Jepang Kirim Robot untuk Ledakkan Asteroid

Jepang Kirim Robot untuk Ledakkan Asteroid


Setelah terkendala masalah cuaca, Badan Penjelajah Antariksa Jepang (JAXA), akhirnya berhasil meluncurkan robot ruang angkasa generasi kedua, Hayabusa 2, untuk mendarat di permukaan asteroid.

Peluncuran tersebut telah dilakukan JAXA di Tanegashima Space Center. Itu terletak di selatan negara Jepang. Dalam, peluncuran itu tidak ada kendala yang berarti sampai Hayabusa mampu menembus atmosfer dan memulai perjalanannya selama enam tahun.

Dilansir, Channel News Asia, Kamis 4 Desember 2014, badan antariksa negeri "Matahari Terbit" itu akan mengambil sampel dari asteroid 1999JU3. Asteroid tersebut menjadi target untuk menemukan jawaban tentang awal kehidupan dan alam semesta.

Meski misinya hampir sama dengan Philae yang menargetkan pendaratan di asteroid 67P/CG, Hayabusa 2 tidak akan mendarat di asteroid yang dtargetkan. Robot itu dilengkapi dengan sebuah alat yang dapat meledakkan asteroid, sehingga ketika puing-puingnya bertebaran, Hayabusa akan mengumpulkan puing tersebut dan dijadikan sampel batu ruang angkasa untuk dibawa kembali ke Bumi.

"Jika mampu membawa kembali materi (asteroid), dengan cara kami, maka kami menyebutnya sukses," ungkap Akitaka Kishi, Wakil Manajer Lunar and Planetary Eksploration Program.

Kishi melanjutkan, sampel berupa batu-batu dan pasir, hasil pengambilan Hayabusa 2, akan ditindaklanjuti dengan analisis temuan tersebut.

"Untuk umat manusia, ini akan menjadi temuan baru yang mungkin bisa berarti penemuan baru bagi manusia. Membawa kembali materi merupakan salah satu tujuan, tetapi hasil penelitian dari temuan tersebut adalah masa depan," papar Kishi.

Hayabusa, yang disebut sebagai misi yang menghabiskan dana senilai US$260 juta ini, diperkirakan mencapai asteroid pada pertengahan 2018. Di sana, robot tersebut akan menghabiskan waktu selama 18 bulan untuk menjelajah asteroid 1999JU3 yang berada dekat dengan Bumi.

Bila sudah menyelesaikan misinya, Hayabusa 2 akan kembali ke Bumi pada akhir 2020.

Sebelumnya, JAXA telah sukses meluncurkan robotik Hayabusa generasi pertama pada 2003 dan mendarat di asteroid Itokawa. Namun, sayangnya saat itu terkendala masalah teknis, sehingga ilmuwan kehilangan komunikasi dengan Hayabusa.

Asteroid Seukuran Gunung Mengintai Bumi

Asteroid Seukuran Gunung Mengintai Bumi


Bumi kembali harus waspada dengan adanya temuan asteroid raksasa. Seorang ilmuwan Moscow State University, Rusia, Vladimir Lipunov, mengaku menemukan asteroid seukuran gunung yang melewati orbit bumi dalam periode tiga tahunan.

Untungnya, asteroid dengan ukuran 400 meter itu diprediksi tak akan menghantam ke permukaan bumi dalam waktu dekat, melansir Daily Mail, Rabu 10 Desember 2014.

Jika itu menghantam permukaan bumi, akibatnya bisa fatal. Ilmuwan memperkirakan, kekuatan asteroid yang bernama 2014 UR116 itu seribu kali dari kekuatan meteor yang menembus atmosfer bumi di Chelyabinsk, Rusia pada 2013 lalu.

Meteor seukuran bus di Rusia saja, saat itu melukai 1.600 orang di wilayah tersebut. Hantaman asteroid 2014 UR116 juga diperkirakan 20 kali dari bom atom Hiroshima, Jepang.

Namun demikian, meski diprediksi tak membahayakan bumi, tetapi Lipunov meminta para astronom untuk senantiasa mewaspadai asteoid yang ditemukan 27 Oktober 2014 dari MASTER-II observatory di Kislovodsk, Russia. Sebab, lintasan asteroid 2014 UR116 sulit dikalkulasi, mengingat secara konstan berubah oleh tarikan gravitasi planet lain. 

"Kita butuh secara permanen melacak asteroid ini, sebab kesalahan kecil mengalkulasi dapat menyebabkan konsekuensi serius," kata dia mengingatkan. 

Lipunov menambahkan, jalur pasti asteroid ini tak mungkin ditentukan, tetapi secara teori batu antariksa itu bisa saja menghantam Bumi, Mars, dan Venus. 

Sementara itu, Badan Antariksa Nasional AS (NASA) turut angkat bicara. NASA mengatakan asteroid itu tak akan menabrak bumi. 

"Asteroid itu memiliki periode orbit tiga tahun di sekitar matahari dan secara periodik kembali ke tetangga bumi. Ini tak mewakili sebuah ancaman, sebab jalur orbitnya tak cukup dekat dengan orbit bumi," ujar NASA. 

Namun, ilmuwan Tim Spahr, Direktur Pusat Planet Kecil dari Cambridge Massachusetts memperkirakan. asteroid ini akan menjadi ancaman bagi bumi setidaknya dalam 150 tahun ke depan. 

Prediksi itu disampaikan, setelah Spahr memasukkkan simulas asterodi 2014 UR116 dalam skenario komputasi di kantor program Objek Dekat Bumi NASA di Jet Propulsion Laboratory, AS.

Astronom memperkirakan, setidaknya ada 100 ribu objek dekat bumi yang bisa melintasi orbit bumi dan masuk dalam kategori objek besar yang berbahaya. Namun, dari jumlah itu, sejauh ini hanya 11 ribu saja yang telah terlacak dan terkatalogkan. 

Untuk itu, para astronom gencar menyerukan upaya negara dunia untuk mengantisipasi bahaya dari batu antariksa di masa depan. 

Setidaknya, belum lama ini 100 ilmuwan mendeklarasikan gerakan 100X Asteroid Deklarasi itu untuk menyerukan kepedulian dunia, menemukan teknologi menangkal asteroid. Di antara iniasitor gerakan tersebut, yaitu tokoh astronom asal Inggris, Royal Lord Martin Rees, pakar biologi evolusii Richard Dawkins sampai astronom Kanada, Chris Hadfield dan presenter TV, Brian Cox.

Ilmuwan Desak Negara di Dunia Ciptakan Pendeteksi Asteroid

Ilmuwan Desak Negara di Dunia Ciptakan Pendeteksi Asteroid


Para ilmuwan percaya asteroid merupakan ancaman terbesar yang mampu memusnahkan bumi serta kehidupan di dalamnya. Mereka mendesak pemerintah dunia untuk segera melakukan langkah antisipasi.

Sebanyak lebih dari 100 ilmuwan menyatukan pendapat mendesak pemerintah dunia, khususnya Inggris, untuk membuat sistem pendeteksi asteroid berbahaya. Jika tidak dilakukan maka mereka sangat yakin akan terjadinya kiamat dalam waktu dekat. Demikian dilansir dari Telegraph, 5 Desember 2014.

Para ilmuwan tersebut termasuk astronom Inggris, Lord Martin Ress, bersama Brian Cox, dan Richard Dawkins. Untuk mengutarakan desakan tersebut, mereka akan menggelar perhelatan di museum sains London. Nantinya, Lord Rees akan membacakan deklarasi berisi 'rencana untuk memecahkan tantangan terbesar manusia guna melindungi keluarga dan kualitas hidup di bumi di masa depan'.

Dalam deklarasi itu juga tertulis permintaan kepada pemerintah untuk duduk bersama memanfaatkan teknologi yang ada. Pemanfaatan ini guna melacak asteroid terdekat dengan bumi.

Selain itu mereka juga akan menetapkan tanggal 30 Juni 2015 sebagai Hari Asteroid Dunia. Itu sesuai dengan tanggal jatuhnya asteroid di Tunguska, Siberia, yang menghancurkan wilayah seluas 800 mil persegi pada 1908.

"Saat ini kita hanya menemukan kurang dari satu persen objek berbahaya yang mengancam bumi. Ini belum seberapa dibanding yang pernah jatuh di Tunguska. Ke depannya, kita tidak tahu kapan dan sebesar apa benda lain yang akan mampu menabrak bumi," ujar Dr Brian May, astrofisikawan yang juga pernah dikenal sebagai gitaris Queen.

Ditambahkan mantan astronaut yang telah 3 kali bolak balik ISS, Dr Ed Lu, dunia sebenarnya memiliki teknologi untuk memprediksi asteroid pengancam bumi. Namun butuh kerja keras dan waktu yang lama untuk menelitinya. Oleh karena itu seluruh pembuat keputusan di dunia harus bersatu mewujudkan sistem ini.

"Sekarang kita harus mencari cara untuk melakukannya. Hanya inilah bencana alam yang bisa kita ketahui cara untuk mencegahnya," ujar Lu.

Deklarasi yang akan dibacakan Lord Rees ini telah ditandatangani oleh ratusan ilmuwan, fisikawan, seniman, astronot dan pengusaha dari 30 negara di dunia. Di antaranya ada juga 38 astronaut dan kosmonaut termasuk Helen Sharman, Tom Jones, Ed Lu dan Rusty Schweickart. Ilmuwan yang turut serta juga ada Anousheh Ansari, Kip Thorne, dan Stewart Brand.

NASA Gagal Temukan Asteroid Berbahaya Dekat Bumi

NASA Gagal Temukan Asteroid Berbahaya Dekat Bumi


NASA telah ditugaskan Kongres untuk menemukan 90 persen obyek dekat Bumi yang secara potensial berbahaya dan sejauh ini hanya menemukan 10 persen.

Pejabat badan antariksa Amerika Serikat (NASA) bahwa lembaga itu telah gagal melaksanakan misi yang ditugaskan Kongres untuk mencari 90 persen asteroid yang potensial berbahaya dan terbang dekat Bumi.

Inspektur jenderal NASA, Paul Martin, pada Senin (15/9) mengkritik program Obyek Dekat Bumi NASA sebagai kurang memiliki staf dan dikelola dengan buruk. 

Dalam laporannya, ia mengatakan program itu sejauh ini menemukan hanya 10 persen dari asteroid dan obyek-obyek lain yang lebih besar dari 140 meter terbang di dalam wilayah berjarak 45 juta kilometer dari Bumi.

Program ini bertugas menemukan 90 persen dari obyek-obyek ini. Laporan inspektur jenderal tersebut mengatakan program itu sepertinya akan melewati tenggat 2020.

Sebagian besat obyek dekat Bumi secara tidak berbahaya hancur sebelum menghantam planet ini.

Namun sebuah asteroid yang relatif kecil meledak di atas Chelyabinsk di utara Rusia tahun lalu dengan kekuatan 30 bom atom. Lebih dari 1.000 orang terluka akibat pecahan benda yang beterbangan.

"Riset baru-baru ini menunjukkan bahwa peristiwa sejenis Chelyabinsk dapat terjadi setiap 30 sampai 40 tahun," ujar Kantor Inspektur Jenderal, menambahkan bahwa sebagian besar dampaknya akan terjadi di laut dibandingkan di wilayah-wilayah berpenduduk.

Para ahli sejarah yakin benda selebar 10 kilometer menghantam Bumi sekitar 66 juta tahun yang lalu di wilayah yang kini merupakan Meksiko, menewaskan hampir seluruh kehidupan di planet ini dan menyebabkan dinosaurus punah.

Sejak 1998, NASA telah menghabiskan sekitar US$100 juta untuk program-program untuk menemukan, mengevaluasi dan menanggulangi ancaman potensial dari benda antariksa.

Laporan tersebut membuat lima rekomendasi untuk meningkatkan upaya pendeteksian asteroid NASA, termasuk menambah setidaknya empat sampai enam pegawai untuk membantu mengelola program dan mengkoordinasi proyek-proyek dengan badan AS dan internasional dan dengan inisiatif-inisiatif yang didanai swasta.

Wakil Direktur NASA untuk bidang sains, John Grunsfeld mengatakan dalam surat kepada Martin bahwa ia berharap program Obyek Dekat Bumi (NEO) yang baru akan mulai bekerja pada 1 September 2015.

Begini Dampaknya Jika Asteroid Hantam Bumi




Sebuah batu meteor kecil menghantam wilayah di Nicaragua. Meski kecil, meteor itu bisa membuat lubang kawah berukuran 20 meter. Meteor itu dipercaya berasal dari serpihan Asteroid RC 2014 yang melintas dekat dengan bumi. Jika meteor kecil saja bisa membuat lubang besar, bagaimana jika asteroid induknya yang menghantam bumi?

Sebuah proyek bernama The Killer Asteroid dibuat oleh National Science Foundation di Washington bersama dengan NASA. Proyek itu bisa mendemonstrasikan efek dan kekuatan ledakan, serta seberapa besar kerusakan yang terjadi saat asteroid menghantam bumi.

Dengan menggunakan plugin Google Earth, kalkulator Asteroid itu memungkinkan pengguna memilih jenis penghancur bumi, baik komet maupun asteroid, berikut dengan pilihan ukuran, mulai dari kecil, medium hingga besar. "Kalkulator" itu akan memprediksikan ledakan dan dampak kerusakan sesuai dengan ukuran benda langit yang dipilih.

Untuk memudahkan pengenalan secara umum, proyek ini menamakan asteroid-asteroid itu sesuai dengan ukuran. Asteroid kecil disamakan dengan ukuran sebesar bus dengan lebar sekitar 2,4 meter dan terbuat dari baja. Sedangkan ukuran medium disamakan dengan tiga kali ukuran lapangan bola dengan lebar 329 meter. Untuk asteroid ukuran lebar berukuran 1.931 meter dengan kecepatan 20 kilometer per detik.

Dalam simulasi itu juga ada komet es kecil dengan ukuran 109 meter dan berjalan 50 kilometer per detik. Komet ukuran medium, yang juga terbuat dari es dan bergerak 50 kilometer per detik, memiliki lebar 965 meter. Sedangkan komet es besar dalam proyek itu berukuran lebar 9.656 meter.

Dilansir melalui Daily Mail, Rabu, 10 September 2014, pengguna bisa memilih satu di antara asteroid atau komet tersebut. setelah itu tentukan sendiri lokasi perhentian benda luar angkasa itu secara sembarang. Usai memilih lokasi pendaratan, tekan tombol "Go" maka sebuah animasi akan menampilkan simulasi ledakan dan dampak yang ditimbulkan dari hantaman asteroid.

Estimasi asteroid RC 2014 hantam bumi

Sebagai contoh, jika ada komet besar yang menghantam wilayah Atlanta maka akan banyak serpihan yang terlempar di udara dan cukup membuat langit di wilayah itu gelap. Peta ini juga menunjukkan bila komet besar bisa membuat kepunahan di bumi. Komet inilah yang telah memusnahkan dinosaurus. Untungnya, fenomena ini hanya terjadi miliaran tahun sekali.

Simulasi lain, dengan menggunakan asteroid kecil yang menghantam London, memunculkan kawah seukuran taman Saint James di wilayah barat dan sekitarnya.

Semua estimasi ini didasari perhitungan yang dirancang oleh Prof. Robert Marcus dan tim peneliti lainnya di Purdue University, London. Perangkat kalkulasi ini memungkinkan pengguna memilih ukuran dan kecepatan benda luar angkasa.

Simulai itu pun mempertunjukkan adanya ledakan dahsyat saat asteroid 2014 RC menghantam bumi. Jika disesuaikan dengan hitungan kecepatan, sudut dan kepadatan saat menuju bumi maka asteroid itu akan hancur di ketinggian 63.100 meter dari permukaan bumi.

Ledakan itu akan memenuhi lapisan awan di ketinggian 23.100 meter. Semua menjadi gelap. Dampak ledakan itu akan memenuhi udara dalam waktu 1.17 menit. Intensitas suara ledakan pun akan mencapai 51dB.


Panen Asteroid ala NASA



Asteroid yang menghantam Chelyabinsk, Rusia, membuktikan betapa hebatnya kekuatan benda luar angkasa itu. Meski diameternya hanya 20 meter dan bergerak dengan kecepatan 66.000 kilometer per jam, asteroid yang jatuh ke bumi Februari 2013 lalu itu mampu menghancurkan wilayah sekitarnya.

Bahkan dipercaya jika letusan asteroid bisa mencapai 20 sampai 30 kali lipat lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima yang dijatuhkan Amerika ke Jepang saat perang dunia ke-2 lalu.

Asteroid merupakan ancaman terbesar bagi kepunahan bumi. Beberapa juta tahun lalu, sebuah asteroid pernah bertabrakan dengan bumi dan memusnahkan kehidupan dinosaurus beserta penghuni lainnya. Ancaman ini telah menjadi perhatian serius PBB. Bahkan mereka menyerukan badan antariksa negara-negara di dunia untuk bisa memikirkan cara menghalau serangan asteroid.

Softpedia menyebutkan, Februari 2014 lalu, PBB memberi mandat ke Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memastikan semua lembaga antariksa di dunia turut dalam inisiatif kerja sama internasional yang tergabung dalam Space Mission Planning and Advisory Group (SMPAG). Saat ini, diperkirakan NASA, ada 600 ribu sampai 1 juta asteroid yang terdapat di alam semesta. Dari angka tersebut, lebih dari 10.000 asteroid masuk dalam kategori NEO (Near Earth Object/ benda terdekat dengan bumi). 

Tahun ini NASA pun berencana untuk mencoba teknologi yang bisa sekaligus dijadikan upaya untuk meneliti asteroid. Jika teknologi ini sukses menangkap asteroid, ini bisa juga menjadi upaya berikutnya dalam melanjutkan misi menempatkan manusia ke Mars. Yang paling penting, penelitian ini akan menjadi upaya untuk mencari cara mencegah asteroid jatuh atau bertabrakan dengan bumi.
Dua Cara Memanen Asteroid


Program untuk memanen dan mengambil sampel asteroid ini disebut Nasa dengan namaAsteroid Redirect Mission (ARM). Target pelaksanaannya adalah akhir dekade ini atau sekitar 2020.

Dalam sebuah sidang dengar pendapat yang bertajuk From Here to Mars, William Gerstenmaier, rekan administrasi NASA, mengatakan terdapat skema menangkal batu antariksa itu dan membuangnya ke Bulan. Setidaknya ada dua proses yang diusulkan bisa digunakan, yakni dengan menggunakan robot penjepit atau dengan robot gelembung.

Opsi pertama, ARM mengambil sampel bongkahan batu-batuan pada asteroid raksasa, sedangkan opsi kedua, ARM menangkap asteroid dalam ukuran besar dengan menggunakan layar gelembung. Pada dua skema itu, setelah sampel asteroid bisa diambil, maka ARM akan membawa sampel ke orbit stabil bulan, dan di sana astronot akan 'memanen' sampel batu antariksa untuk dibawa ke bumi.

Untuk opsi pertama ini, ARM akan mendatangi asteroid besar setelah sebelumnya mengawasi asteroid dari jarak 1 kilometer. Selanjutnya ARM akan mendarat ke permukaan asteroid untuk mengangkut bongkahan batu astroid dengan menggunakan kaki penjepit. Proses pengangkutan bongkahan batu diperkirakan memakan waktu 30 menit saja. Setelah itu ARM akan membawa batu astroid itu ke orbit stabil bulan untuk diambil sampelnya.

Sementara untuk opsi kedua, ARM akan menangkap asteroid besar dengan memanfaatkan gelembung layar raksasa. Begitu melihat target asteroid, layar akan dikembangkan dan menangkap asteroid. Setelah asteroid tertangkap, layar gelembung akan mengunci batu antariksa itu, layar akan menyusut dan tali penghubung akan memastikan layar sudah mencengkeram kuat asteroid. Kemudian ARM akan membawa ke orbit bulan yang aman.

Begitu sampel sudah didapatkan dan ARM menuju orbit aman bulan, NASA meluncurkan pesawat berawak, Orion, yang akan menjemput sampel di orbit bulan. Nantinya pesawat Orion akan mendekati ARM, dengan menghubungkan sebuah pipa hidrolik. Setelah itu dua astronot bakal keluar dari Orion dan mendekati gelembung ARM. Keduanya akan memanen sampel batu dan membawa masuk ke Orion. Setelah itu pesawat Orion akan meluncur kembali ke bumi.

Untuk pengiriman pesawat Orion, NASA bakal menggunakan roket Space Launch System (SLS). Roket ini dlengkapi dengan tenaga pendorong canggih, Solar Electric Propulsion (SEP) yang merupakan tenaga pendorong ion. SEP mampu menciptakan daya dorong yang didukung satuan tenaga surya. SEP mengubah sinar matahari menjadi medan elektromagnetik yang mempercepat dan mengeluarkan atom bermuatan (ion). 

Pemanfaatan ion merupakan cara yang efisien untuk mentenagai pesawat antariksa dan secara signifikan menghemat jumlah bahan bakar. Studi terkini NASA juga tengah meneliti skema SEP apakah bisa digunakan untuk mentenagai misi ARM.
Pijakan ke Mars


Misi ini kelihatannya sangat penting. Pasalnya, jika berhasil, NASA bisa mempercepat target mereka membawa manusia pindah ke Mars, atau untuk bolak-balik Bumi-Mars dan kembali dengan selamat. Oleh karena itu NASA akan melibatkan astronot untuk melakukan perjalanan ke batu asteroid yang telah ‘dipanen’ itu. Perjalanan astronot ini akan menumpang pesawat kru Orion Multi-Purpose.

Dari penelitian asteroid ini, seperti dikutip dari Daily Mail, NASA bisa memprediksi seberapa lama proses pulang pergi bisa dilakukan, berapa biaya yang dibutuhkan dan teknologi apa yang mampu membuat mereka bisa bertahan melayang di angkasa selama yang diinginkan. Jika semua estimasi itu telah didapat maka secara tidak langsung, NASA bisa memperkirakan teknologi dan estimasi berikutnya untuk menuju Mars.

“Setelah misi asteroid selesai, Orion akan kembali ke bumi melalui cara yang sama dengan saat mereka menuju asteroid itu, termasuk berputar di sekitar Bulan, untuk kemudian menyentuh laut seperti Pasifik, 10 hari kemudian,” ujar peneliti NASA dalam laman resmipenerbangan antariksa Amerika itu.

Sedangkan untuk menyelamatkan bumi, kata peneliti NASA dalam makalah yang berjudul ‘The Asteroid Redirect Mission and Sustainable Human Exploration’, banyak cara yang bisa digunakan untuk mencegah potensi ancaman asteroid terhadap bumi. Bahkan ARM bisa digunakan untuk menguji coba teknologi pertahanan bumi dari ancaman planet. Beberapa teknik di antaranya adalah Ion Beam Deflection, Enhanced Gravity Tractor, dan tabrakan meteor secara kinetis.

Ion Beam Deflection adalah menahan ekor asteroid untuk mendorongnya secara perlahan ke wilayah yang lebih luas. Sebuah tembakan pendorong ke arah berlawanan akan diperlukan untuk menjaga pesawat luar angkasa pada jarak yang konstan dari asteroid.

Sedangkan pendekatan dengan Enhanced Gravity Tractor dengan melibatkan pesawat luar angkasa yang mendekati asteroid. Pesawat akan mengorbit di lingkaran halo di sekitar garis vektor kecepatan asteroid. Massa asteroid dengan massa pesawat luar angkasa akan meningkatkan daya gravitasi antara keduanya. Formasi yang dekat ini akan berlangsung selama beberapa bulan dan memperkecil gaya gravitasi sehingga berpotensi mengubah lintasan asteroid.

Cara yang paling mudah adalah dengan menciptakan tabrakan secara kinetis. Impaktor Kinetis ini bisa juga diluncurkan sebagai daya angkut cadangan yang datang bersama pesawat luar angkasa atau terpisah. Impaktor itu akan ditabrakkan dengan asteroid yang ditarget sehingga tidak sempat tabrakan dengan bumi.
Asteroid-Asteroid Pengancam Bumi


NASA telah mendeteksi banyak asteroid pengancam bumi. Yang terbaru adalah 2014 RC yang berjarak 25.000 mil (40.000 kilometer) dari Bumi. Tahun sebelumnya, bumi sempat terancam tabrakan dengan asteroid 2013 LR6 dengan jarak 104.607 kilometer dari Samudera Selatan. Sebelumnya, asteroid QE2 juga sempat melintas dekat dengan bumi di jarak 5,8 juta kilometer.

2012 lalu, ada asteroid dengan kode nama 2012 XE54 berjarak 140 ribu mil dari bumi. Ada juga Toutatis 4179, jaraknya 4,4 juta mil atau 18 kali lipat jarak Bumi dengan Bulan. Atau 2012 DA14 dengan diameter 45 meter dan berjarak 36 ribu kilometer dari bumi. Asteroid 2012 TC4 melintas dengan jarak 59.000 mil

NASA juga memprediksi jika asteroid Apophis atau ‘Setan Mesir’ akan melintas sangat dekat dengan bumi, atau 31 ribu kilometer dari bumi, pada 2036 nanti. Isu lainnya, pada 2040 ada asteroid 2011 AG5 dengan diameter 140 meter dan jarak 890 ribu kilometer dari bumi berpotensi membuat kiamat di bumi.

Yang paling dahsyat adalah isu mengenai asteroid raksasa yang diramalkan akan menghantam bumi pada 2880. Asteroid dengan kode 1950 DA ini berdiameter dua per tiga mil atau 1.07 kilometer dari bumi dengan kecepatan gerak 38.000 mil per jam. Kekuatan ledakannya setara dengan 44.800 megaton TNT.


NASA Gagal Temukan Asteroid Berbahaya Dekat Bumi



NASA telah ditugaskan Kongres untuk menemukan 90 persen obyek dekat Bumi yang secara potensial berbahaya dan sejauh ini hanya menemukan 10 persen.


Pejabat badan antariksa Amerika Serikat (NASA) bahwa lembaga itu telah gagal melaksanakan misi yang ditugaskan Kongres untuk mencari 90 persen asteroid yang potensial berbahaya dan terbang dekat Bumi.

Inspektur jenderal NASA, Paul Martin, pada Senin (15/9) mengkritik program Obyek Dekat Bumi NASA sebagai kurang memiliki staf dan dikelola dengan buruk. 

Dalam laporannya, ia mengatakan program itu sejauh ini menemukan hanya 10 persen dari asteroid dan obyek-obyek lain yang lebih besar dari 140 meter terbang di dalam wilayah berjarak 45 juta kilometer dari Bumi.

Program ini bertugas menemukan 90 persen dari obyek-obyek ini. Laporan inspektur jenderal tersebut mengatakan program itu sepertinya akan melewati tenggat 2020.

Sebagian besat obyek dekat Bumi secara tidak berbahaya hancur sebelum menghantam planet ini.

Namun sebuah asteroid yang relatif kecil meledak di atas Chelyabinsk di utara Rusia tahun lalu dengan kekuatan 30 bom atom. Lebih dari 1.000 orang terluka akibat pecahan benda yang beterbangan.

"Riset baru-baru ini menunjukkan bahwa peristiwa sejenis Chelyabinsk dapat terjadi setiap 30 sampai 40 tahun," ujar Kantor Inspektur Jenderal, menambahkan bahwa sebagian besar dampaknya akan terjadi di laut dibandingkan di wilayah-wilayah berpenduduk.

Para ahli sejarah yakin benda selebar 10 kilometer menghantam Bumi sekitar 66 juta tahun yang lalu di wilayah yang kini merupakan Meksiko, menewaskan hampir seluruh kehidupan di planet ini dan menyebabkan dinosaurus punah.

Sejak 1998, NASA telah menghabiskan sekitar US$100 juta untuk program-program untuk menemukan, mengevaluasi dan menanggulangi ancaman potensial dari benda antariksa.

Laporan tersebut membuat lima rekomendasi untuk meningkatkan upaya pendeteksian asteroid NASA, termasuk menambah setidaknya empat sampai enam pegawai untuk membantu mengelola program dan mengkoordinasi proyek-proyek dengan badan AS dan internasional dan dengan inisiatif-inisiatif yang didanai swasta.

Wakil Direktur NASA untuk bidang sains, John Grunsfeld mengatakan dalam surat kepada Martin bahwa ia berharap program Obyek Dekat Bumi (NEO) yang baru akan mulai bekerja pada 1 September 2015.

Asteroid Sebesar Rumah Lintasi Bumi



Asteroid sebesar rumah terbang melintas Bumi Minggu (07/09), menurut Badan Ruang Angkasa Amerika, NASA.


NASA mengatakan asteroid yang disebut 2014 RC melintas Selandia Baru pukul 18:18 GMT (01:18 WIB).


Asteroid sebesar 18 meter itu melintas sepanjang 40.000 kilometer dan tidak akan membahayakan Bumi.


Karena ukuran yang terlalu kecil, asteroid itu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang.
Namun para astronom amatir dapat melihat dengan teleskop, menurut NASA.


Asteroid ini diperkirakan akan mengorbit di dekat Bumi lagi pada masa yang akan datang.
Pada Februari 2013, meteor dengan ukuran yang sama meledak di atas Chelyabinsk di Rusia Tengah dan melukai lebih dari 1.000 orang.


NASA saat ini telah melacak lebih dari 11.000 asteroid yang mengorbit cukup dekat dengan Bumi.

Asteroid sebesar 3x lapangan sepakbola lintasi bumi


Kembali satu ancaman untuk bumi terdeteksi oleh para pakar luar angkasa. Bahkan ancaman tersebut apabila melihat dari segi bentuk dan ukurannya akan menjadikan satu bahaya besar bagi kehidupan manusia di bumi.

Sebuah asteroid berukuran besar atau sekitar 305 meter melintasi bumi pada hari ini (08/06). Asteroid yang dinamakan 2014HQ124 ini memiliki lintasan yang langsung berdekatan dengan bumi.

Dikutip dari Techno Buffalo (07/08), untung saja, walaupun berbahaya dan sangat besar, namun menurut para astronom dan para pakar, asteroid yang dijuluki "The Beast" ini tidak akan sampai menabrak bumi.

Asteroid
"Jaraknya sekitar 716.500 mil atau 1,1 juta kilometer dari bumi. Asteroid itu memiliki ukuran 3 kali lapangan sepakbola," jelas peneliti.

Sebenarnya, asteroid tersebut sudah terdeteksi sejak tanggal 23 April lalu, namun para peneliti tidak begitu memberikan perhatian khusus karena awalnya lintasan dari asteroid itu diperkirakan tidak sedekat sekarang ini.

Para peneliti mengungkapkan, apabila terjadi tabrakan, maka kekuatan yang dilepaskan oleh asteroid "The Beast" ini setara dengan ribuan kali bom atom yang pernah dijatukan di Jepang.

Awas, asteroid raksasa 'siap' hantam bumi



Meteor yang menghantam Bumi pada umumnya akan habis terbakar di atmosfer saat jatuh menuju bumi. Tapi tampaknya hal tersebut tidak akan terjadi kali ini, karena benda langit yang kini tengah terbang ke planet kita itu setara dengan sebuah gedung bertingkat.
Dengan lebar 1000 kaki atau sekitar 300 meter, meteor yang sudah tergolong dalam kelompok asteroid ini diberi nama "Beast" atau hewan buas oleh NASA. Yang lebih mengkhawatirkan, Beast tengah terbang mendekat dengan kecepatan 50.400 kilometer per jam.
Padahal, salah satu kendaraan tercepat di muka bumi, mobil Formula One kecepatan maksimalnya hanya sekitar 400 kilometer per jam. Jadi asteroid ini memiliki kecepatan 126 kali lebih cepat dari mobil yang biasa ditunggangi oleh Michael Schumacher itu.
Berbekal kecepatan kilat, NASA menyatakan jika asteroid tersebut bisa memicu ledakan sebesar 2000 megaton saat menghantam bumi. Hal ini setara dengan ledakan 10.000 hulu ledak nuklir. Tentunya ledakan tersebut cukup kuat untuk menghancurkan satu kota metropolitan seperti New York.
Untungnya, angkasawan NASA, Don Yeomans meyakinkan jika asteroid Beast tersebut kemungkinan besar tidak akan menabrak bumi. Meskipun berada di titik terdekatnya dengan bumi pada tanggal 8 Juni besok, asteroid tersebut masih cukup jauh dan masih berjarak 1,25 juta kilometer dari bumi atau 3 kali jarak antara bumi dan bulan.
Dikutip dari Daily Mail (7/6), asteroid tersebut pertama kali di temukan pada tanggal 23 April tahun 2014 oleh sebuah teleskop luar angkasa yang diluncurkan untuk misi NEOWISE yang bertugas mengawasi komet dan asteroid di sekitar bumi.

NASA dapat izin merakit pesawat ke asteroid


Jakarta - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) mengklaim telah mendapat izin untuk merakit pesawat luar angkasa yang didesain untuk misi pengumpulan sampel dari asteroid dan membawa sampel itu ke Bumi.

Kejelasan untuk membangun pesawat luar angkasa yang bernama Origins Spectral Interpretation Resource Identification Security Regolith Explorer (OSIRIS-REx) itu diumumkan pada Rabu (9/4), setelah pengkajian desain misi kritikal yang dinilai sukses oleh sebuah badan kajian independen.

Badan kajian yang bersifat independen itu terdiri dari para ahli NASA dan beberapa organisasi eksternal.

"Ini adalah langkah akhir misi NASA yang bermula dari rencana dan menjadi produk." kata Eksekutif Program OSIRIS-REx dalam pernyataan NASA, seperti dikutip Kantor Berita Xinhua hari ini.

"Ini mengkonfirmasi bawah desain akhir rancangan itu sudah siap memulai pembangunan menjelang peluncuran," tambah dia.

OSIRIS-REX dijadwalkan untuk diluncurkan pada musim gugur 2016, dan pada 2018 bertemu dengan asteroid Bennu.

Pesawat ini akan membawa lima instrumen yang akan mengevaluasi permukaan Bennu secara jarak jauh.

Kemudian, pesawat ini akan mengumpulkan sampel minimal 60 gram (2 ons), setelah setahun lebih mengintai asteroid. Selanjutnya, sampel itu akan dibawa ke bumi untuk studi ilmiah pada 2023.

Tujuan dari misi ini untuk menjawab pertanyaan dasar tentang komposisi paling dini dari tata surya, dan sumber organik dan air yang membuat kehidupan dapat berlangsung di bumi.

Selain itu, misi ini akan membantu mencapai tujuan pengiriman manusia ke asteroid pada 2025 seperti yang dicanangkan Presiden AS Barack Obama.


Risiko asteroid menabrak Bumi lebih besar dari perkiraan




Cape Canaveral  - Kemungkinan asteroid menabrak Bumi lebih tinggi dari perkiraan yang diyakini para ilmuwan sebelumnya, kata kelompok nirlaba pembangun teleskop pemburu asteroid, Selasa (22/4).

Satu jaringan global yang mendengarkan ledakan senjata nuklir mendeteksi 26 asteroid yang meledak di atmosfer Bumi sepanjang tahun 2000 sampai 2013, demikian menurut data-data yang dikumpulkan oleh Comprehensive Nuclear Test Ban Treaty Organization. 

"Ada miskonsepsi populer bahwa dampak asteroid luar biasa langka...Itu tidak benar," kata bekas astronot Ed Lu, yang sekarang memimpin B612 Foundation yang bermarkas di California.

Yayasan yang namanya diambil dari buku fiksi planet "The Little Prince" karya penulis dan penerbang Prancis Antoine de Saint-Exupery itu pada Selasa (22/4) meluncurkan video visualisasi hantaman asteroid untuk meningkatkan kesadaran publik akan ancaman tersebut.

Asteroid-asteroid sekecil 131 kaki --lebih kecil dari separuh ukuran lapangan sepakbola Amerika-- bisa meratakan satu kota, kata Lu kepada reporter melalui konferensi lewat telepon.

"Bayangkan satu gedung apartemen sangat besar - bergerak secepat Mach 50," kata Lu seperti dilansir kantor berita Reuters.

Mach 50 adalah 50 kali kecepatan suara, atau sekitar 38.000 mph.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) sudah punya program untuk melacak asteroid-asteroid lebih besar dari 0,65 mil. 

Objek seukuran ini, kira-kira hampir sama dengan gunung kecil, akan menimbulkan pengaruh global jika menumbuk Bumi.

Satu asteroid dengan diameter sekitar enam mil menghantam Bumi sekitar 65 juta tahun lalu, memicu perubahan iklim yang diyakini menyebabkan dinosaurus dan kehidupan lain di dunia pada masa itu mati.

Lu mengatakan, ledakan meteorit yang menyebabkan lebih dari 1.000 orang terluka akibat pecahan gelas dan puing-puing di Chelyabinsk, Rusia, pada 15 Februari 2013 bisa menjadi pelajaran tentang dampak tumbukan asteroid.

"Chelyabinsk mengajarkan kepada kita bahwa bahkan asteroid berukuran 20-meter (66-kaki) bisa menimbulkan dampak substansial," kata Lu.

Asteroid yang bisa mematikan kota diperkirakan menumbuk Bumi setiap 100 tahun namun perkiraan itu tidak berdasarkan bukti keras.

B612 ingin mengetahui masalah itu menggunakan dana privat, teleskop inframerah antariksa yang disebut Sentinel akan melakukan tugas menemukan potensi bahaya dari asteroid yang mendekati Bumi.

Teleskop bernilai 250 juta dolar AS itu targetnya diluncurkan tahun  2018.

Penelitian menemukan asteroid sangat mungkin menghantam bumi




Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat - Kemungkinan sebuah asteroid-penghancur-kota menghantam bumi lebih tinggi dari apa yang sebelumnya dipercayai oleh para ilmuwan, demikian pernyataan dari kelompok non-profit pencipta teleskop pemburu asteroid yang dilansir Reuters, Selasa.
Jaringan global yang bertugas mendetekai suara ledakan senjata nuklir telah mendeteksi 26 asteroid meledak di atmosfir bumi darintahun 2000 hingga tahun 2013, data itu dikumpulkan oleh Organisasi Pakta Pelarangan Percobaan Nuklir Komprehensif.
Ledakan asteroid itu termasuk tabrakan meteor yang terjadi di Chelyabinsk, Rusia, yang mengakibatkan lebih dari 1.000 orang terluka karena pecahan gelas dan serpihan meteor.
"Ada kesalahpahaman populer yang menyatakan tabrakan asteroid itu luar biasa jarang, itu tidak benar," kata mantan astronot Ed Lu yang saat ini menjabat sebagai ketua Yayasan B612 yang berbasis di California.
Selasa lalu, yayasan tersebut merilis sebuah video visualisasi serangan asteroid guna membangkitkan keaadaran masyarakat akan ancaman tersebut.
Asteroid sebesar 131 kaki atau sekitar 40 meter (kurang dari separuh ukuran lapangan sepak bola American Football) saja, menurut Lu dapat berpotensi meluluhlantakkan satu kota.
"Bayangkan kalau asteroidnya sebesar satu gedung apartment dengan kecepatan Mach 50," kata Lu.
Mach 50 adalah kecepatan 50 kalinya kecepatan suara, atau sekitar 38.000 meter per jam.
NASA memiliki sebuah program yang melacak asteroid yang ukurannya lebih besar dari 0,65 mil atau sekitar 1,046 kilometer.
Objek sebesar itu setara dengan satu gunung kecil, akan berdampak global kalau sampai menabrak bumi.

Sebuah asteroid berdiameter 6 mil atau 9,7 kilometer yang menabrak bumi 65 juta tahun yang lalu memicu perubahan iklim yang dipercaya membunuh dinosaurus dan kebanyakan makhluk bumi lainnya.

"Chelyabinsk mengajari kita bahwa asteroid seukuran  20 meter (66 kaki) sekalipun mampu memberi dampak beaar," kata Lu.
Asteroid penghancur kota diramalkan akan menghantam bumi tiap 100 tahun sekali, namun prediksi itu tidak berdasarkan bukti yang kuat.
B612 berniat mengangkat isu tersebut dengan teleskop infra merah luar angkasa bernama "Sentinel" yang didanai pihal swasta yang akan bertugas mencari asteroid yang berpotensi membahayakan bumi.
Teleskop seharga 250 juta dolar AS itu ditargetkan akan diluncurkan tahun 2018.
B612 menamai teleskop itu dari planet fiksi dalam buku "The Little Prince," karya penulis sekaligus penerbang asal Perancis, Antoine de Saint-Exupery.
Video visualisasi bisa dilihat di website resmi B612: Disini

Asteroid seukuran bus menuju bumi pada Sabtu depan


Ancaman benda angkasa terhadap bumi seakan tidak pernah berkurang apalagi berhenti. Kembali ada satu ancaman yang cukup bahaya mengarah ke bumi beberapa hari lagi.

Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, mengidentifikasi satu asteroid berukuran besar atau sekitar seukuran bus yang dinamakan 2014 HL129 sedang menuju atau memiliki lintasan ke arah bumi.

Dikutip dari Slash Gear (04/05), asteroid 2014 HL129 ini pada hari Sabtu depan (10/05), akan berjarak hanya 186 ribu mil dari permukaan bumi.

Walaupun dikatakan cukup berbahaya karena jaraknya dekat sekali dengan bumi, namun pihak NASA mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari pergerakan 2014 HL129 ini.



Asteroid Seukuran Bus Melintas di Dekat Bumi






Sebuah asteroid seukuran bus datang dalam jarak 186 mil atau sekitar 299.338 kilometer dari Bumi pada Sabtu pagi, 3 Mei 2014. Asteroid yang dinamai HL129 ini terdeteksi lebih dekat ke Bumi daripada ke Bulan, yang jaraknya 238.855 mil dari planet kita.

Asteroid ini memiliki lebar sekitar 7,6 meter seperti diutarakan Asteroid Watch NASA yang berbasis di Jet Propulsion Laboratory di Pasadena, California. Jika jatuh ke Bumi, menurut lembaga ini, asteroid itu akan menyebabkan kerusakan yang signifikan--separuh dampak bom nuklir di Hiroshima pada 1945.

Asteroid ini ditemukan pada Rabu, 28 April 2014, oleh para astronom dari Mount Lemmon Survey. Hingga kini, ilmuwan NASA dan peneliti di seluruh dunia terus memonitor asteroid ini dan asteroid lain yang berpotensi menghantam permukaan Bumi.

Penelitian baru mengungkapkan planet kita sangat rentan terhadap dampak asteroid. Trio mantan astronot yang kini tergabung dalam B612 Foundation menyatakan Bumi saat ini sepuluh kali lebih mungkin berbenturan dengan batuan luar angkasa daripada sebelum-sebelumnya, dan tak ada cara untuk menghindarinya.

Meskipun sebagian besar ledakan terjadi di udara dan atmosfer, tak menutup kemungkinan benda luar angkasa ini akan mencium permukaan Bumi. Sepanjang 2000-2013, asteroid yang menabrak bumi menyebabkan 26 ledakan berskala bom nuklir.

Dampak paling dramatis terjadi ketika sebuah benda luar angkasa meledak di Tunguska, Siberia, pada 1908, dengan menghasilkan energi setara dengan ledakan 5.000-15.000 ton TNT. Suatu daerah hutan seluas 770 mil persegi (sekitar 2.000 kilometer persegi) diratakan oleh ledakan itu.

Dampak mengerikan tabrakan asteroid dengan bumi menjadi subyek film Armageddon,yang dibintangi Bruce Willis, dan Deep Impact, yang dibintangi Morgan Freeman. 


Asteroid Akan Menghilangkan Bintang Terang dari Pandangan Manusia Besok





KOMPAS.com — Sebuah asteroid akan menghalangi salah satu bintang paling terang yang bisa diamati manusia dari Bumi pada Kamis (20/3/2014) besok waktu Indonesia.

Asteroid yang dimaksud bernama 163 Engine, merupakan salah satu asteroid yang terletak di antara orbit Mars dan Jupiter. Bintang yang akan dihalangi oleh asteroid itu adalah Regulus, bintang paling terang di rasi Leo.

Peristiwa terhalanginya bintang oleh asteroid itu dikenal dengan okultasi asteroid. Fenomena ini biasa terjadi dalam astronomi.

Okultasi asteroid ini akan terjadi pada pukul 13.00 WIB besok. Durasinya hanya 14 detik. Wilayah yang bisa menyaksikannya sebenarnya hanya Kanada dan pantai timur Amerika Serikat. Namun, berkat teknologi informasi, fenomena ini bisa diamati secara online.

Bagi astronom, tertutupinya bintang Regulus yang dikenal sebagai bintang paling terang di rasinya sangat istimewa.

Astronom Bob Berman dari Slooh misalnya, seperti dikutip Space, Rabu (19/3/2014), mengatakan bahwa dalam 40 tahun kariernya sebagai astronom profesional, ia tak pernah melihat bintang seterang Regulus mengalami okultasi yang mudah dilihat oleh manusia.

Bagi penduduk wilayah Amerika Utara, fenomena ini memang istimewa karena bisa dilihat dengan mata telanjang.

Asteroid 163 Erigone adalah asteroid yang ditemukan oleh astronom Perancis, Henri Joseph Perrotin, pada 26 April 1876. Diameter asteroid mencapai 72 km, sementara komposisinya sebagian besar terdiri atas karbon. 


Ditemukan, Asteroid Bercincin Pertama di Alam Semesta





KOMPAS.com — Planet bercincin? Itu tidak mengherankan. Namun, adakah benda langit yang lebih mungil dan bercincin, misalnya asteroid?

Penelitian terbaru menunjukkan bahwa benda macam itu ada. Astronom menemukan asteroid bercincin pertama di alam semesta.

Felipe Braga-Ribas melakukan observasi pada Chariklo, benda langit yang mengelilingi Matahari di antara orbit Saturnus dan Uranus, di Observatorio Nacional, Rio de Janeiro.

Chariklo adalah obyek yang dikenal dengan istilah centaur, obyek di antara orbit Yupiter dan Uranus, yang memiliki orbit tidak stabil. Centaur bisa berupa komet ataupun asteroid.

Observasi dilakukan pada 3 Juni 2013, memanfaatkan peristiwa okultasi, yang dalam hal ini, Chariklo melintasi muka sebuah bintang yang letaknya nun jauh di luar angkasa.

Saat Chariklo melintas, cahaya bintang tersebut meredup, memungkinkan astronom mengobservasi Chariklo secara lebih detail.

Menggunakan tujuh teleskop, astronom awalnya hendak mengobservasi lagi bentuk dan ukuran Chariklo dengan mengukur lamanya bintang meredup ketika okultasi terjadi.

Braga-Ribas menjumpai pola peredupan bintang yang aneh. Ia semula menduga bahwa pola itu disebabkan oleh adanya gas yang dilepaskan oleh Chariklo.

Namun, akhirnya ia sadar bahwa keanehan itu bukan terjadi karena gas, melainkan karena adanya dua cincin yang mengelilingi obyek berdiameter 250 km tersebut.

"Ini sangat mengejutkan," kata Braga-Ribas seperti dikutipNational Geographic, Rabu (26/3/2014).

Dua cincin itu memiliki lebar masing-masing 7 dan 3 kilometer. Keduanya dipisahkan sejauh 9 kilometer.

Braga-Ribas dan timnya menamai cincin itu Oiapoque dan Chiu, berdasarkan nama sungai di utara dan selatan Brasil.

Adanya struktur cincin menjelaskan fenomena aneh pada Chariklo yang dijumpai pada tahun 1997 hingga 2008. Obyek itu meredup, dan tanda-tanda adanya air dalam bentuk es menghilang.

Braga-Ribas menjelaskan, saat itu struktur cincin Chariklo sedang tidak tampak oleh pandangan manusia di Bumi. 

Ketika struktur cincin tampak dari sudut pandang manusia di Bumi, Chariklo akan kembali tampak terang, dan tanda-tanda adanya air akan kembali terobservasi.

Struktur cincin memang telah ditemukan. Namun, asal-usulnya masih misterius. Ilmuwan masih hanya bisa menduga.

Menurut ilmuwan, salah satu kemungkinan asal-usul itu adalah adanya tabrakan antara Chariklo dan obyek lainnya pada masa lalu.

Tabrakan menghasilkan debris yang lama-kelamaan membentuk struktur cincin, yang kini mengelilingi Chariklo.

Flag Country

free counters