Danau Terakhir Diplanet Mars Ditemukan NASA

Inilah Danau Terakhir Diplanet Mars Ditemukan NASA
Brian Hynek/Laboratory for Atmospheric and Space Physics

 
Hasil riset terbaru yang dipublikasikan di jurnal Geology pada 5 Agustus 2015 lalu mengungkap danau terakhir di Mars. Danau itu berada di dekat lokasi pendaratan wahana Opportunity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Eagle Crater.

Brian Hyek dari University of Colorado-Boulder, seorang geolog, melakukan analisis mineral dengan wahana NASA yang mengorbit Mars menggunakan teknik digital mapping. Hasil analisis menunjukkan bahwa danau yang luasnya diperkirakan 46 kilometer persegi itu berusia 3,6 miliar tahun. Waktu 3,6 miliar tahun lalu adalah saat ketika Mars mengering.

"Danau ini berumur panjang, dan kami mampu menetapkan batasan umur maksimumnya," kata Hynek seperti dikutip situsIFLScience.com, Rabu (12/8/2015). "Kami bisa cukup yakin bahwa danau ini merupakan salah satu danau terakhir yang dimiliki oleh Mars."

Menurut Hynek, danau itu terbentuk ketika sebuah lembah terbentuk, dikelilingi perbukitan dan dialiri air. Air mulai mengumpul, membentuk kolam, dan akhirnya semakin banyak sehingga menjadi danau. Namun, air kemudian menguap dan mengering. Akhirnya, yang tersisa adalah endapan garam.

Berdasarkan analisis endapan, Hynek mengungkapkan bahwa danau itu miskin garam. Kandungan garam danau itu hanya 8 persen dari kandungan danau lautan di Bumi. Karenanya, Hynek mengatakan bahwa danau terakhir di planet merah itu mungkin bisa mendukung kehidupan.

Pelajari Atmosfer Mars, NASA Luncurkan Maven

Pelajari Atmosfer Mars, NASA Luncurkan Maven
Peluncuran Maven, misi NASA untuk menyelidiki atmosfer Mars, Senin (18/11/2013).


Lembaga antariksa Amerika (NASA), Senin (18/11/2013), meluncurkan pesawat antariksa tak berawak Maven ke Mars. Maven punya misi mempelajari atmosfer planet merah tersebut untuk mencari tahu mengapa tetangga bumi itu kehilangan kehangatan dan air dari waktu ke waktu.

Maven adalah kependekan dari Mars Atmosphere and Volatile Evolution. Dia diterbangkan menumpang roket putih Atlas V401 pada pukul 13.28 waktu setempat atau Selasa (19/11/2013) pukul 01.28 WIB.

"Semua terlihat baik," kata misi kontrol NASA tentang peluncuran pesawat itu. Pesawat dengan biaya perakitan 671 juta dollar AS atau sekitar Rp 7 triliun itu direncanakan menjelajahi permukaan Mars selama 10 bulan.

Roket ini tak akan mendekati wilayah kering Mars tetapi lebih fokus pada misteri atmosfer Mars yang masih minim dipelajari, berbeda dengan misi pesawat antariksa NASA sebelumnya.

Selama menjalankan misi, Maven bakal mengelilingi planet merah, pada jarak sekitar 6.000 kilometer di atas permukaan Mars. Meski demikian, dia akan menjelajahi lima variasi ketinggian dengan rentang sekitar 125 kilometer untuk mendapatkan kumpulan data atmosfer Mars dalam beragam tingkat.

Para peneliti menyebut misi Maven sebagai upaya pencarian bagian yang hilang dari teka-teki tentang atmosfer Mars. Diduga ada peristiwa pada miliaran tahun lalu yang mengubah Mars dari planet dengan air yang memungkinkannya didiami menjadi planet kering berupa gurun tandus sekarang.

"Maven adalah pesawat ruang angkasa pertama yang ditujukan untuk mengeksplorasi dan memahami atmosfer Mars," kata NASA. "Pesawat akan mempelajari bagaimana atmosfer Mars hilang, menentukan sejarah hilangnya air dari Mars."

Peralatan

Alat pertama dari tiga peralatan yang dibawa Maven adalah pengukur angin matahari dan ionosfer yang disebut sebagai paket partikel dan bidang, buatan laboratorium sains antariksa University of California.

Sedangkan alat kedua adalah paket pengindraan jauh buatan laboratorium fisika atmosfer dan antariksa University of Colorado. Alat ini akan dipakai untuk menentukan karakteristik global atmosfer bagian atas dan ionosfer.

Sementara peralatan ketiga adalah spetrometer massa ion dan gas netral yang dibuat Goddard Space Flight Center NASA. Komposisi isotop netral dan ion akan diukur menggunakan alat ini.

"Dengan Maven, kami menjelajahi satu bagian terbesar Mars yang belum dijelajahi sejauh ini," kata peneliti utama NASA, Bruce Jakosky.

Pengiriman Maven ke Mars bukanlah misi pertama NASA ke planet merah. Misi NASA ke Mars mencakup pengiriman pesawat antariksa Curiosity, yang tiba pada tahun lalu. Sementara India juga mengorbitkan pesawat antariksa Deep Space.

Misi India adalah mendapatkan data metana untuk membuktikan ada atau tidaknya kehidupan di Mars pada masa lampau. Sementara itu, misi Amerika adalah mencari jejak perubahan iklim di Mars.

Bila misi Maven berhasil, data yang dihimpunnya akan membantu membuka jalan di masa depan bagi kunjungan manusia ke Mars. NASA memperkirakan, pengiriman manusia ke Mars dapat dilakukan sebelum 2030.
 

Misi Robot NASA Berikutnya Membuat Oksigen di Mars

Misi Robot NASA Berikutnya Membuat Oksigen di Mars
Misi Mars 2020 akan membawa tujuh proyek dan salah satunya peralatan produksi O2.


Pesawat ruang angkasa NASA yang direncanakan mendarat di Mars pada tahun 2021 akan berupaya untuk membuat oksigen di permukaan planet merah itu.

Pesawat Mars 2020 itu akan membawa tujuh proyek yang diarahkan untuk merintis jalan bagi misi berawak ke Mars dengan mencari bukti-bukti kehidupan dan menyimpan sampel yang kelak dibawa kembali ke sana.

Salah satu proyek adalah peralatan yang bisa mengubah CO2, yang banyak di udara Mars yang tipis, menjadi O2, seperti dilaporkan wartawan Sains BBC, Jonathan Webb.

Hal tersebut akan bisa mendukung kehidupan manusia atau membuat bahan bakar untuk roket yang akan membawa pulang awak ruang angkasa.

"Hari ini merupakan hari yang amat gembira bagi kami," kata astronot dan administrator NASA, John Grunsfeld, saat mengumumkan muatan yang dibawa Mars 2020 di Washington DC.

Dengan berat satu ton dan biaya 1,9 miliar dollar AS, pesawat itu akan mengikuti model Curiosity, yang mendarat di Mars pada Agustus 2012.

Fokus eksplorasi

Kemampuan memproduksi oksigen akan membantu ambisi untuk misi berawak ulang alik ke Mars karena membawa bahan bakar amat berat serta membutuhkan biaya yang mahal pula.

Pesawat ruang angkasa NASA lainnya sudah bisa memproduksi O2 dari CO2 namun peralatan baru, MOXIE, untuk pertama kalinya akan menguji kemampuannya di atmosfer Mars.

Salah seorang penguji MOXIE, Profesor Tom Pike dari Imperial College, London, mengatakan perubahan fokus dalam misi ke Mars seperti mengganti persneling.

"Ini lebih seperti Star Trek tua yang lebih berani, dengan fokus utama dari muatannya adalah ekslporasi dan bukan ilmu pengetahuan," jelasnya kepada BBC.

"Tidak banyak tempat yang bisa dituju manusia setelah Bulan. Saya akan mengatakan satu dalam daftar praktisnya, dan itu adalah Mars."
 

Metana Ditemukan di Mars, Apakah Itu Tanda Adanya Kehidupan?

Metana Ditemukan di Mars, Apakah Itu Tanda Adanya Kehidupan?
Panorama sore hari di Mars yang dikonstruksi Jason Major berdasarkan foto yang diambil kamera Mastcam pada wahana antariksa Curiosity.


Adakah kehidupan di Mars pada saat ini atau masa lampau? Mungkin saja.

Wahana antariksa Curiosity milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan ledakan metana di planet merah yang bertahan selama dua bulan. Menariknya, metana itu mungkin menjadi petunjuk adanya kehidupan di Mars.

"Itu salah satu dari sekian hipotesis yang diajukan dan harus dipertimbangkan seiring kita terus meneliti," kata John P Grotzinger, ilmuwan yang memimpin proyek Curiosity, seperti dikutip New York Times, Kamis (18/12/2014).

Temuan metana tersebut signifikan sebab gas itu tidak bisa bertahan dalam waktu lama.

Perhitungan mengindikasikan bahwa cahaya dan reaksi kimia di atmosfer Mars bakal mengurai metana menjadi senyawa yang lebih sederhana dalam ratusan juta tahun. Jadi, metana yang ditemukan saat ini pasti berasal dari masa kini.

Metana merupakan senyawa organik sederhana yang terdiri atas atom karbon dan empat atom hidrogen.

Di Bumi, metana adalah hasil metabolisme mikroba, selain juga menjadi salah satu komponen gas buang pada manusia. Metana pun bisa dihasilkan lewat proses geologi yang disebut serpentinisasi, reaksi yang membutuhkan panas dan air dalam bentuk cair.

Belum jelas dari mana metana di Mars berasal. Namun, temuannya menarik dan perlu dieksplorasi lebih lanjut.

Menurut ilmuwan, bahkan bila metana itu hanya merupakan hasil dari proses geologi, temuannya sangat menarik sebab spot hidrotermal yang menhasilkan metana merupakan tempat yang baik untuk mencari tanda-tanda kehidupan.

Christopher R. Webster dari Jet Propulsion Laboratory, NASA, menyatakan bahwa temuan metana ini sangat mengejutkan.

Pasalnya, pertengahan tahun 2013 lalu, NASA telah menyatakan bahwa tanda-tanda adanya metana di Mars tak ditemukan. Namun, hanya dalam waktu 2 bulan setelah pernyataan itu, metana dideteksi dalam level 10 kali lebih tinggi dari yang diduga.

Sejak saat itu, metana dideteksi tetap bertahan hingga bulan Januari 2014. Kemudian, pelan-pelan metana terdegradasi.

Sepuluh tahun lalu, penelitian dengan wahana Mars Express milik Badan Antariksa Eropa (ESA) juga menemukan tanda-tanda adanya metana di atmosfer Mars. Namun, tanda itu hilang dalam dua tahun.

Saat itu, ilmuwan percaya bahwa solusi dari misteri tersebut adalah kesalahan dalam pengukuran. Tapi sekarang, misteri itu muncul lagi.

Michael J. Mumma dari Goddard Space Flight Center NASA di Greenbelt menyatakan, data baru ini menarik setelah sekian keraguan dan kritik tentang adanya metana di planet merah.

Selain menemukan metana, tim ilmuwan NASA dengan wahana Curiosity juga mengungkap adanya molekul organik di pada batuan Mars.

"Konfirmasi pertama karbon organik pada batu Mars ini menyuguhkan banyak hal menjanjikan," kata Roger Summons seperti dikutip CNN, Kamis lalu.

Karbon organik itu bisa jadi terbentuk di Mars atau dibawa oleh meteorit. Sekaligus, karbon itu juga bisa menjadi tanda adanya kehidupan di Mars.

Meski demikian, semuanya kini masih tanda tanya. Belum ada satu pun bukti nyata adanya kehidupan di planet tersebut.
 

Penjelajah NASA Temukan Senyawa Organik, Gas Metana di Mars

Penjelajah NASA Temukan Senyawa Organik, Gas Metana di Mars
Gambaran kendaraan penjelajah NASA, Curiosity, di permukaan Mars.


Studi-studi tambahan diperlukan untuk menentukan apakah senyawa-senyawa organik dan/atau gas metana yang diproduksi dalam kehidupan sebelumnya atau sekarang di Mars.

Kendaraan penjelajah Mars milik NASA, Curiosity, telah menemukan senyawa-senyawa yang mengandung karbon dalam sampel-sampel yang dibor dari batu prasejarah, deteksi definitif pertama dari senyawa-senyawa organik di permukaan planet tetangga Bumi tersebut.

Para ilmuwan NASA mengatakan kendaraan tersebut juga menemukan semprotan gas metana di atmosfer, bahan kimia yang di Bumi terkait kuat dengan kehidupan.

Studi-studi tambahan, yang mungkin di luar kemampuan kendaraan tersebut, diperlukan untuk menentukan apakah senyawa-senyawa organik dan/atau gas metana yang diproduksi dalam kehidupan sebelumnya atau sekarang di Mars atau apakah mereka berasal dari proses-proses geokimia.

"Kita telah memiliki penemuan besar. Kita telah menemukan bahan-bahan organik di Mars," ujar pemimpin tim ilmuwan Curiosity, John Grotzinger, dari California Institute of Technology di Pasadena, California, dalam konferensi pers di San Francisco.

“Mengenai probabilitas hal-hal ini merupakan sumber-sumber (kehidupan)... kita harus menghormati bahwa ada kemungkinan," ujarnya.

Curiosity Beri Kejutan Besar Tanda Kehidupan di Mars

Curiosity Beri Kejutan Besar Tanda Kehidupan di Mars


Kendaraan penjelajah Mars milik Badan Antariksa Nasional AS (NASA), Curiosity, mengungkap temuan yang mengejutkan di Planet Mars. Temuan itu bisa membantu menguak teka teki kehidupan di Planet Merah itu.

Curiosity menemukan adanya sampel gas metana di kawah Gale, lokasi pendaratan Curiosity, dengan tingkat metana 0,7 bagian per miliar. Gas metana merupakan salah satu faktor yang mendukung kehidupan selain air.

Temuan metana ini bukan yang pertama kali dan tingkat temuan terakhir ini menunjukkan pola fluktasi metana. 

Dalam dua bulan pengukuran terakhir, Curiosity telah menemukan tingkat metana meningkat dan menurun. Dalam 60 hari terakhir, rata-rata tingkat metana menunjukkan peningkatan 10 kali lipat. Sayangnya, gas ini dengan cepat menghilang. Penyebab lenyapnya gas ini masih belum dikuak peneliti.

Temuan tingkat metana terakhir lebih rendah dari perkiraan sebelumnya. Namun, temuan ini masih tinggi dibanding November tahun lalu, yang mencapai 5,5 bagian per miliar. Hanya berjarak dua pekan saja, metana diukur kembali dan ditemukan tingkat 7 bagian per miliar. 

Selanjutnya, pada pengukuran lain, beberapa pekan setelahnya, muncul 9 bagian per miliar. Dan enam pekan berselang, tingkat metana kembali anjlok ke tingkat rendah.

Lonjakan itu mengejutkan peneliti. Sebab, menurut penulis utama studi ini, Christopher Webster, ilmuwan tadinya berharap metana di Mars bisa punya masa hidup sekitar 300 tahun, jauh lebih lama dari gas yang terjebak di kawah Gale. 

Ilmuwan berspekulasi peningkatan sesaat itu bisa saja dipengaruhi oleh gas metana yang liar di sekitar Curiosity. Makanya, sangat peka di sekitar kendaraan penjelajah sebelum menghilang lagi. 

"Mengingat cara perilaku metana itu, kami yakin ini adalah lebih kecil (jumlahnya). Sumber yang lebih dekat lebih memungkinkan daripada sumber yang lebih besar serta sumber yang lebih jauh," jelas Webster dalam hasil studi yang dipublikasikan di Jurnal Science.

Kemungkinan jumlah gas metana yang sedikit dan fluktuatif itu tentu mengecewakan ilmuwan. Sebab, jika hipotesa gas metana memang benar sedikit, tentu akan melemahkan potensi kehidupan di planet ini. Namun demikian, terbatasnya temuan metana tak membuat misi pencarian tanda kehidupan berakhir. Peneliti yakin masih ada peluang lain.

Sementara ilmuwan proyek Curiosity dari California Institute of technology, AS, John Grotzinger, bertekad akan menguak teka teki temuan terbaru itu. 

"Bisakah kita belajar lebih banyak tentang kimia aktif yang menyebabkan fluktuasi jumlah metana di atmosfer? Atau mungkinkan kita memilih target bebatuan yang dapat diidentifikasi organik yang diawetkan?" kata dia. 

Sebelumnya, ilmuwan telah melihat fluktuasi tingkat metana di atmosfer Mars, dengan menggunakan pengorbit dan sarana pencarian planet. Peneliti di luar studi itu, menyebutkan data temuan baru Curiosity dapat membantu menciptakan model yang lebih baik dari atmosfer Mars. 

Dengan temuan fluktuasi itu, Webster mengatakan bisa saja peneliti nanti mempersempit sumber asal metana, tapi mungkin tugas ini tak dilakukan Curiosity. Ilmuwan, menurutnya butuh beberapa alat baru di Mars yang mampu menyelidiki atmosfer tipis Mars. 

Ia memperkirakan proses geologi mungkin yang bertanggungjawab atas rilis gas metana di Mars. 

"Ini adalah kejutan besar bagi kami. Dan dari sini lah kami akan menulis bab studi selanjutnya," jelas dia. 

Sementara studi lain yang dipublikaskan Jurnal Science juga menemukan sampel air, salah satu unsur pendukung kehidupan lain. Dengan memanfaatkan sampel tanah liat, ilmuwan telah mengukur hidrogen di atmosfer Mars sekitar 3 hingga 3,7 miliar tahun lalu.


Ada Batu Berwajah Obama di Mars

Ada Batu Berwajah Obama di Mars


Peminat UFO asal Inggris, Scott Waring mengklaim telah melihat penampakan batu berwajah Presiden AS, Obama, di Mars. Penampakan itu terlihat pada gambar yang diambil 2005 lalu.

"Saat sedang mencari struktur di Mars, saya menemukan kepala ini. Dari letak dan posisinya, saya yakin ini adalah patung berukuran penuh dan dikubur dari kaki sampai pundak sehingga hanya kepala yang terlihat," ujar Waring yang ditulis dalam blog-nya UFO Sightings Daily, seperti dikutip Daily Mail, Rabu 3 Desember 2014.

Dia yakin jika kepala itu mirip dengan wajah yang ia kenal. Setelah melakukan zoom berkali-kali di komputernya, ia mendapati sebuah gambar patung mirip kepala Obama.

"Dengan membersihkan gambar tersebut menggunakan sebuah program software, saya menemukan relik ini menggambarkan presiden kita, Barack Obama," tulisnya.

Gambar itu sejatinya merupakan hasil tangkapan asli dari kendaraan luar angkasa Spirit Rover. Gambar itu dirilis secara terbuka di dunia maya oleh NASA.

Tentu saja hal ini dibantah oleh ilmuwan NASA. Pasalnya, sebelumnya juga pernah ada penampakan batu berwujud wajah manusia kuno. Pada 22 Juli 1997, sebuah gambar permukaan NASA, yang diambil dari kendaraan luar angkasa Sojourner, menemukan adanya patung mirip peninggalan purbakala.

Namun ilmuwan mengatakan jika penemuan ini hanyalah bagian dari Pareidolia. Istilah itu merujuk pada respon psikologis saat melihat penampakan bentuk mirip wajah dan item lain yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pareidolia merupakan sebuah bentuk dari apophenia, atau kejadian ketika orang melihat sebuah bentuk atau koneksi yang random, lalu dihubung-hubungkan dengan sesuatu yang tidak berkaitan.

Ada beberapa kesempatan ketika orang mengklaim telah melihat penampakan religius atau yang dikenal di tempat yang tidak diharapkan. Beberapa figur yang sering dikaitkan adalah gambar Yesus, perawan Maria, dan rangkaian huruf membentuk kata Allah.

Komet Akan Dekati Mars, Peristiwa Sekali dalam Sejuta Tahun

Komet Akan Dekati Mars, Peristiwa Sekali dalam Sejuta Tahun




CAPE CANAVERAL, FLORIDA— Komet Siding Spring akan mendekati Mars dari bawah dan melesat tepat di depan planet itu Minggu sore waktu timur.

Sebuah komet seukuran gunung kecil akan melewati Mars dalam jarak dekat, Minggu (19/10), mendekati dalam jarak sekitar 140.000 kilometer dalam kecepatan 203.000 kilometer per jam.

Peristiwa ini adalah sangat langka, hanya terjadi sekali dalam satu juta tahun.

Lima kendaraan robotik penjelajah NASA di Mars telah diatur untuk menyaksikan komet Siding Spring membuat kunjungan pertama yang diketahui ke sistem tata surya bagian dalam. Demikian juga dengan sebuah pesawat antariksa Eropa dan sebuah pesawat antariksa India akan melingkari planet merah itu.

Pesawat pengorbit itu akan berupaya mengamati bola es yang akan datang itu, lalu bersembunyi di belakang Mars untuk melindungi diri dari potensi pecahan debu berbahaya dari ekor komet.

Terlindung oleh atmosfer Mars, kendaraan Opportunity dan Curiosity mungkin akan mendapatkan pandangan terbaik, meski badai debu di Mars bisa mengaburkan penglihatan.

Dinamai dari observatorium Australia yang mendeteksi komet itu pada Januari 2013, Siding Spring akan mendekati Mars dari bawah dan melesat tepat di depan planet itu Minggu sore waktu timur.

Dari Bumi, pandangan terbaik lewat teropong atau teleskop, akan didapat dari belahan Bumi Selatan, terutama Afrika Selatan dan Australia. Belahan Bumi utara akan sulit melihat Siding Spring meluncur dekat Mars.

Komet tersebut, dengan inti yang diperkirakan memiliki diameter sedikitnya 0,8 kilometer, itu datang dari Awan Oort jauh di pinggir sistem tata surya. Ia dibentuk dalam satu atau dua juta tahun pertama kelahiran tata surya sekitar 4,6 miliar tahun lalu dan, sampai sekarang, tidak pernah bergerak dekat ke matahari, hanya barangkali ke orbit-orbit Yupiter, Saturnus, Uranus atau Neptunus. Ia datang setiap satu juta tahun atau lebih.

Komet ini akan menjadi komet Awan Oort pertama yang dapat diamati secara rinci.


Remaja 13 Tahun Siap Jadi Manusia Pertama ke Mars




Seorang remaja putri asal Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat (AS), bermimpi ingin menjadi astronaut 10 tahun lalu. Lebih jauh, mimpi besar Alyssa Carson saat usianya tiga tahun adalah menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di Mars.

Mimpinya itu mungkin tidak akan menjadi sekadar harapan setelah meniup lilin kue ulang tahun, karena badan antariksa AS (NASA) berpikir bahwa Alyssa punya kesempatan dan kini sudah menjalani pelatihan untuk misi pertamanya.

Kantor berita Reuters, Rabu 8 Oktober 2014, menyebut Alyssa mempelajari sains dan beberapa bahasa, serta menjadi orang pertama yang menghadiri semua dari tiga kamp ruang angkasa NASA. Dia kini sudah memiliki kode nama panggilan di NASA, yaitu "Bllueberry."

"Saya menghadiri kamp ruang angkasa kedua, mengenakan seragam penerbangan biru dan menjadi yang terkecil dalam kelompok. Sejak itu, saya dipanggil Blueberry," tulis Alyssa dalam blog pribadinya nasablueberry.com.

Pada Juli 2013, Alyssa yang menguasai bahasa Spanyol, Prancis, China, dan Turki selain bahasa Inggris, menjadi orang pertama yang menghadiri tiga kamp ruang angkasa NASA, serta satu-satunya anak Amerika yang mewakili AS.

Alyssa mengaku keinginan menjadi astronaut terinspirasi dari sebuah film musikal pra-sekolah berjudul Backyardigans. Film itu menceritakan lima hewan kecil yang membayangkan pekarangan rumah mereka sebagai arena petualangan.

Demi mendukung cita-citanya, Alyssa berencana mempelajari astrofisika di Universitas Ruang Angkasa Internasional di Prancis atau MIT di Boston. Alyssa telah bertemu dengan para pakar penerbangan ruang angkasa berawak NASA di Washington, 7 Januari lalu.

NASA juga telah mengindikasikan bahwa Alyssa punya peluang besar untuk mewujudkan mimpinya, saat NASA mengirimkan manusia untuk pertama kalinya ke Mars pada 2030. Cukup waktu bagi Alyssa untuk mempersiapkan diri menjadi orang pertama ke Mars pada usia 28 tahun.

Perempuan Ini Pimpin Misi Mencari Kehidupan di Mars



Badan Antariksa Amerika Serikat, NASA, menunjuk seorang ilmuwan wanita untuk memimpin misi pencarian kehidupan di Mars. Wanita itu bernama Sr. Abigail Allwood.

Wanita berusia 41 tahun ini pernah didapuk sebagai salah satu dari 10 ilmuwan dunia dengan pemikiran sains yang luar biasa pada 2006 oleh Majalah Cosmo. Dia merupakan lulusan Sommerville House dan sekarang menjadi Pimpinan Perkumpulan Geolog dunia. Ia bekerja di Jet Propulsion Laboratory (JPL) NASA di Pasadena, California.

Dr Allwood ditunjuk sebagai investigator utama dalam program Mars Rover 2020 NASA. Perempuan ini berasal dari Australia sehingga dia mengukuhkan dirinya sebagai warga negara pertama di luar AS yang menjabat di NASA.

Wanita ini menyelesaikan pendidikan doktoralnya di Sydney Macquarie University pada 2006. Dalam ujian akhirnya, ia membuktikan adanya formasi bebatuan tua di wilayah Pilbara, Australia. Ini merupakan bentuk kehidupan tertua di Bumi. Dari hasil penelitiannya, ia memprediksi jika pola kehidupan di Pilbara juga bisa terjadi di Mars.

Teknologi baru yang dirancang oleh Dr Allwood ini memungkinkan batu Mars diselidiki lebih jauh dalam proses mikrosopik, dimana bebatuan bisa diteliti hingga bentuknya sekecil ukuran biji-bijian. Temuan bernama PIXL ini akan memberikan kesempatan besar kepada Mars Rover untuk mencari kehidupan di Mars.

Dilansir melalui Sidney Morning Herald, Senin 4 Agustus 2014, NASA sangat tertarik dengan penemuan Allwood ini. Tidak heran jika kemudian NASA menariknya sebagai pemimpin misi ke planet merah itu.

"Dia telah mengerjakan proyek ini sejak dua atau tiga tahun lalu. Saya ingat, sempat mengunjunginya pada 2011 atau 2012 lalu di JPL. Dia sangat bangga dengan PIXL. Teknologi ini memungkinkan Mars Rover menganalisa batu Mars berukuran sangat kecil," kata adik Allwood, Belinda Allwood, seperti dikutip SMH.

Studi geologi pertama kali di dalami oleh Allwood di Queensland University of Technology. Ia juga tercatat telah merampungkan pendidikan Geoscience-nya di sini pada 2001.

Abigail Allwood berangkat ke Pilbara ditemani Belinda untuk meneliti bebatuan di sana. Itu terjadi sebelum ia pindah ke Amerika untuk bekerja dengan NASA, tujuh tahun lalu.

Baru-baru ini, pada 2013, Allwood menerima penghargaan Lew Allen dengan kategori Excellent. Ini merupakan penghargaan yang diberikan atas prestasi pribadi yang sangat menakjubkan untuk perkembangan penelitian NASA JPL.

NASA meluncurkan dua Mars Rover pertama kali pada 2004. Kemudian NASA meluncurkan Mars Laboratory Curiosity Rover pada 2011. Sejak mendarat di Mars tepat pada 6 Agustus 2012, Curiosity Rover telah efektif digunakan sebagai robot bergerak yang bisa mengumpulkan contoh tanah dan batu dari Mars.

Sebelumnya, NASA telah menemukan jika sebagian wilayah Mars dipenuhi oleh air dan bisa mendukung kehidupan manusia di sana

Mungkinkah Terbang ke Mars Dalam 2 Minggu Saja?



Sebuah penelitian baru memungkinkan manusia bisa terbang ke Mars hanya dalam kurun 2 minggu saja. Lebih cepat berkali-kali lipat ketimbang estimasi NASA selama ini.

Mengutip Metro.co.uk, Kamis 7 Agustus 2014, NASA dikabarkan telah memberikan lampu hijau untuk melakukan uji coba lanjutan terhadap jenis mesin pesawat baru. Mesin ini menyediakan daya dorong tanpa propellan. Teori yang digunakan mesin pesawat ini dianggap melanggar hukum fisika.

Mesin pesawat itu diberi nama Cannae Drive, yang diambil dari Pertempuran Cannae di Itali pada tahun 216 sebelum Masehi, di mana Jenderal Carthaginian yang bernama Hannibal mengalahkan banyak tentara saat berperang dengan Roma.

Dalam penjelasannya, Cannae Drive berhasil memproduksi mesin dengan daya dorong yang dihasilkan tanpa menggunakan propellan. Penemuan ini melanggar teori konservasi momentum yang menyatakan bahwa setiap aksi harus memiliki kesamaan dan reaksi yang berlawanan.

Propellan selama ini digunakan sebagai bahan pendorong roket. Propellan memproduksi reaksi kimia sebagai massa pendorong. Biasanya, kecepatannya sangat tinggi dan memberikan propulsi pada pesawat ruang angkasa. Propellan pada roket menggunakan bahan yang bisa mengalami reaksi kimia eksotermis untuk menghasilkan gas panas sebagai pendorong.

Cannae Drive hanya menggunakan mesin pendorong dari gelombang magnetik. Teorinya, jika mesin penggerak skala besar diaktifkan dengan cara yang sama saat uji coba sistem, ini berarti pesawat bisa mencapai Mars dalam hitungan minggu. Lebih cepat dibanding proyeksi Nasa yang mencapai sembilan bulan lamanya.

Mesin penggerak itu bekerja mengandalkan tekanan radiasi, dimana gelombang elektromagnetik membawa sejumlah kecil momentum. Ketika momentum itu mencapai reflektor maka bisa diubah sebagai pendorong. 

Lanjutan Teknologi EmDrive

Cannae Drive itu menggunakan teknologi yang sama seperti EmDrive. Teknologi itu ditemukan oleh seorang ilmuwan Prancis, Roger Shawyer dan diuji coba oleh peneliti Tiongkok.

EmDrive ditemukan beberapa tahun lalu. Sebuah prototipe mesin roket, yang diklaim mampu menghasilkan dorongan dengan cara memantulkan gelombang mikro dalam corong logam tertutup.

EmDrive dikembangkan oleh perusahaan kecil berbasis di Inggris, bernama Satellite Propulsion Research Ltd. Kabarnya, sekelompok grup dari Tiongkok telah sukses mengadakan uji coba dengan perangkat yang memiliki metode sama dengan EmDrive.

Beberapa tahun kemudian, Guido Fetta, membangun versi terbaru dari EmDrive dengan nama lain Cannae Drive. Fetta meyakinkan sekelompok ilmuwan di Eagleworks Laboratories, yang merupakan bagian dari Johnson Space Center milik Nasa, untuk melakukan uji coba itu.

Teori Kontroversi Cannae Drive

Semua hal dalam dunia sains sangat terbuka untuk pertanyaan. Banyak ilmuwan yang memandang teknologi ini sebelah mata. Pasalnya, dari awal, teknologi ini dianggap tidak mungkin karena melanggar hukum fisika.

Fisikawan John Baez menyebutnya sebagai teknologi 'bullshit'. "Bagaimana mungkin membuat sebuah propulsi tanpa propelan," katanya.

Forbes menyebutkan banyak ilmuwan yang meragukan teknologi ini. Seperti halnya cold fusion dan neutrinos yang lebih cepat dari cahaya, Cannae Drive atau EmDrive adalah hal yang tak mungkin.

Fisikawan dari California Institute of Technology, Sean Carrol mengatakan temuan ini sebagai 'nonsensical sub-StarTrek level Technoabble'. Bahkan beberapa media menulis dengan judul 'Nasa Melakukan Uji Coba Mesin Pesawat Luar Angkasa yang Tidak Mungkin'

Meski menuai kontroversi karena melanggar hukum fisika, jika ternyata Cannae mampu terbang ke Mars dalam hitungan minggu, ini akan bisa mengubah industri perjalanan luar angkasa. Pasalnya, mahalnya biaya yang dibutuhkan untuk bahan bakar akan berkurang drastis.

Boeing-Nasa Bikin Roket ke Mars US$2,8 Miliar



Ini bisa jadi merupakan roket terbesar yang pernah dibuat Nasa. Dengan harga US$2,8 miliar, Boeing setuju untuk membuat roket raksasa untuk mendukung misi ke bulan dan Mars.

Roket ini disebut yang terbesar karena tingginya akan mencapai 384 kaki. Kesepakatan ini terjadi setelah Nasa menyelesaikan tahap awal perencanaan berupa Critical Design Review (CDR). Ini merupakan kelanjutan sejarah Nasa untuk pesawat eksplorasi sejak 1961, berupa Roket Saturn V.

Roket ini dijadwalkan akan melakukan uji coba pertamanya pada 2017 nanti. Sistem peluncurannya didesain fleksibel dan mampu mengangkut keperluan kargo dan kru misi yang beragam. Uji coba pertamanya ditargetkan akan mampu membawa kapasitas 77 ton. Setelah melewati dua tahap konfigurasi, kemampuan angkutnya akan dinaikkan dua kali lipat menjadi 143 ton.

"Tim kami telah mendedikasikan diri untuk membuat Sistem peluncuran pesawat luar angkasa (SLS) yang paling besar yang pernah ada. Kami akan membangunnya dengan aman, terjangkau dan tepat waktu," ujar Virginia Barnes, VP dan Program Manager Boeing SLS, seperti dikutip dari Daily Mail, Jumat, 4 Juli 2014.

Roket ini didesain untuk bisa multi-fungsi. Tidak hanya mendukung misi eksplorasi manusia ke luar angkasa, tapi juga misi sains lainnya yang melibatkan asteroid dan Mars. 

"Ketika kebanyakan orang berpikir SLS adalah untuk eksplorasi manusia, ternyata itu salah. Aplikasi roket ini bisa lebih luas lagi di semua area eksplorasi, termasuk menelusuri sains luar angkasa," ujar Asisten Manajer Program untuk Strategi dan Kemitraan SLS, Steve Creech.

Ditambahkan Creech, SLS akan membuat misi sains itu lebih memungkinkan ketimbang teknologi sebelumnya. Seperti pengiriman pesawat luar angkasa yang lebih besar, jarak tempuh lebih jauh, dan mengurangi waktu transit di ISS.

Berkat adanya rencana pembuatan roket besar ini, Nasa dan para ilmuwan lain mengevaluasi kemungkinan peluncuran pesawat robot seperti Europa Clipper untuk ditempatkan di Jupiter.

Saat ini, lanjut Creech, Nasa hanya bisa mengirimkan perangkat misi seukuran kotak pesawat luar angkasa yang ada. "Sedangkan dengan SLS, kotaknya akan dibuat lebih besar lagi. Bahkan, kita bisa meluncurkan teleskop Hubble yang ukurannya sebesar bis sekolah," ujarnya.

Spesifikasi SLS

Nantinya akan ada dua jenis roket SLS yang dibuat Boeing sesuai pesanan Nasa. Satu versi kecil dan lainnya lebih besar.

Roket yang kecil memiliki daya angkut 70 metrik ton dan memiliki ukuran tinggi 321 kaki. Daya dorongnya harus mencapai 8,4 juta pon saat meluncur nanti. Beratnya hanya 5,5 juta pon dan mampu membawa 154.000 pon muatan. Kemungkinan versi ini yang akan digunakan dalam uji coba.

Sedangkan yang versi besar memiliki konfigurasi 130 metrik ton. Tingginya 384 kaki dan memiliki daya dorong 9,2 juta pon saat meluncur. Untuk urusan berat, sekitar 6,5 juta pon dan bisa membawa muatan seberat 286.000 pon.

Roket versi besar ini dianggap paling cocok untuk digunakan dalam misi. Pasalnya, selain besar, roket ini juga sudah sesuai dengan perhitungan desain untuk mensukseskan misi.

Minim Dana, Nasa Optimistis Bangun Roket Mars



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membuktikan keseriusannya untuk mengantarkan manusia menuju Mars. Kali ini, untuk memenuhi hasrat tersebut, NASA akan membangun proyek roket terbesar yang pernah ada di dunia.

Meskipun untuk mewujudkannya Nasa masih diselimuti kekhawatiran, terkait kemampuan membayar mega proyek itu. Namun, para pejabat NASA mengatakan mereka telah menyelesaikan kajian ketat pada Space Launch System (SLS), yang tak lain adalah roket raksasa tersebut.

Roket yang menjulang tinggi itu akan dibuat berukuran 384 meter dan berat sekitar 6,5 juta pon, atau 294.835,041 kilogram.

"Kami berada di perjalanan eksplorasi ilmiah dan berkomitmen untuk membangun kendaraan peluncuran, serta sistem pendukungnya yang akan membawa kita pada perjalanan itu (ruang angkasa)," ujar Administrator NASA, Charles Bolden seperti yang diberitakan Daily Mail, Kamis 28 Agustus 2014.

Menurut NASA, roket raksasa itu akan memiliki kapasitas angkat awal sekitar 70 metrik ton dan akan ditingkatkan menjadi 130 metrik ton. Hal itu akan memungkinkan untuk menjalankan misi yang lebih jauh lagi, menjelajahi tata surya seperti asteroid dan Mars.

Pembuatan SLS itu muncul, setelah melewati kajian menyeluruh di Key Decision Point C (KDP-C), yang menyediakan biaya dasar untuk pengembangan verin 70 ton metrik sekitar US$7,021 triliun, atau Rp82 triliun sejak Februari 2014. SLS itu sendiri dijadwalkan akan ke ruang angkasa paling lambat November 2018.

Roket raksasa ini sudah menjadi perhatian NASA selama tiga tahun terakhir, agar tercapainya proyek ambisius mereka.

"Setelah diperiksa ketat, kita hari ini akan memikirkan pendanaan dan kesiapan tanggal untuk pengiriman manusia ke Mars tahun 2030-an. Kami berusaha untuk mewujudkan komitmen itu," ungkap Asosiasi Administrator Robert Lightfoot, yang mengawasi proses pemeriksaan tersebut.

Sebelumnya, NASA menguji SLS ke dalam skala lebih kecil untuk mengantisipasi segala kemungkinan terburuk. Hal ini, disebabkan roket raksasa itu berpotensi merusak bangunan di dekatnya. Bahkan, efek terburuk lainnya bakal dirasakan pada pendengaran astronot yang terganggu ketika lepas landas.

"Sebuah model skala lima persen, termasuk motor roket padat. SLS dinyalakan untuk menguji seberapa rendah, atau tinginya gelombang frekuensi yang akan mempengaruhi roket di landasan peluncuran," kata NASA.

Bila itu sudah terlaksana,tidak dipungkiri lagi SLS akan menjadi roket terbesar yang pernah dibuat. Diperkirakan ukurannya melebihi roket yang pernah membawa manusia ke bulan yang menjadikannya pembuka misi ke planet merah itu.

NASA Temukan Bola Batu Aneh di Mars



Kendaraan penjelajah Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di Planet Mars, Curiosity, kembali menemukan penampakan aneh di sekitar permukaan planet Merah itu. 


Terakhir, hasil pemotretan kamera Mastcam Laboratorium Sains Mars (MSL) Curiosity yang diambil pada 11 September lalu menunjukkan adanya bola batu yang aneh, melansir Discovery News, Kamis 25 September 2014. 


Dari pemandangan sekilas, bola batu berdebu itu yang terletak di atas batuan datar tersebut, tampak seperti meriam tua, atau bola golf kotor. Namun, tentunya bukan benda seperti itu. Keanehan yang terlihat, kenapa bola batu itu muncul di atas batuan datar.


Menanggapi penampakan aneh itu, ilmuwan MSL di fasilitas Jet Propulsion Laboratory, Pasadena, Amerika Serikat, menjelaskan bola batu itu sebenarnya tak sebesar yang diperkirakan. Bola hanya lebar sekitar satu centimeter saja. 


Ilmuwan menjelaskan, kemungkinan asal usul kemunculan batu itu terbentuk selama pembentukan batuan sedimen, saat Mars berlimpah cairan air pada jutaan tahun lalu. 


Ilmuwan menambahkan, pembentukan batuan sedimen di Mars mirip dengan pembentukan batuan sedimen yang ada di Bumi, yaitu melalui intekasi perjalanan air cair dan material deposit. 


Disebutkan, dalam pembentukan batuan sedimen yang baru, pori-pori batuan tercipta dan mineral meresap ke pori-pori. Pola ini, secara bertahap membangun massa yang tahan erosi. Nah, saat batuan sedimen lunak mengalami pengikisan, tetapi perwujudan bola batu itu tetap bertahan. Bola batu tetap terbentuk tak terkikis, meski bentuknya yang bulat bisa bergerak dari waktu ke waktu. 


Saat ini, kendaraan penjelajah Curiosity tengah mengeksplorasi dasar Gunung Sharp, lokasi yang menjadi pusat eksplorasi Curiosity sejak mendarat di Mars pada dua tahun terakhir. 


Selama kurun eksplorasi itu, Curiosity memang menemui sejumlah penampakan aneh di permukaan Mars, mulai dari adanya penampakan blueberry, batu berwajah, dan batu seperti tikus, serta penampakan lainnya.


Bahkan, satelit NASA yang mengorbit di sekitar Mars, Mars Reconnaissance Orbiter, belum lama ini menangkap adanya penampakan batu yang berjalan di lereng Mars.

NASA Siapkan Uji Coba Oksigen di Mars



Badan Antariksa Amerika (NASA) mengumumkan akan menyertakan tujuh instrumen dalam kendaraan luar angkasa Mars 2020. Salah satunya adalah teknologi untuk mempelajari cara membuat oksigen di atmosfer Mars.

Uji Pembuatan oksigen yang diberi nama Mars Oxygen (Moxie) ini merupakan yang terpilih dari sekitar 58 proposal instrumen yang diajukan dari berbagai tim peneliti di seluruh dunia.

Melansir Business Standard, Senin 4 Agustus 2014, misi tersebut merupakan yang diajukan peneliti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat.

Dijadwalkan percobaan tersebut akan dimulai musim panas tahun 2020 ketika Mars Rover 2020 akan mendarat di planet merah. Di sana akan langsung dicoba hasil peneliti dari MIT dengan mengkonsumsi listrik yang diharapkan akan menghasilkan oksigen dari karbondiokasida. Dipercaya atmosfir Mars saat ini 96 persen terdiri dari karbon dioksida.

Bila misi tersebut terbukti bekerja maka sistem Moxie ini dalam waktu yang mendatang akan digunakan dengan skala yang lebih besar. Baik untuk kegiatan yang mempertahankan wisatawan manusia yang berkunjung ke Mars atau menyediakan oksigen cair yang dibutuhkan untuk membakar bahan bakar roket guna perjalanan balik ke bumi.

"Eksplorasi manusia di Mars akan menjadi kegiatan generasi selanjutnya. Dengan cara yang sama saat generasi saya melakukan misi pendaratan ke bulan," kata Michael Hecht, seorang peneliti utama dari Moxie dan asisen direktur untuk manajemen penelitian Observatorium di MIT.

Moxie akan dirancang dan dibangun seperti yang direncanakan. Mereka menyebut teknologi ini sebagaisel bahan bakar yang dijalankan secara terbalik. Dalam proses tersebut, bahan bakar akan dipanaskan bersama-sama dengan pengoksidasi yang menghasilkan listrik.

Listrik yang dihasilkan berada dalam mesin terpisah, kemudian digabungkan dengan karbon dioksida dari udara Mars untuk menghasilkan oksigen karbon monoksida. Proses tersebut disebut elektrolisis oksida padat.

"Ini adalah cara yang cukup eksotis untuk menjalankan sel bahan bakar di bumi. Akan tetapi di Mars, jika anda ingin menjalankan mesin, anda tidak memiliki oksigen. Lebih dari 75 persen dari apa yang akan ada bawa untuk menjalankan mesin di Mars akan menjadi oksigen," ujar Hecht.

Keberhasilan menjalan misi nanti dalam membuat oksigen yang membuat penjalajah manusia bisa bernafas akan sangat membantu misi apapun di luar angkasa.

"Ketika ingin mengirim manusia ke Mars, tentu kita ingin mereka kembali. Untuk melakukan itu, mereka membutuhkan roket untuk mengangkatnya. Itulah salah satu bagian terbesar dari tujuan kami, bahwa kita perlu mengirim astronot kembali. Jadi, jika kita bisa menciptakan bagian dengan membuat oksisgen di Mars, kami telah berada jauh di depan," paparnya.

Begini Bentuk Rumah Masa Depan di Planet Mars



Mimpi menghadirkan kehidupan manusia di Mars sudah digelorakan oleh lembaga antariksa dunia yaitu Mars One, sebuah badan antariksa swasta asal Belanda dan Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA). 

Mars One berambisi mewujudkan koloni manusia di Planet Merah sementera NASA bekerja keras mengirimkan misi manusia ke Mars untuk melihat sejauh mana prospek planet itu untuk mendukung kehidupan manusia di masa depan. 

Meski ambisi dan mimpi tersebut masih cukup jauh, tapi itu tak menghentikan upaya mempersiapkan kehidupan di Mars. Termasuk mempersiapkan bagaimana konsep tempat tinggal manusia di Mars.

Nah, belum lama ini, NASA dan Makerbot--perusahaan percetakan 3D Amerika Serikat--mengadakan Tantangan Mars Base, kontes untuk merancang tempat habitat manusia. 

Rancangan 'rumah' di Mars itu bisa dibuat dari material yang ditemukan di Mars maupun material yang dibawa dari Bumi, seperti dikutip dari Cnet edisi Selasa 19 Agustus 2014.

Kontes itu nyatanya menarik peminat. Tercatat ada 228 pengajuan konsep tapi hanya dipilih 3 yang terbaik. 

Konsep desain pertama yang dipilih yaitu konsep ciptaan Noah Hornberger, The Queen B. Konsep 3D ini mirip dengan sarang lebah, dengan terdiri apartemen dua kamar tidur, dua kamar mandi dengan 6 ruangan samping yang terletak pada kisi-kisi segi enam. 

Desain rumah di Planet Mars

Desain The Queen B

Desain The Queen B dirancang untuk melindungi radiasi kosmik manusia yang akan terpapar di bawah atmosfer Mars. Kunci pelindung ini adalah panel uranium. Desain ini juga memberikan kehangatan melalui pipa air yang melalui dinding desain. Hal ini menghasilkan panas dengan reaktor kimia eksotermik bawah tanah.

"Ini jelas merupakan sebuah tantangan yang beragam. Saya telah mencoba berpikir melalui teori desain saya sebanyak mungkin dan membuktikan dengan model cetakan. Saya merancang sesuatu yang akan membuat kehidupan menyenangkan setidaknya dalam beberapa tahun," tulis Hornberger. 

Desain kedua tak kalah menarik, berbentuk piramida yang dinamakan Martian Pyramid karya Valcrow. 

Konsep ini dirancang untuk perumahan dan bangunan ketahanan yang menjalankan sistem tertentu guna menumbuhkan bahan makanan. Kunci desain ini yaitu menggunakan panel surya sebagai sumber energi dan membangun pusat kolam penyimpanan air. 

Desain rumah di Planet Mars

Desain Martian Pyramid

Hampir mirip, konsep ketiga ini terlihat seperti piramida. Desain bernama Mars Acropolis itu dirancang insinyur desain Christ Starr, terbangun pada struktur tiga lapisan. Konsep ini dibangun dari material campuran.

Pada bagian interior, konsep ini terdapat tiga rumah kaca yang dipatok untuk sumber makanan terbarukan dan sumber oksigen. Pada lapisan terbawah dimanfaatkan untuk penyimpanan generator oksigen dan memasok tangki. Untuk bagian puncak desain, terdapat menara air yang berfungsi mengumpulkan uap air dari atmosfer Mars. 

Desain rumah di Planet Mars

Desain Mars Acropolis 

Hasil ini benar-benar disambut secara antusias oleh Makerbot. 

"Kami benar-benar menyukai desain dalam Tantangan Mars Base yang sering terinspirasi oleh struktur di bumi yang tahan dari waktu dan elemen cuaca keras," kata CEO Makerbot Bre Pettis.

NASA Temukan Batu Berjalan di Mars



Baru-baru ini Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menemukan peristiwa aneh yang terjadi di Mars. Dalam salah satu satelitnya, NASA menangkap batu yang diduga berjalan, lengkap dengan jejak yang berada di belakang batu itu.

Satelit Mars Reconnaissance Orbiter yang tengah bertugas mengamati planet Mars, mendapati titik-titik aneh menyerupai jejak yang telah ditinggalkan oleh batu tersebut. Bukti tersebut dari hasil foto yang diambil dengan kamera High Resolution Imaging Science Experiment (HiRISE).

Dikabarkan Daily Mail, Sabtu 16 Agustus 2014, batu berukuran tinggi 20 kaki (6 meter) dan lebar 11,5 kaki (3,5 meter) ini bergerak cukup jauh.

"Jejak batu ini menuruni lereng, sekitar sepertiga dari satu mil (sekitar 500 meter," ujar pihak NASA.

Dikutip Cnet, batu yang diduga bergerak itu terletak di daerah permukaan Mars yang tempatnya memiliki lerang curam. Kendaraan luar angkasa yang masih bertugas di Mars yakni Curiosity pun tak berkeliaran melewati tempat itu.

NASA tidak mengomentari lebih jauh akan peristiwa aneh tersebut. Belum diketahui apakah NASA akan menindaklanjuti penemuan itu atau tidak. Sebab, NASA lebih tertarik dengan laporan pada Oktober lalu di satelit yang sama.

Mars Reconnaissance Orbiter menemukan satu set komet berada dekat dengan Mars dan satelit ini ingin mengabadikan gambar kesempatan langka itu.

Batu luar angkasa yang bernama Komet Siding Spring ini akan melewati planet merah itu dengan hanya jarak berkisar 82 ribu mil (132 ribu kilometer). Jarak tersebut setara dengan sepertiga jarak antara bumi dan bulan.

"Ini adalah sekali dalam seumur hidup. Kami berharap menyaksikan dua atmosfer benda itu bertabrakan," ujar David Brain dari Universitas Laboratory for Atmospheric and Space Physics (LASP), Colorado, Amerika Serikat.


Heboh, Penampakan 'Tulang Paha' di Planet Mars



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) membantah adanya tulang paha yang terkubur di permukaan Planet Mars. Pekan lalu, sebuah foto yang diambil oleh kendaraan penjelajah Mars milik NASA, Curiosity, jadi perhatian pengguna dunia maya. NASA mengaskan foto 'tulang paha' itu hanyalah rangkaian baru Mars yang telah lapuk.


Dugaan foto yang dianggap tulang paha pertama kali muncul dari blog UFO. Sontak saja dugaaan itu kemudian memicu kehebohan di media. 


Mengutip Space.com, Senin 25 Agustus 2014, NASA memberikan keterangan pada foto itu dengan menegaskan foto itu mungkin batuan Mars yang mungkin mirip seperti tulang paha, dan bukan fosil sisa materi misterius di Mars. 


"Tim sains misi Mars berpikir bentuk batu itu mirip tengkorak, ini diakibatkan oleh erosi, angin atau air," ujar salah satu anggota tim misi Mars.


Memang diakui, selama ini muncul penampakan di Mars yang mana saat dikonfimasi nyatanya tidak menguatkan apa yang klaim sebagai penampakan.

Batuan yang diduga tulang paha di permukaan Mars

Foto yang diduga sebagai tulang paha di Mars (NASA)


Sebelumnya di Mars pernah diduga ada penampakan berbentuk wajah, binatang atau bentuk lain. Setelah didalami, ternyata bukan bentuk wajah atau binatang. Misalnya pada 1976, sebuah foto dirilis oleh kendaraan penjalajah Viking 1 milik NASA. Foto itu disebut mirip dengan sebuah wajah di Mars. 


Usai diteliti oleh NASA dan Badan Antariksa Eropa, ternyata tidak menunjukkan gambar atau bentuk wajah, penampakan itu hanyalah batuan yang besar saja. 


Sejauh ini diyakini Mars merupakan planet selain bumi yang di masa depan bakal bisa dihuni. Apalagi, Curiosity telah menemukan bukti Mars pernah menjadi tempat yang dapat dihuni pada masa lalu. Sayangnya, ilmuwan belum menemukan bukti kuat mahluk apa yang meninggalkan jejak di permukaan. 


"Jika kehidupan pernah ada di Mars, para pakar menduga itu berupa bentuk kehidupan sederhana atau disebut mikroba," jelas NASA dalam tulisan pada foto 'tulang paha. 


NASA menegaskan Mars tampaknya tidak pernah memiliki oksigen yang cukup untuk mendukung organisme kompleks.

Kunci Sukses Satelit Misi Planet Mars India



Satelit Mangalyaan sukses mengorbit di Planet Mars dan menempatkan India sejajar dengan AS, Rusia, dan Eropa. 


Dalam misinya tersebut, India hanya menggelontorkan dana yang cukup murah dibandingkan dengan satelit Maven dari NASA yakni hampir 10 kali lipatnya. 


Melansir BBC, Jumat 26 September 2014, India hanya menganggarkan sekitar US$74 juta (Rp982 miliar) untuk satelit Mangalyaan, sedangkan NASA harus mengeluarkan setidaknya US$671 juta (Rp8 triliun). Jelas, menurut standar negara barat hal itu sangat mengejutkan.


Perdana Menteri India, Narendra Modi, bahkan begitu bangga dengan kehematannya dan sempat menyindir bahwa misi Mars itu lebih murah, ketimbang anggaran film petualangan yakni Gravity, sekitar Rp1 triliun. Bahkan, kata Modi, anggaran untuk Mangalyaan hanya setengah dari film Bollywood, Ra.One.


Kunci murahnya biaya misi Mars itu, karena India mengutamakan komponen hingga teknologi dari dalam negeri, ketimbang impor yang mahal harganya.


"Bahkan, dari berat muatannya (Mangalyaan) hanya sekitar 15 kilogram. Bandingkan dengan berat muatan di Maven yang membengkak," ungkap Prof. Andrew Coates, yang akan menjadi peneliti utama pada kendaraan penjelajah Mars milik Eropa pada 2018.


Coates menambahkan, India mampu menunjukkan komponen yang penting saat menjelajahi ruang angkasa, sehingga mengurangi kompleksitas.


Meskipun memiliki muatan yang sangat kecil, para ilmuwan barat tak lantas segera mengacuhkannya. Malah, mereka sangat antusias melihat penyelidikan India.


Satelit Mangalyaan tak dapat dianggap enteng, sebab satelit ini telah dilengkapi teknologi yang dapat mengukur gas metana di atmosfer. Atmosfer bumi banyak mengandung miliaran ton metana yang sebagian besarnya merupakan dampak dari mikroba dan hasil dari kotoran hewan.


Metana ini diyakini para peneliti ada di Planet Merah, sehingga perlu adanya penelitian tersebut apabila manusia akan tinggal di Mars.


Antariksa untuk masa depan


Bidang antariksa merupakan investasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menunjang bagi pertumbuhan ekonomi dan masyarkat.


Banyak negara berkembang yang mempunyai banyak industrinya, berduyun-duyun untuk mengembangkan bidang antariksa, karena mereka mengetahui investasi yang dikeluarkan akan seimbang dengan hasil yang akan didapatkan nantinya.


Seperti yang dilakukan Inggris, yang beberapa tahun terakhir banyak menggeluarkan anggaran untuk kegiatan antariksa. Negari Ratu Elizabeth itu mencantumkan bahwa satelit merupakan salah satu dari delapan teknologi yang dapat membantu menyeimbangkan dan mendorong perekonomian Inggris di masa depan.

Misi India ke Mars Sukses, Tiongkok "Panas"



Kesuksesan India dalam mengorbitkan satelitnya di planet Mars, membuat negara-negara lain iri. Apalagi, dana yang dikeluarkan India terbilang minim. 

Salah satu negara yang "panas" melihat keberhasilan India itu adalah China. Bahkan, agenda misi ke Mars yang sudah diusung negeri tirai bambu tersebut diklaim akan menjadi yang lebih baik dari India.

Menurut kantor berita Tiongkok, Xinhua, dilansir IBTimes, Sabtu 27 September 2014, para ahli dari negeri tersebut sudah menetapkan sejumlah strategi untuk perjalanan menuju ke Mars.

"Rencana itu akan segera terlaksana dengan mengirim rover ke Mars pada tahun 2020," ungkap Ouyang Ziyuan, seorang ilmuwan terkemuka yang bergelut dalam program ke bulan.

Beberapa tahun lalu, Tiongkok telah berhasil meluncurkan rover yang dikenal dengan Yutu. Rover ini sukses mendarat serta menjelajahi permukaan bulan.

Penasihat desain kendaraan ruang angkasa Tiongkok, Ye Peijian, mengatakan bahwa India telah melangkah maju dan membuat Tiongkok tertingal. "Jadi, kita harus melakukan dengan lebih baik dari India," ucapnya.

Ye menambahkan Tiongkok perlu mempunyai sejumlah teknologi yang mumpuni serta mendukung dalam misi mengorbitkan dan mendarat di planet merah itu.

Namun, sebelum mewujudkan misi tersebut, Tiongkok sudah mengagendakan misi penelitian asteroid yang berada di dekat Bumi, Venus, Jupiter, kemudian Mars dengan roketnya.

Long Lehao, Kepala Desainer Roket Tiongkok mengatakan roket tersebut akan segera diluncurkan pada akhir tahun depan dan dipastikan hal tersebut akan meningkatkan kemampuan Tiongkok dalam urusan eksplorasi ruang angkasa.

"Secara umum, kita akan memiliki roket yang lebih kuat dan lebih besar dari India," jelas Long. (ita)

Flag Country

free counters