Ditemukan Bintang yang Lebih "Dahsyat" dari Matahari



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan sebuah bintang yang lebih berbahaya dari ledakan pijar matahari, yakni DG Canum Venaticorum atau DG CVn. Setidaknya, NASA mencatat ada sekitar 10.000 kali ledakan yang lebih kuat dari yang pernah ada.

Padahal, diketahui, pijaran matahari saja sudah mampu melumpuhkan energi serta sangat mengganggu sehingga dapat memengaruhi komunikasi di Bumi. Lalu apa yang terjadi dengan bumi jika bintang ini memiliki kekuatan ledakan lebih dari matahari?

NASA merilis, puncak ledakan DG CVn itu mencapai suhu 360 juta derajat fahrenheit atau setara dengan 200 juta celsius. Kekuatan tersebut mengalahkan pusat panas yang terdapat di matahari, sekitar 12 kali lebih panas.

"Ini peristiwa yang sangat kompleks. Kami dulu beripikir DG CVn ini tidak berlangsung lama tapi ternyata kami mencatat setidaknya ada tujuh kali letusan kuat selama sekitar dua minggu ini," kata Astrofisikawan Goddard Space Flight Center NASA, mengutip Daily Mail, Kamis, 2 Oktober 2014.

Meskipun kekuatan ledakannya lebih besar dari matahari, ukuran DG CVn ini malah lebih kecil dari matahari, hanya sekitar sepertiganya.

NASA mengaku kecolongan dengan keberadaan DG CVn ini. Mereka tak mengetahui secara detail apa yang terkandung di dalamnya.

"Sistem ini (DG CVn) kurang dipelajari karena tidak ada dalam daftar. Namun ternyata bintang ini mampu menghasilkan ledakan pijar yang begitu besar," ungkap Rachel Osten seorang astronom dari Space Telecope Science Institute.

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar bintang yang berada di tata surya ini berjarak sekitar 100 tahun cahaya dari tata surya. Para astronom memperkirakan DG CVn ini sudah berusia 30 juta tahun yang lalu, dimana umur tersebut sekitar kurang 0,7 persen dari usia tata surya.

NASA sendiri belum memutuskan apakah akan menyelidiki bintang tersebut, dengan meluncurkan instrumen lainnya seperti pesawat ulak alik, atau tidak.

NASA mencatat, ledakan pijaran terbesar yang terjadi pada matahari itu terjadi pada November 2003 yang dinilai sebagai X 45. Sedangkan, pada DG CVn, bila dilihat dari jarak planet yang sama dengan bumi dan matahari, akan menjadi 10.000 lebih besar, dengan kata lain sekitar X 100.000.

Namun, Osten mengatakan untuk 11 hari ke depan, ledakan pijaran yang berada di DG CVn itu akan berangsur-angsur melemah.

Ilmuwan Bikin Peta 219 Juta Bintang di Galaksi



Selama berabad-abad, tidak ada yang mengetahui, bahkan menghitung berapa banyak bintang di langit. Ilmuwan berhasil menjawabnya, bahkan melakukan pemetaan.


Astronom berhasil menciptakan peta bintang di galaksi dengan menggunakan cermin berukuran 2,5 meter dari teleskop Isaac Newton (INT) di Pulau Canary. Mereka adalah ilmuwan perbintangan dari University of Hertfordshire.


Dilansir melalui Daily Mail, Jumat 19 September 2014, para ilmuwan itu menghabiskan waktu selama 10 tahun untuk membuat peta dari 219 juta bintang tersebut. Program INT memetakan semua bintang yang lebih terang dari magnitudo ke-20, atau sekitar satu juta kali lebih redup daripada yang bisa terlihat oleh mata manusia.


Dalam grafik itu ditunjukkan bagian yang cukup terlihat dari wilayah utara galaksi, termasuk detail tentang fitur yang berbeda dari masing-masing 219 juta objek yang terdeteksi.


"Area yang terang adalah wilayah bintang. Semakin terang wilayah tersebut, semakin banyak bintang yang ada di dalam area itu," menurut peneliti dari University of Hertfordshire.


Mereka menyebutkan, jika peta baru ini bisa memberi mereka wawasan yang lebih baru dan nyata ke dalam struktur bintang, gas dan debu luar angkasa yang luas ini.


Temuan ini secara tidak langsung melengkapi apa yang telah ditemukan oleh astronom lainnya beberapa waktu lalu. Dalam temuan sebelumnya, ilmuwan menunjukkan adanya Laniakea, sebuah super-cluster raksasa di galaksi yang menaungi seluruh semesta, termasuk Bima Sakti.


Laniakea adalah bahasa Hawaii yang berarti "surga yang beragam". Kata itu mendeskripsikan struktur 500 juta tahun cahaya sepanjang wilayah yang berisi 100.000 galaksi dan massa dari ratusan kuadriliun Matahari.


Para ilmuwan telah lama menyadari jika galaksi tidak terdistribusikan secara acak tapi mereka berkelompok. Pada skala besar, galaksi membentang seperti mutiara, membentuk cahaya filamen. Kelompok tersebut menghasilkan superkluster galaksi yang bergerak dipengaruhi gravitasi.

Galaksi Bima Sakti berlokasi di pinggir salah satu cluster.


Fakta Bima Sakti


Milky Way diperkirakan berjarak 120.000 tahun cahaya dan terdiri lebih dari 200 miliar bintang.

Bima Sakti termasuk dalam galaksi berukuran "middle-weight". Sebab, galaksi yang terbesar, yang dikenal dengan nama IC 1101 terdiri atas sekitar 100 triliun bintang.

Dalam sebuah malam yang gelap, lalu melihat ke langit, jika terlihat sesuatu yang terang, bisa jadi itu merupakan kumpulan sekitar 2.500 bintang.

Seperti halnya dua per tiga galaksi yang bisa dikenali, Bima Sakti juga memiliki bentuk seperti spiral. Di tengah spiral itu banyak terdapat energi. Bahkan kadang-kadang sering tercipta pancaran sinar yang tajam.

Astronom percaya jika Bima Sakti tidak selalu memiliki pola spiral yang menakjubkan. Ukuran Bima Sakti dibentuk dengan cara memakan galaksi lainnya.


Ledakan Misterius Bintang Ini Sejuta Kali Kilau Matahari



Ilmuwan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) berhasil menangkap citra ledakan salah satu bintang terbesar, V838 Monocerotis. Bintang ini merupakan bintang merah yang terletak di konstelasi Manoceros. 

Sebelum meledak, V838 telah tumbuh menjadi salah satu bintang terbesar yang pernah diamati oleh para astronom. Kemampuan bintang ini disebutkan mampu menghasilkan cahaya 600 ribu kali lebih banyak dari matahari, Daily Mail, Senin 16 Juni 2014. 

Ledakan bintang yang direkam dari kumpulan data teleskop Hubble mulai 2002 hingga 2006 itu menunjukkan fenomena yang berbeda. Bila biasanya ledakan supernova--ledakan sebuah bintang dalam sebuah galaksi-- diikuti dengan lontaran material di antariksa, namun ledakan dari V838 tidak.

Alih-alih menghalangi pandangan, bintang V838 justru menampilkan kilau cahaya yang sangat terang, disebutkan satu juta kali lebih kilau matahari. Tak heran, saat meledak, V838 mampu menciptakan gema cahaya berkembang yang menerangi debu kosmik di sekitar bintang itu. 

Astronom mengaku sebelumnya belum pernah melihat ledakan seterang dan sekilau ledakan V838.

NASA menganalisis kedahsyatan cahaya dari kilau ledakan itu. Luas ledakan itu sampai di sekitar lapisan bintang besar itu. Struktur mirip pusaran air pada bintang V838, kemungkinan dihasilkan oleh efek medan magnet dalam ruang angkasa diantara bintang-bintang tersebut. 

Masih misterius

Sejauh ini ledakan bintang itu masih menyisakan misteri. Para ilmuwan tidak mengetahui apa yang menyebabkan bintang raksasa itu meledak. Ilmuwan awalnya memperkirakan ledakan adalah hasil dari supernova atau denyut panas dari bintang yang tengah sekarat. 

Namun asumsi itu telah dikesampingkan usai temuan bintang V838 yang diprediksi merupakan bintang muda. 

"Saat dikombinasikan dengan kilau tinggi dan perilaku ledakan yang tak biasa, karakteristik itu mengindikasikan binatang V838 mewakili jenis ledakan bintang yang belum diketahui," tulis laporan paper dari US NAVAL Observatory, University of Arizona dan Badan Antariksa Eropa (ESA). 

Paper kolaborasi itu menyatakan peneliti belum mendapatkan penjelasan fisik yang benar-benar memuaskan. 

Posisi V383 terletak sekitar 20 ribu tahun cahaya arah konstelasi Monoceros, sedangkan gema cahaya dalam gambar terletak berdiamater sekitar 6 tahun cahaya.

Obyek Angkasa Langka Ditemukan, Bintang yang "Hamil" Bintang




Astronom menemukan bintang yang semula hanya ada dalam teori, sebuah bintang yang "hamil" atau berisi bintang lain.

Bintang yang berisi bintang disebut dengan obyek Thorne Zytkow, atau disebut juga bintang hibrida. Teori tentang adanya bintang ini dikemukakan oleh Kip Thorne dan Anna Zytkow pada 1975.

Bintang yang mengagumkan itu ditemukan dengan teleskop 6,5 meter Magellan Ckay di Las Campanas, Cile.

Tim astronom yang dipimpin oleh Emily Levesque dari University of Colorado Boulder tengah mengamati spektrum cahaya sebuah bintang raksasa merah bernama HV 2112.

Saat pengamatan, keanehan pun terlihat. Nidia Morrel dari Carnegie Observatory mengatakan, "Saya tak tahu apa itu, tetapi saya tahu saya menyukainya."

Analisis kemudian mengungkap bahwa bintang raksasa merah ini memiliki unsur rubidium, litium, dan molibdenum yang berlebih.

Kandungan rubidium, litium, dan molibdenum tersebut dalam jumlah berlebih merupakan ciri dari obyek Thorne Zytkow.

Berdasarkan kandungan itu, astronom kemudian menyatakan bahwa bintang raksasa merah yang ditemukan sejatinya obyek Thorne Zytkow.

Obyek Thorne Zytkow terbentuk ketika bintang raksasa merah menelan bintang neutron, sebuah bintang produk supernova.

Zytkow, yang pertama mengemukakan teori adanya obyek itu, mengaku senang dengan penemuan terbaru ini.

"Saya sangat senang bahwa konfirmasi lewat observasi dari teori kami mulai muncul," ungkapnya seperti dikutip Nature World News, Rabu.

Berapa Jumlah Bintang di Langit ?




Tidak ada yang tahu berapa pastinya jumlah bintang di langit. Dengan perhitungan mudah, ilmuwan NASA memperkirakan ada sekitar 100 bintang di langit. Maksudnya, 100 oktilion, yang penulisannya melibatkan 29 angka 0 setelah angka 1.

Dikutip melalui Space.com, Senin 2 Juni 2014, asisten profesor di Ithaca College New York, David Kornreich menggunakan perhitungan yang cukup mudah untuk menghitungnya. Kornreich menghitung, berdasarkan perkiraan jumlah galaksi di alam semesta, dikalikan dengan estimasi jumlah bintang di tata surya.

"Sejatinya, saya juga tidak tahu jawabannya, karena saya tidak yakin apakah alam semesta itu benar-benar luas atau tidak," ujarnya.

Menurut Kornreich, alam semesta yang dapat diobservasi adalah sekitar 13,7 miliar tahun cahaya. Namun, beberapa astronomer juga percaya bahwa manusia mungkin hidup di Multiverse, ungkapan yang menunjukkan bahwa ada beberapa alam semesta lain yang mirip dengan semesta yang kita ketahui.

Namun begitu, meskipun Kornreich harus memperkecilkan perhitungan dengan hanya menghitung alam semesta yang dapat diobservasi, menghitung jumlah bintang di atasnya membutuhkan ukuran pasti lebar alam semesta. Masalah lainnya yang harus diperhitungkan adalah kenyataan bahwa alam semesta itu melebar dan ruang-waktu sifatnya tidak pasti.

Kornreich mengambil langkah mudah dalam perhitungannya. "Katakanlah, jarak terjauh dari bumi adalah 13,7 juta tahun cahaya sehingga radius alam semesta yang dapat diobservasi adalah 13,7 miliar tahun cahaya. Namun sayangnya, ukuran jarak ini adalah relatif dan sifatnya tidak pasti. Bahkan, ada pendapat yang mengatakan jarak terjauh adalah 48 miliar tahun cahaya. Hal ini menyebabkan adanya jawaban yang berbeda-beda," ujar Kronreich. 

Menurut Kornreich, cukup mudah baginya untuk menghitung bintang yang berada di dalam galaksi karena mereka berkelompok. Sebab itu, untuk mulai menghitung jumlah bintang, Konreich harus memperkirakan berapa jumlah galaksi yang ada.

Beberapa perkiraan mengatakan, jika jumlah massa solar bintang adalah 100 miliar, atau 1.000 miliar kali dari massa matahari. Dengan perhitungan rata-rata, hasilnya, jumlah bintang di galaksi berjumlah 100 miliar. Namun, sekali lagi, ini masih bisa berubah tergantung berapa jumlah bintang di langit yang memiliki ukuran lebih besar atau kecil dibanding matahari. Tidak heran, jika kemudian pendapat lain mengatakan ada sekitar 200 miliar bintang di tata surya.

Paparan di 1995, melihat adanya titik kecil dalam Ursa Major yang menunjukkan adanya 3.000 galaksi yang tidak terlalu terang. Di 2003, ilmuwan lain melihat titik kecil dari konstelasi Fornax dan menemukan adanya 10.000 galaksi. Sebelumnya, investigasi Fornax di 2012 menunjukkan adanya 5.500 galaksi.

Kornreich kemudian menggunakan perkiraan kasar dengan jumlah 100 triliun galaksi di alam semesta. Ia pun mengkalikan jumlah itu dengan 100 miliar bintang di langit. Hasilnya adalah 100.000.000.000.000.000.000.000.000.000 atau 100 oktilion, dengan 29 huruf 0 di belakang.

Namun, lagi-lagi, Kornreich mengatakan bahwa ini adalah perkiraan kotor karena akan makin banyak terdeteksi galaksi-galaksi baru.

Sistem Bintang Tiga Dapat Jawab Pertanyaan Tentang Gravitasi



Penemuan sistem bintang rangkap tiga ini dapat menyibak kekurangan Teori Relativitas Umum untuk mendapatkan teori yang lebih tepat.


Penemuan sebuah sistem tiga bintang dapat memberikan petunjuk-petunjuk yang membantu para ilmuwan mendefinisikan karakteristik sebenarnya dari gravitasi.

Sistem tersebut terdiri dari dua bintang kerdil putih dan sebuah pulsar -- bintang yang mengeluarkan gelombang radio dan radiasi elektromagnetik dengan cepat -- yang sangat padat. Ketiga bintang ini, yang ada dalam ruang yang lebih kecil dari orbit Bumi di sekitar matahari, dapat membantu memecahkan masalah dalam teori relativitas umum yang dikemukakan oleh Albert Einstein.

"Sistem ini menyediakan laboratorium kosmik alami yang jauh lebih baik dari yang pernah ada sebelumnya untuk mempelajari bagaimana sistem-sistem tiga obyek teresebut bekerja dan berpotensi mendeteksi masalah-masalah dalam Relativitas Umum yang oleh para ahli fisika diperkirakan ada dalam kondisi-kondisi ekstrem," ujar Scott Ransom dari Observatorium Astronomi Radio Nasional (NRAO).

Menggunakan waktu tepat saat pulsar memancarkan gelombang radio, para ahli astronomi dapat menghitung geometri sistem tersebut dan massa-massa bintang dengan presisi yang belum pernah disamai sebelumnya.

Pulsar tersebut, yang berjarak 4.200 tahun cahaya dari Bumi, berputar sekitar 366 kali per detik. Pulsar dibentuk ketika sebuah bintang masif meledak sebagai supernova dan sisanya jatuh menjadi bintang neutron yang sangat padat, dengan beberapa dari massanya berubah menjadi energi yang mengikat secara gravitasi dan menyatukan bintang yang padat tersebut.

Para ilmuwan mengatakan sistem tersebut dapat menawarkan peluang besar untuk menemukan pelanggaran sebuah konsep yang disebut Prinsip Ekuivalen. Prinsip ini menyatakan bahwa dampak gravitas terhadap sebuah obyek tidak bergantung dari karakter atau struktur internal obyek tersebut.

Eksperimen-eksperimen paling terkenal yang menggambarkan prinsip ekuivalen adalah yang dilakukan oleh Galileo Galilei ketika menjatuhkan dua bola dengan berat berbeda dari Menara Miring Pisa dan komandan Apollo 15 Dave Scott yang menjatuhkan palu dan bulu burung elang ketika berdiri di permukaan hampa udara di Bulan pada 1971.

"Meski Teori Relativitas Umum Einstein sejauh ini mengukuhkan setiap eksperimen, hal ini tidak sejalan dengan teori kuantum. Karenanya, para ahli fisika memperkirakan ini tidak akan berlaku dalam kondisi-kondisi ekstrem," ujar Ransom.

"Sistem rangkap tiga dari bintang-bintang kecil ini memberikan kita peluang besar untuk melihat pelanggaran bentuk spesifik dari prinsip ekuivalen yang disebut Prinsip Ekuivalen Kuat," tambahnya.

Lewat prinsip ekuivalen tersebut, dampak gravitasi dari bintang putih terluar akan identik untuk bintang-bintang lain. Jika prinsip ekuivalen kuat tidak valid dalam kondisi-kondisi sistem ini, dampak gravitasi bintang terluar pada bintang putih di bagian dalam dan bintang neutron tersebut akan sedikit berbeda dan observasi waktu pulsar yang berpresisi tinggi dapat secara mudah memperlihatkannya.

"Dengan melakukan penjangkaan berpresisi sangat tinggi dari denyut yang datang dari pulsar, kita dapat menguji deviasi dari prinsip ekuivalen kuat dengan sensitivitas yang beberapa kali lebih besar dibandingkan yang pernah ada sebelumnya," ujar Ingrid Stairs dari University of British Columbia.

"Penemuan deviasi dari Prinsip Ekuivalen Kuat akan mengindikasikan kegagalan Relativitas Umum dan akan mengarahkan kita pada teori gravitasi yang baru dan tepat," tambahnya.

"Sistem ini sangat menarik dalam banyak hal, termasuk apa yang telah menjadi sejarah pembentukan yang gila dan kita harus melakukan banyak pekerjaan untuk betul-betul memahaminya," ujar Ransom.

Lintang Kartika, Bintangnya Bintang Orang Jawa






KOMPAS.com  - Sesaat setelah malam datang, tengoklah langit ke arah barat. Jika langit cerah, akan tampak serumpun bintang cukup redup pada ketinggian 15 derajat. Kumpulan bintang itu, secara internasional disebut Pleiades. Dengan teleskop kecil, gugus bintang ini terlihat bak kumpulan permata biru yang cemerlang.

Sebagian masyarakat Indonesia mengenal gugus bintang itu sebagai Bintang Tujuh. Namun, peneliti etnoastronomi yang juga pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Widya Sawitar, Selasa (8/4/2014), menilai penyebutan itu kurang tepat. Seharusnya, disebut Bintang Tujuh Bidadari atau Tujuh Puteri.

”Istilah Bintang Tujuh sejatinya mengacu pada Bintang Biduk atau rasi Ursa Mayor yang penggambarannya ada di relief Candi Borobudur,” ujarnya.

Gugus bintang adalah kumpulan bintang yang berjumlah puluhan hingga ratusan ribu. Sementara galaksi berisi miliaran bintang. Gugus adalah bagian dari galaksi.

Bintang Tujuh Bidadari akan tampak di langit malam selepas Matahari terbenam hingga akhir April. Ia akan terlihat kembali di arah timur menjelang Matahari terbit pada Juli nanti. Waktu terbaik mengamati gugus ini pada November karena ia akan terlihat di sepanjang malam.

Nama Pleiades diambil dari mitologi Yunani dan dalam bahasa Inggris disebut Seven Sisters. Penamaan tujuh bintang terang di gugus ini diambil dari nama tujuh Pleiad itu dan dua bintang tambahan menggunakan nama Pleione, ibu Pleiades dan Atlas, suami Pleione.

Masyarakat Jawa menyebut bintang ini sebagai lintang kartika, dua kata yang memiliki makna sama, yaitu bintang. Penamaan itu menunjukkan pandangan istimewa orang Jawa terhadap gugus ini, yaitu menjadi ”bintangnya bintang”.

Tujuh bintang terang dalam gugus itu dianggap sebagai tujuh bidadari yang turun dari kahyangan untuk mandi di Bumi dalam legenda Jaka Tarub. Dalam Babad Tanah Jawi karya R Ng Yasadipura yang diterjemahkan Amir Rochkyatmo dkk (2004) disebutkan, satu bidadari yang akhirnya menjadi istri Jaka Tarub bernama Dewi Nawangwulan atau Dewi Ratna Juwita.

Widya menambahkan, lintang kartika juga menjadi ilham tari Bedhaya Ketawang. Bedhaya artinya tari, sedangkan ketawang berasal dari kata tawang yang berarti langit. Secara harfiah, tarian ini bermakna tarian langit.

Tari klasik dan sakral yang dibawakan sembilan penari itu hanya ditampilkan saat upacara peringatan penobatan raja di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

KGPH Hadiwidjojo dalam Bedhaya Ketawang (1981) mengutip pendapat RT Warsadiningrat menyebut, tari ini semula bernama lenggotbawa yang diciptakan Bathara Guru pada tahun 167. Tari ini ditarikan tujuh bidadari yang diciptakan dari tujuh permata indah.

Selanjutnya, Ratu Laut Selatan menambahkan dua penari lagi sehingga total menjadi sembilan orang. Tarian ini dipersembahkan sebagai perlambang curahan cinta Sang Ratu pada Sultan Agung, Raja Mataram yang menurunkan raja-raja di Keraton Surakarta dan Yogyakarta kini.

Syair lagu sinden yang mengiringi tarian secara jelas juga menggambarkan sang raja sebagai bintang. Selain itu, salah satu posisi penari Bedhaya Ketawang juga mirip susunan bintang dalam Pleiades meski tak persis. ”Ahli Bedhaya Ketawang mengakui lintang kartika adalah ilham tarian. Namun, mereka tak dapat menunjukkan yang mana lintang kartika itu,” ujarnya.

Bagi bangsa-bangsa besar lain, Pleiades juga memberikan makna penting dalam kehidupan mereka. Bukan dalam makna riil seperti penunjuk arah atau penanda musim, tetapi lebih bermakna filosofis.

Fisis gugus

Lepas dari semua mitologi yang melingkupi, Bintang Tujuh Bidadari merupakan gugus terbuka (open cluster) yang berisi bintang-bintang biru terang yang masih dibalut kabut debu sisa materi pembentukannya. Ini menandakan gugus ini masih berumur muda, terbentuk sekitar 100 juta tahun lalu.

Dosen Astronomi Institut Teknologi Bandung, M Ikbal Arifyanto, mengatakan, gugus bintang terbentuk dari sebuah awan molekul antarbintang yang runtuh dan membentuk banyak bintang dalam satu ikatan gravitasi.

Setelah bintang terbentuk, sisa materi yang tak menjadi bintang menyelimuti gugus bintang itu. Bintang baru akan terlihat saat angin bintang menyibak gas tersebut. Warna biru pada gas yang menyelimuti bintang itu merupakan refleksi cahaya bintang oleh debu di sekitarnya.

”Pembentukan bintang dan gugus bintang di Galaksi Bimasati masih banyak terjadi,” kata Ikbal. Sebagai galaksi berbentuk spiral, Bimasakti masih mengandung banyak materi antarbintang, terutama di lengan galaksi, yang masih cukup untuk membentuk bintang baru.

Ikatan gravitasi antarbintang pada gugus terbuka cukup lemah. Interaksi di antara bintang anggota gugus bisa membuat anggota gugus terlepas dari ikatan. Bintang yang terlepas itu biasanya bermassa kecil.

Ikatan lemah dan interaksi di antara anggota gugus bisa juga mengubah susunan gugus. Kondisi ini rentan terjadi pada Pleiades. Bintang bermassa besar cenderung tertarik ke pusat gugus, sedangkan yang lebih kecil berada di bagian luar gugus.

Perubahan bentuk dan susunan gugus dipengaruhi oleh evolusi setiap bintang anggota gugus. Bintang bermassa besar yang berumur pendek akan menjadi supernova yang memicu gugus kehilangan massa sehingga radius gugus pun mengecil agar stabil.

Ikbal menambahkan gaya pasang surut galaksi juga memengaruhi evolusi gugus bintang. Jika gaya ikat gugus lebih kecil dari gaya pasang surut galaksi, gugus akan mudah tercerai berai. Proses ini butuh waktu ratusan juta tahun.

Planet Sepupu Bumi Memiliki Bintang Sendiri




Penemuan planet Kepler-186f merupakan sejarah baru dalam astronomi. Planet yang ditemukan di zona habitasi bintang ini lebih dikenal sebagai sepupu bumi, bukan kembaran planet bumi.
Kepler-186f ditemukan dari rekaman teleskop Kepler yang dilakukan NASA yang diluncurkan pada tahun 2009 lalu. Tujua peluncuran ini untuk mencari sekitar 150 ribu bintang dan tanda-tanda dari setiap planet di sekitarnya.
Ahli astronomi dari NASA's Ames Research Centre Thomas Barclay menyebutnya sepupu bumi karena hampir 
seukuran dengan bumi. Hanya saja, Kepler-186f lebih besar 10 persen dari ukuran bumi. Kepler-186f adalah planet terdekat dengan Bumi dalam ukuran yang pernah ditemukan di zona habitasi bintang.
Alasan lain disebut sepupu bumi karena Kepler-186f mengorbit dengan mengelilingi bintangnya sendiri. Sementara bumi mengorbit matahari yang menjadi bintangnya.

Sementara itu, Astronom University of California, Berkeley, Geoff Marcy mengatakan  planet baru yang ditemukan itu cukup jauh dengan bintangnya sehingga cahaya yang diserap tidak begitu kuat.
"Planet ini diterangi oleh bintang induknya dengan cahaya yang sederhana, sebuah cahaya merah yang sangat redup," kata Marcy kepada Space.com.
"Planet ini menerima cahaya oranye-merah dari bintang itu, seperti yang kita nikmati saat matahari terbenam," lanjut Marcy.

Marcy menganalogikan, jika Kepler-186f yang mengitari matahari, maka perjalanan dalam orbit sama dengan posisi planet Merkurius, planet yang tidak dianggap layak huni. Dengan posisi itu pula, Kepler-186 adalah relatif dingin. Kecerahan bintang tersebut pada siang hari di permukaan Kepler-186f sebanding dengan cahaya matahari satu jam sebelum terbenam di Bumi.

Sumber 

Kilau dari Supernova dan Bintang Mati



KOMPAS.com — Sejak zaman tembaga atau era chalcolithicsekitar 4.000 tahun sebelum Masehi hingga era digital saat ini, kilau emas tak pernah pudar. Tak hanya penambah kecantikan dan perlambang kekayaan, emas juga menjadi simbol kejayaan dan kedigdayaan.

Menjelang Lebaran, toko emas ramai dikunjungi pembeli. Selain untuk mempercantik penampilan, perhiasan emas juga banyak digunakan orang selama silaturahim untuk menunjukkan kekayaan dan keberhasilan walau ketika Lebaran usai perhiasan itu digadaikan atau dijual kembali.

Membeli emas tak melulu untuk dipakai. Sebagian orang membeli emas untuk investasi, seperti yang dilakukan saat harga emas turun pada akhir April hingga awal Juli lalu. Emas kini juga digunakan untuk keperluan medis, industri, pangan, hingga komponen elektronik.

Dibandingkan logam lain, harga emas jauh lebih mahal. Harga emas batangan PT Aneka Tambang per Selasa (30/7/2013) mencapai Rp 503.000 per gram untuk pecahan 1 gram dan Rp 463.600 per gram untuk pecahan 500 gram. Sementara harga perak pada saat sama hanya Rp 12.700 per gram untuk ukuran 250 gram dan Rp 11.900 per gram untuk ukuran 500 gram.

”Harga emas mahal karena jumlahnya sangat sedikit di alam,” kata ahli genesis mineral yang juga Ketua Program Studi Teknik Pertambangan, Institut Teknologi Bandung, Syafrizal, Selasa (30/7/2013).

Data Goldsheet Mining Directory (goldsheetlinks.com) menyebutkan, produksi emas dunia sejak tahun 1835-2011 hampir mencapai 170.000 metrik ton. Dari jumlah itu, 80 persen ditambang sejak tahun 1910 hingga sekarang.

Untuk tahun 2009 saja produksi emas dunia mencapai 2.572 metrik ton dan menempatkan Indonesia sebagai produsen emas ketujuh dunia dengan produksi 90 metrik ton.

Selain jumlahnya terbatas, demikian Syafrizal, ongkos penambangan dan pengolahan emas dari bentuk asal menjadi logam emas murni tidak murah. Persepsi manusia sejak dulu yang menganggap emas sebagai logam mulia turut membuat mahal harga emas.


Pembentukan

Emas termasuk unsur berat karena memiliki massa atom yang besar. Karena itu, emas di Bumi terletak di dekat inti Bumi. Sejumlah proses geologi membuat emas yang ada di magma Bumi naik ke kerak hingga permukaan Bumi.

Emas tidak ditemukan sebagai logam tunggal di alam. Ia biasanya berasosiasi dengan logam lain, seperti tembaga, seng, timbal, aluminium, atau molibdenum.

Menurut Syafrizal, emas terbentuk melalui proses mineralisasi atau terbentuknya mineral yang mengandung unsur-unsur logam tertentu. Mineralisasi berasal dari proses lebur kembalinya sebagian kerak Bumi menjadi magma (partial melting) akibat tumbukan kerak (lempeng) benua dan kerak samudra yang menghasilkan panas tinggi.

Magma yang cair itu akan bergerak ke permukaan Bumi melalui zona-zona lemah. Zona ini salah satunya terbentuk dari pecahnya batuan akibat tumbukan antarlempeng.

”Mineralisasi juga bisa terjadi akibat terbentuknya zona permeabel (dapat dilewati cairan) yang memungkinkan magma menuju permukaan,” katanya.

Sebaliknya, zona permeabel memungkinkan air di permukaan Bumi merembes ke dalam Bumi. Air itu akan bereaksi dengan magma Bumi hingga magma mengalami pendinginan dan membeku membentuk padatan yang mengandung mineral tertentu, termasuk emas.

Emas memang ada di dalam perut Bumi. Namun, dari mana Bumi mendapatkan emas?

Mantan peneliti di Institut Astronomi Max-Planck (MPIA) Heidelberg, Jerman, Dading Nugroho, mengatakan, beberapa detik hingga tiga menit setelah Dentuman Besar (Big Bang), alam semesta membentuk hidrogen, helium, dan litium sebagai unsur-unsur ringan.

Hidrogen menjadi bahan bakar pembentukan bintang di awal semesta. Selanjutnya, reaksi fusi dalam bintang akan mengubah hidrogen menjadi berbagai unsur lain, seperti helium, karbon, neon, dan oksigen. Unsur paling berat yang dibentuk dalam bintang adalah besi.

Unsur yang lebih berat dari besi, termasuk emas, dapat dibentuk melalui proses penangkapan neutron. Penangkapan neutron itu membuat inti atom suatu unsur menjadi tidak stabil hingga terjadi peluruhan dan menghasilkan unsur yang lebih berat dari besi.

”Peristiwa astronomi yang menyediakan fluks (aliran) neutron antara lain jet astrofisika dari bintang atau obyek masif, ledakan supernova, dan tabrakan dua bintang neutron,” katanya.

Selama ini, astronom meyakini supernova yang membentuk emas di semesta. Namun, pengamatan Edo Berger, peneliti dari Pusat Astrofisika (CfA) Harvard-Smithsonian, Cambridge, Amerika Serikat, terhadap semburan sinar gamma GRB 130603B yang berjarak 3,9 miliar tahun cahaya dari Bumi dan diumumkan pada Rabu (17/7/2013) membuktikan, emas juga dibentuk dari tabrakan dua bintang neutron.

Tabrakan dua bintang neutron itu menghasilkan semburan sinar gamma yang menandakan obyek penghasilnya memiliki energi tinggi. Bintang neutron adalah bintang ultrapadat, sisa dari bintang raksasa yang mengakhiri hidupnya dengan ledakan. Jika satu sendok teh materi dari Bumi bermassa 5 gram, maka satu sendok teh materi bintang neutron memiliki massa 5 miliar ton.

Materi hasil tabrakan bintang neutron maupun supernova kemudian bertebaran di semesta. Jika ada satu pemicu, materi-materi itu bisa membentuk bintang baru beserta planet-planetnya. Proses ini yang membuat emas bisa sampai di Bumi.

”Dari kandungan emas yang ada di Tata Surya, astronom memperkirakan, Bumi setidaknya tercipta lebih dari satu kali supernova,” kata Dading.

Namun, jika hanya mengandalkan emas dari supernova atau tabrakan bintang neutron, jumlah emas di kerak Bumi tidak akan sebanyak sekarang. Penelitian batuan dari Greenland berumur 3,8 miliar tahun oleh Matthias Willbold dan Tim Elliott dari Universitas Bristol, Inggris, pada 2011 menyimpulkan, jumlah emas di Bumi diperkaya oleh bombardir meteor pada lebih dari 200 juta tahun sejak Bumi terbentuk.

Bombardir meteor itu membawa 20 miliar ton bahan asteroid yang kaya aneka logam, termasuk emas. Namun, karena saat itu inti Bumi sudah terbentuk, emas tambahan tidak sampai jatuh ke inti Bumi.

”Pembentukan emas di Bumi bukan berasal dari proses tunggal, melainkan proses yang kompleks dan panjang,” ujarnya.(SPACE/SCIENCEDAILY/WASHINGTONPOST/NATIONALGEOGRAPHIC)

Supernova Baru Ditemukan di Galaksi Cerutu




KOMPAS.com - Ada kejadian menarik bagi pengamat di langit utara yang tak boleh dilewatkan! Target terbaik bagi para astronom amatir. Obyek itu tak lain sebuah kejadian maha dasyat di alam semesta. Ledakan bintang! Yup! Ada bintang meledak di galaksi Messier 82 yang disingkat juga M82! 

Supernova baru ini jaraknya tidak jauh dari Bumi. Hanya 12 juta tahun cahaya! Dekat bukan? Setidaknya ini adalah supernova terdekat lainnya yang dilihat semenjak tahun 1987 saat para pengamat berhasil melihat SN 1987A, supernova yang jaraknya hanya 168000 tahun cahaya di nebula Tarantula di Awan Magellan Besar.

Pengamatan Supernova di M82

Supernova di M82 yang diberi kode PSN J09554214+6940260 tersebut pertama kali ditemukan oleh tim mahasiswa dari University of London Observatory yang dipimpin oleh Dr. Steve Fossey di Messier 82 / M82 aka si Galaksi Cerutu.  

Setelah menemukan supernova di M82, laporan pun dikirimkan ke International Astronomical Union’s Central Bureau for Astronomical Telegrams, untuk diumumkan dan ditindaklanjuti pengamatannya oleh astronom di seluruh dunia. Sebenarnya tidak benar-benar di seluruh dunia, mengingat galaksi cerutu ini hanya tampak di langit utara.

Pengamatan lanjutan yang dilakukan oleh tim Ernesto Guido, Nick Howes & Martino Nicolini dengan menggunakan teleskop milik iTelescope di New Mexico berhasil mengkonfirmasi keberadaan supernova baru tersebut. Konfirmasi keberadaan supernova di M83 juga berhasil dilakukan oleh astronom amatir Robin Scagell dari Inggris menggunakan teleskop di New Mexico dan  astronom Rusia, L Elenin dan I Molotov, dengan teleskop 0.4 meter di Observatorium ISON-NM, Mayhill.

Laporan yang dikirimkan ke International Astronomical Union’s Central Bureau for Astronomical Telegrams masih belum menghasilkan nama resmi bagi sang supernova, namun tampaknya ia akan menyandang nama SN 2014I.

Dalam citra awal yang diambil pengamat, yang tampak adalah sebuah gumpalan terang dalam  cerutu sang galaksi. Menariknya, supernova di M82 tersebut tidak hanya bisa dilihat oleh teleskop besar. Teleskop kecil dan binokuler pun bisa menikmati kehadirannya, meski ia tampak hanya seperti noda.  Setidaknya dengan kecerlangan 11 magnitudo dan sedang mendekati puncak, astronom profesional dan astronom amatir dapat menikmati ledakan maha dasyat di galaksi Cerutu.

Diperkirakan supernova di M82 ini masih akan bertambah cerlang sampai magnitudo 8 dan akan tampak seperti noda jika diamati menggunakan binokuler dan teleskop kecil.  Sayangnya, pengamat di langit selatan tidak akan dapat menikmati fenomena tersebut. Galaksi Cerutu dimana supernova tersebut berada tampak di Rasi Ursa Mayor aka si Beruang Besar aka si Gayung Besar yang hanya bisa dinikmati oleh pengamat di langit utara.

Supernova Tipe Ia

Dalam laporan awal yang diberikan oleh Steve Fossey, spektrum PSN J09554214+6940260 menunjukkan kalau supernova tersebut merupakan Supernova Tipe Ia, yang terjadi sebagai akibat ledakan bintang katai putih. 

Hal menarik lainnya, Galaksi Cerutu dikenal sebagai galaksi yang memiliki laju pembentukan bintang yang tinggi. Artinya sebagian besar bintang yang ada di galaksi ini merupakan bintang muda.  

Jika ada supernova maka yang memungkinkan terjadi adalah ledakan bintang dari keruntuhan inti bintang tunggal bermassa besar. Bintang katai putih merupakan bintang tua yang berasal dari evolusi bintang – bintang bermassa Matahari. Penemuan supernova tipe Ia di galaksi M82 tentunya mengundang rasa ingin tahu lebih lagi terkait kehadiran bintang-bintang tua di galaksi tersebut.

Pada Supernova Tipe Ia, bintang katai putih yang meledak merupakan anggota dari bintang ganda. Mengapa bintang katai putih yang “dingin” ini bisa meledak? 

Dalam interaksinya dengan si bintang pasangan, bintang katai putih akan menarik sejumlah besar materi dari bintang pasangannya.  Saat terjadi transfer materi, massa bintang katai putih tentunya bertambah. Saat massa bintang katai putih mencapai 1,44 massa Matahari maka terjadilah ledakan dasyat yang dikenal sebagai Supernova tersebut. 

Massa 1,44 massa Matahari dikenal juga sebagai limit Chandrasekhar yakni massa maksimum yang bisa dimiliki bintang katai putih. Jika bintang katai putih mencapai limit Chandrasekhar, tekanan di pusat bintang akan mencapai batas ambang dimana inti karbon dan oksigen akan memulai pembakaran yang tidak terkontrol yang memicu terjadinya ledakan.

Supernova Tipe Ia juga dikenal sebagai lilin standar dalam penentuan jarak di astronomi. Artinya, luminositas ledakannya dapat digunakan untuk mengukur jarak obyek dan kunci penting dalam pengukuran alam semesta yang memuai dipercepat. Dan hasil pengukuran itu membawa kesimpulan bahwa pemuaian alam semesta yang dipercepat disebabkan oleh keberadaan energi gelap yang diperkirakan mencapai 70%.  

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang energi gelap, penyebab percepatan pemuaian alam semesta, para astronom harus terus menerus mempertajam pengukuran menggunakan supernova tipe Ia sehingga bisa menghasilkan pengukuran yang lebih presisi.

Permasalahan yang timbul dari pengukuran jarak dengan Supernova Tipe Ia adalah bintang apakah yang merupakan bintang leluhur si supernova dan dampak seperti apa yang ditimbulkan oleh debu pada pengukuran. 

Karena itu, penemuan Supernova di M82 tersebut menjadi hal yang sangat penting. Supernova di Galaksi Cerutu yang dilihat para astronom terhitung masih muda, yang artinya para astronom punya kesempatan untuk bisa menjejak penyebab ledakan. Dan dengan lokasinya yang dekat hanya 12 juta tahun cahaya, Teleskop Hubble sudah memiliki citra galaksi Cerutu jauh sebelum si bintang meledak sehingga para astronom bisa menelusuri dan melihat bintang leluhurnya.

Dalam laporan pengamatan yang diserahkan pada IAU, PSN J09554214+6940260 disebutkan memerah, yang artinya supernova terjadi pada lingkungan yang berdebu. Dengan demikian, para astronom akan dapat menganalisa dampak yang diberikan oleh debu pada warna Supernova dan bisa digunakan untuk mengetahui dampaknya pada pengukuran jarak. Hasil tersebut akan digunakan untuk mengkalibrasi supernova lainnya. Dan voila kita bisa memiliki pengukuran yang lebih tajam!

Bintang yang ukuranya 1.500 lebih besar daripada matahari


Mungkin waktu di sekolah kita diajarkan bahwa matahari merupakan benda terbesar di galaksi kita bagaimana tidak dengan ukuranya yang 109 kali lebih besar daripada bumi tak ada yang meragukan hal tersebut, tapi itu semua akan berubah setelah anda membaca artikel ini sebab NASA baru saja menemukan sebuah bintang yang 5 kali lebih besar dan lebih cerah daripada matahari, bintang tersebut diberi nama VY Canis Majoris. Bagaimana mungkin?


Bintang ini juga disebut red hypergiant karena bukan hanya diameternya yg mencapai 1.7 miliar mil tapi juga bintang ini juga memancarkan cahaya yang jutaan kali lebih terang daripada matahari tapi dengan jaraknya yg mencapai 4,900 juta cahaya membuat bintang tersebut sulit diteliti, tapi setidaknya kita memiliki waktu 100,000 tahun sebelum bintang tersebut meledak dan menghancurkan kita.

Sumber

 http://wahw33d.blogspot.com/2012/06/5-hal-baru-yang-ditemukan-di-luar.html#ixzz2OQCaczAA

Bintang terbesar yang baru di temukan manusia


Begitu banyak benda-benda langit di alam semesta yang tak terhitung jumlahnya. Alam semesta yang begitu banyak menyimpan misteri seakan-akan membuat para ilmuwan astronom terus mencari tau bagaimana asal-usul penciptaan alam semesta.

Sejauh pengetahuan manusia hingga saat ini, bintang terbesar di alam semesta adalah VY Canis Majoris.

(sumber:http://id.wikipedia.org/wiki/VY_Canis_Majoris). VY Canis Majoris berada di gugusan bintang Canis Major. Karena saking besarnya, ia termasuk salah satu bintang yang paling terang cahayanya. Letaknya sekitar 4.900 tahun cahaya dari bumi . Bintang ini pertama kali diketahui berdasarkan katalog dari Jerome Lalande pada 7 Maret 1801. Katalog tersebut mencatat VY Canis Majoris sebagai 7 bintang besar.

Sejak tahun 1847, VY Canis Majoris diketahui sebagai bintang merah. Dengan suhu sekitar 3000 K, suhu yang termasuk dingin untuk sebuah bintang bercahaya. Adakah bintang lain yang lebih besar dari VY Canis Majoris?. Sampai sekarang pun para ilmuwan masih mengungkap fakta-fakta sains mengenai keberadaan bintang lain yang memiliki massa yang lebih besar dan lebih massive daripada VY Canis Majoris.

Ukuran VY Canis Majoris dibandingkan Matahari. Profesor Roberta M. Humphreys dari Universitas Minnesota memperkirakan radius VY
CMa adalah 1800 hingga 2100 kali radius Matahari. Untuk mengilustrasikan, jika Matahari digantikan oleh VY CMa, radiusnya bisa melampaui orbit Saturnus. Cahaya membutuhkan lebih dari 2.7 jam untuk perjalanan mengelilingi keliling VY CMa, dibandingkan dengan 14.5 detik untuk Matahari. Untuk mengisi volume VY CMa, dibutuhkan 7 × 1015 Bumi.

Dan jika Bumi diwakili oleh bola dengan diameter 1 cm, Matahari diwakili bola dengan diameter 1 09 cm, dengan jarak antara keduanya 117 meter. Pada skala ini, VY Canis Majoris memiliki
diameter sekitar 2.3 kilometer. Tidak seperti bintang-bintang besar lainnya VY canis majoris adalah bintang tunggal dan bukan sistem bintang yang dalam satu tata surya memiliki lebih dari satu bintang.

Ukuran VY Canis Majoris sangatlah besar jika dibandingkan dengan tata surya kita besar diameternya kira-kira dari matahari sampai melampaui orbit Saturnus (9 kali jarak matahari ke bumi) atau 3.063.000.000 km, dan jika dilihat dari kecepatan cahaya VY Canis Majoris harus ditempuh 8 jam oleh kecepatan cahaya untuk mengitarinya.


perbandingan bumi dengan matahari 






http://www.kaskus.co.id/post/51389297e974b4cd7e000015

Flag Country

free counters