Siap-siap Lihat Gerhana, Hujan Meteor, dan Jupiter Oktober Ini

Sepanjang Oktober 2014 ini akan terjadi beberapa fenomena langka di langit, karena itu siapkan mata untuk memandang keindahan yang bakal menghiasi angkasa malam demi malamnya.

Dari gerhana bulan total hingga hujan meteor bisa disaksikan pada bulan ini. Tak cuma itu, keindahan planet-planet juga disuguhkan di langit. Beberapa di antaranya bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Astronom sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin kepada Liputan6.com, Jumat (3/10/2014), mengatakan, beberapa fenomena langit yang bisa disaksikan sepanjang Oktober 2014, yakni: 

1. Gerhana Bulan Total

Pada gerhana bulan total ini, bulan akan terlihat kemerahan seperti berdarah. Ini karena bulan tertutup oleh bayangan bumi namun cahaya matahari terbiaskan hingga menimbulkan kesan kemerah-merahan.

Fenomena ini terjadi pada 8 Oktober 2014. Thomas mengatakan, gerhana bulan ini mulai terjadi pada pukul 16.15 WIB. Namun untuk wilayah Indonesia barat, seperti Jakarta, tak bisa melihat awal mula terjadinya gerhana lantaran bulan ketika itu belum terbit. 

Gerhana total baru terjadi pada pukul 17.25-18.24 WIB. Dan secara keseluruhan gerhana berakhir pada 19.34 WIB. Wilayah Indonesia barat baru bisa menyaksikan gerhana ini ketika gerhana total sudah terjadi. Namun untuk wilayah timur Indonesia dapat menyaksikan keseluruhan proses gerhana bulan total ini.

"Seluruh wilayah Indonesia bisa mengamatinya seperti mengamati purnama," kata Thomas.

2. Hujan Meteor Orionids

Hujan meteor ini bisa diamati dari Indonesia. Karena ketika puncak peristiwa ini terjadi pada 21 Oktober 2014, bulan tengah tua alias tak purnama. 

Akan ada 15 meteor yang jatuh per jamnya. Bentuknya seperti atraksi bintang jatuh. Thomas memprediksi, beberapa di antara meteor itu ada yang berukuran cukup besar.

3. Hujan Meteor Draconids

Berbeda dengan Orionids, hujan meteor draconids puncaknya terjadi pada 7 Oktober 2014. Hujan meteor draconids ini merupakan hujan meteor di langit utara.

Namun Thomas mengatakan, fenomena ini bakal sulit diamati dari Indonesia. Karena hujan meteor ini termasuk kecil skalanya. Ditambah lagi pada 8 Oktober terjadi purnama. Jadi luncuran meteor bakal terhalang oleh cahaya bulan yang terang benderang. 

"Hujan meteor dikalahkan cahaya bulan," ujar Thomas.

4. Jupiter dan Mars Terang Benderang

Bulan ini, beberapa planet bisa dilihat dengan mata telanjang. Salah satunya Jupiter. Cahaya planet terbesar di tata surya ini sangat terang sekali.

Jupiter bisa dilihat mulai dari dini hari hingga subuh menjelang dari langit timur. "Kebetulan posisinya memungkinkan cahaya yang kuat. Posisinya hampir dekat dengan Matahari," papar Thomas.

Selain Jupiter, planet lain yang juga cukup terang pada bulan ini adalah Mars. Planet yang sering disebut kembaran Bumi ini bisa dilihat mulai pukul 22.00 WIB hingga subuh.

"Tergolong paling terang, ciri warnanya merah," ujar dia.

Saturnus juga tak mau kalah. Planet bercincin ini kondisinya cukup terang pada bulan ini. Meski begitu, Saturnus harus dilihat menggunakan bantuan teleskop agar cincinnya nampak. Jika tidak menggunakan teleskop, Saturnus hanya terlihat seperti titik cahaya bintang saja.

Sementara Planet Uranus tergolong redup penampakannya. Namun dia tetap bisa dilihat sepanjang malam meski harus menggunakan teleskop. 


Saksikan Venus dan Jupiter Berciuman Besok Subuh



Venus dan Jupiter akan mencapai jarak terdekat pada Senin (18/8/2014) waktu Subuh. Mereka tampak bagai dua obyek yang menjadi satu.

"Elongasinya hanya 0,2 derajat, sangat dekat," ungkap astronom amatir Ma'rufin Sudibyo. Jarak ini adalah yang terdekat dalam 14 tahun.

Dengan elongasi tersebut, jarak Venus dan Jupiter dalam pandangan manusia tak lebih dari lebar kelingking. 

"Saya menyebutnya super konjungsi," kata Ma'rufin saat dihubungi Kompas.com, Minggu (17/8/2014).

Disebut super konjungsi karena yang terlibat adalah dua benda langit non Bulan yang tampak sangat terang.

Konjungsi sendiri adalah fenomena di mana dua benda langit tampak berdekatan satu sama lain dalam pandangan manusia.

Astrofisikawan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin, mengatakan, Venus dan Jupiter akan tampak "seperti bintang kembar yang cemerlang."

Berdasarkan perangkat lunak Stelarium, Venus akan bermagnitud -3,3 sementara Jupiter -1,35. Magnitudo menerangkan kecerlangan benda langit. Semakin kecil, semakin terang.

Venus tampak lebih terang dari Jupiter karena berjarak lebih dekat dengan Bumi dan Matahari. Jika keduanya berjarak sama dari Bumi, Jupiter akan lebih terang sebab ukurannya yang sepuluh kali lipat dari Venus.

Walau tampak sangat dekat dalam pandangan manusia, Venus dan Jupiter sebenarnya tetap berjarak jauh, jutaan kilometer.

Konjungsi Venus dan Jupiter biasa terjadi sekali setahun. Namun, super konjungsi terjadi dalam rentang waktu yang acak.

Fenomena konjungsi Venus dan Jupiter bisa dilihat besok pagi dengan mata telanjang. Keduanya akan tampak pada ketinggian rendah, hanya 10 derajat. 

Pengamatannya sebenarnya terbilang mudah. "Asal tidak ada halangan di ufuk timur," kata Ma'rufin. Pengamatan lebih baik dilakukan di tempat tinggi, misalnya lantai paling atas sebuah apartemen.

Jangan-jangan Ada Ikan di Balik Es Europa Planet Yupiter

TRIBUNSUMSEL.COM - Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merencanakan misi robot untuk ke bulan Planet Yupiter yang diduga berair, Europa. Para astronom berspekulasi, di sana terdapat beberapa bentuk kehidupan.
NASA menyiapkan dana senilai 15 juta dollar AS, setara lebih dari Rp 172,5 miliar dalam anggaran 2015, sebagai tahap awal misi tersebut. Belum ada rincian lebih lanjut, tetapi kepala layanan keuangan NASA, Elizabeth Robinson, pada Selasa (4/3/2014) mengatakan bahwa peluncuran misi itu ditargetkan terlaksana pada 2020-an.
Robinson mengatakan, lingkungan beradiasi tinggi di sekitar Yupiter, dan jarak dari Bumi, akan menjadi tantangan dalam misi ini. Ketika NASA mengirimkan misi Galileo ke Yupiter pada 1989, pesawat ruang angkasa tersebut butuh waktu enam tahun untuk sampai ke planet yang berada di urutan kelima dari matahari itu.
Astronom dari Rensselaer Polytechnic Institute, Laurie Leshin, mengatakan bahwa rencana NASA ini dapat disebut sebagai sebuah misi berani untuk mengetahui kondisi obyek yang memang sangat menarik dalam sistem tata surya Bimasakti.
Misi-misi NASA sebelumnya ke Europa, terutama misi Galileo, tak satu pun yang benar-benar terkonsentrasi pada satu dari puluhan satelit yang mengorbit mengitari Yupiter ini. Para astronom sudah sejak lama berupaya melobi misi khusus untuk Europa, tetapi terkendala biaya yang diperkirakan mencapai miliaran dollar AS.
Pada 2013, para ilmuwan mendapati semburan air melalui permukaan es Europa. "Mendekati permukaan satelit tersebut, melalui jalur semburan itu, bakal memangkas biaya eksplorasi. Biayanya lebih murah dibandingkan berputar-putar mengitari "bulan" itu ataupun mendarat di atas permukaan es-nya," kata ilmuwan NASA yang menangani Europa, Robert Pappalardo.
Banyak ide akan dikembangkan terkait rencana misi ke Europa. Robinson pun mengakui bahwa banyaknya ide itu menyebabkan biaya yang dibutuhkan untuk misi tersebut belum dapat diperkirakan untuk saat ini. Menurut dia, misi utama ke Europa adalah mencari jejak kehidupan di cairan yang diduga ada di bawah lapisan es.
Astronom dari Harvard University, Avi Loeb, mengatakan bahwa misi ke Europa akan lebih menarik daripada menjelajahi Mars yang kering. "Mungkin ada ikan di bawah es (Europa)," ujar dia.

Hujan Berlian Turun di Planet Saturnus dan Yupiter



Sudah diungkap sebelumnya, emas juga berlian berasal dari luar Bumi melalui perantaraan batu-batu angkasa. Seperti Popigai Astroblem, kawah besar belas tabrakan asteroid 35 juta tahun lalu di Siberia, Rusia -- yang menyimpan berlian triliunan karat yang bisa menyuplai pasar dunia selama 3.000 tahun!

Namun, jika jumlah berlian di Bumi terbatas, di angkasa luar justru melimpah. Bahkan, menurut para ilmuwan berlian yang cukup besar untuk dipamerkan bintang film Hollywood, menghujani planet Saturnus dan Yupiter. Dalam arti sebenarnya. 

Data atmosfer dari dua planet gas raksasa itu mengindikasikan bahwa ia memiliki karbon melimpah. Badai petir mengubah metana menjadi jelaga (karbon) yang mengeras menjadi potongan grafit dan kemudian berlian. Namun, hujan batu berlian itu akhirnya mencair dalam inti panas planet.

"Berlian terbesar berdiameter sekitar 1 centimeter. Cukup besar untuk dijadikan mata cincin, meski dalam kondisi belum diasah tentunya," kata Dr Kevin Baines dari University of Wisconsin-Madison dan Jet Propulsion Laboratory NASA, seperti dimuat BBC News, 14 Oktober 2013. 

Dia menambahkan, setelah diasah, berlian itu cukup besar dan menyilaukan dipamerkan oleh bintang film lawas, Elizabeth Taylor.

"Intinya, ada sekitar 1.000 ton berlian diproduksi di Saturnus tiap tahunnya," tambah Kevin Baines. "Orang-orang bertanya, bagaimana kami yakin? Sebab kita belum bisa ke sana dan membuktikannya."

Dan jawab dia, "Itu semua bermuara pada kimia. Dan kami cukup yakin."

Baines mempresentasikan temuannya dalam rapat tahunan Divisi Keplanetan American Astronomical Society di Denver, Colorado. Bersama dengan koleganya, Mona Delitsky, dari California Speciality Engineering.

Uranus dan Neptunus sudah sejak lama diperkirakan menyimpan batu-batu berharga yang di Bumi bernilai selangit. Namun, Saturnus dan Yupiter dianggap tak punya atmosfer yang mendukung kondisi itu. 

Baines dan Delitsky menganalisa suhu teranyar dan prediksi tekanan di dalam planet. Juga data bagaimana perilaku karbon dalam kondisi berbeda. Mereka menyimpulkan, kristal stabil berlian, "menghujani khususnya sebagian wilayah Saturnus."

"Semuanya dimulai di bagian atas atmosfer, di celah-celah badai, di mana petir mengubah metana jadi jelaga," kata Baines. Kemudian tekanan meningkat, setelah turun mencapai 1.000 mil ia berubah menjadi grafit -- lembaran karbon yang biasa ditemukan dalam pensil. 

Di kedalaman 6.000 km, potongan grafit menguat menjadi berlian yang kuat dan tak reaktif. Berlian-berlian tetap solid saat turun 30 ribu km. 

"Setelah turun ke kedalaman ekstrem seperti itu, tekanan dan temperatur bak di neraka, berlian tak mungkin lagi solid." Ia meleleh. 

Baines dan koleganya menduga, di terbentuk 'lautan' karbon di permukaan saturnus. Dari berlian cair itu. "Berlian tidak bersifat selamanya di Saturnus dan Jupiter. Beda dengan Uranus dan Neptunus, yang berinti dingin."

Planet Berinti Berlian

Masih terkait berlian, sebelumnya, ilmuwan menemukan sebuah planet penuh 'harta karun'. Permukaannya dipenuhi dengan batu mulia.

Planet yang diberi nama 55 Cancri e dikategorikan sebagai Bumi Super (super-Earth),  memiliki radius dua kali lipat Bumi, delapan kali lebih berat dari planet yang dihuni manusia.

Sementara permukaan Bumi ditutupi air dan granit, Planet 55 Cancri e diduga ditutupi berlian dan grafit -- sebagaimana berlian, ia adalah bentuk alotrop karbon.

Sebuah studi terbaru menyimpulkan, setidaknya sepertiga massa planet tersebut, atau setara dengan tiga kali berat Bumi, adalah berlian.

Ini adalah kali pertamanya astronom bisa mengidentifikasi apa yang diduga sebagai planet berlian yang mengorbit di sekitar bintang yang mirip Matahari. Setelah penemuannnya pada 2004 lalu. Namun, tak seperti Bumi, ia dipenuhi unsur kimia.

"Ini adalah kali pertama kami melihat dunia berbatu yang memiliki unsur kimia yang secara fundamental berbeda dari Bumi," kata kepala peneliti, Nikku Madhusudhan. "Permukaan planet ini ditutupi grafit dan berlian, alih-alih air dan granit."

Planet berlian ini mengorbit bintangnya dengan kecepatan super cepat, dalam waktu 18 jam, jauh lebih cepat dari Bumi yang mengorbit Matahari dalam waktu 365 hari.

Dengan suhunya yang luar biasa panas, 3.900 Fahrenheit atau 2.148 derajat Celcius, planet itu tak mungkin ditinggali. 

Bulan, Yupiter, dan Mars Membentuk Segitiga Dini Hari Nanti




KOMPAS.com — Akhir-akhir ini, langit di sejumlah daerah mulai cerah seiring berkurangnya pembentukan awan dan hujan. Kondisi ini bisa dimanfaatkan untuk pengamatan astronomi ataupun melatih kemampuan astrofotografi.

Salah satu kesempatan baik adalah Senin (2/9/2013) dini hari nanti. Bulan, Yupiter, dan Mars akan membentuk bangun segitiga bila dilihat dari Bumi. 

Ketiga benda langit tersebut akan membentuk segitiga, lebih kurang mulai pukul 04.00 WIB dini hari nanti. Bulan, Yupiter, dan Mars akan tampak di langit timur. Yupiter akan tampak dengan magnitudo -1,61 sementara Mars 1,84. Dengan magnitudo itu, keduanya bisa tampak dengan mata telanjang.

Dilihat dari sudut pandang manusia di Bumi, ketiga benda langit itu tampak berdekatan dini hari nanti. Namun, sebenarnya jarak ketiganya tetap jauh. 

Bulan, Yupiter, dan Mars tampak dekat karena revolusinya mengelilingi Matahari yang kadang membuatnya tampak dekat, bersanding, segaris, atau membentuk bangun tertentu. Minggu (1/9/2013) dini hari, Bulan bersanding dengan Planet Yupiter.

Untuk mengabadikan ketiganya, kamera DSLR bisa digunakan. Namun, bila tak memilikinya, kamera smartphone dengan kapasitas 8 MP pun bisa dipakai.

Mars dan Yupiter adalah dunia yang kini terus diselidiki. Wahana antariksa Curiosity terus mencari bukti-bukti adanya kehidupan dan lingkungan yang mendukungnya di Mars. Sementara itu, atmosfer dan permukaan Yupiter beserta bulannya kini sedang menjadi target riset.

Bulan juga tak kalah menarik perhatian. China baru-baru ini merencanakan pengiriman misi tanpa awak ke permukaan Bulan. 

Dini hari nanti mungkin Anda cuma bisa mengamati ketiga benda langit itu. Suatu hari nanti, bukan tidak mungkin Anda atau generasi setelah Anda menjejakkan kaki di permukaannya, kecuali untuk Yupiter yang merupakan planet gas sehingga manusia takkan mungkin mendarat.

Jangan-jangan Ada Ikan di Balik Es Europa Planet Yupiter...






WASHINGTON, KOMPAS.com — Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) merencanakan misi robot untuk ke bulan Planet Yupiter yang diduga berair, Europa. Para astronom berspekulasi, di sana terdapat beberapa bentuk kehidupan.

NASA menyiapkan dana senilai 15 juta dollar AS, setara lebih dari Rp 172,5 miliar dalam anggaran 2015, sebagai tahap awal misi tersebut. Belum ada rincian lebih lanjut, tetapi kepala layanan keuangan NASA, Elizabeth Robinson, pada Selasa (4/3/2014) mengatakan bahwa peluncuran misi itu ditargetkan terlaksana pada 2020-an.

Robinson mengatakan, lingkungan beradiasi tinggi di sekitar Yupiter, dan jarak dari Bumi, akan menjadi tantangan dalam misi ini. Ketika NASA mengirimkan misi Galileo ke Yupiter pada 1989, pesawat ruang angkasa tersebut butuh waktu enam tahun untuk sampai ke planet yang berada di urutan kelima dari matahari itu.

Astronom dari Rensselaer Polytechnic Institute, Laurie Leshin, mengatakan bahwa rencana NASA ini dapat disebut sebagai sebuah misi berani untuk mengetahui kondisi obyek yang memang sangat menarik dalam sistem tata surya Bimasakti.

Misi-misi NASA sebelumnya ke Europa, terutama misi Galileo, tak satu pun yang benar-benar terkonsentrasi pada satu dari puluhan satelit yang mengorbit mengitari Yupiter ini. Para astronom sudah sejak lama berupaya melobi misi khusus untuk Europa, tetapi terkendala biaya yang diperkirakan mencapai miliaran dollar AS.

Pada 2013, para ilmuwan mendapati semburan air melalui permukaan es Europa. "Mendekati permukaan satelit tersebut, melalui jalur semburan itu, bakal memangkas biaya eksplorasi. Biayanya lebih murah dibandingkan berputar-putar mengitari "bulan" itu ataupun mendarat di atas permukaan es-nya," kata ilmuwan NASA yang menangani Europa, Robert Pappalardo.

Banyak ide akan dikembangkan terkait rencana misi ke Europa. Robinson pun mengakui bahwa banyaknya ide itu menyebabkan biaya yang dibutuhkan untuk misi tersebut belum dapat diperkirakan untuk saat ini. Menurut dia, misi utama ke Europa adalah mencari jejak kehidupan di cairan yang diduga ada di bawah lapisan es.

Astronom dari Harvard University, Avi Loeb, mengatakan bahwa misi ke Europa akan lebih menarik daripada menjelajahi Mars yang kering. "Mungkin ada ikan di bawah es (Europa)," ujar dia.

Cincin Planet Jupiter




Yupiter memiliki cincin yang sangat tipis ,berwarna hampir sama denganatmosfernya dan sedikit memantulkan cahaya matahari. Cincin Yupiter terbentuk atas materi yang gelap kemerah-merahan. Materi pembentuknya bukanlah dari es seperti Saturnus melainkan ialah batuan dan pecahan-pecahan debu. Setelah diteliti, cincin Yupiter merupakan hasil dari gagal terbentuknya satelit Yupiter.Cincin yupiter sangat besar

Planet Jupiter





Jupiter adalah planet terdekat kelima dari matahari setelah Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.
Jarak rata-rata antara Yupiter dan Matahari adalah 778,3 juta km. Jupiter adalah planet terbesar dan terberat dengan diameter 149.980 km dan memiliki massa 318 kali massa bumi. Periode rotasi planet ini adalah 9 jam 55 menit, sedangkan periode revolusi adalah 11,86 tahun.
Di permukaan planet ini terdapat bintik merah raksasa yang disebut Badai Besar Abadi. Atmosfer Yupiter mengandunghidrogen (H), helium (He), metana (CH4) dan amonia (NH3). Lapisan atas atmosfer Yupiter terdiri dari 88 - 92% hidrogen dan 8 - 12% helium. Suhu di permukaan planet ini berkisar dari -140oC sampai dengan 21oC. Seperti planet lain, Yupiter tersusun atas unsur besi dan unsur berat lainnya. Jupiter memiliki 68 satelit, di antaranya Io, Europa, Ganymede, Callisto(Galilean moons).

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Jupiter_(planet)

Dua Bulan Baru di Temukan Di Planet Jupiter




WASHINGTON-Penemuan astronom di amerika adalah kemunculan dua bulan baru yang mengorbit planet Jupiter. dua bulan baru Jupiter itu disebut S/2011 J1 dan  S/2011 J2. 



Kedua  bulan tersebut diidentifikasi menggunakan  Magellan Baade Telescope di  Las Campanas Observatory,  Chile, pada 27 September  2011 lalu. dengan penemuan  tersebut, jumlah bulan di  planet terbesar tata Surya itu menjadi 66 buah. dua bulan yang ditemukan  merupakan anggota dari objek  terkecil di Tata Surya. diameter  kedua bulan baru Jupiter itu  hanya sekitar 1 km. Tak seperti  empat bulan besar Jupiter lain  yang mudah dilihat dengan  teleskop sederhana, kedua  bulan ini tampak amat redup  sehingga sulit diamati. 

Jarak kedua bulan dengan  Jupiter amat jauh sehingga  butuh waktu 580 hari dan 726  hari bagi kedua bulan untuk  mengelilingi Jupiter. “Bulan-bulan ini adalah  bagian dari kawanan objek retrograde terluar di  sekeliling Jupiter,” kata ilmuwan dari  department  of Terrestrial Magnetism di  Carnegie Institute for Science,  Washington, Scott Sheppard  seperti dikutip dari National  Geographic.

Retrograde adalah bulan  atau satelit yang mengorbit  berlawanan dengan arah rotasi planet. S/2011 J1 dan  S/2011 J2 adalah dua dari 52  bulan Jupiter yang termasuk  retrograde. Sheppard mengatakan  bahwa Jupiter kemungkinan  memiliki lebih banyak satelit  lagi. di antara banyak satelit, banyak yang merupakan  bulan-bulan mini layaknya  S/2011 J1 dan S/2011 J2.

Ilmuwan mengungkapkan,  S/2011 J1 dan S/2011 J2 termasuk dalam jenis bulan  ireguler, mengorbit planet 
pada jarak jauh serta memiliki  orbit eksentrik dan cenderung  miring. Karena karakteristik  orbit itu, kedua bulan itu diperkirakan adalah sebuah komet atau asteroid yang di masa  lalu “tertangkap” oleh gaya  gravitasi Jupiter, kemudian  berubah status menjadi bulan. “Karena bulan-bulan ireguler ini tertangkap pada masamasa awal Tata Surya, mereka  bisa memberi petunjuk bagaimana planet terbentuk dan  proses evolusinya,” ungkap  Sheppard.

Jupiter memiliki empat  satelit besar dan terkenal,  yakni Io, Ganymede,  europa  dan Callisto. Biasanya, bulan Jupiter diberi nama berdasarkan nama dewa Romawi  dan Yunani. Publik mungkin  mendambakan nama yang  lebih familiar pada dua bulan  baru yang baru saja ditemukan.  Tapi, nama itu baru akan  diberikan setelah observasi terhadap bulan baru dilakukan  setidaknya selama satu tahun. Penemuan dua bulan baru Jupiter ini diumumkan  di Central Bureau for  astronomical Telegrams, International astronomical union,  minggu lalu


Sumber : http://fajar.co.id/pdf/zoom/pages/7.pdf

Problem Tiga Benda (The Three-body Problem) dan Titik Lagrange







1. Peredaran  satelit mengelilingi planet,  mengalami pengaruh gravitasi dari  satelit lain dan dalam bentuk tekanan  gravitasi Matahari. Menghitung orbit  harus diselesaikan dengan teori N-body problem.  

2. Dalam beberapa kasus, three-body problem dapat digunakan untuk  menggambarkan gerak objek kecil dalam bidang gravitasi Matahari dan  planet atau dalam bidang planet dan satelit. Pada titik tertentu akan ditemukan  suatu posisi kesetimbangan gravitasi. Titik ini dikenal sebagai Titik Lagrang.  Tiga dari  lima titik Lagrange berada di garis hubung satelit-planet (matahari  – planet) dan dua  titik lainnya merupakan puncak dari segitiga samasisi  

3. Kasus seperti ini ditemukan pada asteroid kelompok  Trojan, yang bergerak  dalam orbit Jupiter di dua titik Lagrangian L4 dan L5 yang membentuk sudut,  60° satu kelompok berada di depan  dan kelompok lainnya berlokasi di  belakang Jupiter

Susunan Tata Surya



Tata surya (Solar System) terdiri dari matahari, planet, serta benda-benda langit  lainnya seperti satelit, komet, meteor, dan  asteroid. Tata surya dipercaya terbentuk  sejak 4.600 juta tahun yang lalu, yang merupakan hasil penggumpalan gas debu di  angkasa yang membentuk matahari dan kemudian planet-planet yang mengelilingi  matahari. Matahari mengandung sekitar 99,87% bahan pembentuk seluruh tata surya.  Ada dua paham yang berhubungan dengan tata surya, yaitu paham geosentris dan  paham heliosentris. Paham geosentris  dikembangkan oleh Claudius Ptolemaeus  (Ptolemy) sekitar tahun 150 T.M. Menurut paham geosentris, bumi merupakan pusat  dari jagad raya. Bulan berputar mengelilingi bumi dengan orbit yang paling dekat,  sementara bintang-bintang terletak pada bulatan angkasa yang besar dan berputar  pada orbit yang paling jauh.


Paham geosentris bertahan hingga abad ke-16. Baru pada sekitar tahun 1543  terjadi revolusi ilmiah besar-besaran yang dilakukan oleh Copernicus. Copernicus  menggantikan paham geosentris dengan paham baru yang disebut paham  heliosentris. Menurut paham heliosentris,  yang menjadi pusat jagat raya bukanlah  bumi, melainkan matahari. Matahari berada pada pusat alam semesta, sedangkan  bumi beserta planet-planet yang lainnya  bergerak mengelilingi matahari pada  orbitnya masing-masing. Paham heliosentris mendapat dukungan dari Kepler.   Pada tahun 1609 Kepler mendukung gagasan tersebut dengan mengemukakan  tiga hukumnya yang selain menyebutkan bahwa  matahari sebagai pusat dari tata  surya, juga memperbaiki orbit planet menjadi elips. Pada tahun yang sama Galileo  menemukan teleskop. Melalui pengamatan dengan teleskop Ia menarik kesimpulan bahwa yang menjadi pusat tata surya bukan bumi, melainkan matahari. Penemuan  teleskop oleh Galileo tidak hanya menguatkan paham heliosentris dari Cpernicus,  tetapi membuka lembaran baru dalam perkembangan ilmu astronomi. 


Flag Country

free counters