Di Luar Dugaan, Mungkinkah Pluto Menjadi Planet Lagi?


Di Luar Dugaan, Mungkinkah Pluto Menjadi Planet Lagi?



Seiring keberhasilan misi New Horizon menjamah Pluto, debat tentang status Pluto kembali mengemuka. Sejumlah kalangan menginginkan status Pluto sebagai planet yang dilepaskan pada tahun 2006 dikembalikan.

Stuart Clark, seorang penulis astronomi, dalam tulisannya di The Guardian, Rabu (15/7/2015), mengungkapkan langsung lewat judul "Tentu Pluto cukup berhak menjadi planet. Ukuran Bukan Segalanya."

Clark mengatakan bahwa Pluto memang dunia kecil, diameternya hanya 2.370 kilometer dan volumenya hanya 1 persen Bumi. "Namun, soal ukuran itu tak seharusnya dijadikan alasan untuk menendang Pluto," katanya.

Menurut Clark, menolak status Pluto sebagai planet merupakan penyangkalan terhadap sejarah. Tahun 1930, Clyde Tombaugh dari Lowell Observatory di Arizona menemukan Pluto sebagai planet. Sejarah itu, menurut Clark, tak seharusnya ditulis ulang.

Keberhasilan New Horizon harus dimanfaatkan untuk melihat ulang status Pluto. "Ini waktunya untuk mengkaji ulang aturan penetapan planet, mengembalikan status Pluto, dan menerima bahwa kita hidup di tata surya yang lebih besar dan bervariasi," jelasnya.

Diragukan sejak awal

Status Pluto sebagai planet sebenarnya sudah diragukan sejak awal, sejak masih disebut "Planet X". Sebulan setelah publikasi penemuannya di jurnal Science pada 21 Maret 1930, artikel di jurnal yang sama meragukan temuan itu.

Pluto kala itu dikatakan berukuran jauh lebih kecil dari dugaan. Sementara bidang orbitnya juga jauh lebih miring dan lebih lebar dibandingkan planet pada umumnya. Sempat diduga bahwa pluto adalah asteroid yang unik.

Kontroversi terus berlanjut, tetapi para ilmuwan yang mendukung keberadaan planet ini "tak peduli". Bulan Juni 1930, planet X dinamai sebagai Pluto berdasarkan usulan putri salah satu profesor dari Oxford University.

Selama 7 dekade setelah penemuan, Pluto tetap menyandang status planet walaupun masih kontroversi. Baru tahun 2006, status planet Pluto dicabut oleh International Astronomical Union (IAU), badan yang bertanggung jawab pada penamaan dan klasifikasi benda langit.

Penemuan Eris pada tahun 2005 memicu "pemecatan" Pluto. Eris memiliki ukuran sedikit lebih besar dari Pluto. Ilmuwan lantas bingung, apakah lalu bisa dikatakan bahwa Eris adalah planet kesepuluh di tata surya?

Tahun 2006, IAU memaparkan sejumlah syarat utama benda langit bisa disebut planet. Pluto tak memenuhi syarat ukuran dan orbit. Ukuran Pluto terlalu kecil dan orbitnya belum bisa dikatakan "bersih" dari benda langit lain selain satelitnya.

Mungkin ditarik sebagai planet Lagi?

Beberapa saat sebelum New Horizon berhasil melintas dekat Pluto pada jarak 12.500 kilometer dari permukaannya, wahana itu mengungkap bahwa di planet kerdil ternyata berukuran lebih besar dari dugaan.

Akankah ukuran itu membuat Pluto kembali dinyatakan sebagai planet. Sepertinya tidak. Meski diketahui lebih besar, ukuran Pluto tetap setara dengan Eris, belum bisa menyamai ukuran planet terkecil di Tata Surya, Merkurius.

"Dalam tata surya kita, ada perbedaan jelas antara obyek yang besar dan kecil, Pluto, Eris, Ceres, dan planet terkecil di tata surya, Merkurius," kata astrobom Jonti Homer seperti dikutip Sydney Morning Herald, Selasa (14/7/2015).

Pluto juga tetap sulit dikategorikan sebagai planet karena orbitnya masih bersinggungan dengan orbit Neptunus dan benda langit lain. Pluto baru mungkin menjadi planet bila kriteria planet itu sendiri diubah.

Alan Stern dari NASA yang kini memimpin misi New Horizon adalah salah satu orang yang percaya bahwa kriteria planet harus diubah. Menurutnya, kriteria planet IAU absurd. Temuan dan gagasan baru hasil riset seharusnya bisa diakomodasi untuk mengklasifikasikan benda langit.

Terlepas dari status Pluto, Lewis Ball dari Organisasi Riset Sains dan Industri Australia (CSRIO) mengatakan, misi New Horizon memegang peran penting dalam upaya menguak rahasia pembentukan tata surya.

"Mencapai Pluto dan wilayah terjauh tata surya menjadi prioritas dalam riset keantariksaan karena dunia itu menyimpan unsur tata surya yang dipendam dalam beku. Dunia beku itu menyimpan material yang membentuk planet-planet," katanya
 
Sumber : Kompas

Bangun dari Tidur Panjang, New Horizon Siap Memecahkan Misteri Pluto



Setelah 9 tahun dan mengarungi jarak 4,8 miliar kilometer, wahana New Horizon terbangun dari tidur panjangnya dan siap mempelajari Pluto serta kerabatnya di zona Sabuk Kuiper.

New Horizon bangun dari tidur pada Minggu (7/12/2014) sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Konfirmasi bangunnya wahana yang diluncurkan pada 19 Januari 2006 itu diterima sekitar pukul 09.30 WIB.

Wahana New Horizon saat ini berada pada jarak yang sangat jauh sehingga butuh waktu sekitar 4 jam 25 menit bagi sinyal radio untuk sampai ke Bumi. Itulah mengapa sinyal bangunnya New Horizon baru diterima beberapa jam kemudian.

Berkomentar tentang bangunnya New Horizon, Glen Fountain yang menjadi manajer misi mengatakan, "Secara simbolis, ini hal besar. Ini berarti awal perjumpaan kita (dengan Pluto)."

Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) seperti dikutip Reuters, Minggu, menyatakan bahwa misi penelitian New Horizon akan dimulai pada 15 Januari 2015 mendatang. Pada 14 Juli 2015, wahana itu akan mencapai titik terdekat dengan Pluto.

Penelitian tentang Pluto dan lingkungannya sendiri sangat penting. Hingga kini, Sabuk Kuiper tempat Pluto bernaung adalah wilayah Tata Surya yang bisa dibilang masih perawan, belum dijelajahi.

Sejak penemuannya pada tahun 1930, Pluto menjadi misteri. Ilmuwan belum bisa memahami bagaimana benda langit berdiameter 1.190 kilometer bisa eksis di wilayah yang lebih jauh dari Neptunus dan Jupiter.

"Kami bertanya-tanya mengapa Pluto terletak di tempat tidak pas," kata Alan Stern, peneliti NASA. "Pengetahuan kita tentang Pluto saat ini seperti pengetahuan kita tentang Mars 50 tahun lalu," imbuhnya seperti dikutip LA Times, Minggu.

Saat ini, New Horizon berada pada jarak 260 juta kilometer dari Pluto. Masih butuh beberapa saat untuk sampai di orbit benda langit itu. Saat mencapai jarak terdekat Juli mendatang, New Horizon bakal berada pada jarak 12.392 kilometer dari Pluto.

Pluto sendiri adalah mantan planet di Tata Surya. Pada tahun 2006, Pluto dicabut statusnya sebagai planet karena ukurannya yang kecil serta orbitnya yang memotong orbit Neptunus sehingga kadang lebih dekat dengan Matahari.

Tahun 1992, ilmuwan menemukan banyak benda mini di sekitar Pluto. Benda-benda mini tersebut dipercaya merupakan sisa-sisa pembentukan Tata Surya 4,6 miliar tahun lalu. Pluto beserta benda-benda mini itu kini disebut planet kerdil.


2015, Eksplorasi Pluto Dimulai

2015, Eksplorasi Pluto Dimulai


Setelah mengalami hibernasi berkali-kali, dalam perjalanannya yang panjang, sebuah kendaraan luar angkasa diperkirakan akan mendekati Pluto. Tepatnya pada 15 Januari tahun depan.

Kendaraan luar angkasa bernama New Horizon (NH) itu akan terbangun dari hibernasinya pada 6 Desember nanti dan akan bersiap mendekati Pluto. Diperkirakan, NH akan berada dekat dengan Pluto, atau sekitar 6.200 mil dari permukaan planet itu pada 14 Juli nanti. Jika hal itu terjadi, NH akan menjadi objek buatan manusia yang berjarak dekat dengan planet kerdil itu.

Misi ini menandai kunjungan pertama kendaraan buatan manusia di luar orbit Neptunus menuju Sabuk Kuiper. Salah satu sabuk alam semesta itu terdiri dari Pluto dan ribuan objek lainnya di semesta yang belum diidentifikasi.

"Ini merupakan penampilan pertama di wilayah baru yang berbatu, planet dingin," ujar staf informasi publik John Hopkins University Applied Physics Laboratory, Michael Buckley, seperti dikutip dari ABC News, Rabu 3 Desember 2014.

NH sejatinya telah diluncurkan dari Bumi sejak 2006 lalu. Kepergiannya menggunakan roket Atlas V dan sekarang berada 2,9 miliar mil jauhnya dari Bumi. 

Selama perjalanan 9 tahun itu, NH telah mengalami hibernasi berkali-kali dengan durasi yang berbeda. Mulai dari 36 sampai 202 hari, untuk sekali hibernasi. Jika ditotal, ia mengalami hibernasi selama 5 tahun dan perjalanan real selama 4 tahun. Hibernasi bertujuan untuk mempertahankan tenaga dan memungkinkan ilmuwan memiliki banyak waktu untuk merencanakan eksplorasi di luar angkasa. 

Setiap minggu, NH mengirimkan sinyal suara kepada para ilmuwan di stasiun dasar untuk menunjukkan bahwa dirinya masih berfungsi dengan baik. Jika nanti terbangun pada 6 Desember, NH akan mengirimkan sinyal radio ke stasiun kendali misi yang terletak di komplek John Hopkins University di Maryland, Amerika.

Ilmuwan akan menggunakan waktu selama enam minggu, setelah terbangunnya NH, untuk mengecek memori, navigasi dan fungsi lainnya. Lalu mereka akan memulai tahapan observasi pada Januari, mengambil foto dan ukuran planet kerdil dan benda lain yang mengorbit. Tidak lupa mereka juga akan meneliti atmosfir dan bagaimana cara planet itu berinteraksi dengan matahari.

"Periode observasi akan terus dilakukan sampai April. Mungkin penggambaran planet dan sekitarnya akan bisa kami dapatkan dengan jelas pada bulan Mei. Penggambaran yang lebih baik ketimbang mengandalkan teleskop Hubble. 2016, misi NH akan berakhir," ujar pimpinan misi NH, Alan Stern.

Para ilmuwan John Hopkins berharap NASA akan terus membiayai misi ini agar bisa terus berlanjut dan memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi lebih dalam.


2015, Eksplorasi Pluto Dimulai

2015, Eksplorasi Pluto Dimulai



Setelah mengalami hibernasi berkali-kali, dalam perjalanannya yang panjang, sebuah kendaraan luar angkasa diperkirakan akan mendekati Pluto. Tepatnya pada 15 Januari tahun depan.

Kendaraan luar angkasa bernama New Horizon (NH) itu akan terbangun dari hibernasinya pada 6 Desember nanti dan akan bersiap mendekati Pluto. Diperkirakan, NH akan berada dekat dengan Pluto, atau sekitar 6.200 mil dari permukaan planet itu pada 14 Juli nanti. Jika hal itu terjadi, NH akan menjadi objek buatan manusia yang berjarak dekat dengan planet kerdil itu.

Misi ini menandai kunjungan pertama kendaraan buatan manusia di luar orbit Neptunus menuju Sabuk Kuiper. Salah satu sabuk alam semesta itu terdiri dari Pluto dan ribuan objek lainnya di semesta yang belum diidentifikasi.

"Ini merupakan penampilan pertama di wilayah baru yang berbatu, planet dingin," ujar staf informasi publik John Hopkins University Applied Physics Laboratory, Michael Buckley, seperti dikutip dari ABC News, Rabu 3 Desember 2014.

NH sejatinya telah diluncurkan dari Bumi sejak 2006 lalu. Kepergiannya menggunakan roket Atlas V dan sekarang berada 2,9 miliar mil jauhnya dari Bumi. 

Selama perjalanan 9 tahun itu, NH telah mengalami hibernasi berkali-kali dengan durasi yang berbeda. Mulai dari 36 sampai 202 hari, untuk sekali hibernasi. Jika ditotal, ia mengalami hibernasi selama 5 tahun dan perjalanan real selama 4 tahun. Hibernasi bertujuan untuk mempertahankan tenaga dan memungkinkan ilmuwan memiliki banyak waktu untuk merencanakan eksplorasi di luar angkasa. 

Setiap minggu, NH mengirimkan sinyal suara kepada para ilmuwan di stasiun dasar untuk menunjukkan bahwa dirinya masih berfungsi dengan baik. Jika nanti terbangun pada 6 Desember, NH akan mengirimkan sinyal radio ke stasiun kendali misi yang terletak di komplek John Hopkins University di Maryland, Amerika.

Ilmuwan akan menggunakan waktu selama enam minggu, setelah terbangunnya NH, untuk mengecek memori, navigasi dan fungsi lainnya. Lalu mereka akan memulai tahapan observasi pada Januari, mengambil foto dan ukuran planet kerdil dan benda lain yang mengorbit. Tidak lupa mereka juga akan meneliti atmosfir dan bagaimana cara planet itu berinteraksi dengan matahari.

"Periode observasi akan terus dilakukan sampai April. Mungkin penggambaran planet dan sekitarnya akan bisa kami dapatkan dengan jelas pada bulan Mei. Penggambaran yang lebih baik ketimbang mengandalkan teleskop Hubble. 2016, misi NH akan berakhir," ujar pimpinan misi NH, Alan Stern.

Para ilmuwan John Hopkins berharap NASA akan terus membiayai misi ini agar bisa terus berlanjut dan memungkinkan mereka untuk mengeksplorasi lebih dalam.


The final resolution about pluto




The IAU... resolves that planets and other bodies, except satellites, in our Solar System be defined
into three distinct categories in the following way:

1. A ‘planet’ is a celestial body that (a) is in orbit around the Sun, (b) has sufficient mass for its self-gravity to overcome rigid body forces so that it assumes a hydrostatic equilibrium (nearly round) shape, and (c) has cleared the neighbourhood around its orbit.

2. A ‘dwarf planet’ is a celestial body that (a) is in orbit around the Sun, (b) has sufficient mass fo its self-gravity to overcome rigid body forces so that it assumes a hydrostatic equilibrium (nearly
round) shape , (c) has not cleared the neighbourhood around its orbit, and (d) is not a satellite.

3. All other objectsexcept satellites orbiting the Sun shall be referred to collectively as ‘Small Solar
System Bodies’.

The eight planets are: Mercury, Venus, Earth, Mars, Jupiter, Saturn, Uranus, and Neptune. An IAU process will be established to assign borderline objects into either dwarf planet and other categories.

These currently include most of the Solar System asteroids, most Trans-Neptunian Objects (TNOs), comets, and other small bodies.

The IAU further resolves:

“Pluto is a ‘dwarf planet’ by the above definition and is recognized as the prototype of a new
category of trans-Neptunian Objects.



Pluto’s Not a Planet: Discussion Guide


Overview 

When the International Astronomical Union (IAU) met on August 24, 2006, astronomers  voted to reclassify Pluto from a planet to a dwarf planet. Explore the new definition of a  planet and the downsizing of the solar system to eight “true” planets — changes that have  sparked public debate as well as new understandings of the evolving nature of science.  Learn too why Pluto has been at the center of controversy ever since it was first  recognized in 1930. As technology advanced, Pluto’s position in the scientific  community declined. 

The role of the media (Pluto not Planet)


The story was quickly picked up by the media and incorrectly reported that the IAU was voting on whether to demote Pluto from its planet status.

A story in BBC News Online reported in early 1999: 

“In just a few weeks time tiny Pluto will regain its crown as the most distant planet orbiting the Sun. Soon afterwards however it may lose its planetary status forever. . .  Depending upon an email vote among astronomers our solar system may soon have eight instead of nine planets as all the textbooks say.”

USA Today ran an article stating:

“The solar system is being downsized, and Pluto could get the pink
slip.” 

Similar reports appeared in the Boston Globe and many other major American newspapers.The internet was alive with debate (though rather one sided really), with many web pages showing their outrage over the proposed demotion of Pluto.

“Save Pluto” websites sprung up all around the globe, and school children sent pleading letters to
astronomers and the IAU.

The role of the media (Pluto not A Planet)


The story was quickly picked up by the media and incorrectly reported that the IAU was voting on whether to demote Pluto from its planet status.
A story in BBC News Online reported in early 1999: “In just a few weeks time tiny Pluto will regain its crown as the most distant planet orbiting the Sun. Soon afterwards however it may lose its planetary status forever. . .
Depending upon an email vote among astronomers our solar system may soon have eight instead of nine
planets as all the textbooks say.”

USA Today ran an article stating: “The solar system is being downsized, and Pluto could get the pink
slip.”

Similar reports appeared in the Boston Globe and many other major American newspapers.

The internet was alive with debate (though rather one sided really), with many web pages showing their outrage over the proposed demotion of Pluto. “Save Pluto” websites sprung up all around the globe, and school children sent pleading letters to astronomers and the IAU.

Pluto’s new family


As we saw in the previous Activity, the discovery of the KBOs has forced astronomers to think about Pluto’s place in the Solar System, since it now seems to be more the “king of the Kuiper Belt” rather than the 9 th planet in the Solar System.

This led to much debate, and then argument which reached fever pitch in early 1999, when friendships strained, internet headlines and editorials beefed up the story, and school children begged to have the little planet back.

Finally the IAU General Secretary had to issue a statement confirming that Pluto was indeed a planet (even though the term “planet” was not defined).

What’s in a name? Pluto


Let’s turn back to 1801, when Italian astronomer Guiseppe Piazzi discovered an object between Mars and Jupiter. The object was thought to be the “missing planet” as predicted by the Titius Bode Law 2
, orbiting at 2.76 AU. 

Piazzi called his new object Ceres Ferdinandea, the 8th planet. However, the subsequent discovery of other “small planets” by German Heinrich Olbers immediately cast doubts about Piazzi’s planet, which became known simply as Ceres. By 1849, 10 such objects were known, and the 100th minor planet or asteroid was announced in 1868. By 1923, 1000asteroids were catalogued, and today the number exceeds 12,000.

With the discovery of the first four minor planets - Ceres, Pallas, Juno and Vesta - in the early 1800s, it was obvious that these objects formed a new class of objects in the Solar System. They all shared very similar orbits, were eccentric, had large inclinations and were all small. As a group, we now call small objects orbiting between Mars and Jupiter asteroids or minor planets.

We also know now that there are several different types (or groups) of asteroids:

• Near Earth Asteroids (of which there are 3 subclasses);
• Main Belt Asteroids;
• the Trojans; and
• the Centaurs.


And that’s just their dynamical categories. Asteroids are also classified by their albedo and spectral
characteristics.


So what’s with all these names? Are we just going to classify objects and subdivide groups of objects ad infinitum? Having suitable names for the various classes of objects is useful for people working in the field so that they have a common language when discussing these different objects. It’s also important in helping us understand their origin.

Clearly the Solar System is a complex object, and so if we can break it up into smaller parts and try to understand each individual component, we can then go back and try to build a more complete model of the  Solar System. So we start by subdividing groups of objects and learning about each group, and then try to see how each group is related.

It often turns out that an individual object can fall into two classes, and this is where things start to get messy...


The current classification debate in planetary science is about the exact nature of the KBOs or TNOs 3.



They’re listed by the IAU’s Minor Planets Centre 4 as minor planets (so that means asteroids). They actually fall into two groups: the TNOs (1010 listed) and the Centaurs/scattered disk objects (173 listed). But this, remember, is a dynamical listing rather than a compositional categorisation. 3 See how important names can be! For now, “KBO” and “TNO” are used interchangeably. 4 To visit the Minor Planet Centre on the web

It is difficult to tell the difference between Centaurs and scattered disk KBOs. For example, 1995 SN55 is a Centaur and yet its eccentric orbit carries it past the orbit of Neptune. It could just as easily be classified as a scattered disk KBO.

Is it OK for one object to have two classifications? Taking this idea one step further, is it also OK for Pluto to have two classifications?








The new Solar System


Our knowledge of the Solar System and planets in general has changed dramatically over recent years. The field of planetary science is currently going through a revolution!

You might think of the Solar System as 4 terrestrial planets, 4 Jovians, Pluto, dozens of satellites, thousands of asteroids, and possibly millions of comets. But lately things have been getting a bit confusing. For example, planetary scientists will tell you there are three clear groups of planets: the terrestrial, gas giants (Jupiter and Saturn), and ice giants (Uranus and Neptune) – though ice giants are a sub-class of gas giants. Some asteroids have comet-like coma (like 2060 Chiron) and as we’ve seen hundreds of new objects are being found orbiting the Sun out past Neptune.

Added to this, over 350 extrasolar planets have been found, none of which look much at all like our Solar System. Many stars seem to host “hot Jupiters” – Jupiter mass planets on extremely short periods (ten times closer to their host star than Mercury is to the Sun), and most planets seem to be on eccentric orbits.

And if you thought all this wasn’t bad enough, free floating “planets” have been found in the Orion star forming region – surely a planet has to at least orbit a star? So with all this new information, there are strong arguments for defining exactly what a planet is. Let’s have a look at the debate about defining planets in more detail.

Is Pluto a Planet?: Planet or Not a Planet?

Summary :


In this Activity, we will look at the actual debate about Pluto’s status as a planet. In particular, we will learn about:

  •  the classification of objects in the Solar System;
  • celebrating the new KBOs;
  •  the media getting it wrong; and
  •  resolving the issue about Pluto’s status 

Why Pluto Should Still Be A Planet ?

TWENTY REASONS WHY PLUTO SHOULD STILL BE A PLANET



Demoting Pluto is unfair. The new definition of planet relies on information (mass, shape) that was not and could not be known in the 1930s.

The new definition requires that a planet be round. Heck. Is even the Earth really round? Don’t judge Pluto by the company it keeps. The new definition requires that a planet gravitationally clear its orbit. What about Trojan asteroids at Jupiter? What about NEARs at Earth? What about dust? That rule could reduce the number of planets to zero!

The new rule is circular, anyway. (No pun intended.) If an object really is massive enough to “clear” its orbit, it’s going to be self-compressed round.

And the “playing field” is not level. A body’s difficulty in clearing its orbit (really, the volume that it must clear) increases as a function of its distance from the Sun. Clearing is most difficult for Pluto, the furthest “planet.” Pluto is a product of a poor neighborhood. If Mars, like Pluto, lived in a cluttered region
such as the Kuiper Belt, it would no longer be considered a planet.

Instead, Mars was brought up at a ritzy address. It’s got massive Jupiter nearby to help clean up its orbit. Sure. Let the butler do it for you!

This upstart body called Eris (now known to be bigger than Pluto) has an orbit highly inclined to the ecliptic. There’s not much to clear up there. No heavy lifting. If worlds were drafted back when Pluto was discovered, Eris would have gotten the National Guard.

The new planet definition is time dependent. We need to know the history of a body before we can assign its status. The waiting line for a planetary passport is a billion-years long!

We usually don’t define things based on their location. We have “star clusters” not “cluster stars.”

The new planet definition was not chosen through a transparent process. Despite the best efforts of the committee and its chairman, the story gives the impression that science is done in the backroom.

The International Astronomical Union planet definition vote was botched. Yes, it was even worse than Bush vs. Gore in 2000.By the way, what’s with that substitute “dwarf planet” thing? You mean a dwarf planetis not a planet? Where’s a linguist when we need one?

The new planet definition might affect Pluto research funding. Would the recently launched space probe to Pluto have made it off the ground today? Would Congress fund a mission to a dismissed planet?

The word “dwarf” has negative connotations, at least among the public at large. Between Pluto and dwarfs, there’s just too much Disney floating around We are in danger of convincing people that scientific classification is real, and not a human construct.

Hey, Pluto-discoverer Clyde Tombaugh’s story is too good to throw away. Can Michael Brown build a telescope out of a Model T Ford? (Well, to be honest, maybe he can . . .)

Kids like Pluto. It sounds cuter than “Uranus.” Worse, some think Pluto has disappeared! These future taxpayers (and astronomers) will vote with their feet—or rather their toys, coloring books, and songs. We might as well rename Santa’s reindeer . .
.
The word “planet” is in popular usage—has been for millennia. Can astronomers hijack a word? Sounds pretty snooty to me.

Even if defining Pluto is capricious, what’s wrong with a capricious definition? Astronomy already has such nonsensical items as planetary nebulae, tthe Large Magellanic Cloud, and asteroids (which aren’t very “aster” at all). Deal with it.

Planet kerdil ( Pluto )


Pluto kemudian masuk dalam keluarga baru yang disebut planet kerdil atau planet katai  (dwarf planets). Keluarga ini beranggotakan Pluto dan benda-benda langit lain di Tata  Surya yang mirip dengan Pluto, termasuk di dalamnya asteroid terbesar Ceres, satelit  Pluto, Charon, dan beberapa benda langit lain yang baru saja ditemukan. 

Menurut Direktur Observatorium Bosscha di Lembang, Jawa Barat, Dr Taufiq Hidayat,  keputusan Sidang Umum IAU tersebut adalah puncak perdebatan ilmiah dalam astronomi  yang sudah berlangsung sejak awal 1990-an lalu. Perdebatan tersebut dipicu berbagai  penemuan baru yang menimbulkan keraguan apakah Pluto masih layak disebut planet  atau tidak. 

"Karakteristik Pluto memang berbeda dengan planet-planet lainnya. Bahkan komposisi  kimianya lebih menyerupai komet daripada planet," ungkap astronom yang mendalami  bidang ilmu-ilmu planet ini.  Selain itu, perkembangan teknologi teleskop juga membawa pada penemuan berbagai  benda langit yang masuk dalam kelompok Obyek Sabuk Kuiper (Kuiper Belt Object/KBO). 

Sabuk Kuiper sendiri adalah sebutan untuk wilayah di luar orbit planet Neptunus hingga  jarak 50 Satuan Astronomi (SA/1 Satuan Astronomi = jarak rata-rata Matahari-Bumi, yakni  sekitar 149,6 juta kilometer) dari Matahari. Beberapa KBO sangat menarik perhatian karena berukuran hampir sama atau bahkan  lebih besar daripada Pluto (diameter 2.300 km) dan ada yang memiliki satelit atau "bulan". 

Beberapa obyek tersebut, antara lain, Quaoar (diameter 1.000 km-1.300 km), Sedna (1.180  km- 1.800 km), dan yang paling terkenal adalah obyek bernama 2003 UB313 yang  ditemukan Michael Brown dari California Institute of Technology (Caltech) pada 2003 lalu.  Obyek yang dijuluki Xena tersebut memiliki diameter 2.400 km, yang berarti lebih besar  daripada Pluto. Xena sempat dihebohkan sebagai planet ke-10 Tata Surya. 

Sejak saat itu, lanjut Taufiq, terjadi perbedaan pendapat di kalangan astronom. "Pilihannya  adalah memasukkan Ceres, Charon, dan 2003 UB313 ke dalam keluarga planet sehingga  jumlah planet menjadi 12, atau mengeluarkan Pluto. Akhirnya pilihan kedua yang  disepakati," tutur mantan Ketua Jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung ini.  Kesepakatan itu sendiri bukannya datang dengan mudah. Taufiq mengatakan,  pengambilan keputusan itu bahkan dicapai dengan cara pemungutan suara di antara para  anggota IAU yang hadir setelah didahului perdebatan yang sangat sengit. Empat astronom  senior dari Indonesia turut serta dalam Sidang Umum IAU tersebut, yakni Jorga Ibrahim,  Iratius Radiman, Suryadi Siregar, dan Ny Permana Permadi. Mereka belum bisa  diwawancarai karena belum kembali di Tanah Air sampai tulisan ini dibuat. 

Kontroversi Planet Pluto

Keputusan melepas status planet dari Pluto tentu saja sangat mengejutkan semua pihak.  "Kata 'planet' dan gagasan tentang planet bisa menjadi sangat emosional karena itu  adalah hal yang kita pelajari sejak kita masih kanak-kanak," ungkap Richard Binzel, profesor ilmu-ilmu planet dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang  menentang "pemecatan" Pluto, seperti dikutip Associated Press.  Orang paling terpukul dengan keputusan ini adalah Patricia Tombaugh (93), janda Clyde  Tombaugh, ilmuwan yang menemukan Pluto pada 18 Februari 1930. "Ini sangat  mengecewakan dan sangat membingungkan. Saya tidak tahu bagaimana harus  menghadapi ini, rasanya seperti kehilangan pekerjaan," tuturnya kepada AP dari 
rumahnya di Las Cruces, New Mexico. 

Beberapa pihak memprediksi debat mengenai status Pluto tidak akan berakhir di sini. Alan  Stern, ketua misi pesawat ruang angkasa NASA, New Horizon, yang diluncurkan ke Pluto,  Januari lalu, mengaku merasa "malu" terhadap keputusan itu. Meski demikian, misi senilai  700 juta dollar AS dan baru akan tiba di Pluto pada 2015 itu tetap akan dilanjutkan. "Ini  benar-benar sebuah definisi yang ceroboh. It's bad science. Ini belum selesai," ujar Stern. 

Wajar Pencopotan Planet Pluto

Wajar saja pencopotan gelar planet dari Pluto memicu reaksi yang emosional. Pluto  selama ini memiliki tempat tersendiri di hati para astronom, baik yang profesional maupun  amatir. Pluto sering dianggap "Si Bungsu dari Tata Surya" karena jaraknya yang terjauh  dari Matahari dan ditemukan paling akhir dibandingkan delapan planet lainnya. 

Orbit Pluto yang sangat lonjong dan tidak sejajar dengan bidang lintasan planet lainnya  juga membuat planet ini unik. Pluto juga sempat dianggap sebagai jawaban dari misteri  Planet X, sebuah planet hipotetis yang diduga ada di luar orbit Neptunus dan  menyebabkan gangguan pada orbit planet Uranus dan Neptunus. 

Meski ukuran Pluto  kemudian terbukti terlalu kecil untuk menjadi Planet X, dugaan tersebut menjadi bagian 
dari legenda Pluto. Selain itu, keputusan pencabutan Pluto dari keluarga planet Tata Surya ini juga membawa 
konsekuensi perubahan seluruh buku pelajaran, kamus astronomi, buku pintar, dan  ensiklopedia di dunia yang sudah terlanjur mencantumkan Pluto sebagai planet ke-9.  Bayangkan kerepotan yang akan terjadi. 

Namun, Taufiq Hidayat mengatakan, inilah konsekuensi dari perkembangan ilmu  pengetahuan. Perubahan definisi planet dan keluarnya Pluto dari keluarga planet hanyalah  sebuah pengingat bagi kita semua bahwa ilmu pengetahuan yang kita pahami dan kita  yakini kebenarannya sekarang ini bukanlah sebuah kesimpulan final. Masih banyak  kebenaran yang belum kita temukan.  Seperti yang selalu dikutip dalam serial film televisi X-Files, the truth is out there.... 

Sumber : Kompas (27 Agutsus 2006)

Pluto Planet atau bukan ?


Pada saat ditemukan, Pluto adalah satu-satunya objek di luar  Neptunus yang diketahui. Lalu ketika bulan yang mengelilinginya,  Charon, terlihat, maka hal itu justru makin menguatkan status 
Pluto sebagai planet.

Akan tetapi, para astronom kemudian menemukan sekitar 1.000  objek kecil lain di luar Neptunus yang juga mengelilingi Matahari.  Di sana mungkin ada sekitar 100.000 objek serupa yang dikenal  sebagai objek Sabuk Kuiper, kata Bob Millis, direktur  Observatorium Lowell.

Pluto sendiri, dengan orbit memanjangnya yang aneh, memiliki  perilaku lebih mirip objek Sabuk Kuiper dibanding sebuah planet,  demikian anggapan beberapa astronom. Mereka juga  menegaskan bahwa Pluto berukuran amat kecil, bahkan lebih  kecil dari Bulan kita, sehingga terlalu kecil untuk disebut planet.

"Bila Anda mempelajari lebih jauh, Anda akan melihat Pluto lebih cocok dimasukkan dalam golongan objek Sabuk Kuiper," kata Hal  Weaver, ilmuwan proyek pada misi New Horizons, yang akan meluncurkan sebuah wahana menuju Pluto tahun depan, dan diperkirakan akan mencapainya tahun 2015.

Namun mengubah pengertian bahwa Pluto bukan sebuah planet adalah sesuatu yang tidak mudah. Nama  yang juga digunakan dalam salah satu karakter anjing Disney (kebetulan muncul tahun 1930) ini beserta  posisi dan predikatnya sebagai planet terkecil sudah terlanjur populer di kalangan anak sekolah.

Selain itu beberapa astronom juga sudah menerima Pluto sebagai sebuah planet. Alasannya, Pluto memiliki  bentuk bundar seperti planet, sedangkan komet dan asteroid cenderung berbentuk tak beraturan. Pluto juga 
mempunyai atmosfer dan musim layaknya planet. "Bila kita tidak menyebutnya sebuah planet, maka bagaimana kita akan menyebutnya," kata Kevin  Schindler, supervisor senior di Lowell.

Yang makin meramaikan debat tersebut adalah tidak adanya definisi resmi mengenai apa itu planet.  Pembuatan standar ciri-ciri planet, misalnya mengenai batas ukuran atau pola orbitnya, justru berpotensi  menjadikan objek lain sebagai planet dan malahan mengeluarkan Pluto dari golongan ini. "Kontroversi mengenai apakah ia planet atau objek Sabuk Kuiper terbesar sepertinya masih akan berlanjut,"  kata Millis. "Tapi bagi saya lebih penting mengetahui seperti apakah Pluto sebenarnya daripada apakah  Pluto itu." (AP/cnn.com/wsn)


Updated: Kompas (Sain dan teknologi) Senin, 14 Februari 2005, 18:19 WIB

Astronom Dunia Coret Status Pluto Sebagai Planet


Praha (ANTARA News) - Ahli astronomi dari seluruh dunia dalam pertemuan di Praha,  Kamis, mencoret status Pluto sebagai sebuah planet, dan memberi definisi baru yakni  "planet kecil" dalam sistem tata surya.

Dengan demikian, dalam sistem tata surya hanya ada delapan planet klasik, yakni  Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus, Reuters melaporkan.

Pluto yang ditemukan tahun 1930 secara tradisional dianggap sebagai planet ke-sembilan  dan yang terjauh dari Matahari. Namun definisi sebuah planet yang disetujui setelah perdebatan seru dalam pertemuan  Persatuan Astrotomi Internasiogal (IAU) menegaskan perbedaan antara Pluto dan delapan  planet lainnya, kecuali satelit.

Pendefinisian kembali suatu planet diperlukan, menyusul kemajuan teknologi yang memungkinkan astronom dapat lebih dekat mengamati luar angkasa dan dapat akurat  mengukur volume benda langit di sistem tata surya. (*)

Para astronom setuju bahwa untuk disebut planet, sebuah benda langit harus punya orbit  mengitari sebuah bintang dan planet itu sendiri bukan sebuah bintang. Planet juga harus memiliki gaya grafitasi yang cukup beasr berukuran cukup besar. Pluto tidak memenuhi sarat sebagai planet karena orbitnya tumpang tindih dengan  Neptunus.

Definisi baru --- yang pertama diperkenalkan IAU untuk menggambarkan secara ilmiah  menganai apa itu planet -- memberikan kategori kedua yang disebut "dwarf planet" atau  planet kecil, serta kategori ketiga untuk semua objek benda lainnya lainnnya. (*)

Selamat Tinggal Planet Pluto.


Mulai Kamis (24/8) jangan pernah terpeleset mengucapkan  Planet Pluto. Karena sejak hari itu, Pluto sudah tidak lagi  berhak menyandang predikat sebagai planet.  Sidang Umum Himpunan Astronomi Internasional (International Astronomical Union/IAU) Ke-26 di Praha, Republik Ceko, yang berakhir 25 Agustus,  menghasilkan keputusan bersejarah dalam dunia astronomi dengan mengeluarkan Pluto dari  daftar planet-planet di Tata Surya kita.

 Mulai sekarang, anggota Tata Surya hanya terdiri dari delapan planet, yakni Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.  Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjadi anggota Keluarga Planet Tata Surya selama  76 tahun merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Resolusi 5A Sidang  Umum IAU Ke-26 berisi definisi baru itu. 

Dalam resolusi tersebut dinyatakan, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi  tiga syarat, yakni mengorbit Matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan  bentuk bulat, dan memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (tidak ada benda langit lain di orbit  tersebut). 

Definisi tersebut adalah definisi universal pertama tentang planet sejak istilah planet dikenal di  kalangan astronom, bahkan sebelum era Nicolaus Copernicus yang tahun 1543 membuktikan  Bumi adalah salah satu planet yang berputar mengelilingi Matahari. 

Dengan definisi baru tersebut, Pluto tidak berhak menyandang nama planet karena tidak  memenuhi syarat yang ketiga. Orbit Pluto memotong orbit planet Neptunus sehingga dalam  perjalanannya mengelilingi Matahari, Pluto kadang berada lebih dekat dengan Matahari  dibandingkan Neptunus.

Planet Pluto berubah warna




Para ilmuwan NASA mengatakan planet Pluto yang kecil dan terletak di paling ujung sistem tata surya kita kini semakin berwarna merah.

Gambar-gambar yang diambil teleskop ruang angkasa Hubble memperlihatkan bahwa planet itu 20% lebih merah dari sebelumnya. Para pakar yakin fenomena itu disebabkan oleh perubahan pada es yang ada di permukaan Pluto disaat planet ini memasuki tahap baru dari orbit selama 248 tahun.

Gambar-gambar baru ini memperlihatkan nitrogen yang membeku semakinbersinar di utara dan semakin gelap di bagian selatan.

"Perubahan-perubahan ini kemungkinan besar merupakan dampak dari mencairnya es di kutub yang terkena sinar matahari sementara di kutub lainnya membeku," demikian pernyataan Institut Sains Teleskop Ruang Angkasa NASA.

Namun sejumlah pakar astromoni menyatakan kaget dengan perubahan itu. "Sedikit mengejutkan melihat perubahan ini terjadi demikian besar dan demikian cepat," ujar Marc Buie, dari Southwest Research Institute. "Ini tidak pernah terjadi sebelumnya."

Tahun 2006, para astronomi mencabut status Pluto sebagai planet penuh menjadi planet kecil. Planet yang terletak sangat jauh dan jauh lebih kecil dari delapan planet lain di tata surya kita ini memang jauh lebih kecil dari beberapa bulan yang ada di ruang angkasa.

Tetapi warna merah ini diperkirakan tidak berdampak pada suhu di pluti; meski ada warna kemerahan itu suhu permukaan Pluti sangat dingin di titik -233C.

Mengapa Pluto Tidak Disebut Planet ?


Sejarah Pluto

Pluto ditemukan oleh Clyde William Tombaugh, seorang astronom muda di Observatorium Lowell,  pada 18 Februari 1930. Sejak saat itu dia menjadi anggota Bimasakti yang paling jauh letaknya. Jarak  Pluto dengan matahari adalah 5.900,1 juta Km. Pluto memiliki diameter yang mencapai 4.862 Km dan  memiliki massa 0,002 massa Bumi. Periode rotasi Pluto adalah 6,39 hari, sedangkan periode revolusi  adalah 248,4 tahun. Bentuk Pluto mirip dengan Bulan dengan atmosfer yang mengandung  metan.  Suhu permukaan Pluto berkisar -233 0Celsius sampai -223 0 Celsius, sehingga sebagian besar berwujud es

Alasan Kenapa Bukan Planet

1. Benda angkasa disebut sebagai planet bila memiliki bagian seperti bumi yaitu gas, batu dan air
sedangkan neptunus terdiri atas gas dan batu. Namun pluto hanya terdiri atas batu dan es.


2. Ukurannya yang kecil, tidak sampai setengah dari diameter merkurius yang merupakan planet yg sangat licek / kecil

3. Orbit Pluto yang kadang timpang tindih dengan orbit planet Neptunus


4.  Pluto berukuran hampir sama dengan satelit2-nya yang membuat pluto hanya dianggap sebagai  benda langit yang bukan disebut planet.





Susunan Tata Surya



Tata surya (Solar System) terdiri dari matahari, planet, serta benda-benda langit  lainnya seperti satelit, komet, meteor, dan  asteroid. Tata surya dipercaya terbentuk  sejak 4.600 juta tahun yang lalu, yang merupakan hasil penggumpalan gas debu di  angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilingi  matahari. Matahari mengandung sekitar 99,87% bahan pembentuk seluruh tata surya.  Ada dua paham yang berhubungan dengan tata surya, yaitu paham geosentris dan  paham heliosentris. Paham geosentris  dikembangkan oleh Claudius Ptolemaeus  (Ptolemy) sekitar tahun 150 T.M. Menurut paham geosentris, bumi merupakan pusat  dari jagad raya. Bulan berputar mengelilingi bumi dengan orbit yang paling dekat,  sementara bintang-bintang terletak pada bulatan angkasa yang besar dan berputar  pada orbit yang paling jauh.


Paham geosentris bertahan hingga abad ke-16. Baru pada sekitar tahun 1543  terjadi revolusi ilmiah besar-besaran yang dilakukan oleh Copernicus. Copernicus  menggantikan paham geosentris dengan paham baru yang disebut paham  heliosentris. Menurut paham heliosentris,  yang menjadi pusat jagat raya bukanlah  bumi, melainkan matahari. Matahari berada pada pusat alam semesta, sedangkan  bumi beserta planet-planet yang lainnya  bergerak mengelilingi matahari pada  orbitnya masing-masing. Paham heliosentris mendapat dukungan dari Kepler.   Pada tahun 1609 Kepler mendukung gagasan tersebut dengan mengemukakan  tiga hukumnya yang selain menyebutkan bahwa  matahari sebagai pusat dari tata  surya, juga memperbaiki orbit planet menjadi elips. Pada tahun yang sama Galileo  menemukan teleskop. Melalui pengamatan dengan teleskop Ia menarik kesimpulan bahwa yang menjadi pusat tata surya bukan bumi, melainkan matahari. Penemuan  teleskop oleh Galileo tidak hanya menguatkan paham heliosentris dari Cpernicus,  tetapi membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu astronomi. 


Flag Country

free counters