Evaluasi Prestasi Psikomotor

Pengukuran ranah psikomotorik dilakukan terhadap hasil-hasil belajar yang berupa penampilan. Namun demikian biasanya pengukuran ranah ini disatukan atau dimulai dengan pengukuran ranah kognitif sekaligus. Misalnya: penampilan dalam penggunaan termometer diukur mulai dari pengetahuan mengenai alat tersebut, pemahaman tentang alat dan penggunaannya (aplikasi), kemudian baru cara menggunakannya dalam bentuk ketrampilan.
Cara yang dipandang tepat untuk mengevaluasi keberhasilan belajar yang berdimensi ranmah psikomotor (ranah karsa) adalah observasi. Observasi dalam hal ini, dapat diartikan sebagai jenis tes mangenai peristiwa, tingkah laku, atau fenomena lain, dengan pengamatan langsung. Guru yang hendak melakukan observasi perilaku psikomotor siswa-siswanya sayogyanya mempersiapkan langkah-langkah yang cermat dan sistematis menurut pedoman yang terdapat dalam lembar format observasi yang sebelumnya telah disediakan, baik oleh sekolah maupun oleh guru itu sendiri.

Evaluasi Prestasi Afektif

Dalam merencanakan penyusunan instrumen tes prestasi siswa yang berdimensi afektif (ranah rasa) jenis-jenis prestasi internalisasi dan karakterisasi seyogyanya mendapat perhatian khusus. Alasannya, karena kedua jenis prestasi ranah rasa itulah yang lebih banyak mengendalikan sikap dan perbuatan siswa.
Salah satu bentuk tes ranah rasa yang populer adalah “skala likert”. Skala ini disusun dalam bentuk suatu pernytaan dan diikuti oleh lima respon yang menunjukan tingkatan. Misalnya:
SS        = Sangat setuju
S          =  Setuju
TB       = Tidak berpendapat
TS       =  Tidak setuju
STS     =  Sangat tidak setuju

Skala ini bertujuan untuk mengidentifikasi kecendrungan sikap orang (Reber, 1988). Bentuk skala ini menampung pendapat yang mencerminkan sikap sangat setuju, ragu-ragu, tidak setuju dan sangat tidak setuju. Rentang skala ini diberi skor 1sampai 5 atau 1 sampai 7 bergantung kebutuhan dengan catatan skor-skor itu dapat mencerminkan sikap-sikap mulai sangat “ya” sampai “sangat tidak”. Perlu pula dicatat, untuk memudahkan identifikasi jenis kecendrungan afeksi siswa yang representatif, item-item skala sikap sebaiknya dilengkapi identitas sikap yang meliputi: doktrin, komitmen, penghayatan, wawasan.

Hal lain yang perlu diingat guru yang hendak menggunakan skala sikap ialah bahwa dalam evaluasi ranah rasa yang dicari bukan benar atau salah, melainkan sikap atau kecendrungan setuju atau tidak setuju. Jadi, tidak sama dengan evaluasi ranah cipta yang secara prinsipal bertujuan mengngkapkan kemampuan akal dengan batasan salah dan benar.

Bagaimana cara mengetahui hasil atau prestasi ranah rasa yang diukur denga skala-skala sikap diatas? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita dapat menemukan jawabannya dengan mempelajari buku-buku khusus mengenai evaluasi dan statistik pendidikan. Dari buku itu kita akan tahu bagaimana cara mengolah, menganalisis, dan menafsirkan serta menyimpulkan data hasil evaluasi ranah rasa para siswa.  

Evaluasi Prestasi Kognitif

Mengukur keberhasilan siswa yang berdimensi kognitif (ranah cipta) dapat dilakukan dengan berbagai cara, baik dengan tes  tertulis maupun tes lisan dan perbuatan. Karena semakin membengkaknya jumlah siswa di sekolah-sekolah, tes lisan dan perbuatan hampir tak pernah digunakan lagi. Alasan lain mengapa tes lisan khususnya kurang mendapat perhatian ialah karena pelaksanaannya yang face to face(berhadapan langsung).

Dampak negatif yang tak jarang muncul akibat tes yang face to face itu, ialah sikap dan perlakuan yang subjektif dan kurang adil, sehingga soal yang diajukan pun tingkat kesukarannya berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Di satu pihak ada siswa yang diberi soal yag mudah dan terarah (sesuai dengan topik) sedangkan di pihak lain adapula siswa yang ditanyai masalah yang sukar  bahkan terkadang tidak relevan dengan topik.

Untuk mengatasi masalah subjektifitas itu, semua jenis tes tetuis baik yang berbentuk subjektif maupun yang berbentuk objektif (kecuali tes B-S), seyogianya dipakai sebaik-baiknya oleh para guru. Namun demikian,apabila anda enghendaki informasi yang lebih akurat mengenai kemampuan kognitif siswa, selain tes B-S, tes pilihan berganda sebaiknya tidak digunakan. Sebagai gantinya, anda sangat dianjurkan untuk menggunakkan tes pencocokan (matchig test), tes isian, dan tes esai. Khusus untuk mengukur kemampuan analisis dan sintesis siswa, anda lebih dianjurkan untuk menggunakan tes esai, karena tes ini adalh satu-satunya ragam instrumen evaluasi yang paling tepat untuk mengevaluasi dua jenis kemampuan akal siswa tadi. 

MACAM-MACAM EVALUASI

Klasifikasi atau penggolongan evaluasi dalam bidang pendidikan sangat beragam. Sangat beragamnya ini disebabkan karena sudut pandang yang saling berbeda dalam melakukan kalsifikasi tersebut. Dalam hal ini, klasifikasi tentang evaluasi yang akan penulis jelaskan adalah evaluasi formatif, sumatif dan diagnosti
1.       EVALUASI FORMATIF
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir pembahasan suatu pokok bahasan / topik, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauh manakah suatu proses pembelajaran telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Winkel menyatakan bahwa yang dimaksud dengan evaluasi formatif adalah penggunaan tes-tes selama proses pembelajaran yang masih berlangsung, agar siswa dan guru memperoleh informasi (feedback) mengenai kemajuan yang telah dicapai. Sementara Tesmer menyatakan formative evaluation is a judgement of the strengths and weakness of instruction in its developing stages, for purpose of revising the instruction to improve its effectiveness and appeal. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengontrol sampai seberapa jauh siswa telah menguasai materi yang diajarkan pada pokok bahasan tersebut. Wiersma menyatakan formative testing is done to monitor student progress over period of time.
Dengan kata lain evaluasi formatif dilaksanakan untuk mengetahui seberapa jauh tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai. Dari hasil evaluasi ini akan diperoleh gambaran siapa saja yang telah berhasil dan siapa yang dianggap belum berhasil untuk selanjutnya diambil tindakan-tindakan yang tepat. Tindak lanjut dari evaluasi ini adalah bagi para siswa yang belum berhasil maka akan diberikan remedial, yaitu bantuan khusus yang diberikan kepada siswa yang mengalami kesulitan memahami suatu pokok bahasan tertentu. Sementara bagi siswa yang telah berhasil akan melanjutkan pada topik berikutnya, bahkan bagi mereka yang memiliki kemampuan yang lebih akan diberikan pengayaan, yaitu materi tambahan yang sifatnya perluasan dan pendalaman dari topik yang telah dibahas.
Untuk membahas evaluasi formatif ini, seperti yang Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi katakan dalam bukunya “Pengelolaan Pengajaran”, (Rohani dan Ahmadi, 1991: 173-175) perlu meninjau dari berbagai segi sehingga akan mudah memahami bagaimana sebenarnya evaluasi ini. di antaranya adalah sebagai berikut:
a.       Fungsi dan Tujuan Evaluasi Formatif
Fungsi dari evaluasi formatif adalah untuk memperbaiki proses belajar-mengajar.
b.      Manfaat Evaluasi
Dalam evaluasi formatif ini, ada beberapa manfaat yang dingkap oleh Suharsimi Arikunto yaitu manfaat bagi siswa, guru dan program sekolah yang penjabarannya sebagai berikut:
Manfaat bagi siswa:
1.      Digunakan untuk mengetahui apakah siswa sudah menguasai bahan program secara menyeluruh atau belum
2.      Merupakan penguatan bagi siswa dan memperbesar motivasi siswa untuk belajar giat
3.      Untuk perbaikan belajar siswa
4.      Sebagai diagnosa kekurangan dan kelebihan siswa
Manfaat bagi guru:
1.      Mengetahui sampai sejauh mana bahan yang diajarkan sudah dapat diterima oleh siswa
2.      Mengetahui bagian-bagian mana dari bahan pelajaran yang belum dikuasai siswa
Manfaat bagi program sekolah:
1.      Apakah program yang telah diberikan merupakan program yang tepat atau tidak
2.       Apakah program tersebut membutuhkan pengetahuan-pengetahuan prasyarat yang belum diperhitungkan
3.      Apakah diperlukan alat, sarana, dan prasarana untuk mempertinggi hasil yang akan dicapai atau tidak
4.      Apakah metode, pendekatan dan alat evaluasi yang digunakan sudah tepat atau tidak (Arikunto, 1996: 34-36)
c.       Waktu Pelaksanaan
Sesuai dengan fungsi dan tujuan evaluasi formatif, maka evaluasi ini dilakukan untuk menilai hasil belajar jangka pendek dari suatu proses belajar mengajar atau pada akhir unit pelajaran yang singkat yaitu satuan pelajaran. Sebab perbaikan belajar mengajar itu hanya mungkin jika dilakukan secara sistematis dan bertahap.
d.      Aspek Tingkah Laku Yang Dinilai
Aspek tingkah laku yang dinilai dari evaluasi formatif ini cenderung terbatas pada segi kognitif (pengetahuan) dan psikomotor (ketrampilan) yang terkandung dalam tujuan khusus pelajaran. Untuk menilai segi afektif (sikap dan nilai), maka penggunaan penilaian formatif tidaklah tepat. Sebab untuk menilai perkembangan segi afektif ini diperlukan periode pengajaran yang cukup panjang.
e.      Cara Menyusun Soal
Sesuai dengan fungsi evaluasi formatif, maka evaluasi ini harus disusun dengan sedemikian rupa sehingga benar-benar mengukur tujuan khusus pengajaran yang dicapai. Oleh karena itu, soal harus dibuat secara langsung dengan menjabarkantujuan khusus pengajaran ke dalam bentuk pertanyaan. Pada evaluasi formatif ini, masalah tingkat kesukaran dan daya pembeda tiap-tiap soal tes tidak begitu penting.
f.       Pendekatan Evaluasi Yang Digunakan
Sesuai dengan fungsi evaluasi formatif, maka sasaran penilaian adalah kecakapan nyata setiap peserta didik. Oleh karena itu, pendekatan dalam penilaian evaluasi formatif adalah penilaian yang bersumber pada kriteria mutlak.
g.      Cara Pengolahan Hasil Evaluasi
Ada beberapa cara pengolahan hasil evaluasi formatif. Cara-cara tersebut adalah sebagai berikut:
1.       Menghitung presentase peserta didik yang gagal dalam setiap soal. Dengan melihat hasil presentase ini, guru akan dapat mengetahui sejauh mana tujuan khusus pengajaran (TKP) yang bersangkutan dengan soal telah dicapai atau dikuasai oleh kelas.
2.      Menghitung presentase penguasaan kelas atas bahan yang telah disajikan. Dengan kata lain, berapa persen kah dari bahan yang telah disajikan itu dikuasai kelas. Cara pengolahan ini bertujuan untuk mendapatkan keterangan, apakah keterangan apakah kriteria keberhasilan belajar yang diharapkan telah tercapai.
3.      Menghitung presentase jawaban yang benar yang dicapai setiap peserta didik dalam tes secara keseluruhan. Dengan angka presentase ini, guru akan dapat mengetahui sampai berapa jauh penguasaan setiap peserta didik atas bahan yang telah diajarkan. Dengan kata lain, sejauh mana tingkat keberhasilan setiap peserta didik atas unit pengajaran yang telah diajarkan ditinjau dari sudut kriteria keberhasilan belajar yang diharapkan atau yang telah ditetapkan.
h.     Penggunaan Hasil Evaluasi
Hasil pengolahan evaluasi formatif sebagaimana disebutkan di atas, dapat digunakan untuk keperluan-keperluan sebagai berikut:
1.      Atas dasar angka presentase peserta didik yang gagal dalam setiap soal. Guru dapat mempertimbangkan apakah bahan pelajaran yang bersangkutan dengan soal tes perlu dibicarakan lagi secara umum atau tidak.
2.      Atas dasar angka presentase penguasaan kelas atas bahan yang telah disajikan, guru dapat menilai dirinya sendiri mengenai kemampuannya dalam mengajar. Jika angka itu belum mencapai kriteria keberhasilan umpamanya, maka guru akan mencari sebabnya dan kemudian ia akan memikirkan perbaikan-perbaikan apa yang perlu diadakan agar proses belajar mengajar dapat berjalan secara efisien dan efektif sehingga kriteria keberhasilan itu dapat tercapai.
3.      Dengan mengetahui presentase jawaban yang benar dari setiap peserta didik dalam tes secara keseluruhan, guru dapat mengetahui kekuatan dan kelemahan yang ada pada setiap peserta didik sehingga guru mendapat bahan yang dapat dijadikan sebagai dasar pertimbangan apakah peserta didik perlu dapat bantuan atau pelayanan khusus dari guru untuk mengatasi kesulitan dalam belajar. (Rohani dan Ahmadi, 1991: 173
2.      EVALUASI SUMATIF
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan pada setiap akhir satu satuan waktu yang didalamnya tercakup lebih dari satu pokok bahasan, dan dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari suatu unit ke unit berikutnya. Winkel mendefinisikan evaluasi sumatif sebagai penggunaan tes-tes pada akhir suatu periode pengajaran tertentu, yang meliputi beberapa atau semua unit pelajaran yang diajarkan dalam satu semester, bahkan setelah selesai pembahasan suatu bidang studi.
Adapun tujuan utama dari evaluasi sumatif ini adalah untuk menentukan nilai yang melambangkan keberhasilan peserta didik setelah mereka menempuh program pengajaran dalam jangka waktu tertentu. (Sudijono, 2007: 23) Berikut ini beberapa hal yang berhubungan dengan evaluasi sumatif yang terdapat dalam buku karangan Ahmad Rohani dan Abu Ahmadi yang berjudul “Pengelolaan Pengajaran”, (Rohani dan Ahmadi, 1991: 176-179), sebagai berikut:
a.      Fungsi Evaluasi Sumatif
Fungsi evaluasi sumatif ini adalah untuk menentukan angka kemajuan atau hasil belajar peserta didik.
b.      Manfaat Evaluasi Sumatif
Berikut ini merupakan beberapa manfaat yang didapat dari evaluasi sumatif
1.      Untuk menentukan nilai
2.      Untuk menentukan seseorang anak dapat atau tidak mengikuti kelompok dalam menerima program berikutnya
3.      Untuk mengisi catatan kemampuan siswa (Arikunto, 1996: 36)
c.      Waktu Pelaksanaan
Sesuai dengan fungsi evaluasi, maka evaluasi sumatif ini dilakukan untuk menilai hasil belajar jangka panjang dari suatu proses belajar mengajar seperti pada akhir program pengajaran.
d.     Aspek Tingkah Laku Yang Dinilai
Karena evaluasi sumatif merupakan untuk menilai hasil jangka panjang, maka aspek tingkah laku yang dinilai harus meliputi segi kognitif (pengetahuan), psikomotor (ketrampilan) dan afektif (sikap dan nilai).
e.       Cara Menyusun Soal
Penilaian sumatif ini merupakan evaluasi yang dilakukan pada akhir program pengajaran. Ini berarti bahan pengajaran yang menjadi sasaran penilaian cukup luas dan banyak. Oleh karena itu, tidak efisien jika soal-soalnya disusun atas dasar tujuan khusus pengajaran (TKP) seperti pada evaluasi formatif. Akan tetapi penyusunan soal-soalnya harus didasarkan pada tujuan umum pengajaran (TUP) yang ada di dalam program pengajaran tersebut.
Selanjutnya, karena tujuan evaluasi sumatif itu untuk menentukan angka kemajuan setiap peserta didik yang di antaranya untuk menentukan kenaikan kelas atau lulus tidaknya, maka masalah tingkat kesukaran soal harus diperhatikan. Artinya, soal-soal itu harus disusun sedemikian rupa sehingga mencakup yang mudah, sedang dan sukar yang jumlahnya perbandingannya sekitar 3 : 5 : 2, perbandingan ini tidak harus mutlak demikian. Masalah tingkat kesukaran soal ini dimaksudkan agar hasil penilaian dapat memberi gambaran mengenai tingkat kecerdasan atau kemampuan atau kepandaian tiap-tiap peserta didik atas dasar klasifikasi kurang, sedang dan pandai.
Di samping masalah tingkat kesukaran soal, pada evaluasi sumatif ini diperhatikan daya pembeda dari setiap soal. Artinya setiap soal harus mempunyai daya untuk membedakan peserta didik yang pandai dengan yang kurang atau tidak pandai. Tapi tingkat kesukaran dan daya pembeda suatu soal itu hanya dapat diketahui melalui analisis soal setelah tes itu dicobakan. Untuk itu perlu diperhatikan pengetahuan lebih lanjut mengenai teknik penilaian pendidikan yang menyangkut masalah “analisis soal”.
f.       Pendekatan Evaluasi Yang Digunakan
Pada evaluasi sumatif, ada dua pendekatan yang dapat digunakan dalam menilai: 1) penilaian yang bersumber pada kriteria mutlak dan 2) penilaian yang bersumber pada norma relatif (kelompok)
g.      Cara Pengolahan Hasil Evaluasi
Karena pada evaluasi sumatif ini ada dua pendekatan dalam mengevaluasi, maka pengolahan hasilnya pun ada dua cara:
1.      Pengolahan hasil evaluasi berdasarkan ukuran mutlak. Jika pengolahan hasil evaluasi itu berdasarkan ukuran atau kriteria mutlak, maka yang harus dicari adalah presentase jawaban benar yang dicapai oleh setiap peserta didik.
2.      Pengolahan hasil evaluasi berdasarkan norma relatif (kelompok). Untuk mengolah hasil evaluasi yang berdasarkan norma relatif, digunakan nilai-nilai yang standar seperti skala nilai 0 – 10 atau skala nilai 0 – 100. Untuk merubah nilai atau skor mentah ke dalam skor terjabar berdasarkan skala penilaian tertentu, maka prosedur atau langkah-langkah sebagai berikut:
a)      Menyusun distribusi atau frekwensi skor yang diperoleh peserta didik
b)     Menghitung angka rata-rata
c)      Menghitung standar devisi
d)     Mengubah skor ke dalam skala penilaian yang dikehendaki
h.      Penggunaan Hasil Evaluasi
Pada evaluasi sumatif, hasilnya digunakan antara lain sebagai berikut:
a)      Menentukan kenaikan kelas
b)     Menentukan angka raport
c)      Mengadakan seleksi
d)     Menentukan lulus tidaknya peserta didik
e)      Mengetahui status setiap peserta didik dibandingkan dengan peserta didik lainnya dalam kelompok yang sama
e)      EVALUASI DIAGNOSTIK
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang digunakan untuk mengetahui kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada siswa sehingga dapat diberikan perlakuan yang tepat. Evaluasi diagnostik dapat dilakukan dalam beberapa tahapan, baik pada tahap awal, selama proses, maupun akhir pembelajaran. Pada tahap awal dilakukan terhadap calon siswa sebagai input. Dalam hal ini evaluasi diagnostik dilakukan untuk mengetahui kemampuan awal atau pengetahuan prasyarat yang harus dikuasai oleh siswa. Pada tahap proses evaluasi ini diperlukan untuk mengetahui bahan-bahan pelajaran mana yang masih belum dikuasai dengan baik, sehingga guru dapat memberi bantuan secara dini agar siswa tidak tertinggal terlalu jauh. Sementara pada tahap akhir evaluasi diagnostik ini untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa atas seluruh materi yang telah dipelajarinya.


LANGKAH-LANGKAH EVALUASI PROGRAM

beberapa langkah atau tahapan dalam melaksanakan evaluasi program. Secara garis besar tahapan tersebut meliputi : tahapan persiapan evaluasi program, tahap pelaksanaan, dan tahap monitoring. Penjelasan tentang langkah-langkah tersebut dapat dilihat dalam bagan dibawah ini :
A. Persiapan Evaluasi Program
- Penyusunan evaluasi
- Penyusunan instrumen evaluasi
- Validasi instrumen evaluasi
- Menentukan jumlah sampel yang diperlukan
- Penyamaan persepsi antar evaluator sebelum data di ambil
Penyusunan terkait dengan model diantaranya; model CIFF, model Metfessel and Michael, model Stake, model Kesenjangan, model Glaser, model Michael Scriven, model Evaluasi Kelawanan, dan model Need Assessment.
Langkah langkah yang ditempuh dalam penyusunan instrument evaluasi :
-    Merumuskan tujuan yang akan dicapai
-    Membuat kisi-kisi
-    Membuat butir-butir instrument
-    Menyunting instrument     
-    Instrumen yang telah tersusun perlu di validasi
-    Dapat dilakukan dengan metode Sampling
-    Beberapa hal yang perlu disamakan : tujuan program, tujuan evaluasi, kriteria keberhasilan program, wilayah generalisasi, teknik sampling, jadwal kegiatan
 B.  Pelaksanaan Evaluasi Program
            Evaluasi program dapat dikategorikan evaluasi reflektif, evaluasi rencana, evaluasi proses dan evaluasi hasil. Keempat jenis evaluasi tersebut mempengaruhi evaluator dalam mentukan metode dan alat pengumpul data yang digunakan.
            Dalam pengumpulan data dapat menggunakan berbagai alat pengumpul data antara lain : pengambilan data dengan tes, pengambilan data dengan observasi ( bias berupa check list, alat perekam suara atau gambar ), pengambilan data dengan angket, pengambilan data dengan wawancara, pengambilan data dengan metode analisis dokumen dan artifak atau dengan teknik lainya.
C.  Tahap Monitoring (Pelaksanaan)
       Monitoring pelaksanaan evaluasi berfungsi untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan dengan rencana program. Sasaran monitoring adalah seberapa pelaksaan program dapat diharapkan/ telah sesuai dengan rencana program, apakah berdampak positif atau negatif.
Teknik dan alat monitoring dapat berupa :
-            Teknik pengamatan partisipatif
-            Teknik wawancara
-            Teknik pemanfaatan dan analisis data dokumentasi
-            Evaluator atau praktisi atau pelaksana program
-            Perumusan tujuan pemantauan
-            Penetapan sasaran pemantauan
-            Penjabaran data yang dibutuhkan
-            Penyiapan metode/alat pemantauan sesuai dengan sifat dan sumber/jenis data
-            Perencanaan analisis data pemantauan dan pemaknaannya dengan berorientasi pada tujuan monitoring
Melanjutkan mengenai sampel ada 7 jenis sampel yang dapat dijadikan sebagai metode dalam evaluasi program diantaranya adalah : (1). Proportional sampel, (2). Startified sampel, (3). Purposive sampel, (4). Quota sampel, (5). Double sampel, (6). Area probability sampel, (7). Cluster sampel.

Berbagai Model Evaluasi Program

Pada buku inidisajikan model evaluasi menurut Kaufan dan Thomas yang membedakan model evluasi program menjadi delapan, yaitu:
1.      Goal Oriented Eavaluation Model
Objek pengamatan model ini adalah tujuan dari program. Evaluasi dilaksanakan berkesinambungan, terus-menerus untuk mengetahui ketercapaian pelaksanaan program.
2.      Goal Free Eavaluation Model
Dalam melaksanakan evaluasi tidak memperhatikan tujuan khusus program, melainkan bagaimana terlaksananya program dan mencatat hal-hal yang positif maupun negatif.
3.      Formatif Summatif Evaluation Model
Model evaluasi ini dilaksanakan ketika program masih berjalan (evaluasi formatif) dan ketika program sudah selesai (evaluasi sumatif).
4.      Countenance Evaluation Model
Model ini juga disebut model evaluasi pertimbangan. Maksudnya evaluator mempertimbangkan program dengan memperbandingkan kondisi hasil evaluasi program dengan yang terjadi di program lain, dengan objek ssaran yang sama dan membandingkan kondisi hasil pelaksanaan program dengan standar yang ditentukan oleh program tersebut.
5.      Responsif Evaluation Model
Model ini tidak dijelaskan dalam buku ini karena model ini kurang populer.
6.      SSE-UCLA Evaluation Model
Model ini meliputi empat tahap, yaitu
a.       Needs assessment, memusatkan pada penentuan masalah hal-hal yang perlu dipetimbangkan dalam program, kebutuhan uang dibutuhkan oleh program, dan tujuan yang dapat dicapai.
b.      Program planning, perencanaan program dievaluasi untuk mengetahui program disusun sesuai analisis kebutuhan atau tidak.
c.       Formative evaluation, evaluasi dilakukan pada saa program berjalan.
d.      Summative program, evaluasi untuk mengetahui hasil dan dampak dari program serta untuk mengetahui ketercapaian  program.
7.      CIPP Evaluation Model (Context   Input   Process   Product)
a.       Evaluasi Konteks
Evaluasi konteks adalah evaluasi terhadap kebutuhan, tujuan pernenuhan dan karakteristik individu yang menangani. Seorang evaluator harus sanggup menentukan prioritas kebutuhan dan memilih tujuan yang paling menunjang kesuksesan program.
b.      Evaluasi Masukan
Evaluasi masukan mempertimbangkan kemampuan awal atau kondisi awal yang dimiliki oleh institusi untuk melaksanakan sebuah program.
c.       Evaluasi Proses
Evaluasi proses diarahkan pada sejauh mana program dilakukan dan sudah terlaksana sesuai dengan rencana. 
d.      Evaluasi Hasil
Ini merupakan tahap akhir evaluasi dan akan diketahui ketercapaian tujuan, kesesuaian proses dengan pencapaian tujuan, dan ketepatan tindakan yang diberikan, dan dampak dari program.
8.      Discrepancy Model
Model ini ditekankan untuk mengetahui kesenjangan yang terjadi pada setiap komponen program. Evaluasi kesenjangan dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian antara standar yang sudah ditentukan dalam program dengan penampilan aktual dari program tersebut.
 B.     Ketepatan Penentuan Model Evaluasi Program
Program dibedakan dibedakan menjadi berdasarkan jenis kegiatannya, yaitu program pemrosesan (mengubah sesuatu yang dianggap bahan mentah menjadi sesuatu yang dianggap barang jadi), program layanan (program yang bertujuan memberikan kepuasan pada pihak lain), dan program umum (program yang yang bersifat umum, tidak memiliki spesifikasi sebagaimana program pemprosesan dan program layanan).
Ketepatan penentuan model evaluasi program bergantung pada jenis kegiatannya. Oleh karena itu tidak semua model evaluasi program dapat diterapkan.
 C.    Rancangan Evaluasi Program
Hal-hal yang dicantumkan dalam rancangan program adalah (1) judul kegiatan, (2) alas an dilaksanakannya evaluasi, (3) tujuan  evaluasi, (4) pertanyaan evaluasi, (5) metodologi yang digunakan, dan (6) prosedur kerja dan langkah-langkah kegiatan.

Isi Program Evaluasi

Menentukan pokok-Pokok dan ketentuan-ketentuan apa yang perlu dimuat di dalam suatu program evaluasi itu sangat sukar. Hal ini disebabkan oleh tujuan khusus dan tiap jenis sekolah dan keadaan sekolah masing-masing tidak sama.
Namun, untuk memberi gambaran secara umum, beberapa pokok dan ketentuan yang dikemukakan di bawah ini dapat menjadi petuniuk minimal dalam penyusunan suatu program evaluasi.
1.      Adanya perumusan tujuan umum sekolah yang bersangkutan seperti yang tercantum di dalam kurikulumm sekolah masing-masing
2.      Perumusan tujuan tiap mata pelajaran sesuai dengan tujuan sekolah masing-masing. Kedua perumusan tujuan tersebut di atas kalau diintegrasikan hendaknya melukiskan gambaran yang cukup jelas mengenal hasil anak didik yang bagaimanakah yang dihendaki oleh tujuan sekolah itu.
3.      Perumusan tujuan tiap mata pelajaran menjadi tujuam-tujuan instruksional yang jelas dan sesuai dengan aspek-aspek pertumbuhan siswa yang dihendaki oleh tujuan kurikulum sekolah itu.
4.      Rincian tentang aspek-aspek pertumbuhan siswa yang harus diperhatikan dalarn setiap kegiatan evaluasi seperti sikap, watak, kecakapan, pengetahuan, keterampilan, cara berpikir, kepemimpinan, serta cara penyesuain dan secara emosional dan sosial.
5.      Ketentuan tentang pemilihan alat-alat evaluasi yang sesuai dan dapat dipergunakan untuk mengevaluasi setiap aspek pertumbuhan yang dihendaki. Misalnya observasi, catatan harian (anecdotal records), beberapa jenis tes kepribadian, dan achievement test.
6.      Ketentuan dan petunjuk-petunjuk tentang cara-cara menskor (scoring system) dan cara mengolahnya.
7.      Ketentuan dan petunjuk-petunjuk tentang syarat-syarat kerja yang harus diperhatikan dalam setiap tindakan evaluasi bagaimanakah melaksanakya dan alat-alat apa yang harus dipersiapkan
8.      Ketentuan tentang jadwal kegiatan evaluasi, yang memuat antara lain: bilamana evaluasi harus dilakukan, berapa kali dalam tiap semester, aspek-aspek mana yang perlu dievaluasi, dan alat evaluasi yang dipergunakan.

Ciri-ciri Program Evaluasi yang Baik

Satu program evaluasi yang baik dapat diketahui dan ciri-cirinya yang ter: tu. Beberapa yang dapat dianggap sebagai ciri pokok untuk menilai sampai rriana suatu program evaluasi di suatu sekolah dikatakan baik, antara lain:
1.      Desain atau rancangan program evaluasi itu komprehensif
Tujuan-tujuan umum yang akan dinilai hendaknya mencakup tidak hanya konsepketerampilan, dan pengetahuan, tetapi juga apresiasi, sikap, minat, pemikiran kritis, dan penyesuaian diri yang bersifat personal dan sosial.
Suatu desain evaluasi dikatakan komprehensif jika ia mencakup nilai-nilaian dan tujuan-tujuan pokok yang akan dicapai oleh sekolah itu bagi setiap individu murid. Guru-guru harus melaksanakan tugasnya sebagai pembimbing pertumbuhan dan perkembangan anak tidak hanya dalam hal pengetahuan-pengetahuan akademis, tetapi juga dalam hal-hal yang menyangkut pertumbuhan kepribadian siswa seperti minat, sikap, apresiasi, dan penyesuaiannya secara emosional dan sosial. Dengan kata lain, guru sebagai pendidik hendak nya memfokuskan tugasnya terhadap anak didik sebagai keseluruhan pribadi:
intelektual, mental, emosional, dan sosial.
Tentu saja, untuk menilai aspek-aspek yang bersift komprehensif dan suatu individu tidaklah mudah. Untuk itu diperlukan bermacam-macam alat evaluasi yang sesuai bagi setiap aspek yang akan dinilai disertai kemampuan dan kecakapan guru dalam melaksanakan alat evaluasi itu.
2.      Perubahan-perubahan tingkah laku individu harus mendasari penilaian perumbuhan dan perkembangannya
Tingkah laku total dan suatu individu-intelektual, fisik, emosional, dan sosial harus menjadi perhatian guru dan supervisor di dalam setiap situasi belajar. Jika siswa belajar berhitung, atau IPA, atau sejarah, atau pelajaran apa saja, dia pada saat itu juga belajar mengubah sikap, mengembangkan minat, dan membuat penyesuaian secara emosional maupun sosial. Jika ia merasa kecewa karena tugas-tugas yang terlalu sukar, atau jika ia bosan terhadap tugas-tugas yang terlalu mudah, maka sikapnya serta penyesuaian emosional dan sosial nya akan tampak menolak atau membenci, dan selanjutnya mempengaruhi si A uasi belajarnya.
Olehk arena itu, guru harus tetap menyadari bermacam-macam aspek dan tingkah laku murid meskipun tujuan pokok dan pengalaman belajar itu mungkin untuk menguasai dalil-dalil yang diperlukan dalam pemecahan soal kimia, misalnya. Tiap-tiap situasi belajar mencakup multiple learning yang menyangkut tidak hanya konsep-konsep intelektual dan skills, tetapi juga penyesuaian fisik, emosional, dan sosial. Oleh sebab itu, tingkah laku total dan seorang siswa dalam tingkat tertentu dipengaruhi oleh pengalaman belajarnya.
Jika suatu kurikulum direncanakan untuk mencapai tujuan-tujuan yang luas, ini berarti pula bahwa tingkah laku siswa harus dievaluasi menurut tujuan dan nilai-nilai yang luas pula seperti yang dimaksud dalam kurikulum tersebut.
3.      Hasil-hasil evaluasi harus disusun dan dikelompok-kelOmPokkafl sedemik lan rupa sehingga metnudahkan interpretasi yang berarti
Hasil-hasil kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dan program evaluasi harus disimpulkan ke dalam pola penskoran yang jelas, secara statistik, grafik, ataupun secara verbal, sehingga dan data evaluasi itu gambaran atau lukisan individu dapat dilihat dan dipahami dengan mudah, dan dapat dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Dengan demikian, dapat dilihat bagaimana atau ke mana arah perkembangan individu tersebut.
Di dalam interpretasi ini hendaknya dilihat pula bagaimana hubungan antara skor-skor yang diperoleh siswa dalam tes-tes, dengan catatan-catatan kualitatif yang dibuat guru (anecdotal records) tentang anak tersebut, sehingga dengan demikian pertumbuhan dan perkembangan total siswa tersebut dapat di imbing sebaik-baiknya.
Hal mi berarti pula bahwa data tentang kesehatan fisik, penyesuaian emosional dan sosial, minat-minatnya, sikapnya, dan hasil-hasil achievement test dan berbagai mata pelajaran tidak dipisahkan satu sama lain, tetapi harus dikorelasikan dan diintegrasikan ke dalam deksripsi yang merupakan kesatuan atau kebulatan dan individu
4.      Program evaluasi haruslah berkesinambungan dan saling berkaiwn (interr elated) dengan kurikulum
Di sekolah-sekolah modern, evaluasi dipandang sebagai suatu proses yang berkesinambungan, dilakukan terus-menerus. Observasi, penilaian, dan tes-tes yang di1akukan dari hari kehari hendaknya direncanakan secara teratur sehingga guru dapat benar-benar mengevaluasi dan membimbing pertumbuhan siswa seacara positif. Konsep ini berbeda dengan konsep tradisional yang memandang atau menganggap tes itu sebagai hasil akhir, dan bukan sebagai suatu alat unk membimbing pertumbuhan.
Suatu program evaluasi haruslah erat berkaitan (interrelated) dengan kurikulum sekolah karena Ia merupakan bagian yang integral dengan pembimbingan pengalaman-pengalaman belajar siswa. Tes, kuesioner, dan alat-alat evaluasi yang lain bersama-sama merupakan dasar untuk menilai pertumbuhan ke arah tujuan-tujuan kurikulum. Dengan kata lain, tercapai-tidaknya tujuan-tujuan trikulum itu tercermin di dalam hasil-hasil penilaian terhadap pencapaian belajar perubahan-perubahan tingkah laku pada muri-murid. Dengan demikian, program evaluasi menjadi berarti tidak hanya untuk membimbug pertumbuhan siswa, tetapi juga bagi pembinaan dan perkembangan kunikulum serta metode-metode mengajar yang sesuai.

Beberapa Hal yang Perlu Mendapat Perhatian dalam Penyusunan Program Evaluasi

1.      Pimpinan sekolah dan guru-guru benar-benar menyadari kekurangan serta kelemahan-kelemahan yang terdapat dalam menyelenggarakan evaluasi yang pernah dilakukan selama mi. Dengan mengetahui dan meneliti kekurangan dan kelemahan tersebut, selanjutnya mereka akan berusaha bagaimana memperbaikinya.
2.      Penyusunan program evaluasi hendaklah dilakukan bersama oleh pimpinan sekolah dan guru-guru di sekolah itu. Dengan demikian, adanya program evaluasi itu tidak menimbulkan perasaan pada guru bahwa kebebasan dan inisiatifnya dikekang atau dihambat karenanya. Sebaliknya, karena program evaluasi itu direncanakan dan disusun bersama, akan dapat lebih lancar dalam pelaksanaannya.
3.      Kepemimpinan kepala sekolah sebagai administrator dan supervisor sangat diharapkan seperti dalam hal:
a.       mengusahakan adanya inservice-training atau upgrading kepada guru-guru tentang evaluasi.
b.      mengusahakan atau memperlengkap sarana pendidikan yang diperlukan seperti buku-buku perpustakaan yang berhubungan dengan masalah evaluasi.
c.       Menyediakan kesempatan untuk mengadakan pertemuan atau diskusi-diskusi antar guru secara periodik dan berkesinambungan. Semua itu dimaksudkan kecuali untuk meningkatkan pengetahuan dan kecakapan guru-guru, juga untuk membina keseragaman dan persesuaian pendapat serta kesatuan arah tujuan dalam menyusun dan melaksanakan program penilaian.
4.      Bahwa program evaluasi di suatu sekolah mungkin tidak sama dengan sekolah yang lain, itu wajar karena hal ini akan bergantung pada:
a.       tingkat dan jenis sekolah masing-masing
b.      kualitas serta kapasitas guru-guru pada setiap sekolah yang tidak sama
c.       perlengkapan serta biaya yang tersedia untuk setiap.sekolah. Namun demikian, akan lebih baik kiranya, jika sekolah-sekolah yang sejenis mempunyai program evaluasi yang sama, karena kurikulum dan tujuan sekolah itu sama pula.
5.      Jika di sekolah yang bersangkutan telah ada lembaga atau badan bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling) yang baik dan lengkap, usaha penyusunan program evaluasi haruslah dilakukan bersama antara guru-guru dan para konselor BP. Hal mi akan memungkinkan hash yang lebih baik karena tugas BP sebagian besar menyangkut masalah evaluasi yang dilakukan guru-guru di sekolah itu seperti menyusun dan melaksanakan tes-tes, membuat blangko-blangko atau format evaluasi, membuat pedoman tentang cara-cara menilai (scoring system) dan mengolah score hasil tes.

Arti Program Evaluasi

yang dimaksud dengan “program evauasi” ialah suatu program yang berisi ketentuan dan cra-cara tentang penyelenggaraan atau pelaksanaan evaluasi pendidikan di suatu sekolah dan merupakan pegangan atau pedoman bagi guru-guru yang mengajar di sekolah tersebut.
Kenyataan menunjukkan bahwa sekolah-sekolah kita pada umumnya tidak memiliki program penilaian yang baik dan rinci seperti yang diharapkan. Hampir setiap sekolah, dan bahkan setiap guru, menjalankan praktek-praktek evaluasi terhadap muridnya dengin cara dan pendapat masing-masing sehingga tidak mustahil penilaian itu sering kali tidak tepat, kurang objektif, dan tidak melukiskan gambaran yang sebenarnya tentang hasil proses belajar para siswa.
Di sekolah-sekolah kita sekarang ini, pekerjaan evaluasi seluruh kemajuan belajar setiap siswa sebagai hasih pendidikan di sekolah dilakukan bersama-sama oleh guru-guru yang mengajar di sekolahituSistem kerja sama seperti ini memang baik jika:
a.       Setiap guru menyadari dan memahami tujuan bersama yang hendak dicapai
dengan seluruh kegiatan evaluasi yang dilakukan di sekolah itu, yakni mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan siswa dalam proses kegiatan belajar, untuk mencapai tujuan seperti tercantum di dalam kurikulum sekolah.
b.      Setiap guru mengetahui apa dan bagaimana melakukan evaluasi untuk mencapai tujuan bersama seperti tercantum di dalam kurikulum itu. Dengan kata lain, setiap guru memiliki kecakapan dan keterampilan yang diperlukan dalam melaksanakan kegiatan evaluasi.
Untuk memenuhi kedua syarat tersebut, setiap sekolah perlu menyusun suatu program yang dapat dijadikan pegangan atau pedoman bagi guru-guru dalam mempersiapkan dan melaksanakan evaluasi hasil pendidikan dan pengajaran yang telah diberikan kepada murid-muridnya.

Flag Country

free counters