan frekuensi kemunculan lubang korona bisa dibilang sesuai dengan siklus aktivitas matahari. Tahun ini matahari mencapai puncak aktivitasnya dalam 11 tahun, dikenal sebagai fase matahari maksimum. Di sekitar waktu puncak aktivitas inilah matahari membalikkan medan magnetnya. "Jumlah lubang korona biasanya menurun seiring perubahan medan magnet ini," ujar Fox.

Setelah pembalikan medan magnet, lubang korona akan kembali muncul di dekat kutub. Kemudian saat matahari mendekati aktivitas minimum lagi, lubang korona merayap lebih dekat ke khatulistiwa. Jumlah dan ukurannya lantas bertambah.

Wahana antariksa SOHO telah mengamati aktivitas matahari sejak diluncurkan tahun 1995. Wahana seharga US$ 1,27 miliar ini mengemban misi bersama antara NASA dan Badan Antariksa Eropa (ESA). SOHO mengamati matahari dari orbit Lagrange Point 1, daerah dengan gravitasi stabil antara bumi dan matahari, sekitar 1,5 juta kilometer dari bumi.


Mars, Bumi, dan Matahari Akan Segaris Besok





KOMPAS.com -- Fenomena astronomi menarik akan terjadi pada Selasa (8/4/2014). Bumi, Mars, dan Matahari akan berada dalam satu garis lurus.

Kesegarisan Bumi, Mars, dan Matahari itu disebut peristiwa oposisi. Fenomena ini terjadi setiap 778 hari, atau 2 tahun 1 bulan 18 hari.

Bumi memerlukan 365 hari untuk mengelilingi Matahari. Sementara Mars lebih lama, memakan waktu 687 hari.

Dalam proses mengelilingi, ada kalanya Bumi dan Mars akan tampak satu garis jika manusia melihat keseluruhan Tata Surya dari atas.

Diuraikan Space.com, Sabtu (5/4/2014), oposisi Mars akan diikuti dengan fenomena lain yang menarik. Enam hari sesudahnya, Mars akan lebih dekat dengan Bumi sehingga akan tampak sedikit lebih besar.

Ada dua macam oposisi Mars. Untuk mudahnya, bisa dikategorikan sebagai yang menguntungkan dan tidak. Pembagian itu berdasarkan jarak Mars dari Matahari.

Saat Mars mencapai titik terdekatnya dengan Matahari atau perihelion (sekitar 206 juta km), saat itulah oposisi dianggap menguntungkan karena jarak Mars lebih dekat dengan Bumi.

Oposisi yang menguntungkan ini pernah terjadi pada tahun 2003. Saat oposisi menguntungkan, berdasarkan gambar di atas, Mars berada di posisi pukul empat.

Posisi yang tidak menguntungkan terjadi ketika Mars berada di titik yang paling jauh dengan Matahari (aphelion).

Saat aphelion, Mars berada di jarak sekitar 249 juta km. Kondisi oposisi ini pernah terjadi pada Maret 2012.

Oposisi besok akan sedikit lebih baik daripada tahun 2012, lalu akan terus lebih baik hingga tahun 2018.

Saat Mars mendekati Bumi nanti, pada 14 April 2014, planet tersebut akan berjarak 92,4 juta kilometer.

Untuk mengilustrasikan perbedaannya, pada Maret 2012, jarak antara Mars dan Bumi adalah 100,9 juta kilometer. Sementara pada Agustus 2003 hanya 55,8 juta km. 

Bagaimanapun, pada tahun ini, seminggu ke depan akan menjadi momen terbaik untuk melihat Mars. Jadi, manakala langit cerah, lihatlah ke langit dan Mars.

Mars akan tampak sebagai titik merah di angkasa. Jika melihatnya, jangan lupa untuk memotretnya. Si planet merah bahkan bisa dipotret dengan kamera smartphone.

Gerhana Matahari Selasa Siang, Bagaimana Cara Mengamatinya?




KOMPAS.com -- Gerhana matahari sebagian pada Selasa (29/4/2014) besok merupakan fenomena astronomi menarik sekaligus menantang dalam pengamatannya.

Dalam perhitungan, ada sejumlah 62 kabupaten/kota di enam provinsi di Indonesia yang berpotensi untuk menyaksikannya. Namun, pengamatan tetap sulit.

Salah satu faktornya adalah magnitudo gerhana yang kecil. Magnitudo gerhana adalah persentase piringan matahari yang tertutup bulan saat terjadinya gerhana.

Di banyak wilayah di Jawa, magnitudo kurang dari 1 persen. Gerhana tak bisa diamati dengan peralatan yang sederhana.

Hanya di wilayah Nusa Tenggara Timur gerhana bisa diamati dengan perangkat yang lebih sederhana. Itu pun, magnitudo gerhana hanya 7,6 persen.

Lalu, bagaimana caranya agar bisa tetap mengamati gerhana besok? Teleskop canggih memang membantu, tetapi bagaimana jika tak semua orang punya?

Astronom amatir Ma'rufin Sudibyo mengatakan, gerhana matahari sebagian kali ini memang fenomena yang sulit diamati publik.

"Saya pribadi lebih menganjurkan untuk melihat streaming saja, jika menghendaki," katanya kepada Kompas.com, Senin (28/4/2014).

Meski demikian, bila ingin mengamati secara langsung, Ma'rufin menganjurkan untuk bergabung dengan komunitas astronomi terdekat.

Dengan bergabung, kesempatan mengamati lebih besar, demikian juga keamanannya. Pengamatan gerhana matahari harus ekstra hati-hati. Pengamatan tak bisa dilakukan dengan menatap matahari secara langsung.

Ma'rufin mengungkapkan, komunitas-komunitas astronomi di berbagai wilayah telah membuat jadwal pengamatan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Balai 3 akan menggelar pengamatan di Denpasar.

Jogja Astro Club akan menggelar pengamatan di Parangkusumo. Sementara komunitas Obervatorium As-Salam akan menggelar pengamatan di Pacitan.

Lajnah Falakiyyah Nahdlatul Ulama (NU) Jawa Timur bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama akan menggelar pengamatan di Jember.

BMKG Pusat bidang gravitasi dan tanda waktu bekerja sama dengan BMKG Kupang akan mengamati dari Kupang.

Pengamatan BMKG Pusat dan Kupang bisa disaksikan secaraonline dan real time di tautan berikut.

Komet ISON Hilang Dekat Matahari





Seorang pakar astrofisika yang melacak ISON memberitahu televisi NASA ia tidak melihat apapun datang dari belakang matahari.


Para pakar mengatakan perjalanan 5 juta tahun komet ISON dari tempat yang sangat jauh dalam tata surya tampaknya telah berakhir sebagai perjalanan satu arah mengitari matahari.

Para astronom mengatakan ISON dan ekornya yang panjang dan cerah melintas dengan jarak 1,2 juta kilometer dari permukaan matahari pukul 18.37 Kamis waktu Greenwich. Armada teleskop tidak menemukan jejak komet itu muncul dari balik matahari.

Pada titik terdekatnya dari matahari, ISON -- yang terbang dengan kecepatan 350 kilometer per detik – menghadapi suhu kira-kira 2.700 derajat Celsius. Para ilmuwan mengatakan suhu tersebut cukup panas untuk menguapkan es pada badan komet itu, serta debu dan batunya.

Seorang pakar astrofisika yang melacak ISON dari laboratorium penelitian Angkatan Laut Amerika di Washington memberitahu televisi NASA ia tidak melihat apapun datang dari belakang matahari.

Astronom amatir Rusia tahun lalu menemukan ISON ketika komet itu masih lebih jauh dari Jupiter. Penemuan itu menggemparkan para ilmuwan dan para peneropong bintang di seluruh dunia dengan kemungkinan dapat melihat pertunjukan sinar yang memukau di angkasa di atas Bumi mulai bulan depan.

1 Dari 4 Orang AS Yakin Matahari Bergerak Mengelilingi Bumi




Tak terbantahkan, soal kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan Amerika Serikat berada di depan. Negeri Paman Sam berhasil mengirimkan manusia ke Bulan. Bahkan bermimpi menjejakkan kaki ke permukaan Planet Mars pada tahun 2030-an.


Namun, warga Amerika Serikat ternyata tidak cerdas-cerdas amat soal sains. Hal ini ditunjukkan dalam sebuah survei yang dilakukan pada 2.200 responden.



Pertanyaannya: Apakah Bumi yang berputar mengelilingi Matahari atau sebaliknya, Matahari yang mengelilingi Bumi? 



Jawabannya, 1 dari 4 responden menjawab yang kedua. Demikian berdasarkan laporan terbaru yang dikeluarkan National Science Foundation yang Liputan6.com kutip dari ABC News, Senin (17/2/2014).



Survei yang dirilis Jumat lalu menguak kondisi mengkhawatirkan soal pendidikan sains di seluruh AS. "Banyak yang salah menjawab, bahkan untuk pertanyaan astronomi dan sains paling mendasar," demikian pernyataan National Science Foundation. 



Total ada 10 pertanyaan yang harus dijawab dalam survei. Skor rata-rata para responden hanya 6,5. Nyaris tak lulus.



Hanya 74 persen responden tahu bahwa Bumi berputar mengelilingi Matahari. Sementara, cuma 39 persen yang menjawab benar ketika ditanya, "Apakah alam semesta diawali sebuah letusan besar?" Sementara, hanya 48 persen yang tahu bahwa manusia modern, adalah hasil evolusi dari spesies sebelumnya.



Survei tersebut diselenggarakan pada 2012, namun hasilnya baru dipresentasikan Jumat pekan lalu dalam pertemuan tahunan American Association for the Advancement of Science di Chicago.



Heliosentris, teori bahwa Bumi dan planet-planet berputar di sekitar Matahari yang kedudukannya relatif tetap, diterima secara luas pada Abad ke-16 , ketika Nicolaus Copernicus memperkenalkan model astronomi alam semesta: Revolusi Copernicus.



Bumi Itu Bulat Atau Rata?



Lepas dari ketidaktahuan soal hal-hal dasar sains dalam survei terbaru, sejumlah orang memercayai hal yang berbeda dari teori tentang alam semesta. Atas dasar keyakinan.



Salah satunya, kelompok Flat Earth Society. Mereka luar biasa yakin, planet yang ditinggali manusia ini berbentuk datar, bukan bulat.



Ini yang jadi alasan mereka: saat berjalan di atasnya, permukaan planet ini tampak dan terasa datar. Oleh karena itulah mereka menepis semua bukti yang menunjukkan Bumi itu bulat, seperti halnya foto-foto Bumi dari luar angkasa. Menurut mereka, itu tak lebih dari rekayasa konspirasi pendukung bahwa bumi bulat yang diatur oleh Badan Antariksa AS (NASA) dan badan pemerintah lainnya. Sebuah konspirasi tingkat tinggi.



Seperti dikutip dari situs sains Life's Little Mysteries, foto-foto Bumi, kata mereka, diolah memakai photoshop. Peralatan GPS pun direkayasa.



Salah satu teori terkemuka mereka menyebut Bumi serupa piringan, di mana Lingkaran Arktik berada di pusatnya, sementara Antartika, sebuah dinding es setinggi 150 kaki atau 45,7 meter, berada di pinggirannya.



Mereka mengklaim, NASA mempekerjakan sejumlah orang untuk menjaga ketat dinding es ini, mencegah siapapun memanjatnya dan terjatuh dari piringan bumi.



Sementara siklus siang dan malam Bumi dijelaskan sebagai berikut: matahari dan bulan adalah benda berbentuk bulat berdiameter 51 kilometer, yang berputar di  ketinggian 4.828 kilometer di atas bumi yang datar. Seperti lampu sorot, bola-bola langit itu menerangi bagian yang berbeda dari planet dalam siklus 24 jam. Para pendukung teori ini juga yakin ada obyek tak terlihat  bernama "antimoon" (anti-bulan) yang bertanggung jawab mengaburkan bentuk bulan, menjadi bulan sabit misalnya.



Lebih jauh lagi, bagi mereka, gravitasi bumi tak lain tak bukan adalah ilusi. Daya tarik bumi, menurut mereka, tidak mempercepat benda ke bawah, namun piringan bumilah yang mempercepat gerak benda 9,8 meter per detik kuadrat, didorong oleh kekuatan yang dinamakan "energi gelap".



Sementara, apa yang ada di bawah piringan Bumi belum diketahui, mereka yang yakin bumi itu datar, menduga dasar bumi dibentuk dari batu.



Cara berpikir kelompok Flat Earth Society mengikuti cara pikir "Metode Zetetic", metode ilmiah alternatif yang berkembang pada abad ke-19.

Ziarah Penuh Risiko Komet ISON



KOMPAS.com - Satu juta tahun lalu, segumpal debu berlapis es bergerak dari Awan Oort di bagian luar Tata Surya menuju Matahari. Jumat (29/11/2013) dini hari, bongkah yang kini dinamakan Komet ISON itu akan mencapai jarak terdekatnya dengan Sang Penguasa Tata Surya. Ini adalah pertaruhan hidup mati komet, selamat dari cabikan Matahari atau tamat riwayatnya.

Jarak titik terdekat Komet ISON dengan permukaan Matahari hanya 1,2 juta kilometer. Titik balik perjalanan ISON akan dicapai pada Kamis (28/11/2013) pukul 18.38 waktu universal atau Jumat (29/11/2013) pukul 01.38 WIB. Makin dekat dengan Matahari, komet akan semakin cerlang. Namun, jarak yang terlalu dekat dengan Matahari membuat komet itu sulit diamati dengan teleskop optik landas Bumi.

Jika selamat dari gravitasi dan radiasi Matahari, tidak habis menguap, ISON bisa meneruskan perjalanan pulang. Dalam perjalanan balik itu, ISON akan menyajikan atraksi yang menarik di langit subuh di belahan Bumi utara.

”Nasib komet ketika berada di titik terdekat Matahari yang ditunggu-tunggu para astronom,” kata peneliti astronomi dan astrofisika Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Emanuel Sungging Mumpuni, Selasa (26/11/2013). ISON adalah jenis komet yang lintasannya sangat dekat dengan Matahari dan baru pertama kali diamati warga Bumi.

Kehadiran komet sebenarnya bukanlah hal istimewa. Setiap dekade, banyak komet masuk bagian dalam Tata Surya untuk mengitari Matahari. Saat ini, setidaknya ada tiga komet selain ISON yang bisa disaksikan dari Bumi, yaitu Komet Lovejoy, LINEAR, dan Encke.

Hal yang membuat istimewa Komet ISON adalah ia termasuk salah satu dari sedikit komet yang melintasi korona Matahari. Korona adalah plasma yang mengitari Matahari dan terbentang hingga jutaan kilometer dari permukaan Matahari. Korona terlihat jelas saat terjadi Gerhana Matahari Total.

Hingga kini tidak diketahui pasti dampak gravitasi dan radiasi Matahari terhadap komet. Peneliti Observatorium Lowell, Arizona, Amerika Serikat, Matthew Knight, memaparkan tiga kemungkinan atas nasib ISON.

Skenario pertama, ISON akan bernasib seperti Komet Lovejoy yang terakhir mendekati Matahari pada 2011. Tarikan gravitasi Matahari akan membuat inti komet melar dan meledak ketika melewati korona Matahari. Ledakan akan terjadi jika diameter inti komet kurang dari 2 kilometer. Persoalannya, diameter inti Komet ISON saat ini tepat 2 kilometer.

Kemungkinan kedua, takdir ISON akan seperti Komet Encke. Panas Matahari akan membuat es dan gas ISON menguap hingga komet kehilangan sebagian besar materinya. Walau ini perjalanan pertama ISON menghampiri Matahari, potensi berkurangnya sebagian besar materi komet tetap ada.

Skenario ketiga, ISON akan seperti Komet Ikeya-Seki yang terakhir mendekati Matahari pada 1965. Panas Matahari akan menimbulkan gas pada inti komet sehingga saat komet keluar dari korona Matahari akan menghasilkan ekor komet yang sangat lebar sehingga menghasilkan pemandangan langit yang menakjubkan.

ISON ditemukan oleh Vitali Nevski dan Artyom Novichonok dari Rusia pada 21 September 2012 dalam program International Scientific Optical Network (ISON). Sejak saat itu, astronom seluruh dunia, baik profesional maupun amatir, gencar mengampanyekan observasi ISON. Sejumlah teleskop antariksa pun dikerahkan.

Pengamatan ISON penting karena para ahli meyakini komet yang berasal dari Awan Oort menyimpan material sisa pembentukan Tata Surya pada 4,6 miliar tahun lalu. Awan Oort juga diyakini mengandung zat kimia tertentu yang memicu kehidupan di Bumi kini.

Selain itu, kata Sungging, interaksi komet dengan atmosfer Matahari dapat membantu ilmuwan makin memahami karakter Matahari. ”Kehadiran ISON bisa digunakan ilmuwan untuk memvalidasi pengetahuan tentang Matahari,” ujarnya.

Pengamatan

Ketua Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Muhammad Rayhan mengatakan, waktu terbaik mengamati ISON di Jakarta dan kota-kota lain di selatan khatulistiwa adalah 20-23 November lalu. Saat itu, komet terlihat sekitar pukul 04.30 WIB, sesaat sebelum Matahari terbit.

Beberapa hari sebelum dan sesudah mencapai titik terdekat dengan Matahari, ISON akan sulit diamati.

Komet dapat diamati kembali pada pekan pertama Desember. Namun, pendeknya waktu antara terbitnya komet dan terbitnya Matahari membuat pengamat tak leluasa mengamati ISON. Belum lagi, posisinya masih terlalu rendah di dekat horizon sehingga untuk melihatnya butuh pandangan lepas ke langit timur.

Karena itu, waktu pengamatan terbaik komet ISON berikutnya adalah pertengahan Desember hingga awal tahun depan.

Setelah melewati Matahari, komet mudah disaksikan di belahan Bumi utara. Namun, penduduk Bumi selatan masih bisa menyaksikan ekor komet. Posisi Indonesia di khatulistiwa membuat hambatan itu tak berarti.

Rayhan mengingatkan, meski secara teoretis ISON masih bisa diamati dengan mata telanjang menjelang ia mencapai titik terdekatnya dengan Bumi, kondisi lapangan sangat menentukan. Pengamatan ISON membutuhkan langit subuh yang bersih dari awan, apalagi hujan. Cahaya kota juga akan mengurangi kemampuan mata melihat komet sehingga harus dibantu dengan teleskop atau binokuler.

Bintang yang ukuranya 1.500 lebih besar daripada matahari


Mungkin waktu di sekolah kita diajarkan bahwa matahari merupakan benda terbesar di galaksi kita bagaimana tidak dengan ukuranya yang 109 kali lebih besar daripada bumi tak ada yang meragukan hal tersebut, tapi itu semua akan berubah setelah anda membaca artikel ini sebab NASA baru saja menemukan sebuah bintang yang 5 kali lebih besar dan lebih cerah daripada matahari, bintang tersebut diberi nama VY Canis Majoris. Bagaimana mungkin?


Bintang ini juga disebut red hypergiant karena bukan hanya diameternya yg mencapai 1.7 miliar mil tapi juga bintang ini juga memancarkan cahaya yang jutaan kali lebih terang daripada matahari tapi dengan jaraknya yg mencapai 4,900 juta cahaya membuat bintang tersebut sulit diteliti, tapi setidaknya kita memiliki waktu 100,000 tahun sebelum bintang tersebut meledak dan menghancurkan kita.

Sumber

 http://wahw33d.blogspot.com/2012/06/5-hal-baru-yang-ditemukan-di-luar.html#ixzz2OQCaczAA

Matahari mendekat?




TIDAK BENAR APRIL MATAHARI SEMAKIN MENDEKAT

Ada dua teman mengkonfirmasi hal yang sama. Seseorang menyebarkan SMS yang tidak jelas sumbernya. Isinya kira-kira, "Dikabarkan besok terjadi kondisi di mana jarak matahari-bumi semakin dekat. Kemungkinan besar radiasinya dapat merusak kulit, terjadi antara jam 8 – 16. Jangan pakai pakaian hitam, sebab penyerapan energi matahari dapat merusak kulit hanya dalam 5 menit."

Informasi tersebut jelas menyesatkan. Orbit bumi mengitari matahari yang sedikit lonjong menyebabkan bumi mendekat dan menjauh dari matahari secara teratur. Jarak terdekat bumi – matahari (147 juta km) terjadi setiap awal Januari. Dan jarak terjauhnya (152 juta km) terjadi setiap awal Juli. Jadi, bulan April tidak ada fenomena jarak bumi-matahari makin dekat. Dengan demikian informasi lainnya juga tidak benar. Kalau pun bumi berada pada jarak terdekat dengan matahari, radiasinya tidak signifikan variasinya. Jadi tidak ada dampak apa pun.

Mungkin ada yang mengaitkan dengan perasaan lebih panas sekitar Maret-April. Fenomena lebih panasnya suhu udara di sebagian besar kota di Indonesia pada Maret-April, tidak terkait dengan jarak bumi – matahari. Data suhu rata-rata di beberapa kota memang menunjukkan dua puncak sekitar Maret-April dan juga September-Oktober. Hal itu terjadi karena faktor  peralihan angin pada musim pancaroba. Di Indonesia angin Monsun Australia (Juni-Juli-Agustus) yang kering membawa udara dingin dari arah Selatan yang sedang musim dingin, sehingga cenderung saat kemarau relatif lebih sejuk. Demikian juga saat angin Monsun Asia (Desember-Januari-Februari) yang basah membawa udara dingin dari arah Utara yang sedang musim dingin, sehingga musim hujan juga relatif dingin. Saat musim peralihan (Maret-April-Mei dan September-Oktober-November) angin cenderung lemah (kecuali angin lokal saat terjadi puting beliung) dan bersifat lokal, sehingga tidak ada efek pendinginan. Radiasi panas (inframerah) dari permukaan yang terpanasi relatif tidak tersebar. Efek pulau panas perkotaan makin terasa pada musim peralihan ini.

Jenis-jenis benda angkasa yang mengeliligi Matahari





IAU secara umum mengelompokkan benda angkasa yang mengeliligi Matahari  menjadi tiga (Kartunnen, 2007) yaitu: 

• Planet 
Sebuah benda langit dikatakan planet jika memenuhi kriteria sebagai berikut: 
i.  mengorbit Matahari 
ii. bentuk fisiknyanya cenderung bulat 
iii.  orbitnya bersih dari keberadaan benda angkasa lain 


• Planet-Kerdil 
Sebuah benda langit dikatakan sebagai planet-kerdil jika: 
i.  mengorbit Matahari 
ii. bentuk fisiknya cenderung bulat 
iii. orbitnya belum bersih dari keberadaan benda angkasa lain 
iv.  bukan merupakan satelit i.

• Benda-benda Tata Surya Kecil (Small Solar System Bodies) 
Seluruh benda angkasa lain yang mengelilingi Matahari selain planet atau 
planet-kerdil. Benda-benda Tata Surya Kecil tersebut di antaranya adalah 
komet, asteroid, objek-objek trans-neptunian, serta benda-benda kecil 
lainnya.  

Sistem Tata Surya Baru: Planet Empat Matahari


Wahana teleskop antariksa Spitzer menemukan sistem Tata Surya dengan empat bintang induk di Rasi TW Hydrae, yang berjarak sekitar 150 tahun cahaya. Kedua pasang bintang gandanya saling  mengitari satu terhadap yang lainnya bak pasangan penari balet. 

Penulis: Ninok Leksono/Angkasa

Selain tertarik terhadap obyek-obyek langit yang amat jauh, terkait dengan bidang kosmologi, para astronom tampaknya terus punya perhatian besar terhadap Tata Surya - Sistem di mana planetplanet termasuk Bumi berevolusi mengelilingi Matahari. Tata Surya yang kini telah berumur sekitar lima miliar tahun rupanya masih banyak menyimpan misteri yang masih perlu untuk dieksplorasi.

Oleh sebab itu misi tak berawak pun terus dikirim untuk mendapatkan informasi baru mengenai keplanetan dan komponen-komponen Tata Surya lainnya. Antara lain, ini diwujudkan dengan pengiriman misi New Horizon ke Planet Pluto Januari 2006.

Sementara penyelidikan terus dilakukan untuk planet-planet di Tata Surya, berbagai penemuan baru juga terus bermunculan dalam penyelidikan planet di luar Tata Surya, atau yang lebih dikenal sebagai eksoplanet. 

Salah satu planet ini - Gliese 581 - disebut sebagai Bumi Super (ukuran besar), karena berbagai parameternya memperlihatkan planet ini layak huni.

Matahari banyak

Dalam tulisannya di Kompas (8 Desember 2006) alumnus astronomi Taufiq menyinggung tata surya dengan matahari lebih dari satu. Salah satu contohnya adalah tata-surya dengan tiga bintang seperti yang ada pada bintang HD188753 yang berada di Rasi Angsa (Cygnus). Pada sistem yang berjarak 149 tahun cahaya (1 tahun cahaya = 9.500 miliar km), bintang utama dikitari oleh dua bintang lain berukuran lebih kecil. Di luar itu masih ada sebuah planet gas berukuran lebih besar dari Yupiter mengorbit lebih dekat ke bintang induk dengan periode orbit 3,5 hari.

Pada sistem yang lain, ada pula planet yang ditemukan pada bintang ganda. Misalnya saja bintang ganda Gamma Cephei. Bintang utamanya yang bermassa 1,6 massa Matahari punya sebuah planet dengan massa 1,76 kali Yupiter yang mengorbit sejauh jarak Matahari-Mars (1,5 AU (Astronomical Unit) 1 AU = 150 juta km), dan punya bintang partner yang berukuran lebih kecil pada jarak sejauh Matahari-Uranus (19,2 AU).

Belum lama ini wahana teleskop antariksa Spitzer menemukan sistem yang memiliki empat bintang induk seperti tampak dalam ilustrasi pendamping tulisan ini.

Spitzer dengan peralatan inframerahnya telah diarahkan untuk meneliti piringan debu yang mengelilingi sistem empat bintang HD 98800. Piringan debu tersebut dipercayai bisa melahirkan planet. Dan memang dengan mengamati piringan di sistem bintang ini para astronom mendapati piringan tersebut tidak rata kontinu, tetapi sudah memperlihatkan celah yang seperti menyiratkan adanya planet yang sudah terbentuk.

Planet berperilaku seperti pembersih vakum kosmik. Ia menyerap semua kotoran yang ada di jalur lintasannya, ujar Elise Furlan dari Institut Astrobiologi di Universitas California di Los Angeles seperti diberitakan situs PhysOrg.com. Furlan merupakan penulis utama laporan yang disetujui penerbitannya oleh The Astrophysical Journal. 

HD 98800 diperkirakan berumur 10 juta tahun, dan berada di Rasi TW Hydrae yang berjarak 150 tahun cahaya. Sebelum diteliti oleh Spitzer, astronom telah memiliki sejumlah informasi mengenai bintang ini dari pengamatan teleskop darat. Mereka sudah mengetahui, bahwa sistem ini punyaempat bintang, dan keempat bintang yang ada berpasang-pasangan dalam sistem dua bintang (doublet, atau binary). 

Bintang-bintang dalam sistem bintang ganda mengorbit satu terhadap yang lain, demikian pula dua pasang bintang ganda tersebut juga saling mengitari satu terhadap yang lain sebagaimana pasanganpasangan penari balet. Salah satu pasangan bintang - yang disebut HD 98800B - memiliki piringan debu di sekelilingnnya, sementara pasangan satunya tidak.

Seperti dilaporkan oleh NASA, keempat bintang saling terikat oleh gravitasi dan jarak antara kedua pasang bintang tersebut adalah sekitar 50 AU, atau sedikit lebih jauh dibandingkan jarak Matahari - Pluto yang sekitar 40 AU. Karena masih terkendala teknologi, maka para astronom sebelum ini tidak dapat menyelidiki piringan debu di sekitar pasangan bintang HD98800B dengan detil. 

Jasa Spitzer

Dengan teleskop Spitzer lah akhirnya astronom bisa melihat piringan tersebut dengan rinci. Dengan menggunakan spektrometer inframerah, tim Furlan bisa mendeteksi adanya dua sabuk dalam piringan debu yang terbuat dari butir debu berukuran besar. Satu sabuk berada sekitar 5,9AU dari bintang ganda HD98800B, atau pada jarak sekitar Matahari - Yupiter. Sabuk ini kemungkinan besar tersusun dari asteroid atau komet.

Sementara sabuk lain ada pada jarak 1,5 AU sampai 2,5AU, sebanding dengan letak planet Mars dan asteroid, dan kemungkinan besar tersusun dari bulir halus. Umumnya kalau ada ruang kosong (gap) di piringan debu, astronom lalu bercuriga ada sebuah planet yang telah mengosongkan lintasan tersebut. Hanya saja, astronom belum terlalu yakin mengenai adanya planet di sistem HD 98800B.

Para astronom mempercayai, bahwa planet-planet terbentuk dalam kurun jutaan tahun, setelah butir debu kecil saling bergabung membentuk benda lebih besar. Dalam kasus tertentu, batuan-batuan kosmik saling bertumbukan untuk membentuk planet batuan seperti Bumi, sedang dalam kasus lain membentuk planet gas seperti Yupiter. Sementara itu, batuan-batuan besar yang tidak membentuk planet menjadi asteroid dan komet.

Ketika struktur-struktur batu tersebut bertumbukan dengan dahsyat, serpihan debu terlontar ke angkasa, dan ini terlihat oleh mata inframerah Spitzer yang sangat sensitif.

Menurut Furlan, debu yang ditimbulkan oleh tumbukan obyek-obyek berbatu di sabuk luar semestinya akan pindah ke piringan debu di dalam. Hanya saja dalam kasus HD98800B, partikel debu tidak mengisi piringan dalam seperti diharapkan. Boleh jadi hal ini disebabkan oleh adanya planet atau oleh pasangan bintang lain yang tidak punya piringan debu tapi gravitasinya mempengaruhi gerakan partikel debu.

Karena bintang-bintang muda banyak yang berkembang menjadi sistem majemuk, maka para astronom perlu menyadari, bahwa evolusi piringan debu di sekitar bintang-bintang muda tipe itu dan pembentukan sistem keplanetan yang ada bisa jauh lebih rumit dibandingkan sistem bintang tunggal seperti Tata Surya kita, tambah Furlan. Tapi di luar kerumitan memperhitungkan proses kelahiran tata surya semacam itu, membayangkanhidup di sebuah planet dengan matahari empat melahirkan sensasi tersendiri. 

sumber : http://visitazwar.tripod.com/sitebuildercontent/sitebuilderfiles/planetbaru.pdf

Flag Country

free counters