Ratusan Santri Sukoharjo Ikut Amati 'Bulan Darah'

Ratusan Santri Sukoharjo Ikut Amati 'Bulan Darah'



SUKOHARJO, JAWA TENGAH — Fenomena alam, Gerhana Bulan Merah atau 'Bulan Darah', tampak di Solo dan sekitarnya Rabu (8/10). Ratusan santri dengan menggunakan teropong mengamati fenomena tersebut dengan takjub dan menjadi sumber pengetahuan.

Fenomena alam, Gerhana Bulan Merah atau 'Bulan Darah', tampak di Solo dan sekitarnya Rabu (8/10). 

“Lha itu, kelihatan kan di teropong atau teleskop, ada warna merah agak oranye. Itu yang merah oranye bundar di atas pegunungan itu bulan. Kelihatan kan..silakan teleskop dimanfaatkan di dalam kubah maupun yang di luar ini. Posisi bulan ada di sana..lihat arah laser hijau ini..nah itu dia, kelihatan.”

Sekitar 100 santri pondok pesantren modern As Salam Sukoharjo tampak berkumpul di atap sebuah bangunan di dalam kompleks pondok tersebut, tak jauh dari perbatasan Solo-Sukoharjo, Rabu malam (8/10).

Di antara ratusan santri tersebut terpasang 4 buah teropong yang disambungkan ke peralatan antara lain laptop dan kamera. Sorotan sinar laser warna hijau tampak keluar dari teropong tersebut dan mengarah ke posisi bulan yang berada di atas pegunungan Lawu.

Para santri tersebut berteriak takjub ketika dari balik awan terlihat gerhana bulan dan berwarna merah darah atau 'Bulan Darah' ini.

Salah seorang santri, Karaniya, mengaku takjub dengan fenomena 'Bulan Darah' ini. 

“Rasanya takjub dengan adanya fenomena alam ini, keajaiban dari Allah SWT yang tak pernah berhenti. Yang menarik dari Gerhana Bulan kali ini, memang berbeda dengan gerhana di waktu sebelumnya, kalau biasanya gerhana bulan total kadang susah diamati, ini malah gerhana bulannya berwarna merah agak ke warna oranye..iya tadi sempat lihat fenomena 'Bulan Darah' ini.” tuturnya.

Pengamatan fenomena Gerhana bulan di ponpes ini mendapat dukungan peralatan dari Klub Astronomi Ponpes As Salam atau CASA. Selain melalui beberapa teropong, para santri juga bisa melihat fenomena gerhana bulan ini melalui layar laptop yang sudah tersedia di lokasi.

Juru bicara ponpes tersebut, AR Sugeng, saat ditemui di lokasi pengamatan tersebut mengatakan fenomena alam 'Bulan Darah' ini jarang bisa dilihat masyarakat secara kasat mata atau tanpa bantuan peralatan.

“Kita mendapat sebuah kesempatan langka, menyaksikan fenomena alam yaitu gerhana bulan total. Gerhana bulan pada saat ini, 8 Oktober 2014, satu-satunya gerhana bulan yang terjadi sebanyak 4 kali tahun ini yang bisa diamati secara bersama di Indonesia..dan ini gerhana terakhir untuk tahun ini yang bisa disaksikan di Indonesia. Kita mengadakan observasi bersama di observatorium CASA di Ponpes AS SALAM ini..dihadiri banyak pengunjung terutama dari para santri, mahasiswa, pelajar, para ustad dan kyai..ini kami dari komunitas atau Klub Astronomi ponpes As Salam atau CASA. Pengamatan kami saat ini, masih terjadi fase dari Gerhana Bulan atau 'Bulan Darah',” papar Sugeng.


Dari pantauan di lokasi tersebut, secara bergantian ratusan santri melihat fenomena alam ini melalui teropong. Ponpes ini juga menggelar shalat gerhana di dalam kompleks Pondok pesantren tersebut.


Warga Amerika Utara dan Asia Saksikan ‘Bulan Darah’

Warga Amerika Utara dan Asia Saksikan ‘Bulan Darah’


Orang-orang yang berada di Amerika Utara dan Selatan serta di sebagian besar Asia Timur hari Rabu (8/10) mendapat kesempatan menyaksikan gerhana bulan total langka yang dikenal sebagai bulan darah.

Permukaan bulan bersinar bercahaya dengan warna merah tembaga sewaktu Bumi lewat di antara matahari dan bulan, tidak lama sebelum matahari terbit di Amerika dan beberapa saat setelah matahari terbenam di Asia.

Warna merah itu merupakan hasil dari sinar matahari yang melewati atmosfer bumi, di mana sinar itu terurai sebelum dipantulkan oleh bulan.

Gerhana bulan kali ini adalah yang kedua dari keseluruhan empat gerhana bulan yang terjadi selama periode dua tahun. Gerhana berikiutnya akan terjadi pada tanggal 4 April dan 28 September tahun depan.

Tidak seperti gerhana matahari, gerhana bulan berlangsung selama beberapa jam dan terlihat di sebagian besar belahan Bumi. NASA mengatakan satu-satunya tempat-tempat di mana gerhana hari Rabu kemarin tidak terlihat adalah Afrika, Eropa, dan Brazil timur.

Masyarakat di berbagai negara mengadakan aksi nonton bersama gerhana itu, termasuk di China, Jepang, Australia, dan di negara-negara lainnya. NASA dan berbagai lembaga pengamat gerhana itu juga menyajikan siaran video langsung untuk menyaksikan fenomena tersebut.

Gerhana Bulan Merah Darah Akan Muncul Sore Ini

Gerhana Bulan Merah Darah Akan Muncul Sore Ini


Jika cuaca memungkinkan, gerhana bulan itu dapat terlihat di langit Amerika Utara, Australia, Amerika Selatan bagian barat dan beberapa bagian Asia Timur.


Gerhana bulan total, juga disebut "bulan merah darah" karena warnanya yang merah seperti tembaga, akan terlihat malam ini atau Rabu pagi untuk belahan dunia bagian utara, saat bulan melintasi bayangan Bumi. 

Gerhana total itu merupakan yang kedua dari empat pada periode dua tahun yang dimulai 15 April dan berakhir 28 September 2015. Fenomena yang disebut tetrad itu tidak biasa karena gerhana penuh itu terlihat di semua atau beberapa bagian Amerika Serikat, menurut pensiunan ahli astrofisika NASA, Fred Espenak.

Jika cuaca memungkinkan, gerhana bulan itu dapat terlihat di langit Amerika Utara, Australia, Amerika Selatan bagian barat dan beberapa bagian Asia Timur. Gerhana itu seharusnya mencapai totalitas sebelum matahari terbit di bagian utara, pada 6.25 pagi (1025 GMT).

Jika langit berawan, baik NASA.gov maupun Slooh.com akan melakukan siaran langsung di laman mereka. 

Gerhana terjadi ketika bulan melewati bayangan Bumi, yang disebut umbra.

Untuk memahami terjadinya warna merah, menurut Tony Phillips, ahli astronomi dari SpaceWeather.com, bayangkan kita berdiri di Bulan: "Di atas kepala ada Bumi, yang menyembunyikan matahari di belakangnya. Gerhana berjalan, dan Anda pikir Bumi akan betul-betul gelap, tapi pinggiran planet akan terlihat terbakar. Anda melihat setiap matahari terbit dan setiap matahari terbenam di dunia pada saat yang bersamaan," tulisnya dalam artikel di laman NASA.

Cahaya memancar ke dalam bayangan Bumi, mengisinya dengan pendaran berwarna tembaga yang membuat bulan tampak merah, ujarnya.

Seluruh gerhana akan terlihat dari Samudera Pasifik, wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengannya dan bagian timur laut Amerika Utara. Di sebelah timur, gerhana terjadi setelah bulan tenggelam. Gerhana itu tidak terlihat di Eropa, Afrika dan Timur Tengah, menurut NASA.

China Luncurkan Pesawat Tak Berawak untuk Orbiti Bulan

China Luncurkan Pesawat Tak Berawak untuk Orbiti Bulan


Program delapan hari itu dimaksudkan untuk mencoba teknologi yang akan digunakan dalam misi yang direncanakan pada 2017 untuk mengumpulkan sampel dari permukaan bulan.


China telah meluncurkan pesawat antariksa tak berawak untuk pertama kalinya dalam program antariksa negara itu, yang akan terbang mengitari bulan dan kembali ke Bumi.

Pesawat tak berawak itu diluncurkan Jumat pagi (24/10) dari pusat peluncuran satelit Xichang di provinsi Sichuan, China barat daya.

Program delapan hari itu dimaksudkan untuk mencoba teknologi yang akan digunakan dalam misi yang direncanakan pada 2017 untuk mengumpulkan sampel dari permukaan bulan.

Kantor berita resmi Xinhua mengatakan misi terbaru ini akan “memperoleh data eksperimen dan menguji coba teknologi memasuki kembali atmosfer Bumi.”

China telah meluncurkan dua pesawat yang mengorbiti bulan. Tahun lalu, China mendaratkan sebuah kendaraan di permukaan bulan. Kedua misi itu tidak dirancang untuk kembali ke Bumi.

Beijing berharap kelak akan dapat bersama Amerika Serikat dan Rusia sebagai negara-negara yang telah mengirim manusia ke bulan.

Beijing juga berencana mendirikan stasiun antariksa yang permanen sebelum 2020.


Petang ini, warga Jabodetabek bisa nikmati gerhana bulan darah



Hari ini fenomena blood moon atau gerhana bulan darah akan menghiasi langit di Indonesia. Fenomena itu bisa dinikmati pada petang nanti ketika bulan mulai muncul di ufuk timur.

"Fenomena itu sekitar satu jam. Mulai terlihat saat bulan baru muncul sore nanti," ujar Kepala Pusat Lapan Clara Yono Yatini kepada merdeka.com, Rabu (8/10).

Clara menjelaskan, warga Indonesia bagian timur bisa menikmati fenomena itu dari awal hingga akhir. Namun, bagi warga Jabodetabek, fenomena itu masih bisa dinikmati meski tidak seindah pemandangan dari Indonesia bagian timur.

"Dengan mata telanjang bisa menikmati keindahannya," katanya.

Gerhana bulan darah merupakan salah satu rangkaian dari 4 gerhana bulan yang hadir di tahun 2014 atau disebut dengan Tetrad. Bulan Darah tersebut akan menampakkan dirinya pada tanggal 8 Oktober 2014, beberapa saat sebelum matahari terbit serta diperkirakan akan lebih besar dibandingkan yang muncul di bulan April lalu.

Setelah tanggal 8 Oktober, pada tanggal 23 Oktober 2014 akan terjadi gerhana matahari dan merupakan penutup Tetrad ini.

Penjelasan Penampakan 'Manusia' di Bulan



Misteri penampakan wajah manusia di bulan sudah lama menjadi 'pemanis' kisah di antara para astronom maupun kalangan pemerhati antariksa. Berbagai teori tentang penampakan manusia itu sudah mengemuka sejak 1959 sejak usai pesawat ruang angkasa Soviet Luna 3 memotret bulan saat kembali ke bumi. 


Salah satu teori mengkaji penampakan manusia itu muncul karena perbedaan waktu pembentukan bulan atau dikenal dengan teori Gian Impact. 


Sementara teori lain menganggap penampakan manusia itu karena cekungan di permukaan bulan yang merupakan dampak serangan asteroid. Batu antariksa membentuk cekungan kawah dan tampak lebih gelap dari bumi.


Namun teori itu mendapatkan bantahan dari data Badan Antariksa AS (NASA). Penampakan manusia itu bukan akibat dari cekungan bekas asteroid. Penyebab wajah manusia itu akibat gumpalan magma bulan. 


Melansir Cnet, Kamis 2 Oktober 2014, hal itu dibuktikan oleh gabungan peneliti Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Colorado School of Mines dan lembaga lain yang menggunakan data pesawat antariksa GRAIL milik NASA yang mengorbit bulan sejak 2012 silam. 


Dengan data itu, ilmuwan memetakan bagian yang tampak gelap dari bulan atau dikenal wilayah Procellarum. Data peta menunjukkan cekungan yang membentang berdiameter hampir 1.800 mil itu cenderung lebih sudut. Bukan berbentuk melingkar atau elips, yang menjadi dasar ide dampak serangan asteroid. 


"Kami melihat fitur pada Procellarum ini linear membentuk persegi panjang yang besar. Bentuk ini secara kuat menunjukkan asal usul bagian dalam dan menegaskan kekuatan dalam bulan," terang Jim Head, profesor Ilmu Geologi Universitas Brown, yang merupakan salah satu peneliti dalam studi ini. 


Kekuatan internal itu, jelas Head, bisa memunculkan segumpal magma yang naik ke permukaan, yang kemudian didinginkan dan akhirnya mengeras menciptakan formasi yang dengan mudah disalahartikan sebagai kawah, padahal itu bukan dari serangan asteroid. 


"Bagaimana gumpalan itu muncul memang masih misteri, bisa disebabkan peluruhan radioaktif dari unsur penghasil panas di dalam bulan, atau dampak besar asteroid pada masa sangat awal yang memicu gumpalan," kata Head menjelaskan. 


Namun, ia melanjutkan, semua bukti menunjukkan dugaan dampak besar asteroid telah gugur. 


"Orang yang berpikir semua vulkanik bulan terkait degan dampak asteroid harus dipikirkan lagi," tegas dia. 


Fenomena Bulan Darah di Langit Oktober



Pekan ini bulan akan tampak tidak biasa. Pada 9 Oktober nanti bulan akan diselimuti cahaya berwarna merah. Ini merupakan fenomena yang disebut Blood Moon kedua tahun ini.

Bulan Merah akan terlihat sangat jelas di beberapa bagian wilayah di Amerika, khususnya Amerika Utara. Fenomena ini akan berlangsung sejak sore, dimana bulan akan melewati bayangan Bumi sehingga cahaya merah pun muncul.

Peristiwa ini akan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Posisi bulan akan sedikit melewati orbit biasa.

Ini merupakan fenomena Blood Moon kedua yang terjadi tahun ini. Ukuran bulan juga akan lebih besar 5,3 persen ketimbang Blood Moon sebelumnya yang terjadi 15 April lalu.

Blood Moon merupakan fenomena yang disebut tetrad, atau muncul selama 4 kali berturut-turut. Namun kemunculannya akan berlangsung dengan interval 6 bulan. Dua fenomena berikutnya akan muncul pada 4 April 2015 dan terakhir pada 28 September 2015.

Untuk Bulan Merah nanti, tampilan bulan akan terlihat penuh. Warna merah yang menyelimuti akan muncul pukul 7 sore waktu setempat dan berlangsung selama 59 menit. Saat terjadi Blood Moon, setengah wilayah selatan akan terlihat lebih gelap ketimbang sebagian wilayah utara. Wilayah tersebut akan diselimuti oleh bayangan bumi.

Fenomena ini akan terlihat jelas di sepertiga wilayah barat laut amerika. Namun di beberapa wilayah seperti Eropa, Afrika dan Timur Tengah, fenomena ini sepertinya tidak akan terlalu kentara.

Warna merah di bayangan bulan itu terjadi karena puncak gerhana bulan memasuki bayangan penuh dari bumi yang bernama Umbra. Dalam tahap ini, atmosfer bumi akan menghamburkan cahaya merah dari matahari. Proses ini sama dengan yang terjadi saat langit berwarna merah ketika matahari mulai terbenam. Sebagai akibatnya, cahaya merah ini akan terpantul ke permukaan bulan dan memperlihatkan bulan berwarna merah jika dilihat dari bumi.

Meskipun fenomena ini terjadi selama 4 kali namun secara umum tampilannya tidak pernah sama. Rata-rata ada 2 gerhana dalam satu tahun namun sebagian lain hanyalah Penumbra, dimana bulan hanya melewati bagian terluar dari bayangan bumi. Hal ini mengakibatkan warna merah pada bulan tidak terlalu terlihat. Sedangkan fenomena lainnya hanya memperlihatkan bayangan di bulan tanpa ada efek warna merah.

Warna merah dara ini muncul sebagai hasil dari refraksi cahaya matahari melewati atmosfir bumi, mirip dengan peristiwa memerahnya langit saat matahari terbit atau terbenam. Gerhana terkadang tidak pernah mengikuti pola tertentu sehingga mendapati empat kali Blood Moon bisa jadi merupakan hal yang sangat langka.

Blood Moon Muncul di Langit Indonesia 8 Oktober




Pada pertengahan pekan ini masyarakat dunia akan menikmati fenomena alam dimana bulan akan tampak kemerahan saat gerhana bulan. Media menyebutnya sebagai istilah Blood Moon dan akan terjadi 9 Oktober 2014 waktu Amerika.

Fenomena tersebut merupakan kali kedia, setelah sebelumnya pernah terjadi 15 April lalu. Di Indonesia, Blood Moon diperkirakan akan terjadi 8 Oktober sore.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Profesor Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa Blood Moon sendiri bukanlah istilah astronomi. Dia lebih suka menyebutnya sebagai bulan yang tampak kemerahan saat gerhana bulan total.

"Pukul 16.15 WIB merupakan perkiraan awal peristiwa tersebut, dimana akan memasuki gerhana bulan total pada pukul 17.25 sampai 18.24 WIB," kata Thomas kepada VIVAnews, Senin 6 Oktober 2014.

Thomas melanjutkan, pukul 19.34 WIB menjadi titik terakhir terjadinya gerhana bulan total tersebut. 

Namun sayang, Thomas menjelaskan, tidak semua daerah di Indonesia bisa melihat fenomena alam tersebut, hanya daerah-daerah tertentu saja.

"Untuk daerah Indonesia bagian barat mungkin agak susah, tapi untuk Indonesia bagian timur khususnya Papua akan bisa melihatnya," jelasnya.

Thomas melanjutkan, sekitar pukul 18.15 WIT sudah memasuki gerhana bulan total, yang dimana pada pukul 19.25 WIT sudah mengalami fase setengah bulan, yang akan mencapai akhir pukul 20.24 WIT.

"Dan pada pukul 21.34 WIT tersebut perkiraan waktu terjadinya gerhana bulan total," ucapnya.

Blood Moon sendiri bisa dinikmati oleh masyarakat apabila pada saat terjadinya didukung dengan kondisi langit yang cerah. Thomas menuturkan warna merah yang terjadi, tidak akan selalu sama seperti yang diperkirakan.

"Jadi, tergantung atmosfernya. Kalau cerah maka akan terlihat merah yang berasal dari pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi yang mengenai bulan yang berada di bayangan bumi. Sedangkan, bila terjadinya letusan gunung, maka warnanya akan cenderung gelap," paparnya.

Ahli astronomi itu juga mengatakan bahwa tidak ada dampak apapun terhadap fenomena alam tersebut kepada manusia ataupun lainnya.

"Nggak ada dampak apapun, kayak seperti biasa saja," ungkap dia.

Saksikan Supermoon dan Hujan Meteor Perseid Sepanjang Malam Ini



Dua fenomena langit menarik bakal bisa disaksikan Minggu (10/8/2014) malam ini, supermoon dan hujan meteor Perseid.

Supermoon adalah peristiwa ketika Bulan mencapai jarak terdekat dengan Bumi sehingga akan tampak lebih besar. Supermoon yang akan terjadi malam ini adalah supermoon kedua selama tahun 2014.

"Saat Supermoon nanti, Bulan akan mencapai jarak paling dekat. Biasanya 384.000 kilometer, nanti hanya 357.000 kilometer," ungkap astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin.

Dihubungi Kompas.com hari ini, Thomas juga mengatakan, Supermoon nanti malam akan sedikit lebih besar dari supermoon sebelumnya pada tahun 2014. "Karena jarak Bulan nanti adalah yang paling dekat sepanjang tahun 2014," katanya.

Menurut Thomas, saat supermoon nanti, Bulan akan tampak 10 persen lebih besar dari bulan purnama biasanya.

Ia mengatakan, perbedaan ukuran tersebut akan sulit disadari oleh pengamat awam yang tak menggunakan alat. Agar bisa membedakan, publik bisa memotret supermoon nanti malam dan membandingkannya dengan foto purnama biasa.

Thomas mengungkapkan, supermoon sebenarnya bukan istilah astronomi, namun astrologi. Astronomi lebih mengenal istilah Bulan perigee, yakni saat Bulan mencapai titik terdekat dengan Bumi. 

Bersamaan dengan supermoon nanti, akan ada hujan meteor Perseid. Hujan meteor ini terjadi ketika Bumi memasuki wilayah angkasa yang kaya debu sisa-sisa komet Swift-Tuttle. 

Sayang, dua fenomena itu tak bisa dinikmati secara optimal bersamaan. Supermoon justru bakal "menggagalkan" hujan meteor Perseid.

"Ketika langit gelap, kita bisa melihat puluhan hujan meteor Perseid setiap jamnya. Supermoon kali ini membuat langit terang sehingga jumlah meteor yang bisa disaksikan akan berkurang. Kita mungkin hanya bisa melihat beberapa," jelas Thomas.

Hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya pada 13 Agustus 2014. Nama hujan meteor ini diambil dari nama rasi Perseus. Saat hujan meteor terjadi, meteor akan tampak seolah-olah dari rasi Perseus.

Bagaimana Cara Mengetahui Perbedaan Ukuran Supermoon dengan Purnama Biasa?



Supermoon yang akan terjadi Minggu (10/8/2014) menjadi menarik sebab ukuran Bulan akan tampak lebih besar dari biasanya. Namun, daya tarik supermoon itu kadang tak bisa disaksikan. Sebab, kenyataannya sulit untuk menyadari perbedaan ukuran purnama.

Bagaimana agar ukuran supermoon yang cuma sedikit lebih besar dari purnama biasa itu bisa tampak? Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, memberikan tips-nya.

"Masyarakat bisa memotretnya dengan latar depan obyek tertentu," kata Thomas saat dihubungi Kompas.com hari ini. 

Thomas mengungkapkan, obyek tersebut bisa berupa landmarkkota. "Misalnya kalau di Jakarta bisa memotret di depan Monas, kalau di Bandung bisa di Jembatan Pasopati, dan kalau di Yogyakarta bisa di Candi Prambanan," jelasnya.

Hasil foto tersebut kemudian bisa dicetak atau dilihat di layar komputer serta dibandingkan dengan foto purnama biasa yang punya latar obyek yang sama. "Obyek latar itu bisa membantu membandingkan ukuran. Ini cara paling sederhana," kata Thomas.

Supermoon terjadi ketika Bulan mencapai jarak terdekat dengan Bumi. Dalam astronomi, fenomena supermoon dikenal dengan bulan perigee.

Supermoon yang terjadi Minggu malam adalah supermoon kedua tahun 2014. Saat supermoon terjadi, Bulan akan berada pada jarak 357.000 kilometer, 27.000 kilometer lebih dekat dari biasanya. Perbedaan ukuran antara supermoon dengan purnama biasa hanya 10 persen.

Supermoon Akan Datang Lagi Bulan September Nanti!



Tak bisa melihat supermoon pada Minggu (10/8/2014) malam karena cuaca berawan? Jangan khawatir. Supermoon akan datang lagi bulan depan.

Supermoon tepatnya akan datang lagi pada tanggal 9 September 2014 malam. Bulan kembali akan mencapai titik terdekatnya dengan bumi.

Supermoon pada September nanti adalah satu dari tiga supermoon yang terjadi sepanjang tahun 2014 ini. Supermoon September nanti adalah yang terakhir.

Astronom amatir, Ma'rufin Sudibyo, mengatakan, pada 9 September nanti, jarak antara bumi dan bulan adalah 359.970 kilometer. 

Dengan jarak tersebut, saat supermoon September nanti, bulan berjarak sekitar 2.000 kilometer lebih jauh dari saat supermoon Minggu malam.

Jarak 2.000 kilometer memang jauh bagi manusia. Namun, dalam ukuran astronomi, itu sangat dekat.

Dengan perbedaan jarak itu, saat dihubungi Kompas.com pada Senin (11/8/2014), Ma'rufin Sudibyo mengatakan, supermoon pada September nanti takkan berbeda jauh kenampakannya dengan supermoon semalam.

Bulan nanti akan tampak kurang lebih 10 persen lebih besar dan 30 persen lebih terang dari purnama biasa.

Supermoon dalam astronomi dikenal dengan istilah "Bulan Perigee". Ada juga istilah "Bulan Apogee", yakni saat bulan mencapai titik terjauh dari bumi. Fenomena Bulan Apogee ini terjadi 27 Juli 2014 lalu.

Jangan mengaitkan supermoon dengan bencana. Supermoon tak berhubungan dengan gempa atau banjir. Supermoon, seperti halnya purnama, hanya memicu gelombang pasang.

Beginilah Supermoon bila Dilihat dari Luar Angkasa

Fenomena supermoon tak hanya menarik kalangan awam di bumi untuk mengabadikannya. Astronot yang sedang bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pun tergoda memotret kejadian yang sebenarnya biasa itu.

Oleg Artemyev, astronot dari Rusia, memotret supermoon dari ISS beberapa saat sebelum bulan tenggelam dari pandangannya. Ia kemudian mengunggah foto-foto hasil jepretannya di akun Twitter-nya.

Oleg Artemyev/RoscosmosSupermoon diabadikan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) pada Senin (11/8/2014) dini hari.
Supermoon memang akan tampak sama dilihat dari bumi maupun luar angkasa. Namun, latar foto bulan hasil jepretan Artemyev itu spektakuler. Bulan yang kemerahan tampak berlatar langit yang hitam serta bumi yang kebiruan.

Menjelang tenggelam, dalam foto, bulan tampak seolah-olah akan mendarat di permukaan bumi. Warna bulan berubah menjadi putih serta tampak masuk dalam atmosfer bumi yang kebiruan.

Oleg Artemyev/RoscosmosSupermoon menjelang tenggelam pada Senin (11/8/2014) diabadikan dari Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Supermoon pada Minggu (10/8/2014) adalah supermoon kedua yang terjadi sepanjang tahun 2014. Supermoon ini juga merupakan yang terbesar tahun ini. Jarak antara bumi dan bulan saat supermoon Minggu malam adalah 357.000 kilometer.

Supermoon dalam astronomi dikenal dengan "Bulan Perigee". Supermoon tidak terkait dengan bencana seperti gempa bumi dan banjir. Supermoon akan datang lagi pada 9 September 2014 nanti.

Terungkap, Debu Bulan Berbau seperti Bubuk Mesiu



Tanah di Bumi memiliki bau yang khas. Demikian pula debu di Bulan. Astronot dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang pernah mendarat di Bulan mengatakan, debu satelit Bumi itu berbau seperti mesiu.

Harrison "Jack" Schmitt, astronot misi Apollo 17 yang melakukan "moonwalk" pada Desember 1972, mengatakan, "Yang bisa saya katakan adalah bahwa kesan sekilas setiap orang tentang baunya adalah seperti mesiu."

Scmitt yakin bahwa rekan-rekan astronot yang pernah mendarat di Bulan juga akan mencium bau yang sama. Kesan tentang bau Bulan yang menyerupai mesiu lebih kuat dari aroma yang lain. Schmitt mengungkapkan, butuh 7 menit bagi dirinya untuk mengenali bau itu.

Larry Taylor, Direktur Planetary Geosciences Institute di University of Tennessee di Knoxville, sependapat dengan Schmitt. Taylor adalah orang bertugas di "back room" Johnson Space Center di Houston dalam misi Apollo 17.

Menurut Taylor, bau yang tercium oleh astronot mirip dengan bau yang tercium oleh geolog saat mereka menggali atau mengebor batuan. Di Bulan, bau khas itu bisa bertahan lebih lama karena kandungan oksigen yang hanya 43 persen.

Bau Bulan yang khas juga tercium oleh Buzz Aldrin, manusia kedua yang mendarat di Bulan dalam misi Apollo 11. KepadaSpace.com, Selasa (26/8/2014), ia mengatakan bahwa bau Bulan "seperti arang yang dibakar".

Apa yang menyebabkan debu Bulan berbau seperti mesiu? Ilmuwan mengatakan, bau khas itu disebabkan disintegrasi batuan basal dan anorthosit. Disintegrasi itu sendiri disebabkan oleh tumbukan meteorit pada masa lalu.

Soal Kabar Bulan Kembar, Mars Takkan Sebesar Bulan



Di internet dan jejaring sosial beredar kabar bahwa akan ada bulan kembar di langit pada Kamis (28/8/2014) pukul 00.30. Selain Bulan satelit Bumi, satu bulan lagi adalah Planet Mars yang terlihat sebesar dan secerah Bulan. Kondisi itu terjadi karena jarak Mars hanya 34,65 juta mil dari Bumi. Fenomena itu akan terjadi lagi tahun 2287. Itu adalah hoax alias kabar bohong. 

Entah dari mana sumbernya, isu itu muncul tiap tahun pada Agustus sejak peristiwa oposisi Mars, 27 Agustus 2003. Saat itu, Mars yang berjarak 55,8 juta kilometer (km) diisukan akan terlihat sebesar Bulan. Ternyata Mars tetap terlihat sebagai bulatan merah kecil di langit malam.

Sejak saat itu, kabar terlihatnya Mars sebesar Bulan terus direplikasi. Dari tahun ke tahun isinya sama, mulai dari jarak Mars ke Bumi, jam kejadian, hingga waktu terulangnya fenomena itu. Bahkan, susunan pesan serta ajakan melihat fenomena itu pun sama. Hal yang berbeda hanya tanggal terjadinya, 26-28 Agustus.

Setiap isu ini muncul, kehebohan sama kembali berulang. Masyarakat dengan sukarela akan menyebarkan isu tersebut karena pada bagian terakhir isu terdapat iming-iming bahwa mereka yang hidup sekarang tidak akan pernah melihatnya lagi. Ditulis, peristiwa serupa baru akan terjadi tahun 2287.

Pembina Himpunan Astronomi Amatir Jakarta Widya Sawitar, Selasa, mengatakan, Mars tidak akan pernah terlihat sebesar Bulan.

Diameter sudut (diameter obyek berdasarkan pandangan pengamat, tidak memperhitungkan jarak sesungguhnya) terbesar Mars pada jarak terdekat dengan Bumi adalah 25,113 detik busur atau 0,007 derajat. Adapun diameter sudut terbesar Bulan pada jarak terdekat dengan Bumi adalah 34,1 menit busur atau 0,57 derajat.

”Artinya, pada jarak Mars terdekat dengan Bumi pun, besar piringan Mars hanya satu per 81 dari diameter Bulan. Tidak akan pernah menyamai besar Bulan,” kata Widya. Pada jarak rata-rata Mars dan Bulan terhadap Bumi, Mars hanya akan terlihat satu per 141 kali dari ukuran Bulan.

Jarak

Diameter Mars sesungguhnya adalah dua kali diameter Bulan. Namun, karena jarak Mars ke Bumi 593 kali jarak Bulan ke Bumi, walaupun ukuran sebenarnya lebih besar, Mars tetap akan terlihat lebih kecil.

Isu yang beredar, jarak Mars pada Kamis besok disebut 34,65 juta mil atau 55,76 juta km. Jarak itu sebenarnya masih lebih jauh dibandingkan jarak terdekat Mars ke Bumi, 54,6 juta km.

Jarak Mars dan Bumi bervariasi, tergantung posisi di antara keduanya terhadap Matahari sebagai pusat edar keduanya. Kecepatan keduanya bergerak di lintasan elipsnya pun berbeda, tergantung jarak ke bintang induknya, Matahari.

Posisi terdekat Bumi dan Mars terjadi pada saat keduanya pada sisi yang sama terhadap Matahari atau ketika terjadi oposisi. ”Oposisi Mars dan Bumi terjadi tiap 26 bulan sekali,” tambah Widya.

Komunikator astronomi sekaligus pengelola situs astronomi populer Langitselatan.com, Avivah Yamani, mengatakan, untuk melihat Mars sebesar Bulan, Mars harus ”diletakkan” pada dua kali jarak Bumi-Bulan atau sekitar 780.000 km. ”Namun, 'pendekatan' Mars hingga jarak sedekat itu dengan Bumi akan menimbulkan gangguan sebagai akibat interaksi kedua planet,” ujarnya.

Risiko dari gangguan itu adalah Mars akan tertarik ke Bumi sebagai planet yang lebih besar dan jatuh ke Bumi. Risiko lain, Mars sebagai planet yang lebih kecil dari Bumi akan tertendang dari orbitnya, bahkan bisa terlontar keluar dari tata surya.

Bulan mati

Isu tentang dua bulan itu juga tak benar karena Bulan satelit Bumi memang tidak akan tampak di langit malam pada Kamis dini hari. Saat ini, Bulan dalam fase bulan baru atau bulan muda.

Konjungsi atau kesegarisan Matahari-Bulan-Bumi yang menandai fase bulan baru terjadi pada Senin (25/8/2014) pukul 21.13 WIB. Dalam kalender Hijriah, itu menandai masuknya bulan kalender baru. Saat ini, bulan berganti dari Syawal ke Zulkaidah.

Oleh karena berada pada fase bulan muda, Bulan akan terlihat sebagai bulan sabit, bukan bulan purnama seperti citra tentang fenomena bulan kembar yang tersebar di sejumlah jejaring sosial.

Sebagai bulan muda, Bulan akan tenggelam sesaat sesudah Matahari terbenam. Bulan sabit sudah tenggelam enam jam sebelum waktu kejadian bulan kembar yang diisukan. Itu berarti Bulan dalam bentuk apa pun, apalagi purnama, tidak akan terlihat pada Kamis dini hari.

Oleh karena itu pula, masyarakat tak perlu khawatir akan ketinggalan melihat bulan kembar. Sebab, fenomena itu memang tidak akan pernah ada.

Avivah berharap masyarakat cermat memilih informasi yang ada di internet ataupun jejaring sosial dan tidak mudah percaya karena banyak yang tidak didasari bukti. Nama institusi besar bisa jadi hanya tempelan dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Oleh karena itu, ”Jangan malas mengecek ulang setiap informasi yang diterima,” katanya.

Jejak Planet Lain Ditemukan di Bulan




GOTTINGEN -- Peneliti menemukan bukti adanya sesuatu yang jatuh ke bumi miliaran tahun yang lalu dan membentuk bulan. Analisa dari bebatuan bulan yang dibawa kembali oleh para astronot Apollo menunjukkan jejak dari 'planet' yang disebut Theia.

Menurut peneliti utama dari Universitas Goettingen, Dr Daniel Herwartz, seperti dilansir BBC, Jumat (6/6), hingga kini belum ditemukan bukti-bukti definitif tentang teori tersebut. Para peneliti berpendapat penemuan mereka menegaskan teori bahwa bulan diciptakan oleh sebuah tabrakan dahsyat.Penelitian ini dipublikasikan dalam jurnal Science.

Teori yang berlaku sejak 1980-an adalah bulan muncul sebagai hasil dari tabrakan antara bumi dan Theia sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu. Theia dinamai dari dewi dalam mitologi Yunani yang mengatakan Theia adalah ibu Selene, dewi bulan.

Ia diperkirakan telah hancur dan menghasilkan puing-puing yang berbaur dengan bumi dan melebur menjadi bulan. Ini adalah penjelasan yang paling sederhana atas pembentukan bulan dan cocok dengan penghitungan komputer. Kelemahan utama teori ini tidak ada yang pernah menemukan bukti dari Theia dalam sampel batuan bulan.

Bukti Adanya Planet yang Menabrak Bumi Ditemukan pada Batu Bulan




Ilmuwan menemukan bukti adanya planet yang menabrak bumi setelah menganalisis batu bulan yang dibawa oleh misi Apollo 11, 12, dan 16.

Planet bernama Theia itu oleh beberapa ilmuwan diyakini sebagai planet yang bertanggung jawab pada pembentukan bulan.

Sekitar 4,5 miliar tahun lalu, Theia menabrak bumi. Tabrakan menyebabkan debris dalam jumlah besar yang terdiri atas kerak dan mantel bumi menyebar ke antariksa.

Di angkasa, debris dan material Theia menyatu. Rob de Meijer, profesor Groninger University di Belanda, meyakini bahwa kumpulan debris dan material Theia itulah yang membentuk bulan.

Bukti adanya Theia yang ditemukan berupa isotop atom oksigen pada bulan yang ternyata sedikit berbeda dengan oksigen yang ditemukan pada bumi.

Isotop adalah atom suatu unsur yang memiliki proton yang sama, tetapi mempunyai neutron dalam jumlah berbeda.

Proton adalah partikel dalam inti atom yang bermuatan positif, sementara neutron adalah partikel yang tidak bermuatan (netral).

Dalam riset yang dipublikasikan di jurnal Science itu, diungkap bahwa batu bulan memiliki atom oksigen -17 yang lebih melimpah daripada bumi. 

Isotop oksigen di bulan memiliki sembilan neutron, berbeda dengan oksigen di bumi yang mempunyai delapan neutron.

Telah lama ilmuwan meyakini bahwa bila bulan terbentuk dari sebagian material Theia, komponen bulan harus berbeda dengan bumi.

Dengan adanya perbedaan isotop oksigen, Daniel Herwartz dari University of Gottingen yang memimpin riset, seperti dikutipFoxnews, Jumat (6/6/2014), mengatakan, "Ini mengonfirmasi hipotesis tabrakan besar."

Meskipun demikian, Alex Halliday dari Oxford University mengungkapkan bahwa hasil riset ini belum cukup kuat menjadi bukti.

Dikutip BBC, Kamis (5/6/2014), Halliday mengatakan bahwa ia terkejut dengan perbedaan antara bumi dan bulan begitu kecil. Untuk mengonfirmasi hipotesis tabrakan besar, perbedaan yang ditemukan seharusnya lebih besar.

Sementara itu, Mahesh Anand dari Open University mengingatkan, riset ini hanya meneliti tiga sampel. Jadi, hasilnya belum tentu representatif. 


Terungkap, Ada "Perang" Gravitasi antara Bumi dan Bulan




Manusia telah lama tahu bahwa gravitasi Bulan menimbulkan gelombang pasang di Bumi. Namun, bagaimana dengan gravitasi Bumi pada Bulan? Apa dampaknya?

Ilmuwan dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) lewat riset yang dirilis mengonfirmasi bahwa gravitasi Bumi juga mengakibatkan fenomena semacam pasang di Bulan.

Gravitasi Bumi mampu mengakibatkan tonjolan di permukaan Bulan yang tingginya sekitar 51 sentimeter. Tonjolan terjadi di wilayah Bulan yang dekat maupun jauh dari Bumi.

"Deformasi permukaan Bulan karena gravitasi Bumi sulit untuk diukur, tetapi mempelajarinya, kita bisa medapatkan petunjuk tentang interior Bulan," kata Erwan Mazarico dari NASA.

Mazarico mengungkapkan, dampak gravitasi Bumi pada Bulan dengan menganalisis data satelit Lunar Reconaissance Orbiter dan misi Gravity Recovery and Interior Laboratory (GRAIL).

Dengan cara itu, ilmuwan mengetahui bahwa gravitasi Bumi memang menimbulkan dampak nyata pada Bulan.

Dari jauh, Bulan tampak bulat. Namun, sama halnya dengan Bumi, Bulan memiliki tonjolan di beberapa sisi sehingga membuatnya seperti telur.

Diberitakan VOA, Jumat (30/5/2014), permukaan Bulan yang menonjol berpindah setiap waktu. Ini membuat Bumi dan Bulan seperti sepasang penari, saling merespons tarikan masing-masing. 

Bumi dan Bulan juga seperti dua benda yang terlibat "perang" gravitasi. Gaya gravitasi keduanya saling memengaruhi.

Ilmuwan klaim temukan bulan di luar tata surya


Washington (ANTARA News) - Sekelompok astronom mengklaim telah mendapati kemungkinan mereka menemukan untuk pertama kalinya "exomoon" atau sebuah bulan yang mengorbit planet di luar tata surya.

Namun, objek tersebut, kata tim astronom itu, bisa juga planet besar yang mengitari bintang kecil dan samar, seperti tertuang dalam laporan Jurnal Astrophysical.

"Kita tidak akan berkesempatan lagi untuk mengamati kandidat 'exomoon' di kemudian hari," kata kepala peneliti dari Universitas Notre Dame David Bennett melalui keterangan pers Badan Penerbangan dan Antariksa AS (NASA) dilaporkan Kantor Berita Xinhua. 

Objek yang diduga 'exomoon' itu ditemukan saat riset yang dipimpin tim "Microlensing Observations in Astrophysucs" (MOA) dari Jepang, Selandia Baru dan Amerika Serikat dan "Probing Lensing Anomalies NETwork" (PLANET), yang menggunakan teleskop dari Selandia Baru dan Australia. 

Para astronom menggunakan teknik yang disebut mikro-pelensaaan gravitasi (gravitational microlensing), dimana pengamatan dilakukan melalui satu bintang yang melewati bintang lainnya, dari pandangan Bumi. 

Bintang yang lebih dekat dapat berperan sebagai kaca pembesar untuk memfokuskan dan menerangkan cahaya bintang yang jauh selama beberapa hari atau pekan.

Jika bintang latar depan memiliki planet yang mengelilinginya, planet itu berperan sebagai lensa kedua untuk menyinari atau meredupkan cahaya. 

Dari pengamatan saat peristiwa terang, para astronom dapat melihat seberapa besar bintang latar depan dibandingkan planetnya.

Namun perlu dicatat, dalam beberapa kasus , objek latar depan dapat sebuah planet yang mengambang bebas, bukan sebuah bintang. Para peneliti dapat saja mendeteksi ukuran besar dari planet itu dibanding objek yang mengitarinya. 

Dalam penelitian terbaru yang didanai NASA, para astronom menemukan perbandingan ukuran planet yang lebih besar dibanding ukuran pendampingnya dengan rasio 2000 berbanding 1, meskipun lingkungan objek latar depan, dan objek yang menjadi media lensa tersebut masih belum definitif. 

Hal itu berarti dua objek itu dapat berupa bintang kecil dan samar, yang dikelelilingi planet berukuran lebih besar 18 kali dari Bumi. Bahkan planet yang mengitari itu diperkirakan lebih besar dibanding Jupiter, ditambah, bulan yang massanya lebih ringan dibanding Bumi, kata para astronom.

Namun, para peneliti belum dapat menyimpulkan mana yang benar dan valid di antara dua skenario itu, mengingat kejadian tersebut hanya dapat diamati dalam sekali waktu.

"Satu kemungkinan dengan teknik menggunakan bintang sebagai lensa bahwa temuan itu adalah palent dan bulannya (exomoon). Jika benar akan menjadi penemuan spektakuler," kata Wes Traub, kepala ilmuwan untuk program eksplorasi exoplanet di Laboratorium tenaga jet di NASA, yang tidak terlibat dalam penelitian. 

"Simpulan dari model yang digunakan peneliti itu adalah bulan, namun jika Anda melihat skenario tersebut di alam, simpulan objek itu bisa jadi bintang," kata dia.


Studi Kaitkan Gangguan Tidur dengan Bulan Purnama



Para peneliti mengatakan gangguan tidur disebabkan oleh ritme bulan atau 'circalunar', yang mungkin merupakan peninggalan masa prasejarah

Banyak orang mengeluh tidak bisa tidur saat bulan purnama. Sekarang, sebuah studi baru menemukan bukti bahwa tetangga terdekat planet Bumi itu memiliki dampak terhadap kualitas tidur manusia.

Christian Cajochen, peneliti masalah tidur dari rumah sakit psikiatrik di University of Basel di Swiss, memimpin sebuah studi yang menganalisa pengukuran-pengukuran data penelitian mengenai tidur, termasuk aktivitas otak, dari 33 individu yang sebelumnya telah diperiksa di klinik tidur.

Mereka terkejut saat melihat para subyek penelitian terganggu tidurnya ketika bulan purnama.

"Pada saat bulan purnama, tidur orang-orang kurang nyenyak, sekitar 30 persen kurang nyenyak. Mereka umumnya tidur 20 menit lebih cepat, dan perlu lima menit lebih lama untuk tidur," ujarnya.

Cajochen mengatakan tidak banyak yang diketahui mengenai dampak fase-fase bulan terhadap manusia, yang tidurnya dipengaruhi jam tubuh 24 jam yang disebut 'circadian', atau proses biologi yang didorong fluktuasi hormon yang mengontrol siklus tidur-bangun dan pola pemberian makan.

Jam tubuh ini juga dipengaruhi periode-periode terang dan gelap, menurut Cajochen, yang mengatakan bahwa para peneliti menemukan bahwa tingkat-tingkat hormon melatonin, yang menyiapkan tubuh untuk tidur, juga lebih rendah pada subyek penelitian selama bulan purnama. 

"Ada kegelapan di luar dan tubuh kita harus beradaptasi dengan perilaku kegelapan, yang berarti pada manusia, adalah tidur. Jadi ini menyangkut hormon persiapan tidur. Dan hal ini berkurang pada fase bulan purnama, meski mereka tidak melihat cahaya. Dan ini barangkali menyebabkan sedikit gangguan tidur," ujarnya.

Cajochen berspekulasi bahwa gangguan tidur, yang disebabkan oleh apa yang ia sebut ritme 'circalunar', barangkali merupakan peninggalan masa prasejarah, mempengaruhi reproduksi manusia dan aktivitas-aktivitas lainnya seperti pengaruhnya saat ini pada hewan termasuk binatang laut.

"Ada bukti bahwa dua jam ini berhubungan satu sama lain -- jam circadian dan circalunar di spesies lain. Namun kita tidak melihat petunjuk apa pun dalam manusia. Jam circalunar masih misterius," ujarnya. 

Cajochen mengatakan bahwa jam circalunar, jika benar ada, juga akan mempengaruhi kinerja kognitif pada manusia dan mood kita.

Artikel mengenai pengaruh bulan pada tidur manusia diterbitkan di jurnal Current Biology.

Sumber 

China Luncurkan Misi Penjelajahan Bulan




Ekspedisi robotik pertama dari negara itu untuk menjelajahi permukaan bulan merupakan langkah terbaru dalam program antariksa yang ambisius.


China telah meluncurkan ekspedisi robotik ke permukaan bulan yang pertama, sebuah langkah terbaru dalam program antariksa yang ambisius untuk merefleksikan posisi global negara itu yang terus meningkat.

Pesawat antariksa Chang'e-3, yang termasuk kendaraan penjelajah "Jade Rabbit", meluncur Senin dini hari menumpang roket pembawa dari Pusat Peluncuran Satelit Xichang di provinsi Sichuan di sebelah barat daya China. 

Stasiun televisi milik pemerintah China menayangkan secara langsung peristiwa peluncuran tersebut.

Pesawat itu diperkirakan mendarat di bulan pada pertengahan Desember untuk menjelajah permukaannya dan mencari sumber-sumber daya alam. Ini merupakan misi penjelajahan bulan ketiga di dunia, menyusul satu dari Amerika Serikat dan satu lagi dari mantan Uni Soviet berpuluh tahun silam.

Pendaratan secara "keras" lebih mudah, dan China menabrakkan sebuah pesawatnya ke bulan pada 2009. Pendaratan di bulan secara halus terakhir dilakukan Uni Soviet pada 1976.

Pada 2007, China meluncurkan pengorbit bulan pertamanya, Chang'e-1 - berdasarkan nama dewi bulan -- yang mengambil gambar-gambar permukaan bulan dan menganalisa penyebaran unsur-unsur di sana.

Kendaraan penjelajah itu dinamakan Jade Rabbit, atau "Yutu" berdasarkan pemilihan suara publik, sebuah referensi dongeng untuk binatang peliharaan sang dewi. 

Presiden Xi Jinping mengatakan ia ingin China membangun dirinya sebagai kekuatan super luar angkasa, dan misi itu telah memicu kebanggan secara luas mengenai keahlian teknologi China yang semakin meningkat.

Beijing ingin mendirikan stasiun antariksa permanen pada 2020 dan mengirim seseorang ke bulan.

Flag Country

free counters