Satelit alam-satelit alam Planet Neptunus


Neptunus memiliki 13 satelit alam. Menggunakan teleskop, kita dapat melihat  dua satelit alam yang mengelilingi Neptunus, yaitu Nereid dan Triton. Enam satelit  alam lainnya ditemukan oleh Voyager 2 saat melakukan kunjungan ke planet itu.  Triton merupakan satelit alam terbesar  yang dimiliki oleh Neptunus. Lassell  menemukan triton beberapa minggu setelah penemuan Neptunus. 


Triton mempunyai  ukuran sedikit lebih besar dari Satelit  alam. Arah gerak Triton mengelilingi  Neptunus adalah dari timur ke barat, berlawanan dengan arah rotasi Neptunus.  Oleh karena itu gerak Triton disebut  gerak mundur. Orbit Triton condong 40° terhadap orbit Neptunus. 

Voyager 2 menemukan bahwa Triton mempunyai atmosfer, terutama tersusun  oleh nitrogen dan mengandung sedikit metana. Suhu permukaan Triton mencapai  −235 °C.




Nereid ditemukan oleh Kuipe, yang juga merupakan penemu  satelit alam Miranda. Ukurannya jauh lebih kecil daripada  Triton. Nereid bergerak mengelilingi Neptunus dari barat ke  timur dan condong sekitar 5° terhadap  ekliptika.




Proteus merupakan satelit alam  yang sangat gelap dan bentuknya tidak  beraturan. Proteus mempunyai diameter  418 km (436 x 416 x 402). Dari ukurannya, diketahui bahwa  Proteus merupakan satelit alam terbesar kedua yang  mengelilingi Neptunus.




Seperti Proteus, Larissa mempunyai bentuk yang tidak  teratur. Diameternya 193 km (208 x 178). Naiad,  Thalassa, Despina, dan Galatea juga mempunyai bnetuk yang tidak teratur.  Masih ada lima satelit alam Neptunus yang tidak disebutkan dalam tabel di atas.  Empat satelit alam ditemukan pada tahun 2002 dan satu satelit alam ditemukan  pada tahun 2003. Kelima satelit alam ini belum memliki nama.



Mengapa Planet Neptunus berwarna biru?








Neptunus nampak berwarna biru indah.  Warna biru ini disebabkan karena atmosfer  Neptunus mengandung gas metana. Gas metana menyerap warna merah dari sinar  Matahari dan memantulkannya sebagai warna biru

Panas di Dalam, Dingin di Luar Planet Neptunus








Meskipun permukaan  Neptunus sangat dingin, tetapi  bagian dalam planet sangat panas.  Neptunus menerima panas dari  Matahari dan hanya sedikit dari panas tersebut yang dilepaskan.

Neptunus berotasi dengan  sangat cepat. Rotasi ini menyebabkan angin di permukaan planet bertiup kencang. 
Tiupan angin yang sangat kencang ini menghasilkan awan yang sangat menarik  seperti terlihat pada gambar di samping

The Great Dark Spot (GDS) atau Bintik Gelap Raksasa di Planet Neptunus







GDS adalah bintik gelap yang muncul di atmosfer Neptunus. Bintik gelap ini  merupakan badai besar di atmosfer yang kecepatan berputarnya lebih cepat  daripada badai yang terjadi di Bumi.  

Dari gambar di atas dapat dilihat adanya lembaran awan putih yang memisahkan antara daerah gelap dan daerah berwarna biru pada bintik gelap.  

Bintik Gelap Neptunus Bentuk spiral yang terlihat pada kedua  daerah itu menunjukkan perputaran badai  yang berlawanan dengan arah jarum jam.

Cincin Planet Neptunus


Sejak tahun 1984, ahli astronomi telah menduga adanya cincin pada  Neptunus. Dugaan itu terbukti setelah pesawat ruang angkasa Voyager 2 berhasil  mendekati Neptunus. Dari hasil pengamatan, dapat dipastikan Neptunus mempunyai  sedikitnya 3 cincin. 

Tabel di bawah ini menunjukkan cincin-sincin yang dimiliki Neptunus.


Bagian-bagian Planet Neptunus





Atmosfer Neptunus mirip dengan Uranus. Atmosfer Neptunus terutama terdiri  atas 85% hidrogen, 13% helium, dan 2% metana. Di bagian mantel terdapat air,  amonia, dan metana dalam bentuk es atau  padat. Bagian paling dalam Neptunus  adalah inti yang padat dan keras kira-kira sebesar ukuran Bumi. Berdasarkan kerapatan rata-rata yang  dimilikinya, dan perbandingan inti  dengan ukuran planet, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penyusun  Neptunus berupa gas

Data Planet Neptunus








Neptunus berupa bola gas raksasa yang sangat mirip dengan Uranus. Planet  yang berjarak 4.500 juta km ini mempunyai diameter 49.500 km dan massanya 17,2  kali massa Bumi. Jika Neptunus adalah sebuah rongga kosong, maka dapat  menampung 60 Bumi. 

Neptunus memerlukan waktu selama 17  jam 6 menit untuk satu kali rotasi.  Waktu yang diperlukan untuk mengelilingi Matahari adalah 165 tahun Bumi.  Neptunus masuk dalam kelompok planet besar. Seperti Uranus, Neptunus  berbentuk sebuah cakram kehijau-hijauan yang tidak terlihat oleh mata telanjang.  Menggunakan teleskop, bentuk cakram tersebut dapat terlihat jelas.  Neptunus merupakan planet yang sangat dingin dan tempat berangin dengan  awan yang sangat menarik. Suhu di permukaan sekitar −190 °C. Planet ini mempunyai  kerapatan rata-rata 1,64 g/cm3

Sejarah Penemuan Planet Neptunus




Dari Matahari, Neptunus menempati urutan planet kedelapan. Planet ini  ditemukan oleh Johann Gotfried Galle pada tanggal 23 September 1846. Johann  Gotfried Galle adalah asisten kepala pada Observatorium Berlin. Galle mengarahkan  teleskopnya ke posisi langit seperti yang disarankan oleh perhitungan John Couch 
Adams dan Joseph Leverrier dan mendapati Saturnus berada sangat dekat dengan  posisi yang diperkirakan Leverrier. 

Penemuan planet kedelapan ini dimungkinkan karena Observatorium Berlin  baru menerima peta baru dan lengkap tentang bintang-bintang dalam daerah langit  itu. Pemberian nama Neptunus mengikuti  nama dewa laut Romawi –dipersamakan dengan dewa Yunani Poseidon–. 

Dalam penemuan Neptunus ini, terdapat perselisihan yang kurang  menyenangkan. Akhirnya telah disetujui bahwa Adams dan Leverrier pantas  menerima penghargaan yang sama atas perhitungan yang mengarah pada penemuan  Neptunus. Bagi Galle, dia mendapat kehormatan sebagai orang pertama yang  mengenali planet itu di langit. 

Susunan Tata Surya



Tata surya (Solar System) terdiri dari matahari, planet, serta benda-benda langit  lainnya seperti satelit, komet, meteor, dan  asteroid. Tata surya dipercaya terbentuk  sejak 4.600 juta tahun yang lalu, yang merupakan hasil penggumpalan gas debu di  angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilingi  matahari. Matahari mengandung sekitar 99,87% bahan pembentuk seluruh tata surya.  Ada dua paham yang berhubungan dengan tata surya, yaitu paham geosentris dan  paham heliosentris. Paham geosentris  dikembangkan oleh Claudius Ptolemaeus  (Ptolemy) sekitar tahun 150 T.M. Menurut paham geosentris, bumi merupakan pusat  dari jagad raya. Bulan berputar mengelilingi bumi dengan orbit yang paling dekat,  sementara bintang-bintang terletak pada bulatan angkasa yang besar dan berputar  pada orbit yang paling jauh.


Paham geosentris bertahan hingga abad ke-16. Baru pada sekitar tahun 1543  terjadi revolusi ilmiah besar-besaran yang dilakukan oleh Copernicus. Copernicus  menggantikan paham geosentris dengan paham baru yang disebut paham  heliosentris. Menurut paham heliosentris,  yang menjadi pusat jagat raya bukanlah  bumi, melainkan matahari. Matahari berada pada pusat alam semesta, sedangkan  bumi beserta planet-planet yang lainnya  bergerak mengelilingi matahari pada  orbitnya masing-masing. Paham heliosentris mendapat dukungan dari Kepler.   Pada tahun 1609 Kepler mendukung gagasan tersebut dengan mengemukakan  tiga hukumnya yang selain menyebutkan bahwa  matahari sebagai pusat dari tata  surya, juga memperbaiki orbit planet menjadi elips. Pada tahun yang sama Galileo  menemukan teleskop. Melalui pengamatan dengan teleskop Ia menarik kesimpulan bahwa yang menjadi pusat tata surya bukan bumi, melainkan matahari. Penemuan  teleskop oleh Galileo tidak hanya menguatkan paham heliosentris dari Cpernicus,  tetapi membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu astronomi. 


Flag Country

free counters