Intip Jam Tangan Khusus bagi Astronaut

Intip Jam Tangan Khusus bagi Astronaut


Ada beragam merek jam tangan yang dibuat untuk kebutuhan masing-masing. Tentunya setiap produk jam tangan memiliki karakteristik dan fitur khusus.

Misalnya, jam tangan untuk para pekerja pertambangan tentu dilengkapi dengan fitur khusus yang memiliki daya tahan tertentu. 

Bukan hanya pekerja pertambangan yang membutuhkan jam tangan khusus. Astronaut pun butuh jam tangan. Untungnya, Omega, produsen jam tangan mewah Swiss, juga memproduksi jam tangan bagi astronaut. 

Omega tercatat telah mengembangkan jam tangan bagi astronaut sejak 1965 dan hingga kini tetap menyediakan jam tangan khusus untuk mendukung eksplorasi antariksa.

Pada 1965, Omega membuat Omega Speesmaster yang telah mendapat sertifikasi perjalanan antariksa dari Badan Antariksa Nasional AS (NASA). Kemudian pada Juli 1969, Omega Speedmaster menjadi jam tangan pertama di bulan.

Dan hingga kini, melansir Cnet, Selasa 16 Desember 2014, Omega terus melanjutkan produksi jam tangan. Teranyar, produsen itu merilis Omega Speesmaster Skywalker X-33.

Jam tangan ini memiliki fitur yang dikembangkan dan dipatenkan oleh astronaut Badan Antariksa Eropa (ESA), Jean-François Clervoy. Ia telah menghabiskan pengalaman di antariksa selama 675 jam. 

Membayangkan antariksa tentu saja jam tangan ini memiliki kemampuan khusus. Secara umum jam tangan Omega ini digunakan untuk menetapkan waktu dan tanggal baik di masa lalu maupun di masa depan.

Jam tangan juga memiliki sejumlah alarm dengan nada yang berbeda. Fitur ini setidaknya mendukung untuk tugas pelacakan dan misi di antariksa. 

"Kami senang teman-teman kami di Badan Antariksa Eropa telah menguji dan memenuhi syarat Speedmaster Skywalker X-33 untuk semua misi uji coba. Ini merupakan perjalanan hubungan kami dengan NASA dan program antariksanya," jelas Presiden Omega, Stephen Urquhart. 

Bos Omega itu menambahkan Speesmaster Skywalker X-33 memiliki 12 fungsi secara keseluruhan, yaitu pengaturan jam, menit, detik hingga tiga zona waktu berbeda. Selain itu, ada fungsi chronograph, kalender abadi, LDC digital serta layar analog dengan Super-Luminova-Coated, yang memudahkan saat berada di tempat gelap. 

Dari sisi interior, jam tangan ini dibungkus dengan casing titanium kelas 2 dan dengan gelang jam tangan yang memiliki fitur daya tahan. Jam ini didukung dengan gerakan chronograph kuarsa multifungsi, Omega kaliber 5619.

Serangkaian Uji Coba


Untuk menciptakan jam tangan ini tentu tak mudah. Omega menjalani serangkaian uji coba. Pertama menguji secara ketat di fasilitas Eetec ESA, di Noordwijk, Belanda, dalam kondisi antariksa.

Tujuannya untuk memastikan jam tangan bisa bertahan seperti astronaut. Uji coba termasuk tekanan tujuh kali gravitasi Bumi. Pengujian ini agar jam tangan bisa bertahan dari getaran pesawat antariksa saat peluncuran. 

Tak berhenti di situ saja, jam tangan juga diuji dengan pengujian suhu ektrem dalam ruang vakum, dari suhu -45 derajat hingga 75 derajat celcius. Pada tes ini jam tangan dibombardir dengan radiasi dengan pengawasan penuh Onera Desp, Laboratorium Kedirgantaraan Prancis. Setiap jam laboratorium akan mengulas sejauh mana fungsi jam tersebut. 

Speedmaster Skywalker X-33 tersedia dengan harga US$5900 (Rp75,6 juta) Untuk mengetahui lebih lanjut, Anda bisa menginstal pada aplikasi khusus jam tangan ini pada aplikasi iOS.

Astronot AS dan 2 Kosmonot Rusia Kembali di Bumi

Astronot AS dan 2 Kosmonot Rusia Kembali di Bumi


Oleg Artemiev, Alexander Skvortsov dan Steven Swanson, terjun dengan parasut dan mendarat dengan selamat di padang rumput Kazakhstan Kamis pagi (11/9).

Dua orang Rusia dan seorang Amerika kembali di Bumi setelah hampir enam bulan tingal di dalam Stasiun Antariksa Internasional, ISS.

Seuah kapsul Soyuz Rusia, yang membawa Oleg Artemiev, Alexander Skvortsov dan Steven Swanson, terjun dengan parasut dan selamat mendarat di padang rumput Kazakhstan Kamis pagi (11/9), beberapa jam setelah mengakhiri periode dalam ISS. 

Mereka telah digantikan oleh tiga orang awak baru, yaitu kosmonot Max Suraev, astronot Amerika Reid Wiserman dan Alexander Gerst dari Jerman, seorang anggota Badan Antariksa Eropa.

Tiga orang awak lagi akan tiba di stasiun antariksa yang mengorbit itu nanti bulan ini. Awak tersebut, antara lain Elena Serova, perempuan Rusia keempat yang terbang ke antariksa dan yang pertama sejak 1997.

Astronot Amerika dan Rusia Tiba di Stasiun Antariksa

Astronot Amerika dan Rusia Tiba di Stasiun Antariksa


Pesawat antariksa Soyuz Rusia diluncurkan dari sarana Baikonur di Kazakhstan Kamis malam (25/9), membawa ke orbit Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Rusia dan astronot Amerika Barry Wilmore.

Para astronot dari Rusia dan Amerika Serikat telah tiba dengan selamat di Stasiun Antariksa Internasional, ISS, hari Jumat (26/9).

Pesawat antariksa Soyuz Rusia diluncurkan dari sarana Baikonur di Kazakhstan Kamis malam (25/9), membawa ke orbit Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Rusia dan astronot Amerika Barry Wilmore.

Serova adalah wanita Rusia yang baru ke-4 terbang ke antariksa dan yang pertama melakukannya sejak tahun 1997.

Awak yang baru ini akan tinggal di ISS selama enam bulan, bergabung dengan sebuah tim 3 astronot lannya yang sudah berada dalam ISS tersebut.


Beginilah Tampilan Makanan Para Astronot NASA di Luar Angkasa

 
 
NASA's Advanced Food Technology Project adalah lembaga pemerintah milik Amerika Serikat yang khusus bertanggungjawab mengatur sistem makanan bagi para astronot. Seperti yang dilansir dari Amusingplanet, Sabtu (10/10/2014), ternyata makanan yang dimakan para astronot tidak jauh beda dengan makanan manusia di bumi pada umumnya. Hanya saja, disajikan dengan memperhatikan standar gizi khusus dan pengemasan yang lebih awet. (Ars).
 

Astronot AS dan 2 Kosmonot Rusia Kembali di Bumi





Oleg Artemiev, Alexander Skvortsov dan Steven Swanson, terjun dengan parasut dan mendarat dengan selamat di padang rumput Kazakhstan Kamis pagi (11/9)

Dua orang Rusia dan seorang Amerika kembali di Bumi setelah hampir enam bulan tingal di dalam Stasiun Antariksa Internasional, ISS.

Seuah kapsul Soyuz Rusia, yang membawa Oleg Artemiev, Alexander Skvortsov dan Steven Swanson, terjun dengan parasut dan selamat mendarat di padang rumput Kazakhstan Kamis pagi (11/9), beberapa jam setelah mengakhiri periode dalam ISS. 

Mereka telah digantikan oleh tiga orang awak baru, yaitu kosmonot Max Suraev, astronot Amerika Reid Wiserman dan Alexander Gerst dari Jerman, seorang anggota Badan Antariksa Eropa.

Tiga orang awak lagi akan tiba di stasiun antariksa yang mengorbit itu nanti bulan ini. Awak tersebut, antara lain Elena Serova, perempuan Rusia keempat yang terbang ke antariksa dan yang pertama sejak 1997.

Astronot Amerika dan Rusia Tiba di Stasiun Antariksa



Pesawat antariksa Soyuz Rusia diluncurkan dari sarana Baikonur di Kazakhstan Kamis malam (25/9), membawa ke orbit Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Rusia dan astronot Amerika Barry Wilmore.


Para astronot dari Rusia dan Amerika Serikat telah tiba dengan selamat di Stasiun Antariksa Internasional, ISS, hari Jumat (26/9).

Pesawat antariksa Soyuz Rusia diluncurkan dari sarana Baikonur di Kazakhstan Kamis malam (25/9), membawa ke orbit Alexander Samokutyaev dan Elena Serova dari Rusia dan astronot Amerika Barry Wilmore.

Serova adalah wanita Rusia yang baru ke-4 terbang ke antariksa dan yang pertama melakukannya sejak tahun 1997.

Awak yang baru ini akan tinggal di ISS selama enam bulan, bergabung dengan sebuah tim 3 astronot lannya yang sudah berada dalam ISS tersebut.


Astronot Rusia Jalan di Angkasa, Lepas Satelit Riset



Astronot Rusia keluar dari ISS dan berjalan di angkasa untuk melepas satelit riset Peruvia. Satelit riset ini memiliki misi untuk mengobservasi bumi.

Oleg Artemiev, yang telah lama berada di ISS, melemparkan kotak berukuran 4 inci itu dari tangannya. Ia berada di luar ISS yang saat ini berlokasi 260 mil di atas angkasa. Satelit itu pun dengan lembut melayang dan menempati orbitnya dengan tepat.

Kamera merekam satelit nano bernama Chasqui yang melayang menjauh dari ISS. Mitra astronot Artemiev, Alexander Skvortsov, mencoba mempertahakan posisinya agar kamera di helm astronotnya bisa merekam detik-detik peluncuran satelit itu dengan baik.

Menurut ABCNews, Selasa 19 Agustus 2014, satelit itu memiliki berat sekitar 2 pon. Di dalamnya terdapat perangkat untuk mengukur suhu dan tekanan. Terdapat kamera juga di dalamnya untuk bisa mengambil gambar-gambar bumi dari angkasa.

Butuh waktu sekitar setengah jam bagi satelit nano itu untuk bisa mencapai lokasi yang ditentukan. Setelah selesai menerbangkan satelit Peruvia itu, Artemiev dan Skvortsov melanjutkan pekerjaannya dengan memeriksa sisi-sisi luar ISS, mereka juga mengumpulkan contoh benda-benda yang menempel di jendela kompartemen milik RUsia. Benda ini akan dijadikan sampel untuk memeriksa senyawa dan benda apa saja yang telah 'berkunjung' ke ISS.

Kedua astronot itu menyelesaikan pekerjaan mereka selama 5 jam. Pengendali ISS di bumi pun tidak lupa mengucapkan terima kasih atas upaya mereka.

Sebelumnya, kedua astronot ini juga pernah melakukan perjalanan ke luar ISS. Tepatnya pada bulan Juni, beberapa bulan setelah mereka sampai di ISS. Empat orang lainnya sudah lebih dulu ada di sana. Dua orang dari Amerika dan satu orang Jerman, sedangkan satunya lagi juga seorang kosmonot.

Astronot bisa berkebun di luar angkasa




Washington - Para astronot yang menginginkan makan selada segar akan segera punya peluang menanamnya sendiri di luar angkasa karena menurut situs Space.com, NASA tengah mengirim perkebunan mini ke luar angkasa.

Perusahaan pesawat luar angkasa SpaceX yang pada 14 April meluncurkan misi kargo Dragon  ke Stasiun Luar Angkasa Internasional membawa kabin pertumbuhan tanaman kecil yang dibangun khusus agar para astronot bisa menanam selada "outredgeous" di orbit luar angkasa.

Tujuan dari eksperimen Veg - 01 yang dijuluki "Veggie" adalah untuk melihat seberapa baik tanaman tumbuh di
orbit.

Jika tes awal berjalan dengan baik dan sayur tersebut terbukti aman dikonsumsi, maka ilmuwan berharap untuk memperluas menu itu.

"Veggie akan menyediakan sumber daya baru bagi astronot Amerika Serikat dan para peneliti begitu kita mulai mengembangkan kemampuan menumbuhkan produk segar dan tanaman besar lain di stasiun luar angkasa," kata Gioia Massa,  ilmuwan NASA untuk Veggie.

Letaknya ada di bagian premium pesawat ruang angkasa dan juga di stasiun luar angkasa.

Ketika sudah sepenuhnya diluncurkan, kira-kira setinggi 1,5 kaki, membuatnya jadi ruang tanaman terbesar saat ini.

Versi ruang tanaman itu telah diuji di darat, di mana selada dan lobak telah berhasil ditumbuhkan di laboratorium sains Pusat Luar Angkasa Kennedy. 

Veggie dikembangkan oleh Madison, Korporasi Teknologi Orbit yang berbasis di Wis.

NASA Luncurkan Baju Astronot Baru






National Aeronautics and Space Administration (NASA) resmi merilis prototipe baju luar angkasa terbaru untuk para astronot. Baju ini merupakan pilihan terbanyak dari survei di situs NASA yang berakhir pada 30 April 2014 kemarin. Dari tiga pilihan seri Z, baju bernama Technology akhirnya menjadi pilihan terbanyak dengan angka 63,1 persen atau sekitar 230 ribu suara.

Baju Technology ini dibuat dengan menggunakan kawat Luminex dan garis yang memancarkan cahaya dalam gelap sekitar dada dan punggung.  Sekilas baju ini mirip dengan gabungan tokoh Buzz Lightyear dari film animasi Toy Story dan prajurit komputer dalam film Tron. 

Sepatunya juga dibuat dengan bahan yang kompatibel sehingga bisa menyesuaikan dengan lingkungan sekitar. Desain di sekitar bahu, pinggul, dan sendi-sendi lainnya juga diperbaiki agar gerak astronot lebih leluasa.

"Lapisan penutup pada baju ini bisa digunakan untuk banyak fungsi, seperti menjelajah di Mars, melindungi astronot dari serangan micrometeorite, melawan suhu ekstrem, dan efek berbahaya dari radiasi," tulis NASA dalam siaran pers, seperti dilaporkan oleh Mashable, Jumat, 2 Mei 2014. 

Meskipun prototipe ini belum bisa dibawa ke luar angkasa, Technology akan dites dulu di lingkungan yang sama untuk menyelesaikan versi finalnya pada November 2014 nanti. Baju yang merupakan proyek dari Advanced Exploration System Division di NASA juga akan dibuat dengan mesin cetak tiga dimensi sebagai percobaan. 

2 Astronot Perbaiki Sumber Kebocoran di Stasiun Antariksa





Dua astronot Amerika telah memperbaiki kotak yang kemungkinan merupakan sumber kebocoran amonia di stasiun antariksa NASA.


Dua astronot Amerika telah mengganti kotak pengendali pompa berukuran besar di luar stasiun antariksa internasional yang mungkin menjadi sumber kebocoran amonia dalam sistem pendingin laboratorium yang mengorbit itu.

NASA mengatakan astronot Chris Cassidy dan Tom Marshburn telah mengganti kotak berbobot 113 kilogram itu dengan kotak lain selama 2,5 jam bekerja di luar stasiun antariksa.

Jumat (10/5) lalu, komandan stasiun yang berasal dari Kanada – Chris Hadfield – menggambarkan kebocoran amonia itu sebagai “situasi serius” tetapi telah distabilkan oleh tim yang beranggotakan enam awak,

Badan Antariksa Amerika NASA mengatakan para awak tidak terancam bahaya dan stasiun itu melanjutkan operasi seperti biasa.

Beberapa awak stasiun antariksa tersebut telah melaporkan terjadinya kebocoran pada Kamis.


Kosmonot Rusia dan Astronot AS Berangkat ke Antariksa




Oleg Artemyev, Alexander Skvortsov dan Steve Swanson akan menghabiskan enam bulan ke depan dalam stasiun itu, melakukan serangkaian eksperimen ilmiah.


Walaupun Amerika Serikat dan Rusia berselisih mengenai Ukraina, tetapi mereka masih bekerjasama di antariksa.
 
Roket Soyuz Rusia diluncurkan dari Kazakhstan Selasa (25/3) untuk menerbangkan dua kosmonot Rusia dan seorang astronot Amerika  ke Stasiun Antariksa Internasional.
 
Oleg Artemyev, Alexander Skvortsov dan Steve Swanson akan menghabiskan enam bulan ke depan dalam stasiun itu, melakukan serangkaian eksperimen  ilmiah.
 
Awak stasiun antariksa saat ini – seorang warga Rusia, seorang Amerika, dan seorang astronot Jepang – akan pulang Mei.
 
Angkutan ke stasiun antariksa yang mengorbit itu bergantung pada Soyuz Rusia untuk membawa mereka ke dan dari Bumi sejak Amerika Serikat memensiunkan armada angkutan bolak-balik atau shuttle antariksa 2011.

Akhirnya, Robot Astronot NASA Punya Kaki

TEXAS- Robot astronot humanoid di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) milik NASA, Robonaut R2, akhirnya menerima bagian kakinya sebagai pelengkap. Bagian tubuh robot astronot ini dikirimkan melalui wahana SpaceX dan menandai tonggak baru keberadaan robotika humanoid di luar angkasa.

Sebelumnya, Robonaut R2 hanya berupa batang tubuh, kepala dan lengan. Dia dilekatkan dalam sebuah media pendukung dan telah beroperasi di ISS selama tiga tahun. Kaki baru R2 dikirimkan Minggu pagi (20/4).
Menurut laman RT, robot R2 bakal membantu kru ISS dalam tugas-tugas rutin dan berulang baik di dalam maupun pekerjaan di luar stasiun, seperti kegiatan pembersihan dan mengambil sesuatu.
"Keberadaan kaki baru ini akan membuka cakrawala baru bagi robot ini," kata Robert Ambrose dari NASA Johnson Space Center di Houston.

Setiap kaki memiliki panjang 1,2 meter dan akan memungkinkan Robonaut naik dan bergerak di sekitar stasiun antariksa internasional yang berada 420 km dari Bumi. Secara keseluruhan NASA telah mengeluarkan dana sekitar USD 17 juta untuk proyek Robonaut.

R2 sendiri akan terbatas aktivitasnya hingga mendapatkan baterai terbaru akhir tahun ini. Robot itu merupakan proyek NASA dan General Motor dalam waktu 15 tahun. Nantinya, R2 ini akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang berisiko tinggi bagi manusia, terutama berjalan di luar angkasa.

NASA Pilih Kandidat Astronot Baru, Setengahnya Perempuan




NASA mengatakan setengah dari kandidat astronot baru yang dipilih adalah perempuan, persentase tertinggi dalam satu angkatan yang pernah ada.


Lembaga antariksa AS, NASA, telah memperkenalkan delapan kandidat astronot baru, yang diseleksi dari 6.300 pendaftar. 

Peserta pelatihan astronot baru tersebut -- Josh Cassada, Victor Glover, Nick Hague, Christina Hammock, Nicole Mann, Anne McClain, Jessica Meir dan Dr. Andrew Morgan - semuanya bermimpi menjadi penjelajah angkasa luar. Dalam 15 bulan terakhir, mereka telah melalui pemeriksaan kesehatan dan psikologi yang ketat, dan memiliki hasil yang baik dalam berbagai tes dan wawancara. Sekarang mereka bisa memberitahu para keluarga dan atasan bahwa mereka telah mengubah karir untuk mengejar mimpi mereka.

Janet Kavandi, astronot veteran dan direktur Operasi Awak Penerbangan di NASA, mengatakan kandidat-kandidat itu adalah "sekelompok orang yang luar biasa."

Jika mereka telah menuntaskan pelatihan, mereka akan bergabung dengan korps astronot NASA, yang saat ini beranggotakan 48 orang. Jumlah itu sepertiga dari puncaknya 10 tahun yang lalu.

"Dengan korps astronot yang lebih kecil dan lebih sedikit orang di kantor, sekarang setiap orang harus memiliki latar belakang seberagam mungkin, jadi kami telah bekerja keras untuk menjamin bahwa kedelapan orang tersebut memiliki spektrum pengalaman yang luas, dan saya kira itu terlihat dari kualifikasi-kualifikasi mereka," ujar Kavandi dalam acara Google Plus Hangout.

Kualifikasi-Kualifikasi Kandidat  

Sebagian besar kandidat-kandidat ini sedang atau telah bertugas di militer; satu orang adalah dokter medis; beberapa warga sipil yang merupakan ilmuwan terlatih; dan beberapa memiliki pengalaman lama di kokpit pesawat. Mereka berusia 30an, dan akan memulai pelatihan astronot di Pusat Antariksa Johnson di Houston, Texas, Agustus ini.

Kandidat Josh Cassada, mantan penerbang angkatan laut, terlihat emosional dalam video pengenalan yang disiarkan oleh NASA TV pada Senin (17/6).

"Saya kira jika masyarakat tidak menjelajah, kami hanya mempertahankan, dan bisa berkontribusi pada penjelajahan itu sekecil apapun sangat membuat saya bersemangat," ujarnya.

Kandidat Christina Hammock bertugas sebagai kepala stasiun Administrasi Kelautan dan Atmosferik Nasional di Samoa.

"Yang menginspirasi saya untuk mendaftar adalah ketika saya melihat karir saya, saya menyadari bahwa dengan mengikuti mimpi pribadi saya, saya telah mengumpulkan serangkaian keterampilan yang saya kira dapat sangat bermanfaat dalam berkontribusi pada penerbangan antariksa manusia," ujarnya.

Nick Hague, seorang letnan kolonel Angkatan Udara, mengatakan bahwa ini ketiga kalinya ia mendaftar jadi astronot. 

"Orangtua saya akan sangat gembira. Mereka tahu bahwa ini adalah tujuan hidup saya sejak lama. Kedua abang saya pasti mengolok-olok saya, seperti biasa," ujarnya.

Setengah dari para kandidat astronot ini adalah perempuan, yang merupakan persentase tertinggi dalam satu angkatan yang pernah ada. 

"Sebetulnya hal itu tidak disengaja. Kami tidak pernah menentukan berapa banyak laki-laki atau perempuan yang harus dipilih. Tapi mereka ini adalah orang-orang yang paling berkualifikasi dari semua yang telah kita wawancara. Mereka pantas mendapatkan tempat di sini," ujar Kavandi dari NASA.

Ia mengatakan pencapaian perempuan di banyak bidang yang menuntut keahlian tinggi telah membuat mereka setara dengan kandidat-kandidat pria.

Angkatan ini merupakan angkatan astronot NASA ke-21. Sejak 1959, NASA telah menyeleksi dan melatih 330 astronot. Lembaga itu mengatakan akan menjaga jumlah anggota korps astronot aktif antara 45 dan 55 orang.

Pengakuan 3 Astronot tentang UFO, Sengaja Ditutup-tutupi AS?



Keyakinan bahwa kita tak sendirian di alam semesta membuat manusia tak berhenti meyakini keberadaan UFO dan alien. Meski belum ada bukti sahih soal eksistensi makhluk ekstrateresterial. 

Dan keyakinan itu bukan hanya konsumsi awam. Buzz Aldrin, Edgar Mitchell, dan Gordon Cooper adalah nama-nama besar dalam bidang antariksa. Mereka para astronot Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) yang pernah mencicipi sensasi ke luar Bumi, bahkan menjejakkan kaki di Bulan. 

Namun, nama ketiganya sering dikaitkan dengan UFO. Begini kisahnya: 

1. Buzz Aldrin



Sejarah akan mencatat nama Edwin 'Buzz' Aldrin sebagai manusia kedua yang menjejakkan kaki di Bulan. Melalui misi Apollo 11 pada 20 Juli 1969.

Dalam sebuah wawancara dengan Science Channel pada 2005 lalu, Buzz Aldrin mengatakan tentang benda misterius yang mengikuti Apollo 11 dalam misi ke Bulan. 

"Ada sesuatu di luar sana yang cukup dekat untuk diamati. Tapi apa itu?," kata dia, seperti Liputan6.com kutip dari Epoch Times, 5 Desember 2013. 

"Mike (astronot Michael Collins) memutuskan untuk melihatnya melalui teleskop. Pada satu posisi, bentuknya seperti serangkaian elips. Namun saat dipertajam, itu seperti obyek berbentuk-L," kata Buzz Aldrin. 

Namun, kata dia, 3 astronot dalam misi Apollo 11 tak mau membuat keributan. "Tak mungkin kami menyampaikan: 'Hai Houston, kami mendapati sesuatu bergerak di sekitar kami dan tak tahu apa itu, bisa Anda beri penjelasan?!'," kata dia. "Kami tak bisa melakukannya karena tahu pasti transmisi itu bisa didengar oleh sembarang orang." Bisa-bisa memunculkan banyak dugaan dan spekulasi.

Menduga obyek itu mungkin roket S-IVB, mereka bertanya pada pengendali misi di Houston, berapa jaraknya dari Apollo 11. Jawaban pun didapat: S-IVB berada sejauh 6.000 mil laut. "Namun kami tak merasa melihat sesuatu yang  sejauh itu," kata Aldrin. 

Namun, baik dia, Collin, maupun Neil Armstrong memutuskan tak menyinggung soal itu. Memilih fokus pada misi. 

Dalam sebuah posting di situs NASA, astrofisikawan David Morrison melaporkan bahwa ia berbicara dengan Aldrin setelah wawancara astronot itu di Science Channel. Menurut Morrison, Aldrin mengatakan, pernyataannya ditafsirkan di luar konteks. 

Kepada Morrison, juga disampaikannya langsung pada acara Larry King Live tahun 2007, bahwa apa yang mereka lihat kemungkinan adalah panel yang terpisah dari pesawat ruang angkasa dalam prosedur normal. Mungkin...

"Tidak ada alien di Bulan. Neil Armstrong dan astronot Apollo lainnya tak melihat bukti keberadaan alien baik di sisi dekat maupun sisi jauh Bulan," kata Morrison.



2. Edgar Mitchell 



Dengan menaiki pesawat Apolo 14, Edgar Mitchell mencatat sejarah sebagai manusia keenam yang menginjakkan kaki ke Bulan pada 6 Februari 1971. Dia bahkan menghabiskan waktu selama 9 jam di sana.

Mitchell adalah sosok cerdas, memiliki dua gelar sarjana dan gelar doktor aeronautika dari Institut Teknologi Massachusetts (MIT).

Pada 23 Juli 2008, pengakuan mengejutkan ke luar dari mulut Mitchell. Dalam sebuah acara radio di Inggris, dia mengaku percaya ada kehidupan lain di luar Bumi.

"Ya, tak ada lagi yang patut dipertanyakan soal apakah ada kehidupan lain di alam semesta. Saya sangat yakin kita, manusia, tak sendirian," kata Mitchel saat itu, seperti dimuat laman Telegraph, 26 Juli 2008.

Kata-kata Mitchell sangat mengejutkan. Bahkan penyiar yang mewawancarainya terdengar kaget.

Tak hanya sampai di situ kejutan Mitchell. Dia mengatakan, menurut infomasi yang dia peroleh, alien bahkan telah mengunjungi Bumi atau setidaknya mengirim sinyal ke planet manusia.

"Alien telah mengunjungi Bumi, fenomena UFO adalah nyata -- meski pemerintah sengaja menutup-nutupi hal ini selama 60 tahun terakhir," kata Mitchell.

Karena Mitchell adalah seorang astronot, banyak orang tak meragukan pendapatnya. Lalu, apa tanggapan NASA? "NASA tidak pernah melacak keberadaan UFO," kata Badan Antariksa Amerika Serikat itu dalam rilisnya.

Di laman NASA, apa yang diungkapkan Edgar Mitchell juga banyak ditanyakan. Ilmuwan Senior NASA, David Morrison memberi jawaban atas banyak pertanyaan ini.

"Sejauh yang saya tahu, tak ada astronot NASA yang mengklaim pernah melihat UFO ketika terbang ke angkasa,"kata dia."Untuk kasus Edgar Mitchell, astronot Apolo 14 yang pergi ke Bulan, dia mempercayai laporan-laporan penglihatan UFO atau alien, namun dia tidak pernah melihat sendiri."

3. Gordon Cooper



Gordon Cooper adalah salah satu astronot Original Seven atau Astronaut Group 1 NASA. Ia menjadi pilot dalam misi luar angkasa Project Mercury pada 1963. 

Cooper mengaku telah melihat UFO pertamanya saat berada di atas Jerman Barat pada tahun 1951, meskipun ia membantah laporan yang menyebut, ia juga melihat UFO selama penerbangan Mercury.

Saat itu, sekelompok UFO terbang lebih cepat dan lebih tinggi daripada pesawat buatan manusia pada zamannya. Membentuk formasi tertentu. Demikian menurut wawancaranya dengan Yolanda Gaskins di Paranormal Borderline pada 1996.

"Kami tak bisa menyamai ketinggian mereka," kata dia. Copper pun melaporkan penglihatannya pada para atasannya.  

"Jawaban akhirnya datang berbulan-bulan kemudian: diduga itu adalah seed pod atau kulit kacang polong. Tak logis," kata dia. 

Kemudian, pada tahun 1957, saat menjadi pilot tes dan manajer proyek di Pangkalan AU Edwards California, Gordon menerima laporan dari krunya yang mengaku melihat benda  mirip piring terbang mendarat di sebuah danau kering. Benda aneh itu mendarat dengan 3 kaki. Tanpa mengeluarkan suara. Namun saat didekati, benda itu langsung lepas landas. 

Foto penampakan benda misterius itu diserahkan pada para atasannya di Pentagon. Namun tak pernah ada jawaban.

Hingga menghembuskan nafas terakhir, Cooper punya keyakinan bahwa pemerintah AS memang menutupi informasi tentang UFO.

Perbedaan Astronot dan Kosmonot?





Mengapa ada awak antariksa yang disebut astronot dan kosmonot? Apakah sebutan yang berbeda itu juga menunjukkan tugas yang berbeda? 

Sebenarnya, secara prinsip, astronot maupun kosmonot tidak ada bedanya. Astronot artinya penjelajah bintang, sedangkan kosmonot artinya penjelalajah kosmos. Secara fungsional keduanya sama. Namun, kadang masing-masing negara menggunakan penyebutan yang berbeda. 

Amerika, misalnya, menyebut awak antariksanya dengan nama astronot. Rusia menyebut awak antariksanya dengan nama kosmonot. Sedangkan Prancis menyebut awak antariksanya dengan nama Spacenot (penjelajah ruang angkasa). Namun, semua hanya perbedaan sebutan, sedang tugas dan fungsinya sama. 

Singapura Akan Kirim Astronot ke Luar Angkasa Tahun 2015




Sabtu, 23 Februari 2013 | 01:08 WIB


SINGAPURA, KOMPAS.com — Pemerintah Singapura, Jumat (22/02/2013), merilis rencana ambisius untuk mengirim astronot pertama ke luar angkasa pada tahun 2015 bertepatan dengan perayaan ke-50 hari kemerdekaan Singapura.
Menteri muda Perindustrian dan Perdagangan S Iswaran menyatakan, rencana ini akan ditangani oleh kolaborasi antara IN Genius, perusahaan teknologi dengan Institut Sains Singapura dan Asosiasi Teknologi dan Antariksa Singapura. Seluruh pihak yang terlibat telah menandatangani memorandum of understanding (MoU).
Selain berambisi mengirim astronot pertamanya, memorandum ini juga mencantumkan agenda menjadikan Singapura sebagai pusat industri antariksa. Menurut Menteri Iswaran, pengembangan industri antariksa akan membantu meningkatkan lapangan kerja di bidang teknik, terutama teknik aeronautika.
Pemilik IN Genius, Lim Seng, menjelaskan bahwa rencana ini akan dilaksanakan dengan sangat cermat. Lim menekankan pentingnya dukungan dan komitmen yang kuat dari pemerintah. Ia menambahkan, jika program astronot pertama ini berhasil, perusahaannya berharap dapat mengembangkan bisnis wisata antariksa menggunakan kapsul yang dapat menampung hingga enam orang.
"Singapura akan semakin diperhitungkan di tingkat dunia dan akan semakin banyak turis yang datang," jelasnya.
Profesor Daniel New dari Nanyang Technological University (NTU) menyambut gembira rencana ini. "Mahasiswa akan memiliki banyak kesempatan untuk menjadikan agenda ini sebagai media pembelajaran dan juga mengingatkan akan pentingnya ilmu teknik dalam kehidupan."
Warga Singapura yang memiliki izin menerbangkan pesawat diundang untuk menjadi calon-calon astronot yang akan menjajal misi luar angkasa ini.

Flag Country

free counters