NASA Hidupkan Penyelidikan Kepler

NASA Hidupkan Penyelidikan Kepler
Pict from voaindonesia


NASA berusaha menghidupkan kembali penyelidikan atas kendaraan antariksa Kepler, yang kini dalam situasi darurat lebih dari 120 juta kilometer dari Bumi.

Badan antariksa AS itu mengatakan kontak terakhirnya dengan pesawat pendeteksi planet yang mulai usang itu adalah sepekan lalu. Para petugas kontrol di darat ketika itu berupaya mengarahkan Kepler ke tengah Galaksi Bima Sakti. Dikatakan pemeriksaan ketika itu tidak menunjukkan tanda-tanda adanya masalah.

Sejak itu, NASA mengatakan Kepler telah menjalani apa yang dikatakannya “kegiatan operasional terendah,” dan mengatakan prioritas utama tim Kepler adalah memanfaatkannya kembali secara optimal.

NASA meluncurkan Kepler pada tahun 2009. Kendaraan antariksa itu telah mendeteksi lebih dari 1,000 planet di luar tata surya.

Misi utama Kepler, yaitu mendeteksi planet, berakhir pada tahun 2012. Meskipun pernah rusak beberapa kali, NASA selalu berhasil menghidupkannya kembali dan terus mengoperasikannya.

Voaindonesia.

Sudah Saatnya Indonesia Lebih Mandiri soal Satelit



Sudah waktunya Indonesia lebih mandiri soal satelit. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada satelit milik dan buatan asing.

Hal itu mengemuka dalam seminar nasional keantariksaan yang diadakan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Rabu (10/12/2014), serta diskusi pencapaian akhir tahun Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Senin (8/12/2014).

Dani Indra Widjanarko dari Asosiasi Satelit Indonesia mengatakan bahwa semua satelit yang dimiliki Indonesia saat ini adalah milik dan buatan asing.

"Sekarang konsumsi kita itu 30 satelit. Dari 30, yang milik Indonesia hanya enam. Di antara enam yang kita punya, itu beli semua. Padahal, kita seharusnya bisa membuat satelit sendiri," kata Dani dalam diskusi Lapan hari ini. 

Pengembangan satelit sendiri, menurut Dani, diperlukan sebab kebutuhan dalam negeri yang memang besar.

"Indonesia beda dengan negara lain. Argentina bikin satelit sendiri, tetapi yang serap hanya satu-dua. Kita ini negara kepulauan, tidak mungkin masing-masing pulau dihubungkan dengan kabel," kata Dani.

Kebutuhan Indonesia akan satelit diprediksi terus meningkat. Untuk satelit komunikasi, kebutuhan meningkat seiring penetrasi mobile, televisi berbayar, serta pembangunan desa.

Sementara itu, kebutuhan satelit remote sensing juga meningkat terkait dengan visi pemerintahan baru. Pengamatan aktivitas di lautan, penginderaan hutan, dan kebencanaan akan membutuhkan bantuan satelit.

Dalam kesempatan terpisah, Ridwan Djamaluddin, Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam BPPT, mengatakan bahwa sudah saatnya Indonesia punya satelit sendiri.

Satelit lokal dibutuhkan ketika Indonesia memiliki kebutuhan spesifik. "Misalnya, kita ingin data peta banjir di kawasan Pantura. Ternyata kita tidak bisa dapatkan dengan satelit asing. Kalau punya sendiri, kita bisa upayakan," katanya.

Suhermanto dari Lapan mengatakan bahwa saat ini pihaknya sudah menyiapkan satelit untuk mendukung keperluan negara.

Satelit yang dikembangkan antara lain Lapan Tubsat yang juga mampu mendukung pengamatan maritim, satelit Lapan A2 yang akan diluncurkan tahun 2015 mendatang, serta satelit Lapan A-3 hasil kerja sama Lapan dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).

Dani mengatakan, pengembangan riset serta industri yang memproduksi satelit diperlukan untuk lebih mandiri dalam soal komunikasi dan penginderaan.

Rp 4,5 Triliun untuk Kembangkan Satelit Inderaja

Rp 4,5 Triliun untuk Kembangkan Satelit Inderaja


Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional menargetkan mampu membuat satelit penginderaan jauh nasional pada 2019. Demi mewujudkannya dibutuhkan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun, selain sumber daya manusia yang belajar di negara lain.

”Jangan dianggap boros karena untuk mewujudkan kemandirian bangsa (dalam pengembangan teknologi antariksa),” kata Kepala Lapan Thomas Djamaluddin di sela-sela diskusi penyusunan rencana induk keantariksaan oleh Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional di Jakarta, Rabu (10/12/2014).

Kepala Pusat Kerja Sama Internasional Kementerian Komunikasi dan Informatika Ikhsan Baidirus mengatakan, Indonesia harus menguasai teknologi pembuatan satelit dengan cara apa pun. Sebab, tak akan ada negara yang sukarela berbagi teknologinya kepada negara lain.

Perkiraan kasar kebutuhan dana pembuatan satelit penginderaan jauh (inderaja) itu, kata Thomas, memang sangat besar. Apalagi jika dibandingkan anggaran Lapan sebagai lembaga riset dan rekayasa teknologi dirgantara dan antariksa Indonesia yang Rp 650 miliar setahun.

Jika dibandingkan harga pembelian BRI Sat, satelit milik Bank Rakyat Indonesia, sebesar Rp 2,5 triliun, anggaran itu realistis. Terlebih lagi pembuatan satelit inderaja nasional akan menjadi batu loncatan untuk membuat satelit telekomunikasi sendiri.
Dua satelit

Dana sebesar itu untuk membangun dua satelit yang masing- masing perlu Rp 1,5 triliun. Sisanya untuk pengembangan fasilitas pendukung, seperti sarana uji dan ruang steril.

Satelit tersebut akan diluncurkan menggunakan roket peluncur negara lain, seperti India, Tiongkok, atau Jepang. Lapan memang sedang mengembangkan roket peluncur satelit sendiri, tetapi masih tahap awal serta terkendala laboratorium dan kepakaran.

Menurut Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir, anggaran riset yang disediakan pemerintah disusun berdasarkan capaian hasil riset, bukan aktivitas riset yang dilakukan. Dana yang dikeluarkan juga akan ditinjau berdasarkan manfaat untuk masyarakat.

Menurut rencana, satelit inderaja digunakan untuk mendukung penyediaan peta dasar tata ruang Indonesia. Selama ini, peta inderaja Indonesia dengan berbagai tingkat resolusi diperoleh menggunakan satelit asing milik Amerika Serikat, Jepang, dan Perancis.

”Program kemaritiman pemerintah pun butuh data satelit inderaja,” kata Thomas.

Selain keperluan tata ruang, pemantauan kapal-kapal, termasuk kapal penangkap ikan di perairan Indonesia, juga bisa menggunakan satelit yang dilengkapi sistem identifikasi otomatis (automatic identification system/ AIS). Sistem itu akan menangkap sinyal yang dipancarkan kapal-kapal dengan bobot lebih dari 300 gros ton.

Kepala Pusat Teknologi Satelit Lapan Suhermanto mengatakan, perangkat AIS sebenarnya sudah ada di pelabuhan. Namun, akibat persoalan lengkung bumi, AIS hanya mampu menangkap sinyal kapal dalam jarak 50 kilometer. ”Jika AIS ditempatkan di satelit bisa menerima sinyal kapal dalam radius 200 km,” katanya.

Satelit Lapan A2 yang menurut rencana diluncurkan Juni-Agustus 2015 akan dilengkapi sistem AIS.


Astronot Rusia Jalan di Angkasa, Lepas Satelit Riset



Astronot Rusia keluar dari ISS dan berjalan di angkasa untuk melepas satelit riset Peruvia. Satelit riset ini memiliki misi untuk mengobservasi bumi.

Oleg Artemiev, yang telah lama berada di ISS, melemparkan kotak berukuran 4 inci itu dari tangannya. Ia berada di luar ISS yang saat ini berlokasi 260 mil di atas angkasa. Satelit itu pun dengan lembut melayang dan menempati orbitnya dengan tepat.

Kamera merekam satelit nano bernama Chasqui yang melayang menjauh dari ISS. Mitra astronot Artemiev, Alexander Skvortsov, mencoba mempertahakan posisinya agar kamera di helm astronotnya bisa merekam detik-detik peluncuran satelit itu dengan baik.

Menurut ABCNews, Selasa 19 Agustus 2014, satelit itu memiliki berat sekitar 2 pon. Di dalamnya terdapat perangkat untuk mengukur suhu dan tekanan. Terdapat kamera juga di dalamnya untuk bisa mengambil gambar-gambar bumi dari angkasa.

Butuh waktu sekitar setengah jam bagi satelit nano itu untuk bisa mencapai lokasi yang ditentukan. Setelah selesai menerbangkan satelit Peruvia itu, Artemiev dan Skvortsov melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa sisi-sisi luar ISS, mereka juga mengumpulkan contoh benda-benda yang menempel di jendela kompartemen milik RUsia. Benda ini akan dijadikan sampel untuk memeriksa senyawa dan benda apa saja yang telah 'berkunjung' ke ISS.

Kedua astronot itu menyelesaikan pekerjaan mereka selama 5 jam. Pengendali ISS di bumi pun tidak lupa mengucapkan terima kasih atas upaya mereka.

Sebelumnya, kedua astronot ini juga pernah melakukan perjalanan ke luar ISS. Tepatnya pada bulan Juni, beberapa bulan setelah mereka sampai di ISS. Empat orang lainnya sudah lebih dulu ada di sana. Dua orang dari Amerika dan satu orang Jerman, sedangkan satunya lagi juga seorang kosmonot.

Kunci Sukses Satelit Misi Planet Mars India



Satelit Mangalyaan sukses mengorbit di Planet Mars dan menempatkan India sejajar dengan AS, Rusia, dan Eropa. 


Dalam misinya tersebut, India hanya menggelontorkan dana yang cukup murah dibandingkan dengan satelit Maven dari NASA yakni hampir 10 kali lipatnya. 


Melansir BBC, Jumat 26 September 2014, India hanya menganggarkan sekitar US$74 juta (Rp982 miliar) untuk satelit Mangalyaan, sedangkan NASA harus mengeluarkan setidaknya US$671 juta (Rp8 triliun). Jelas, menurut standar negara barat hal itu sangat mengejutkan.


Perdana Menteri India, Narendra Modi, bahkan begitu bangga dengan kehematannya dan sempat menyindir bahwa misi Mars itu lebih murah, ketimbang anggaran film petualangan yakni Gravity, sekitar Rp1 triliun. Bahkan, kata Modi, anggaran untuk Mangalyaan hanya setengah dari film Bollywood, Ra.One.


Kunci murahnya biaya misi Mars itu, karena India mengutamakan komponen hingga teknologi dari dalam negeri, ketimbang impor yang mahal harganya.


"Bahkan, dari berat muatannya (Mangalyaan) hanya sekitar 15 kilogram. Bandingkan dengan berat muatan di Maven yang membengkak," ungkap Prof. Andrew Coates, yang akan menjadi peneliti utama pada kendaraan penjelajah Mars milik Eropa pada 2018.


Coates menambahkan, India mampu menunjukkan komponen yang penting saat menjelajahi ruang angkasa, sehingga mengurangi kompleksitas.


Meskipun memiliki muatan yang sangat kecil, para ilmuwan barat tak lantas segera mengacuhkannya. Malah, mereka sangat antusias melihat penyelidikan India.


Satelit Mangalyaan tak dapat dianggap enteng, sebab satelit ini telah dilengkapi teknologi yang dapat mengukur gas metana di atmosfer. Atmosfer bumi banyak mengandung miliaran ton metana yang sebagian besarnya merupakan dampak dari mikroba dan hasil dari kotoran hewan.


Metana ini diyakini para peneliti ada di Planet Merah, sehingga perlu adanya penelitian tersebut apabila manusia akan tinggal di Mars.


Antariksa untuk masa depan


Bidang antariksa merupakan investasi dalam ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat menunjang bagi pertumbuhan ekonomi dan masyarkat.


Banyak negara berkembang yang mempunyai banyak industrinya, berduyun-duyun untuk mengembangkan bidang antariksa, karena mereka mengetahui investasi yang dikeluarkan akan seimbang dengan hasil yang akan didapatkan nantinya.


Seperti yang dilakukan Inggris, yang beberapa tahun terakhir banyak menggeluarkan anggaran untuk kegiatan antariksa. Negari Ratu Elizabeth itu mencantumkan bahwa satelit merupakan salah satu dari delapan teknologi yang dapat membantu menyeimbangkan dan mendorong perekonomian Inggris di masa depan.

India Luncurkan Roket Berbiaya Murah



BANGALORE - Warga India boleh berbangga hati. Kemarin (30/6) roket yang dibuat negeri tersebut berhasil meluncurkan lima satelit asing.

Yakni, dua milik Kanada serta masing-masing satu milik Prancis, Singapura, dan Jerman. Peluncuran dilakukan di pusat peluncuran Sriharikota di wilayah selatan Negara Bagian Andhra Pradesh.

"Saya telah mendengar tentang film Gravity. Menurut saya, biaya peluncuran roket India ke luar angkasa kurang dari uang yang diinvestasikan pembuatan film Hollywood," ujar Perdana Menteri India Narendra Modi saat melihat peluncuran kemarin. Meski begitu, Modi tidak mengungkapkan nominal pastinya.

India menjadi salah satu pemain utama dalam pasar luar angkasa yang berbiaya miliaran dolar. Mereka telah menandatangani beberapa misi peluncuran ke luar angkasa. India juga mengumumkan rencananya untuk meluncurkan satelit tanpa awak ke Mars.

Polar Satellite Launch Vehicle (PSLV) yang dipakai dalam peluncuran sebelumnya telah berhasil meluncurkan 67 satelit. Sebanyak 40 di antaranya adalah milik negara asing.

Wahana Berbiaya Murah Milik India Mencapai Mars



India berhasil menjadi negara Asia pertama yang menempatkan satelit di orbit Mars. 

Mangalyaan, salah satu wahana antariksa berbiaya paling murah, berhasil masuk ke orbit Mars pada Rabu (24/9/2014). Wahana itu akan segera bekerja mempelajari atmosfer planet merah.

Perdana Menteri India, Narendra Modi, mengatakan bahwa pencapaian negaranya kali ini sebenarnya "hampir tidak mungkin."

Sejauh ini, hanya Amerika Serikat, Rusia, dan Eropa yang mampu menempatkan wahana antariksa di Mars. 

Pencapaian India luar biasa. India mengalahkan Amerika dan Uni Soviet karena mampu mengorbitkan wahana antariksa di Mars pada upaya pertama.

Sebelumnya, pada Senin (22/9/2014), wahana antariksa MAVEN milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) juga memasuki orbit Mars. 

NASA mengucapkan selamat pada India atas keberhasilannya. "Kami mengucapkan selamat pada @ISRO atas kedatangannya di Mars. @MarsOrbiter bergabung dalam misi untuk mempelajari Mars," demikian tweet NASA hari ini.

Menit-menit sebelum Mangalyaan mengorbit Mars, tampak kegembiraan sekaligus ketegangan di pusat pengendalian misi Mangalyaan di Bangalore.

Para ilmuwan, banyak diantara mereka yang perempuan dan muda, duduk di depan komputer untuk memantau perkembangan wahana itu.

Sebuah layar besar berada di depan ruangan, terus menampilkan data, grafik dan perkembangan operasi.

Teriakan pertama keluar ketika mesin cair Mangalyaan bekerja, tanda bahwa wahana itu telah masuk dalam wilayah yang dipengaruhi gravitasi Mars. 

Kemudian, ada 20 menit yang menyiksa, saat Mangalyaan menghilang di belakang Mars dan di luar jangkauan.

Namun, saat Mangalyaan akhirnya terkonfirmasi memasuki orbit Mars, semua ilmuwan bertepuk tangan, saling "tos", dan berpelukan satu sama lain.

Direktur Operasional Misi Mangalyaan, BN Ramkrishna, menggambarkan, "Keberhasilan ini seperti memukul bola golf dari Bangalore ke London dan benar-benar masuk. 

"Ini benar-benar sangat tepat," ungkapnya seperti dikutip BBC, hari ini.

Modi mengatakan, "Hari ini, semua orang India harus memberi ucapan selamat kepada ilmuwan kita. Sekolah dan perguruan tinggi harus bertepuk tangan."

Mangalyaan adalah wahana berbiaya hanya 74 juta dollar AS, membuatnya menjadi salah satu wahana antariksa termurah. MAVEN berbiaya 671 juta dollar AS.

Mangalyaan diluncurkan dari Sriharikota, wilayah pantai di Bengal pada 5 November 2013. Target wahana ini adalah mempelajari keberadaan metana di atmosfer Mars yang menjadi salah satu petunjuk adanya kehidupan di Mars.

Google Akuisisi Perusahaan Citra Satelit

Google.



JAKARTA -- Google pada Selasa mengumumkan rencana untuk membeli kelompok satelit Skybox Imaging seharga 500 juta dolar AS, dalam sebuah langkah untuk meningkatkan pemetaan dan layanan lainnya yang menggunakan data geospasial.

"Kami telah setuju untuk mengakuisisi Skybox Imaging, dan kami berharap untuk menyambut mereka untuk Google," kata sebuah pernyataan dari raksasa internet.

"Satelit mereka akan membantu menjaga peta kami akurat dengan citra terbaru. Seiring waktu, kami juga berharap bahwa tim dan teknologi Skybox akan dapat membantu meningkatkan akses internet dan bantuan bencana -- bidang-bidang yang Google telah lama tertarik."

Skybox mengatakan dalam sebuah "posting blog" bahwa tujuan dari perusahaan berusia lima tahun itu adalah "untuk merevolusi akses ke informasi tentang perubahan yang terjadi di seluruh permukaan bumi."

"Kami telah membangun dan meluncurkan satelit pencitraan resolusi tinggi terkecil di dunia, yang mengumpulkan gambar indah dan berguna serta video setiap hari . Waktu yang tepat untuk bergabung dengan sebuah perusahaan yang dapat menantang kami untuk berpikir lebih besar dan lebih berani, dan yang dapat mendukung kami dalam mempercepat visi ambisius kami."

Berita itu muncul dua bulan setelah Google mengumumkan kesepakatan untuk membeli Titan Aerospace, pembuat pesawat terbang tanpa awak (drone) bertenaga surya yang dapat digunakan untuk meningkatkan akses internet ke daerah-daerah terpencil.

Google juga sedang bekerja sama pada Project Loon, yang menggunakan balon besar untuk transmisi sinyal internet ke daerah yang sekarang tidak terhubung. Demikian laporan AFP.

Buat ratusan satelit, apa yang diinginkan Google?



Inovasi dari Google seakan tak ada habisnya. Setelah membuat mobil otomatis untuk menguasai 'daratan', kini mereka juga berkeinginan untuk menguasai angkasa.
Menurut Wall Street Journal (1/6), perusahaan ini rela menghabiskan lebih dari USD 1 miliar atau sekitar Rp 11 triliun lebih untuk membuat ratusan satelit yang kelak digunakan untuk menyambungkan akses internet ke seluruh dunia secara wireless, bahkan untuk tempat-tempat yang sangat terpencil sekalipun.
Nantinya akan ada 180 satelit ukuran kecil yang siap mengudara di orbit bawah bumi untuk menyebarkan akses internet. Meskipun memiliki ukuran yang kecil, satelit-satelit ini diklaim mempunyai kapasitas data yang besar.
Proyek satelit ini diyakini sebagai kelanjutan dari proyek Loon yang menggunakan balon udara sebagai media penyebaran akses internet ke area-area terpencil yang sebelumnya juga digarap oleh Google.
Google sendiri juga yakin jika mereka bisa segera 'balik' modal dari proyek bernilai belasan triliunan ini. Mereka beranggapan jika dengan naiknya jumlah orang yang mengakses internet juga berpengaruh dengan meningkatnya jumlah iklan yang mungkin dilirik oleh konsumen, Engadget (1/6).
Sebelumnya, Google juga bereksperimen dengan membuat pesawat tanpa awak atau droneuntuk menggantikan proyek Loon. Bersama dengan perusahaan yang baru diakuisisinya, Titan Aerospace, Google membangun drone bertenaga surya untuk menyediakan layanan internet ke seluruh dunia.

Satelit Komunikasi Milik Rusia Jatuh



SEBUAH roket milik Rusia, Proton-M, yang membawa satelit komunikasi Express AM4R jatuh di wilayah Kazakhstan, Jumat waktu setempat (16/5).

Menurut Kepala Badan Antariksa Nasional Rusia (Roscosmos), Oleg Ostapenko, insiden ini terjadi sekitar sembilan menit setelah roket tersebut meluncur.

Sebagaimana dilansir Itar Tass (Sabtu, 17/5), Ostapenko menduga jatuhnya roket mungkin disebabkan akibat kegagalan salah satu mesin kemudi. Ia juga mengatakan roket dan semua puing-puing hangus terbakar di atmosfer.
Jatuhnya roket Proton ini sempat menghebohkan warga Tiongkok, negara yang berbatasan langsung dengan Kazakhstan. Beberapa saksi mata di Provinsi Heilongjiang melihat ‘bola api’ di langit sebelum benda itu jatuh.
Ini merupakan insiden kedua kalinya yang dialami Proton dalam waktu satu tahun. Pada bulan Juli 2013, sebuah roket Proton juga meledak setelah meluncur di atas wilayah Kazakhstan.

Badai Pasir Cina Tertangkap Satelit NASA




Wilayah Cina Utara terkenal karena badai pasir yang kadang-kadang bisa membuat wilayah Beijing tertutup kabut berwarna kuning. Kuatnya badai bahkan sampai tertangkap satelit Badan Luar Angkasa Amerika Serikat (NASA).

Dilaporkan laman Live Science, Jumat, 25 April 2014, Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di satelit NASA's Aqua and Terra berhasil menangkap gambar badai pasir Cina pada 23 April.

Dari pencitraan gambar tersebut terlihat badai pasir telah memengaruhi Kota Dunhuang di utara Cina. Tampak kepulan debu berwarna kuning-oranye memenuhi langit hingga memaksa warga mengenakan masker selama melakukan aktivitas mereka, terutama ketika berada di luar rumah.

Satelit NASA melihat sebuah pergerakan besar dari timur. Di beberapa daerah, visibilitas turun menjadi kurang dari 50 meter saja. 

Badai debu dan pasir sangat umum di utara Cina dan Mongolia. Menurut Jaringan Monitoring Kualitas Udara Taiwan, sekitar 60 persen dari badai debu tahun ini terjadi antara bulan Maret dan Mei. 

BIN Dukung Satelit Pertahanan Produksi Domestik





Kepala Badan Intelijen Negara, Letnan Jenderal Marciano Norman, mendukung wacana kepemilikan satelit khusus untuk komunikasi penting dan pertahanan Indonesia. Menurut dia, sudah seharusnya Indonesia punya satelit khusus untuk bidang pertahanan.

"Jadi satelit khusus untuk Kementerian Pertahanan, TNI, Polri, termasuk intelijen juga harus punya sendiri," kata Marciano saat ditemui wartawan di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis, 28 November 2013.

Saat ini satelit komunikasi pertahanan Indonesia masih menumpang pada satelit komunikasi biasa. Hal ini diakui Marciano sangat rentan terjadi penyadapan dari pihak tak bertanggung jawab.

Terlebih, Marciano berharap satelit khusus ini diproduksi sendiri oleh Indonesia, termasuk segala macam komponen di dalamnya. Menurut dia, satelit produksi dalam negeri sangat aman dari kemungkinan penyadapan yang dilakukan negara lain. "Mudah-mudahan segera terealisasi," kata dia.

Hari ini Marciano menghadiri rapat dengan Komisi Pertahanan DPR. Selain Marciano, perwakilan pemerintah yang lain adalah Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, Kepala Polri Jenderal Sutarman, dan Kepala Lembaga Sandi Negara Mayor Jenderal Djoko Setiadi.

Dalam rapat tersebut, Komisi Pertahanan mendukung langkah yang diambil pemerintah dalam menyikapi penyadapan Australia. Komisi Pertahanan juga mendesak pemerintah segera meningkatkan persandian dan membuat satelit komunikasi sendiri.


2019, Indonesia Punya Satelit Canggih Pantau Iklim




Perubahan iklim menjadi isu yang terus menarik perhatian dunia, termasuk Indonesia. Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Bambang S. Tejasukmana mengatakan, antisipasi perubahan iklim bisa dilakukan menggunakan teknologi antariksa berupa satelit.


Indonesia, kata dia, baru memiliki satu satelit dengan kemampuan yang masih sangat terbatas. Karena itulah, ia menyatakan, Indonesia akan mulai mengembangkan satelit baru dengan kemampuan canggih yang bisa beroperasi pada 2019 mendatang.



"Manfaatnya untuk pemantauan perubahan iklim, kondisi cuaca maupun lingkungan," kata Bambang dalam konferensi internasional tentang aplikasi teknologi antariksa untuk perubahan iklim, di Hotel Borobudur, Senin, 2 September 2013. Satelit baru juga diharapkan mendukung program ketahanan pangan, energi, dan lingkungan.



Satelit ini nantinya akan memiliki bobot satu ton dan diperkirakan menghabiskan dana hingga Rp 2 triliun. Pengembangan satelit ini merupakan proyek nasional sehingga turut melibatkan lembaga dan kementerian lain.



Meski rencana pengembangannya baru tahap pembahasan konsep, namun diyakini satelit ini memiliki kemampuan yang lebih mumpuni dari satelit yang sudah ada. "Baru menentukan misi-misinya untuk apa. Fungsinya disesuaikan dengan kebutuhan pengguna, saat ini kami mulai menampung semua keinginan dari pengguna," ujarnya.



Menurut Bambang, proyek pembuatan satelit baru akan diproduksi oleh lembaga BUMN seperti PT LEN atau PT Dirgantara Indonesia. "Jadi untuk satellit yang besar ini bukan LAPAN lagi yang membuat, kami hanya mentransfer ilmunya," kata dia. (Baca: Perubahan Iklim, Ini Cara Terbaik Memantaunya)



Pengembangan satelit ini juga dimaksudkan untuk menguatkan peran serta Indonesia dalam keanggotaan Global Earth Observation System of Systems. Saat ini hanya ada beberapa negara yang memiliki satelit canggih pemantau perubahan iklim, antara lain Amerika Serikat, Jepang, Cina, India, Brasil, dan Korea Selatan. 



Indonesia terus melakukan berbagai upaya untuk mengantisipasi perubahan iklim, termasuk pengembangan satelit penginderaan jarak jauh. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bertekad mengurangi emisi karbon hingga 26 persen pada 2020. Enam persen di antaranya berasal dari sektor energi, enam persen dari pengelolaan limbah, dan 14 persen dari pengelolaan lahan hutan. Selain itu, Indonesia juga berupaya menurunkan jumlah hotspot (titik api) kebakaran hutan atau lahan sekitar 20 persen per tahun.



Deputi Penginderaan Jauh LAPAN Taufik Maulana menambahkan, Indonesia tengah mengembangkan satelit LAPAN A-2 dan LAPAN A-3. Untuk satelit LAPAN A-2 sudah selesai dibuat dan akan segera diluncurkan tahun depan. Peluncurannya akan bekerja sama dengan India karena roket yang dimiliki Indonesia belum sanggup meluncur jarak jauh.



"Ini kan jaraknya 600 kilometer. Diluncurkan sekitar Januari-Juni tahun depan," kata Taufik. Satelit LAPAN A-2 berbobot 75-100 kilogram.



Sementara itu, satelit LAPAN A-3 sedang dirancang oleh LAPAN bersama IPB. Sama seperti pendahulunya, satelit LAPAN A-3 juga akan diluncurkan dengan menumpang roket peluncuran satelit lain milik negara lain yang lebih besar.


Sumber

MOIRE, Rajanya Satelit Mata-mata





Pentagon sedang merancang satelit dengan teleskop yang terbuat dari membran ultra-tipis, super-ringan, serta dapat dilipat. Teleskop canggih ini dapat membantu dalam berbagai bidang, mulai dari prakiraan cuaca, manajemen bencana, hingga untuk memata-matai musuh.

Satelit itu, The Membrane Optical Imager for Real-Time Exploitation (MOIRE), adalah gagasan dari Defense Advanced Research Projects Agency, badan Pentagon yang bertugas mengembangkan senjata dan teknologi generasi berikutnya untuk militer Amerika Serikat.

Teleskop pada MOIRE mampu mekar menjadi mata raksasa di antariksa dan menyampaikan gambar secara real time dari jarak sekitar 35.400 kilometer di atas permukaan bumi. Satelit itu akan membuat teleskop ruang angkasa yang pernah diluncurkan tampak kerdil.

Satelit canggih ini merupakan bukti bahwa membuat teleskop besar menggunakan membran polimer bukan hal mustahil. Dari Geosynchronous Earth Orbit (GEO), sebuah satelit dengan sistem teleskop terbaru dapat memindai sekitar 40 persen dari permukaan bumi sekaligus. Satelit bisa fokus pada area 9,9 x 9,9 kilometer dengan resolusi sekitar satu meter.

Peluncuran Satelit LAPAN-A2 Diprediksi Molor




Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) masih harus sabar menunggu peluncuran satelit Indonesia Lapan-A2 dari India. Peluncuran satelit yang dijadwalkan sekitar April-Mei tahun ini diperkirakan molor.

"Jadwalnya sih April-Mei, tapi India yang susah dan kami belum dapat tanggal pasti. Jadi kami masih menunggu tanggal pasti dari India," kata Kepala Lapan Bambang S. Tejasukmana usai penyerahan data penginderaan jauh kepada kementerian di kantor Lapan, Rabu 15 Januari 2014.

Ia menjelaskan, molornya jadwal peluncuran satelit Lapan-A2 ini karena India belum berhasil menyelesaikan pembangunan satelit Astrosat. Satelit Lapan-A2 memang dijadwalkan meluncur dengan menumpang roket PSLV-C23 yang mengangkut muatan utama satelit Astrosat milik India. 

Satelit Lapan-A2 juga akan diluncurkan ke orbit utama dekat ekuatorial. "Ini yang bikin kami tidak bisa mundur dan beralih ke Cina, karena hanya India yang bisa meluncurkan di dekat ekuator," ujar Bambang. 

Penantian besar Lapan untuk menumpang roket milik India didasarkan pada keinginan untuk meluncurkan satelit di orbit ekuator yang memiliki frekuensi perlintasan sebanyak 14 kali. Selain itu, dana yang sudah dikeluarkan untuk meluncurkan satelit lewat roket milik India juga tergolong cukup besar.


"Kita sudah kontrak dengan India untuk dua kali peluncuran satelit dan sudah dibayar lunas. Biaya untuk dua satelit kira-kira US$ 300 ribu," kata dia. 
Kemampuan satelit Lapan-A2 sebenarnya tidak berbeda jauh dengan satelit pendahulunya. Tapi, satelit ini memiliki sensor lebih canggih yang dirancang khusus untuk mengemban tiga misi, yakni pengamatan bumi, pemantauan kapal, dan komunikasi radio amatir. Satelit berbentuk balok dengan dimensi 50x47x38 sentimeter yang dilengkapi sejumlah antena dan dua lensa serta akan mengorbit pada ketinggian 650 kilometer.

Satelit yang murni dirancang dan dibangun peneliti Lapan ini juga dilengkapi sensor Automatic Identification System (AIS) untuk mengenali kapal layar yang melintas di wilayah yang dilewati.

Bambang mengatakan, satelit Lapan-A2 dipastikan akan diluncurkan tahun ini dari Sriharikota, India. "Setelah Lapan-A2 meluncur, kami segera siapkan satelit Lapan-A3. Target kami mulai 2015 Indonesia sudah bisa punya satelit seperti SPOT. Jadi bertahap kemampuannya," kata dia merujuk pada satelit canggih beresolusi tinggi milik Prancis itu.

Nelayan Temukan Puing Satelit Prancis di Amazon



Seorang nelayan di wilayah Sungai Amazon, Brasil, menemukan potongan besar puing-puing dari peluncuran antariksa Eropa. Pria itu mengatakan, ia menemukan benda logam mengambang di sungai terpencil di kotamadya Salinopolis.

“Benda ini tersangkut di pancing saya. Saya langsung memeriksanya. Ini pertama kalinya saya melihat sesuatu seperti ini,” kata Manuel Alves dos Santos kepada surat kabar lokal O Liberal, seperti dikutip dari laman BBC, Selasa, 29 April 2014. 

Puing seukuran mobil tersebut menyandang logo Badan Antariksa Inggris dan Arianespace, sebuah perusahaan satelit Eropa. Juru bicara Badan Antariksa Inggris, Julia Short, menegaskan bahwa puing-puing itu berasal dari peluncuran satelit telekomunikasi terbesar Eropa.

Satelit Alphasat merupakan satelit telekomunikasi paling canggih di Eropa yang diluncurkan di pangkalan Kourou, Guyana, negara tetangga Prancis pada 25 Juli lalu. “(Puing) mungkin mendarat di Atlantik dan terbawa arus,” kata Julia.


Dahlan: Dulu jual, sekarang beli satelit



Merdeka.com - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku bangga atas prestasi yang berhasil ditorehkan oleh BRI. Bank dengan laba terbesar di Indonesia ini mampu membeli satelit dari Amerika dan akan diluncurkan dari Perancis tahun 2016 nanti.
Dia menyebut proses pembelian satelit tersebut sebagai perjuangan lantaran cukup rumit. Pemerintah pun perlu turun tangan untuk mendapatkan ruang orbit di luar angkasa dengan memakan waktu hingga 2 tahun.
Satelit baru ini akan menggunakan ruang orbit Indosat yang telah habis masa berlakunya. Orbit tersebut milik pihak asing karena Indosat dijual keluar negeri beberapa tahun lalu.
"Pepatahnya dari Tual ke Bali, dulu jual sekarang beli. Satelit Indosat itu akan habis. Perjuangan kita itu dua tahun. Tapi memang tidak pernah kita buka karena agak sensitif. Sekarang sudah jadi, kita buka," ujar Dahlan di markas band Slank, Gang Potlot, Jakarta, Kamis (1/5).
Dahlan bercerita Indosat telah dimiliki asing karena dijual pemerintah pada 15 tahun silam. Komoditas yang dijual juga termasuk jalur orbit yang digunakan satelit Indosat.
Sehingga, terang Dahlan, pembelian satelit ini juga bermaksud untuk mengembalikan kepemilikan orbit satelit dari asing ke pangkuan Ibu Pertiwi.
"Indosat dulu dijual, sekarang BUMN bank besar akan meluncurkan satelit sendiri. Kita sudah punya kavling milik Indonesia sendiri yang dulu kita jual sekarang dibeli," tegasnya.
Rencananya, setelah selesai dirakit, satelit tersebut akan dibawa diangkut dari Amerika menuju sebuah pulau di kawasan Perancis. Dari pulau tersebut nantinya satelit akan diluncurkan ke ruang orbitnya.
"Dalam waktu 29 menit, satelit itu akan mencapai ketinggian 35.000 Km. Satelit ini kita pakai untuk kemajuan Indonesia," tutupnya.

Korea Selatan Berhasil Luncurkan Satelit Sendiri




Korea Selatan untuk pertama kali berhasil meluncurkan satelit ke antariksa dari negaranya sendiri, bergabung dalam kelompok eksklusif yang dalam sejarah hanya diikuti 12 negara.


 — Korea Selatan sebelumnya gagal melakukan peluncuran yang sempurna, memungkinkan Korea Utara yang miskin mengalahkan saingannya dalam peluncuran ke antariksa.

Dalam peluncuran oleh Korea Selatan tahun 2009 dan 2010, penghalang pelindung di sekitar payload gagal berpisah secara sempurna dari roket.

Kali ini semua tampak berjalan sesuai rencana setelah KSLV-1, dengan tahapan pertama Rusia, lepas landas dari Naro Space Center, 480 kilometer selatan Seoul.

Muatannya hanyalah simbolis: satelit berbobot 100 kilogram dengan perkiraan rentang masa operasi satu tahun berisi osilator percobaan yang memancarkan detak pendek laser ultra.
 
Menteri Sains Korea Selatan Lee Ju-ho, mengatakan satelit itu kini berada di orbit.
 
Lee menyatakan misi itu sukses. Ia mengatakan kegagalan dua peluncuran sebelumnya tidak membuat putus asa, justru malah meningkatkan motivasi yang menyebabkan keberhasilan peluncuran ketiga.

Pejabat-pejabat berharap bisa mengukuhkan hari Kamis waktu Asia apakah satelit itu berfungsi sepenuhnya.
 
Peluncuran itu dipuji sebagai tolok ukur kebanggaan nasional bagi ekonomi terbesar keempat Asia itu, yang sudah punya reputasi kuat sebagai pembuat piranti elektronik berkualitas nomor satu, manufaktur mobil dan pembuatan kapal. Tetapi, tidak seperti saingan ekonomi dan tetangganya, Jepang dan Tiongkok, Korea Selatan tidak pernah mampu meluncurkan objek ke antariksa dari dalam negerinya sendiri.
 
Peluncuran itu terjadi kurang dari dua bulan setelah saingannya, Korea Utara, menempatkan satelit ke orbit.

Menurut peneliti senior Kang Kyung-in pada Pusat Penelitian Teknologi Satelit Korea Selatan, KAIST, Korea Utara terus berinvestasi dalam roket sejak tahun 1998.

Kang mengatakan, walau teknologi roket kedua negara serupa, program Korea Selatan murni untuk tujuan ilmiah.

Peluncuran Unha-3 oleh Korea Utara dikutuk masyarakat internasional sebagai pelanggaran sanksi PBB dan sebagai ujicoba rudal balistik terselubung. Hal itu mendorong Dewan Keamanan PBB menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Korea Utara.

Korea Utara mengklaim meluncurkan satelit pengamat bumi. Menurut ilmuwan di luar negara tertutup itu, belum ada indikasi satelit itu mentransmisikan sinyal apapun.

Obyek dalam Citra Satelit China, Benarkah Puing MH370?




KOMPAS.com — Lembaga Sains, Teknologi, dan Industri untuk Pertahanan Nasional China merilis citra satelit dari obyek yang diduga puing Malaysia Airlines MH370.

Citra menunjukkan, puing itu berada di perairan antara Malaysia dan Thailand, pada koordinat 105,63 Bujur Timur dan 6,7 Lintang Utara.

Sejumlah tiga puing besar ditemukan. Puing bertama berukuran antara 13-18 meter, puing kedua berukuran 14-19 meter, sementara puing ketiga 22-24 meter.

Total panjang tiga puing itu mendekati panjang Boeing 777-200ER, jenis pesawat MH370 yang hilang, yang mencapai 64 meter. Namun, benarkah puing itu milik MH370?

Michael Goldfarb dari Federal Aviation Administration mengatakan, "Saya kira ukuran dari puing itu, dan semua yang kita dengar, memberi alasan untuk (fokus kembali) ke area itu."

"Dan ini melegakan semua orang. Saya pikir peluangnya besar, mereka akan mengonfirmasi bahwa ini adalah bagian dari puing pesawat."

Meski Goldfarb yakin, beberapa pakar lain seperti dikutip CNN, Kamis (13/3/2014), meragukan anggapan bahwa citra itu adalah puing pesawat.

Clive Irvine, editor senior Conde Nast Traveler, mengatakan, dengan ukuran sebesar itu, citra puing "tidak sesuai sama sekali dengan pesawat".

Tom Haueter, mantan direktur National Transportation Safety Board (NTSB), mengungkapkan bahwa dia akan terkejut bila puing itu adalah MH370. Dengan ukuran besar, obyek akan tenggelam di laut.

Richard Quest, pakar penerbangan, mengungkapkan bahwa mungkin puing itu bukan MH370. Namun, tetap patut diselidiki. "Cuma ini petunjuk yang kita punya selama ini," katanya.

"Jika ini bukan puing MH370, maka kita harus kembali menyelidiki wilayah yang luas lagi," ungkapnya.

MH370 hilang sejak Sabtu (8/3/2014) dini hari. Pesawat membawa 239 penumpang plus awak, menempuh rute Kuala Lumpur - Beijing.

Dugaan awal, pesawat berada di laut antara Vietnam dan Malaysia. Namun, perkembangan dari analisis radar mengungkap bahwa pesawat terakhir terdeteksi di Selat Malaka.

Pencarian puing pesawat di laut lepas tidaklah mudah, bisa memakan waktu berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.

Batas waktu untuk mengungkap sebab kecelakaan pesawat semakin dekat. Kotak hitam harus ditemukan dalam kurun waktu 30 hari. Jika kotak hitam tak diterima dalam kurun waktu itu, pencarian akan jauh lebih sulit.

Flag Country

free counters