Bukti Big Bang di Atmosfer Hanyalah Gangguan Debu?



Sejumlah peneliti mengkritik temuan astronom yang sebelumnya mengaku telah menemukan bukti kuat teori Bing Bang. Pada musim semi lalu, astronom Bicep itu mengumumkan bahwa bukti teori Bing Bang itu berupa riak di angkasa.

Namun, sejumlah peneliti yang menggunakan data satelit Planck, milik Badan Antariksa Eropa, menyebut riak yang digembar-gemborkan tim Bicep sebagai bukti Bing Bang itu, tak lebih dari gangguan kosmik belaka.

Seperti dilansir Time edisi 22 September 2014, peneliti Planck kemudian menjabarkan hasil penelitian itu di jurnal Astronomy and Astrophysics, pekan ini.

Temuan tim Planck itu mengkritisi penelitian yang dilakukan tim pimpinan John Kovac dari Harvarad-SMithsonian Center for Astrophysics. Tim ini mengaku yang melihat riak di angkasa saat menggunakan teleskop kuat Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization 2 (Bicep 2). Tim Bicep ini juga menyebut bahwa riak bukti Bing Bang itu adalah gelombang gravitasi.

Sebaliknya, tim Planck menyebut bahwa debu antariksa dalam jumlah banyak kemungkinan menghalangi pandangan para astronom Bicep itu. Bahkan, peneliti Planck menyebut, debu-debu itu kemungkinan membentuk riak yang kemudian dilihat tim Bicep.

Meski demikian, tim Planck tidak bisa memastikan sejauh mana debu-debu antariksa itu mempengaruhi atau "mengganggu" hasil penelitian tim Bicep tersebut. 

"Kami menunjukkan bahwa di area debu yang memancar paling samar, tidak ada jendela yang 'jernih' di langit," ujar peneliti Planck pimpinan Jean-Loup Puget itu. 

Untuk memastikan kebenaran hasil pengamatan, tim Bicep dan Planck akan mengolaborasikan temuan mereka dalam sebuah temu ilmiah. Dilaporkan uji peneliti itu akan muncul paling lambat akhir tahun ini. 

Temuan peneliti itu untuk memastikan kesimpulan yang lebih rinci tentang apa yang dilihat dan diamati oleh tim Bicep.


Biografi Stephen Hawking




Stephen Hawking lahir pada 8 Januari 1942 dari pasangan Dr. Frank Hawking, seorang biolog, dan Isobel Hawking. Ia memiliki dua saudara kandung, yaitu Philippa dan Mary, dan saudara adopsi, Edward.Orang tua Hawking tinggal di North London dan pindah ke Oxford ketika ibu Hawking sedang mengandung dirinya untuk mencari tempat yang lebih aman. (London saat itu berada dibawah serangan Luftwaffe Jerman). Setelah Hawking lahir, keluarga mereka kembali ke London. Ayahnya lalu mengepalai divisi parasitologi di National Institute for Medical Research. Pada tahun 1950, Hawking dan keluarganya pindah ke St Albans, Hertfordshire.

Di sana ia bersekolah di St Albans High School for Girls dari tahun 1950 hingga 1953 (pada masa itu, laki-laki dapat masuk ke sekolah perempuan hingga usia sepuluh tahun). Dari usia sebelas tahun, Hawking bersekolah di St Albans. Stephen Hawking adalah seorang ahli fisika teoretis. Ia adalah seorang profesor Lucasian dalam bidang matematika di Universitas Cambridge dan anggota dari Gonville and Caius College, Cambridge. Ia dikenal akan sumbangannya di bidang fisika kuantum, terutama karena teori-teorinya mengenai teori kosmologi, gravitasi kuantum, lubang hitam, dan radiasi Hawking. Salah satu tulisannya adalah A Brief History of Time, yang tercantum dalam daftar bestseller di Sunday Times London selama 237 minggu berturut-turut. Di tahun 2010 Hawking bersama Leonard Mladinow menyusun buku The Grand Design.

Meskipun mengalami tetraplegia (kelumpuhan) karena sklerosis lateral amiotrofik, karier ilmiahnya terus berlanjut selama lebih dari empat puluh tahun. Buku-buku dan penampilan publiknya menjadikan ia sebagai seorang selebritis akademik dan teoretikus fisika yang termasyhur di dunia. Hawking selalu tertarik pada ilmu pengetahuan. Ia terinspirasi dari guru matematikanya yang bernama Dikran Tahta untuk mempelajari matematika di universitas. Ayahnya ingin agar Hawking masuk ke University College, Oxford, tempat ayahnya dulu bersekolah. Hawking lalu mempelajari ilmu pengetahuan alam. Ia mendapat beasiswa, dan lalu berspesialisasi dalam fisika.

Setelah menerima gelar B.A. di Oxford pada 1962, ia tetap tinggal untuk mempelajari astronomi. Ia memilih pergi ketika mengetahui bahwa mempelajari bintik matahari tidak sesuai untuknya dan Hawking lebih tertarik pada teori daripada observasi. Hawking lalu masuk ke Trinity Hall, Cambridge. Ia mempelajari astronomi teoretis dan kosmologi. Segera setelah tiba di Cambridge, gejala sklerosis lateral amiotrofik (ALS) yang akan membuatnya kehilangan hampir seluruh kendali neuromuskularnya mulai muncul. Pada tahun 1974, ia tidak mampu makan atau bangun tidur sendiri. Suaranya menjadi tidak jelas sehingga hanya dapat dimengerti oleh orang yang mengenalnya dengan baik. Pada tahun 1985, ia terkena penyakit pneumonia dan harus dilakukan trakeostomi sehingga ia tidak dapat berbicara sama sekali. Seorang ilmuwan Cambridge membuat alat yang memperbolehkan Hawking menulis apa yang ingin ia katakan pada sebuah komputer, lalu akan dilafalkan melalui sebuah voice synthesizer'

Hawking meyakini bahwa kehidupan ekstraterestrial memang ada, dan ia menggunakan basis 
matematis untuk asumsinya. "Menurut otak matematisku, angka menunjukan bahwa keberadaan alien sangatlah rasional. Tantangan terbesar adalah memperkirakan seperti apakah alien itu." Ia meyakini bahwa alien tidak hanya ada di planet-planet, tetapi mungkin juga di tempat lain, seperti bintang atau mengapung di angkasa luas. Hawking juga memperingati bahwa beberapa spesies alien mungkin memiliki peradaban yang maju dan dapat mengancam Bumi. Hubungan dengan spesies seperti itu dapat membahayakan seluruh umat manusia. Ia mengatakan, "Jika alien mengunjungi kita, hasilnya akan sama seperti ketika Columbus mendarat di Amerika, yang tidak berakhir baik bagi penduduk asli Amerika". Hawking juga menyarankan, daripada mencoba menghubungi alien, sebaiknya kita menghindari hubungan dengan

Hawking menikah dengan Jane Wilde, seorang murid bahasa, pada tahun 1965. Jane Hawking mengurusnya hingga perceraian mereka pada tahun 1991. Mereka bercerai karena tekanan ketenaran dan meningkatnya kecacatan Hawking. Mereka telah dikaruniai tiga anak: Robert (lahir 1967), Lucy (lahir 1969), dan Timothy (lahir 1979). Hawking lalu menikahi perawatnya, Elaine Mason (sebelumnya menikah dengan David Mason, perancang komputer bicara Hawking), pada tahun 1995. Pada Oktober 2006, Hawking meminta bercerai dari istri keduanya.

Ketika ditanyakan mengenai IQnya pada tahun 2004, Hawking menjawab, "Saya tidak tahu. Orang yang membanggakan IQnya adalah seorang pecundang." 

Hawking mengambil posisi agnostik dalam masalah agama. Ia telah menggunakan kata "Tuhan" (secara metaforis) untuk menggambarkan poin dalam buku-buku dan pidatonya. Mantan istrinya, Jane, menyatakan saat proses perceraian bahwa Hawking adalah seorang ateis. Hawking menyatakan bahwa ia "tidak religius secara akal sehat" dan ia percaya bahwa "alam semesta diatur oleh hukum ilmu pengetahuan. Hukum tersebut mungkin dibuat oleh Tuhan, tetapi Tuhan tidak melakukan intervensi untuk melanggar hukum." Hawking membandingkan agama dan ilmu pengetahuan pada tahun 2010, menyatakan: "Terdapat perbedaan mendasar antara agama, yang berdasarkan pada otoritas, [dan] ilmu pengetahuan, yang berdasarkan pada observasi dan alasan. Ilmu pengetahuan akan menang karena memang terbukti."

Pada September 2010, The Telegraph melaporkan, "Stephen Hawking telah menyatakan bahwa Tuhan bukan pencipta alam semesta". Hawking menulis dalam bukunya, The Grand Design, bahwa "Karena adanya hukum seperti gravitasi, tata surya dapat dan akan membentuk dirinya sendiri. Penciptaan spontan adalah alasannya mengapa sekarang ada 'sesuatu' dan bukannya kehampaan, mengapa alam semesta ada dan kita ada. Tidak perlu memohon kepada Tuhan untuk memulai segalanya dan menggerakan alam semesta."



Dari Kutub Selatan Muncul Jejak "Big Bang" dan Bukti Baru Teori Einstein





WASHINGTON, KOMPAS.com — Ilmuwan Amerika Serikat, Senin (17/3/2014), mengklaim untuk pertama kalinya mendeteksi getaran gelombang gravitasi setelah Big Bang, awal dari kelahiran semesta. Temuan ini pun disebut mengonfirmasi bagian terakhir teori relativitas umum Albert Eisntein.

Gelombang tersebut merupakan bukti dari ledakan yang kemudian tumbuh dengan cepat selama 14 miliar tahun terakhir sekaligus menjadi elemen yang ditunggu-tunggu untuk membuktikan bagian terakhir Einstein yang telah berusia hampir seabad tersebut. 

"Ini adalah bukti langsung pertama tentang inflasi kosmik," ujar pernyataan pakar dari Pusat Astrofisika Harvard-Smithsonian. Temuan ini merupakan hasil dari pengukuran cahaya tertua di alam semesta yang proses penelitiannya mendapat bantuan dari sebuah teleskop yang berlokasi di Kutub Selatan.

Hasil dari penelitian ini disebut bakal menjadi kandidat kuat penerima Nobel Fisika berikutnya. Temuan tersebut berupa gelombang yang bergerak melalui ruang dan waktu, oleh para pakar disebut sebagai "getaran pertama dari Big Bang".

Deteksi gelombang ini mengonfirmasi koneksi integral antara teori relativitas umum Einstein dan konsep mekanika kuantum. "Mendeteksi sinyal ini adalah salah satu tujuan paling penting dalam kosmologi saat ini," kata John Kovac, koordinator pakar di lembaga riset astrofisika tersebut.

Menurut Kovac, teleskop di Kutub Selatan merupakan lokasi yang bisa ditemukan di bumi yang paling dekat posisinya dengan ruang angkasa. "Dan masih melekat di tanah," tegas dia. Kovac mengatakan, lokasi teleskop itu adalah salah satu yang paling kering dan bersih di bumi, sempurna untuk mengamati gelombang mikro samar jejak Big Bang.

Lubang di selatan

Teleskop tersebut mengamati area khusus di langit yang dikenal sebagai "lubang di selatan", di luar galaksi Bimasakti. Di sana ada sedikit debu atau kelebihan material dasar galaksi yang dapat digunakan untuk "mengintip" angkasa menggunakan peralatan canggih.

Dengan mengamati gelombang mikro kosmik alias cahaya samar yang tersisa dari Big Bang ini, sebuah fluktuasi kecil akan menjadi petunjuk baru untuk para ilmuwan tentang kondisi pada saat awal semesta.

Gelombang gravitasi merambat melalui semesta, 380.000 tahun setelah Big Bang. Gambar gelombang ini tertangkap oleh teleskop di Kutub Selatan. "Ini memang sesuatu yang sulit dipahami, sesuatu yang seperti ini dan benar-benar ditemukan," tutur Clem Pryke, profesor University of Minnesota, saat mengumumkan temuan ini di Boston.

Rumor soal temuan tersebut mulai beredar sejak Jumat (14/3/2014). Para ilmuwan mengatakan mereka telah menghabiskan waktu selama tiga tahun untuk menganalisis temuan mereka sekaligus menepis kemungkinan kesalahan. "Ini seperti mencari jarum di tumpukan jerami tapi kami (malah) menemukan linggis," ujar Pryke memberikan analogi.

Pakar dari Harvard, Avi Loeb, mengatakan, temuan tersebut memberikan informasi baru untuk beberapa pertanyaan mendasar manusia. "(Seperti), mengapa kita ada? Bagaimana alam semesta bermula?" sebut dia. "Temuan ini tak hanya membuktikan soal inflasi (kosmik) tetapi juga memberi tahu kita waktu terjadinya inflasi itu dan kekuatan proses inflasi tersebut," imbuh Loeb. 

Sementara itu, fisikawan teori Alan Guth yang memunculkan gagasan soal inflasi tersebut pada 1980 menggambarkan temuan ini layak mendapatkan Nobel Fisika. "Ini benar-benar baru, sepotong bukti kosmologi yang cocok menggambarkan inflasi (kosmik) itu," ujar pakar dari Massachusetts Institute of Technology tersebut, sebagaimana dikutip jurnal Nature .

Temuan Manuskrip Mengungkap Gagasan Einstein yang "Hilang"

TRIBUNSUMSEL.COM - Ilmuwan mengungkap manuskrip Albert Einstein yang tidak pernah disadari keberadaannya. Manuskrip itu mengungkap teori Einstein yang tak pernah dipublikasikan sebelumnya.
Manuskrip yang ditulis pada tahun 1931 itu mengungkap gagasan Einstein tentang awal mula alam semesta. Einstein berpandangan bahwa alam semesta tak serta-merta tercipta lewat satu peristiwa Dentuman Besar.
Gagasan Einstein itu sama dengan gagasan astronom Inggris, Fred Hoyle, yang kini tumbang. Pada akhir tahun 1940-an, Hoyle juga mengungkapkan bahwa semesta tidak tercipta lewat satu peristiwa Dentuman Besar.
Menurut Hoyle, semesta berkembang. Semesta berada dalam keadaan steady state, memiliki kemampatan yang sama meskipun terus mengambang. Hal itu mungkin terjadi karena materi atau partikel baru terus-menerus tercipta.
Hoyle mengutarakan, partikel-partikel kemudian akan bergabung membentuk bintang, galaksi, dan lainnya sehingga menyisakan ruang. Hal tersebut terjadi pada kecepatan yang pas sehingga bisa mengambil ruang yang ada seiring alam semesta mengembang.
Fakta bahwa Einstein memiliki gagasan yang sama, kata Cormac O’Raifeartaigh, fisikawan dari Waterford Institute of Technology di Irlandia yang menemukan manuskrip itu, menunjukkan bahwa gagasan semesta yang steady state telah muncul sejak sebelum Hoyle.
Tak seperti saat ini, teori Dentuman Besar pada masa lalu masih diperdebatkan. Teori Dentuman Besar sendiri mulai berkembang dari hasil observasi Edwin Hubble yang menemukan bahwa galaksi terus bergerak menjauh yang bisa jadi indikasi bahwa semesta dulu lebih mampat.
Manuskrip Einstein itu sebenarnya telah tersimpan lama di Albert Einstein Archives di Jerusalem dan bisa diakses secara bebas di situs web organisasi itu. Namun, manuskrip itu awalnya dikira bagian dari manuskrip lain.
O’Raifeartaigh yang menemukan manuskrip itu mengaku sangat kaget. Dikutip dari Nature, Senin (24/2/2014), ia mengaku bahwa ia "hampir jatuh dari kursi ketika menyadari isi manuskrip tersebut".
O’Raifeartaigh dan rekannya kemudian mengirim temuannya sekaligus terjemahannya dalam bahasa Inggris (dari naskah asli yang semula berbahasa Jerman) ke server publikasi ilmiah arXiv. Saat ini, naskah temuan sudah masuk ke jurnal European Physical Journal.
Kosmolog James Peebles dari Princeton University di New Jersey mengungkapkan, manuskrip itu mungkin "naskah kasar yang dimulai dari kegembiraan karena memiliki ide lalu segera ditinggalkan karena penulisnya akhirnya menyadari bahwa ia telah membodohi dirinya sendiri."
Namun, fakta bahwa Einstein masih berkutat dengan idenya membuktikan bahwa ia saat itu masih resistan dengan gagasan tentang Dentuman Besar. Einstein menganggap, teori itu "keji", walaupun ilmuwan lain menunjukkan bahwa itu konsekuensi umum dari teori relativitas umum yang dikembangkannya sendiri.
Helge Kragh, sejarawan ilmu pengetahuan dari Aarhus University, mengatakan, "Apa yang yang ditunjukkan oleh manuskrip itu adalah, walaupun pada akhirnya menerima Dentuman Besar, Einstein tak begitu senang dengan fakta bahwa semesta berubah."

Adakah Proses yang Berlawanan dengan Big Bang?



JAKARTA, KOMPAS.com - Teori yang paling populer tentang penciptaan alam semesta adalah Dentuman Besar alias Big Bang. Dari proses itu, semesta tercipta dan mengembang.

Satu pertanyaan menggelitik kemudian. Adakah proses yang berlawanan dengan Big Bang tersebut? Situs astronomi Langitselatan menguraikan bahwa memang ada proses yang berlawanan dengan Big Bang, bernama Big Crunch? Seperti apa Big Crunch dan bagaimana prosesnya? Berikut uraiannya.

The Big Crunch adalah salah satu skenario akhir alam semesta. Kita tahu alam semesta saat ini diamati mengalami pemuaian ruang. Kita juga bisa menghitung laju seberapa cepat alam semesta memuai dan ini dinyatakan dalam besarnya konstanta Hubble.

Dengan mengetahui seberapa cepat alam semesta memuai, kita dapat menghitung seberapa besar gaya gravitasi yang dibutuhkan objek-objek alam semesta untuk dapat menghentikan pemuaian alam semesta. Gaya gravitasi total objek-objek di alam semesta bergantung pada kepadatan alam semesta, dan kepadatan yang dibutuhkan untuk menghentikan pemuaian alam semesta disebut kepadatan kritis dan dinyatakan dengan simbol ?c.


LangitselatanModel Alam Semesta

Apabila kepadatan alam semesta lebih besar dari kepadatan kritis, maka artinya gaya gravitasi alam semesta cukup besar untuk dapat menghentikan pemuaian alam semesta. Alam semesta akan runtuh dan menciut hingga akhirnya berkumpul di satu titik. Titik inilah yang dinamakan Big Crunch.

Alternatif lain (Gambar 1) juga dapat diperkirakan. Apabila kepadatan alam semesta sama dengan kepadatan kritis, maka gaya gravitasi alam semesta mampu menghentikan pemuaian alam semesta namun alam semesta akan terus menerus mengembang dengan kecepatan yang semakin lambat. Bila kepadatan alam semesta lebih kecil dari kepadatan kritis, maka alam semesta kita akan terus mengembang dipercepat.

Hasil pengamatan satelit WMAP menyimpulkan bahwa kepadatan alam semesta memang mendekati kepadatan kritis, namun nampaknya alam semesta mengembang dipercepat

Seandainya Big Crunch memang akan terjadi, ada berbagai teori yang mengijinkan terjadinya Big Bang setelah terjadinya Big Crunch. Artinya Big Bang yang merupakan awal kelahiran sebuah alam semesta juga sekaligus adalah akhir dari alam semesta sebelumnya (Gambar 2).


LangitselatanAlam Semesta Siklik

Dentuman Besar (Big-bang) Analoginya


Bukti Keberadaan Dentuman Besar (Big Bang)


• Pengembangan Alam Semesta
– Alam semesta steady-state

• The Cosmic Microwave Background
– Penzias and Wilson
      • Akhir teori steady-state

• Kelimpahan Unsur Ringan
– Hidrogen, helium, and lithium

Gugus Galaksi







Seperti halnya bintang-bintang berkelompok dalam galaksi, galaksi-galaksi juga berkelompok  membentuk gugus-gugus galaksi. Bima Sakti dan Andromeda beserta sekitar 25 galaksi  sekitarnya (termasuk Awan Magellan Besar dan Awan Magellan Kecil) membentuk sebuah gugus galaksi yang kita namakan Rumpun Lokal (lihat juga model 3D Rumpun Lokal). Gugus  galaksi pun bukannya hanya satu. Ada beribu-ribu gugus galaksi lain selain Rumpun Lokal.  Misalnya saja Gugus Virgo yang beranggotakan sekitar 2.500 buah galaksi. Gugus-gugus  galaksi yang saling berdekatan membentuk kelompok yang lebih besar lagi yang kita sebut  superkluster. Rumpun Lokal (gugus galaksi tempat Bima Sakti berada) bersama-sama dengan  gugus-gugus galaksi sekitarnya membentuk superkluster yang kita namakan Superkluster  Virgo. 

Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh Milton Humason dan Edwin Powell Hubble,  diperoleh kesimpulan bahwa galaksi-galaksi bergerak menjauhi Bumi (yang berarti menjauhi  Bima Sakti) dengan kecepatan yang berbanding lurus dengan jarak galaksi tersebut. Semakin  jauh sebuah galaksi terhadap pengamat, semakin besar kecepatan menjauhnya. Hal ini  teramati dari spektrum galaksi-galaksi tersebut yang mengalami  pergeseran merah.  Ini adalah pembuktian dari teori kosmologi yang meramalkan bahwa alam semesta  mengembang. Dan galaksi-galaksi ini dibawa oleh ruang yang mengembang. Pengembangan  alam semesta inilah yang menyebabkan spektrum dari galaksi-galaksi yang berada semakin  jauh dari kita semakin besar pergeseran merahnya. Pergeseran merah yang disebabkan oleh  ruang yang mengembang ini disebut pergeseran merah kosmis (pergeseran merah ekspansi).  Dengan menganalisa spektrum cahaya galaksi, kita bisa mengetahui seberapa cepat sebuah  galaksi menjauhi kita dengan melihat seberapa besar pergeseran spektrum galaksi tsb.




Gambar 4. Galaksi-galaksi (titik-titik di peta) tidak tersebar merata, tetapi cenderung mengelompok membentuk  gugus-gugus galaksi. Sumber data (30.000 galaksi) diambil dari katalog galaksi (Image: Tsafrir S. Kolatt, Avishai Dekel)


Jika sekarang yang kita amati adalah galaksi-galaksi saling menjauhi, ini berarti pada masa  lalu jarak antar galaksi lebih dekat dibanding sekarang. Dan jika waktu kita telusur terus ke  belakang, kita akan tiba pada waktu ketika galaksi-galaksi itu saling bersentuhan, saling  bertumpuk menjadi satu. Dari sinilah lahirnya teori Dentuman Besar (Big Bang), yaitu teori  terbaik yang kita miliki sekarang ini untuk menerangkan awal dari alam semesta. Teori ini  menyatakan bahwa alam semesta bermula dari suatu keadaan terkompresi/terpadatkan  dengan kerapatan yang tak terhingga besarnya, dan mulai mengembang semenjak suatu  masa tertentu yang kita namakan Dentuman Besar. Dentuman Besar ini diperkirakan terjadi  sekitar 10-20 milyar tahun yang lalu. Dari situlah seluruh materi ruang dan waktu berasal,  termasuk manusia. 



Teori Big Bang



Teori big bang dikemukakan oleh ilmuwan Belgia Abbè Georges Lemaitre  pada tahun 1927. Menurut teori Big Bang, alam semesta berasal dari keadaan panas  dan padat yang mengalami ledakan dahsyat dan mengembang. Semua galaksi di  alam semesta akan memuai dan menjauhi pusat ledakan. Pada model big bang, alam  semesta berasal dari ledakan sebuah konsentrasi materi tunggal milyaran tahun yang  lalu secara terus menerus berkembang sehingga lama kelamaan menjadi lebih dingin  seperti sekarang.  

 Mengenai teori big bang orang-orang banyak yang bertanya, dimana dentuman  besar (big bang) itu terjadi? 

Pertanyaan ini muncul karena pada saat terjadi ledakan, susunan big bang merupakan seluruh alam semesta. Ledakan tersebut tidak  melemparkan materi ke ruangan. Ruangan mengembang dengan waktu tertentu dan 
terbentuklah alam semesta. Pemahaman mengenai teori big bag  ini dapat di analogikan dengan  mengembangnya permukaan balon mainan yang ditiup. Apabila pada balon mainan  tersebut diberi beberapa titik yang menggambarkan galaksi, kemudian balon itu  ditiup, maka Anda akan mengamati letak titik-titik yang menjauhi Anda. Anda tidak  peduli mengamati titik yang mana, namun hasilnya akan sama. Titik-titik pada balon  tersebut tidak ada pusatnya. Demikian pula pada galaksi tidak ada bagian pusat  dalam alam semesta. Anda dapat memperhatikan pula bahwa permukaan balon  tersebut tidak mempunyai tepi. Ini juga menjelaskan bahwa alam semesta juga tidak  mempunyai tepi.  Fakta menjauhnya bintang-bintang dapat digambarkan sebagai suatu balon  karet yang ditiup, dimana setiap titik pada permukaan balon karet akan saling  menjauh . 




Asal Mula Terbentuknya Galaksi


Teori Steady State

Teori ini berpendapat bahwa materi yang hilang melalui resesi galaksigalaksi, karena pengembungan alam  yang berlangsung terus menerus digantikan  oleh materi yang baru saja tercipta sehingga alam semesta yang terlihat tetap berada dalam keadaan tidak berubah (stady state), artinya bahwa materi secara  terus menerus tercipta diseluruh alam semesta. Teori ini sama sekali tidak  menyebut peristiwa awal yang bersifat khusus pada waktu atau ruang. Tidak  ada  awal maupun akhir karena materi diperbarui secara terus menerus di satu tempat sementara di tempat lain dihancurkan.

Teori Ekspansi dan Kontraksi

Teori ini berpendapat bahwa ada suatu siklus di jagat raya. Satu siklus  mengalami satu masa ekspansi dan satu masa kontraksi. Satu siklus diperkirakan  berlangsung selama 30 milyar tahun. Dalam masa ekspansi terbentuklah galaksigalaksi serta bintang-bintang di dalamnya. Ekspansi ini diakibatkan oleh adanya  reaksi inti hydrogen yang pada akhirnya membentuk unsur-unsur lain yang  komplek. Pada masa kontraksi, galaksi-galaksi dan bintang-bintang yang telah  terbentuk meredup dan unsure-unsur yang telah terbentuk menyusut dengan mengeluarkan tenaga berupa panas yang sangat tinggi. Disebut juga Oscillating  Theory (teori mengembang dan memampat).

Teori Big – Bang

Keberadaan awal pada peristiwa besar ini melengkapi ketidaktahuan  manusia tentang awal mula alam semesta dan merupakan bahan dari spekulasi  sesungguhnya yang mempunyai dasar kuat.Teori ini mengasumsikan sekitar 15 milyar tahun lalu  dimulai dari ledakan yang dahyat dan  dilanjutkan  dengan pengambangan alam semesta. Point penting.



dari semua peristiwa ini adalah waktu,  materi , energi dan ruang merupakan satu  keterpaduan. Kejadian ini bukan ledakan biasa tetapi cukup memenuhi semua  peristiwa dari ruang dengan semua partikel yang menjadi embrio alam semesta  yang mendesak keluar dari masing-masing yang lain.  Telah dijelaskan sebelumnya Big bang adalah teori ilmu pengetahuan yang  menjelaskan perkembangan dan bentuk awal dari alam semesta. Ide sentral dari  teori ini adalah bahwa teori relativitas umum dapat dikombinasikan dengan hasil  pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain,  dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus. 

Konsekuensi alami dari Teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam semesta  punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi. Teori Big-Bang juga dikenal teori Super Dense, menyatakan bahwa jika  alam semesta mengembang pada skala tertentu, maka ketika kita pergi kembali ke  dalam waktu, kelompok-kelompok galaksi akan semakin mendekat dan  tentu  akan sampai pada suatu saat di mana semua materi, energi dan waktu yang  membentuk alam semeseta terkonsentrasi   pada suatu tempat  dalam bentuk  gumpalan  yang sangat padat ( super dense agglomeration). Dengan  bekerja  mundur , dari peringkat resesi galaksi-galaksi yang teramati, ditemukan bahwa  galaksi-galaksi  itu diduga telah berada berdekatan  satu sama lain sekitar 12  milyar tahun yang lalu. Dipostulasikan bahwa saat ini ledakan hebat menyebabkan  alam semesta mengembang 1030 kali atau lebih dari ukuran aslinya, sebagai akibatnya gumpalan yang sangat  padat dari materi dan energi  berserakan menjadi banyak bagian  yang semuanya berjalan dengan  kecepatan berbeda-beda ke arah  berbeda-beda pula.  Hasil dari  ledakan ini berkondensasi  membentuk benda-benda langit  seperti yang ada sekarang.  Pengembangan alam alam yang teramati ini merupakan kelanjutan dari proses ini.  

Teori berkonsentrasi pada peristiwa spesifik  sebagai „awal‟  alam semesta dan menampilkan suatu evolusi progresif sejak titik itu hingga sekarang.  Selama satu  abad terakhir, serangkaian percobaan, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan dengan menggunakan teknologi mutakhir, telah  mengungkapkan  tanpa ragu bahwa alam semesta   memiliki   permulaan. Para ilmuwan telah memastikan bahwa alam semesta berada dalam keadaan yang terus  mengembang. Dan mereka telah menyimpulkan bahwa, karena alam semesta  mengembang, jika alam ini dapat bergerak mundur dalam waktu, alam semesta ini  tentulah memulai pengembangannya dari sebuah titik tunggal. Sungguh,  kesimpulan yang telah dicapai ilmu pengetahuan saat ini adalah alam semesta  bermula dari ledakan titik tunggal ini. Ledakan ini disebut “Dentuman Besar” atau  Big-bang




Flag Country

free counters