NASA Hidupkan Penyelidikan Kepler

NASA Hidupkan Penyelidikan Kepler
Pict from voaindonesia


NASA berusaha menghidupkan kembali penyelidikan atas kendaraan antariksa Kepler, yang kini dalam situasi darurat lebih dari 120 juta kilometer dari Bumi.

Badan antariksa AS itu mengatakan kontak terakhirnya dengan pesawat pendeteksi planet yang mulai usang itu adalah sepekan lalu. Para petugas kontrol di darat ketika itu berupaya mengarahkan Kepler ke tengah Galaksi Bima Sakti. Dikatakan pemeriksaan ketika itu tidak menunjukkan tanda-tanda adanya masalah.

Sejak itu, NASA mengatakan Kepler telah menjalani apa yang dikatakannya “kegiatan operasional terendah,” dan mengatakan prioritas utama tim Kepler adalah memanfaatkannya kembali secara optimal.

NASA meluncurkan Kepler pada tahun 2009. Kendaraan antariksa itu telah mendeteksi lebih dari 1,000 planet di luar tata surya.

Misi utama Kepler, yaitu mendeteksi planet, berakhir pada tahun 2012. Meskipun pernah rusak beberapa kali, NASA selalu berhasil menghidupkannya kembali dan terus mengoperasikannya.

Voaindonesia.

Bisa Planet Bumi Kedua, Planet Gliese 581g Ternyata Tidak Ada

 Bisa Planet Bumi Kedua, Planet Gliese 581g Ternyata Tidak Ada


Tahun 2010, dunia astronomi dihebohkan oleh penemuan planet yang begitu mirip dengan Bumi dari jarak dengan bintangnya, suhu, dan ukurannya. Planet yang mengorbit bintang Gilese 581 yang berjarak 22 tahun cahaya dari tempat tinggal manusia itu bernama Gliese 581g.

Penemuan planet itu dianggap sebagai sebuah terobosan. Gliese 581g membangkitkan harapan banyak pihak untuk bisa menemukan tempat tinggal lain bagi manusia. Planet itu menguatkan dugaan bahwa dunia seperti Bumi umum di alam semesta.

Namun, penemuan planet tersebut berakhir antiklimaks. Sebuah studi lanjutan tentang Gliese 581g ternyata menyatakan bahwa Gliese 581g sebenarnya tidak eksis. Obyek yang ditemukan pada 2010 lalu sebenarnya hanya ledakan magnetik dari sebuah bintang.

Paul Robertson, astronom dari Pennsylvania State University, menganalisis lagi data yang digunakan Paul Butler dan Steven Vogt, dua astronom yang memublikasikan penemuan Gliese 581g pada 2010.

Tak hanya menganalisis data planet tersebut, Robertson juga melihat kembali data yang dipakai untuk menemukan planet lain di bintang Gliese 581, yaitu Gliese 581b, Gliese 581c, Gliese 581d, dan Gliese 581e.

Untuk mengonfirmasi, Robertson melihat emisi hidrogen alfa dan sodium dari Gliese 581g. Dari data tersebut, ia bisa memperkirakan periode rotasi bintang dan efek aktivitas bintang pada kecepatan radial bintang tersebut.

Dengan mengetahui kecepatan radial, ilmuwan bisa membuat persamaan untuk mengetahui efek aktivitas bintang pada "goyangan bintang". Butler dan Vogt sebelumnya menemukan Gleise 581g dengan melihat "goyangan bintang" akibat gaya gravitasi planet yang ada di sekitarnya.

Robertson membandingkan hasil analisisnya dengan data Butler dan Vogt. Diberitakan IBTimes, 3 Juli 2014, menurut risetnya, Gliese 581d dan Gliese 581g sebenarnya tidak eksis, hanya ledakan magnetik. Sementara itu, Gliese 581 dinyatakan memang planet.

Bagaimana Butler dan Vogt bisa mengatakan Gliese 581g planet? Diberitakan National Geographic, 3 Juli 2014, dua peneliti itu mungkin dibingungkan oleh ledakan magnetik yang dihasilkan.

Ledakan magnetik itu menyajikan data yang mirip dengan "goyangan bintang" serupa seperti yang dihasilkan oleh adanya planet. Alhasil, Butler dan Vogt membuat kesimpulan bahwa mereka menemukan planet, padahal planet itu tak ada. 

Sumber : Kompas

Di Luar Dugaan, Mungkinkah Pluto Menjadi Planet Lagi?


Di Luar Dugaan, Mungkinkah Pluto Menjadi Planet Lagi?



Seiring keberhasilan misi New Horizon menjamah Pluto, debat tentang status Pluto kembali mengemuka. Sejumlah kalangan menginginkan status Pluto sebagai planet yang dilepaskan pada tahun 2006 dikembalikan.

Stuart Clark, seorang penulis astronomi, dalam tulisannya di The Guardian, Rabu (15/7/2015), mengungkapkan langsung lewat judul "Tentu Pluto cukup berhak menjadi planet. Ukuran Bukan Segalanya."

Clark mengatakan bahwa Pluto memang dunia kecil, diameternya hanya 2.370 kilometer dan volumenya hanya 1 persen Bumi. "Namun, soal ukuran itu tak seharusnya dijadikan alasan untuk menendang Pluto," katanya.

Menurut Clark, menolak status Pluto sebagai planet merupakan penyangkalan terhadap sejarah. Tahun 1930, Clyde Tombaugh dari Lowell Observatory di Arizona menemukan Pluto sebagai planet. Sejarah itu, menurut Clark, tak seharusnya ditulis ulang.

Keberhasilan New Horizon harus dimanfaatkan untuk melihat ulang status Pluto. "Ini waktunya untuk mengkaji ulang aturan penetapan planet, mengembalikan status Pluto, dan menerima bahwa kita hidup di tata surya yang lebih besar dan bervariasi," jelasnya.

Diragukan sejak awal

Status Pluto sebagai planet sebenarnya sudah diragukan sejak awal, sejak masih disebut "Planet X". Sebulan setelah publikasi penemuannya di jurnal Science pada 21 Maret 1930, artikel di jurnal yang sama meragukan temuan itu.

Pluto kala itu dikatakan berukuran jauh lebih kecil dari dugaan. Sementara bidang orbitnya juga jauh lebih miring dan lebih lebar dibandingkan planet pada umumnya. Sempat diduga bahwa pluto adalah asteroid yang unik.

Kontroversi terus berlanjut, tetapi para ilmuwan yang mendukung keberadaan planet ini "tak peduli". Bulan Juni 1930, planet X dinamai sebagai Pluto berdasarkan usulan putri salah satu profesor dari Oxford University.

Selama 7 dekade setelah penemuan, Pluto tetap menyandang status planet walaupun masih kontroversi. Baru tahun 2006, status planet Pluto dicabut oleh International Astronomical Union (IAU), badan yang bertanggung jawab pada penamaan dan klasifikasi benda langit.

Penemuan Eris pada tahun 2005 memicu "pemecatan" Pluto. Eris memiliki ukuran sedikit lebih besar dari Pluto. Ilmuwan lantas bingung, apakah lalu bisa dikatakan bahwa Eris adalah planet kesepuluh di tata surya?

Tahun 2006, IAU memaparkan sejumlah syarat utama benda langit bisa disebut planet. Pluto tak memenuhi syarat ukuran dan orbit. Ukuran Pluto terlalu kecil dan orbitnya belum bisa dikatakan "bersih" dari benda langit lain selain satelitnya.

Mungkin ditarik sebagai planet Lagi?

Beberapa saat sebelum New Horizon berhasil melintas dekat Pluto pada jarak 12.500 kilometer dari permukaannya, wahana itu mengungkap bahwa di planet kerdil ternyata berukuran lebih besar dari dugaan.

Akankah ukuran itu membuat Pluto kembali dinyatakan sebagai planet. Sepertinya tidak. Meski diketahui lebih besar, ukuran Pluto tetap setara dengan Eris, belum bisa menyamai ukuran planet terkecil di Tata Surya, Merkurius.

"Dalam tata surya kita, ada perbedaan jelas antara obyek yang besar dan kecil, Pluto, Eris, Ceres, dan planet terkecil di tata surya, Merkurius," kata astrobom Jonti Homer seperti dikutip Sydney Morning Herald, Selasa (14/7/2015).

Pluto juga tetap sulit dikategorikan sebagai planet karena orbitnya masih bersinggungan dengan orbit Neptunus dan benda langit lain. Pluto baru mungkin menjadi planet bila kriteria planet itu sendiri diubah.

Alan Stern dari NASA yang kini memimpin misi New Horizon adalah salah satu orang yang percaya bahwa kriteria planet harus diubah. Menurutnya, kriteria planet IAU absurd. Temuan dan gagasan baru hasil riset seharusnya bisa diakomodasi untuk mengklasifikasikan benda langit.

Terlepas dari status Pluto, Lewis Ball dari Organisasi Riset Sains dan Industri Australia (CSRIO) mengatakan, misi New Horizon memegang peran penting dalam upaya menguak rahasia pembentukan tata surya.

"Mencapai Pluto dan wilayah terjauh tata surya menjadi prioritas dalam riset keantariksaan karena dunia itu menyimpan unsur tata surya yang dipendam dalam beku. Dunia beku itu menyimpan material yang membentuk planet-planet," katanya
 
Sumber : Kompas

Danau Terakhir Diplanet Mars Ditemukan NASA

Inilah Danau Terakhir Diplanet Mars Ditemukan NASA
Brian Hynek/Laboratory for Atmospheric and Space Physics

 
Hasil riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Geology pada 5 Agustus 2015 lalu mengungkap danau terakhir di Mars. Danau itu berada di dekat lokasi pendaratan wahana Opportunity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Eagle Crater.

Brian Hyek dari University of Colorado-Boulder, seorang geolog, melakukan analisis mineral dengan wahana NASA yang mengorbit Mars menggunakan teknik digital mapping. Hasil analisis menunjukkan bahwa danau yang luasnya diperkirakan 46 kilometer persegi itu berusia 3,6 miliar tahun. Waktu 3,6 miliar tahun lalu adalah saat ketika Mars mengering.

"Danau ini berumur panjang, dan kami mampu menetapkan batasan umur maksimumnya," kata Hynek seperti dikutip situsIFLScience.com, Rabu (12/8/2015). "Kami bisa cukup yakin bahwa danau ini merupakan salah satu danau terakhir yang dimiliki oleh Mars."

Menurut Hynek, danau itu terbentuk ketika sebuah lembah terbentuk, dikelilingi perbukitan dan dialiri air. Air mulai mengumpul, membentuk kolam, dan akhirnya semakin banyak sehingga menjadi danau. Namun, air kemudian menguap dan mengering. Akhirnya, yang tersisa adalah endapan garam.

Berdasarkan analisis endapan, Hynek mengungkapkan bahwa danau itu miskin garam. Kandungan garam danau itu hanya 8 persen dari kandungan danau lautan di Bumi. Karenanya, Hynek mengatakan bahwa danau terakhir di planet merah itu mungkin bisa mendukung kehidupan.

Trip to Singapura 7 Desember 2014

Perjalanan di awali dengan pembelian tiket untuk pergi ke Singapura. Pergi dari Surabaya (SUB) ke Singapura (SIN) menggunakan pesawat Air Asia yang berharga Rp. 600.000 sudah termasuk bagasi 20 kg pemesanannya menggunakan traveloka jadwal kebrangkatannya tanggal 7 Desember 2014 di Bandara Juanda terminal 2. Saat itu aku berangkat jam setengah 2 malam karena untuk penerbangan internasional harus ada di bandara 2 jam sebelum keberangkatan karena jarak rumah dan bandaraku jauh akhirnya aku harus berangkat pagi. Sesudah sampai di bandara ternyata bandaranya belum buka. Akhirnya aku pun menunggu sambil mencetak tiket di mesin tiket apesnya pada saat mau mengeprint kertas tiketnya habis padahal di mesin sudah tertera mencetak. Aku pun bingung tiketnya tidak mau keluar akhirnya aku pun menunggu lagi sampai counter dan bandara dibuka. Jam setengah 4 akhirnya buka bandaranya dan aku menuju pemeriksaan tiket sambil membawa kertas pembokingan tiket, aku pun menjelaskan tiket yang di cetak di mesin tiket tadi pada pemeriksaan cek in tiket ternyata tidak apa-apa. Akhirnya aku pun pergi ke Singapura jam setengah 6 tepat sama yang tertera di tiket setelah membayar pajak bandara RP 200.000 dan pemeriksaan paspor . Perjalanan pesawat dari Surabaya menuju Singapura di tempuh selama 2 jam tapi kayak satu jam mungkin karena adanya perbedaan waktu antara Surabaya dan Singapura di pesawatnya kita di suruh mengisi biodata diri berpergian untuk keimigrasian negara yang akan dituju. 

Dibandara Changi terminal 1 pesawat mendarat. Sampai di Singapura aku bingung mencari transportasi menuju hotel, setelah berfikir agak lama aku pun memilih menggunakan MRT bandara gratis untuk menuju terminal 3. Setalah sampai stasiun terminal 3 MRT aku membeli tiket top up MRT seharga 10 SGD. Setalah itu aku memilih jalur MRT East Line untuk menuju stasiun Paya Lebar. Aku pun berjalan menuju hotel yang sudah di boking yaitu hotel 81 classic di jalan bugis . Diperjalanan menuju hotel aku melihat pemandangan kota Singapura yang bersih, sejuk, dan tertata rapi gedung-gedungnya tinggi, banyak terowongan perencanaan kota menggunakan vertikal city, jalur pedestarian dan orang difabel cukup luas, kamera pengawas ada banyak sekali hampir di semua tempat ada menjadikan tingkat kriminal yang sedikit.

Dua lubang hitam akan tabrakan, berpotensi hancurkan galaksi

Dua lubang hitam akan tabrakan, berpotensi hancurkan galaksi


Ilmuwan antariksa asal California Institute of Technology (Caltech) menemukan dua buah lubang hitam alias black hole yang diperkirakan akan segera bertabrakan. Nah, tabrakan itu dipercaya akan sangat dahsyat dan menyebabkan hancurnya galaksi.

Untungnya galaksi yang akan hancur itu bukanlah galaksi Bima Sakti, melainkan galaksi bernama PG 1302-102. Ya, dua galaksi itu mendiami galaksi yang berada cukup jauh dari bumi dengan jarak 3,5 miliar tahun cahaya dari bumi, tepatnya di konstelasi bintang Virgo.

Apabila kedua lubang hitam itu akhirnya bertabrakan, akan ada energi sebesar 100 miliar ledakan bintang yang dihasilkan. Dampaknya, galaksi PG 1302-102 diprediksi akan hancur.

Bahkan, tabrakan tersebut akan menghasilkan sebuah tornado luar angkasa yang dapat mendorong bintang di sekitarnya menjauh dan mengalami perubahan orbit.

Dr. S. George Djorgovski dari Caltech mengatakan bila tabrakan fase akhir antar dua lubang hitam itu masih akan terjadi sekitar satu miliar tahun lagi, New York Times (08/01). Mengingat saat ini jarak keduanya masih sekitar satu satu tahun cahaya.

Mungkin satu miliar tahun memang waktu yang sangat lama bagi manusia, tetapi bagi benda-benda luar angkasa waktu seribu juta tahun bagaikan kedipan mata saja.

15 Tahun Lagi NASA Bakal Temukan Bumi Baru untuk Manusia



Setelah berhasil menemukan 8 planet layak huni, NASA semakin yakin jika ada kehidupan lain di luar galaksi. Mereka mengklaim mampu menemukan bumi alternatif untuk menampung manusia.

 
 
15 Tahun Lagi NASA Bakal Temukan Bumi Baru untuk Manusia
 
 
 
Ilmuwan NASA, yang bertugas untuk memburu planet layak huni, mengatakan jika target mereka adalah menemukan planet dengan lautan, mirip bumi. Target tersebut akan bisa dicapai dalam kurun 15 tahun ke depan.

"Bisa 15 tahun lagi, mungkin saja. Namun, untuk mengunjunginya dibutuhkan keahlian manusia untuk menguasai hukum relativitas Einstein, tujuannya untuk mengalahkan teori itu sendiri," ujar Dr John Mather, astrofisikawan dari NASA Goddards Space Flight Center di Maryland, dilansir melalui Daily Mail, Jumat 9 Januari 2015. Dia juga tercatat sebagai ilmuwan senior untuk proyek teleskop antariksa James Webb.

Menurut dia, manusia terlalu berharap banyak terhadap kecerdasan buatan. Pasalnya, sangat penting untuk bisa menanggulangi keterbatasan manusia menghadapi kecepatan cahaya dan ruang antariksa. Itulah saatnya manusia membutuhkan bantuan robot.

Teori realtivitas Einstein mengatakan jika tidak ada yang bisa mengalahkan kecepatan cahaya. Oleh karena itulah, bagi Einstein, menerobos lubang waktuinterstellar adalah hal yang tidak mungkin bagi manusia.

"Robot akan membantu kita. Jika mereka cukup pintar, mereka akan memberitahu kita bagaimana caranya menerobos Interstellar. Ini memang hal yang mungkin terjadi, meski sulit. Itulah yang saya pikirkan," kata Mather.

Iklan

Flag Country

free counters