Remaja 13 Tahun Siap Jadi Manusia Pertama ke Mars




Seorang remaja putri asal Baton Rouge, Louisiana, Amerika Serikat (AS), bermimpi ingin menjadi astronaut 10 tahun lalu. Lebih jauh, mimpi besar Alyssa Carson saat usianya tiga tahun adalah menjadi orang pertama yang menjejakkan kaki di Mars.

Mimpinya itu mungkin tidak akan menjadi sekadar harapan setelah meniup lilin kue ulang tahun, karena badan antariksa AS (NASA) berpikir bahwa Alyssa punya kesempatan dan kini sudah menjalani pelatihan untuk misi pertamanya.

Kantor berita Reuters, Rabu 8 Oktober 2014, menyebut Alyssa mempelajari sains dan beberapa bahasa, serta menjadi orang pertama yang menghadiri semua dari tiga kamp ruang angkasa NASA. Dia kini sudah memiliki kode nama panggilan di NASA, yaitu "Bllueberry."

"Saya menghadiri kamp ruang angkasa kedua, mengenakan seragam penerbangan biru dan menjadi yang terkecil dalam kelompok. Sejak itu, saya dipanggil Blueberry," tulis Alyssa dalam blog pribadinya nasablueberry.com.

Pada Juli 2013, Alyssa yang menguasai bahasa Spanyol, Prancis, China, dan Turki selain bahasa Inggris, menjadi orang pertama yang menghadiri tiga kamp ruang angkasa NASA, serta satu-satunya anak Amerika yang mewakili AS.

Alyssa mengaku keinginan menjadi astronaut terinspirasi dari sebuah film musikal pra-sekolah berjudul Backyardigans. Film itu menceritakan lima hewan kecil yang membayangkan pekarangan rumah mereka sebagai arena petualangan.

Demi mendukung cita-citanya, Alyssa berencana mempelajari astrofisika di Universitas Ruang Angkasa Internasional di Prancis atau MIT di Boston. Alyssa telah bertemu dengan para pakar penerbangan ruang angkasa berawak NASA di Washington, 7 Januari lalu.

NASA juga telah mengindikasikan bahwa Alyssa punya peluang besar untuk mewujudkan mimpinya, saat NASA mengirimkan manusia untuk pertama kalinya ke Mars pada 2030. Cukup waktu bagi Alyssa untuk mempersiapkan diri menjadi orang pertama ke Mars pada usia 28 tahun.

Bukti Big Bang di Atmosfer Hanyalah Gangguan Debu?



Sejumlah peneliti mengkritik temuan astronom yang sebelumnya mengaku telah menemukan bukti kuat teori Bing Bang. Pada musim semi lalu, astronom Bicep itu mengumumkan bahwa bukti teori Bing Bang itu berupa riak di angkasa.

Namun, sejumlah peneliti yang menggunakan data satelit Planck, milik Badan Antariksa Eropa, menyebut riak yang digembar-gemborkan tim Bicep sebagai bukti Bing Bang itu, tak lebih dari gangguan kosmik belaka.

Seperti dilansir Time edisi 22 September 2014, peneliti Planck kemudian menjabarkan hasil penelitian itu di jurnal Astronomy and Astrophysics, pekan ini.

Temuan tim Planck itu mengkritisi penelitian yang dilakukan tim pimpinan John Kovac dari Harvarad-SMithsonian Center for Astrophysics. Tim ini mengaku yang melihat riak di angkasa saat menggunakan teleskop kuat Background Imaging of Cosmic Extragalactic Polarization 2 (Bicep 2). Tim Bicep ini juga menyebut bahwa riak bukti Bing Bang itu adalah gelombang gravitasi.

Sebaliknya, tim Planck menyebut bahwa debu antariksa dalam jumlah banyak kemungkinan menghalangi pandangan para astronom Bicep itu. Bahkan, peneliti Planck menyebut, debu-debu itu kemungkinan membentuk riak yang kemudian dilihat tim Bicep.

Meski demikian, tim Planck tidak bisa memastikan sejauh mana debu-debu antariksa itu mempengaruhi atau "mengganggu" hasil penelitian tim Bicep tersebut. 

"Kami menunjukkan bahwa di area debu yang memancar paling samar, tidak ada jendela yang 'jernih' di langit," ujar peneliti Planck pimpinan Jean-Loup Puget itu. 

Untuk memastikan kebenaran hasil pengamatan, tim Bicep dan Planck akan mengolaborasikan temuan mereka dalam sebuah temu ilmiah. Dilaporkan uji peneliti itu akan muncul paling lambat akhir tahun ini. 

Temuan peneliti itu untuk memastikan kesimpulan yang lebih rinci tentang apa yang dilihat dan diamati oleh tim Bicep.


Begini Dampaknya Jika Asteroid Hantam Bumi




Sebuah batu meteor kecil menghantam wilayah di Nicaragua. Meski kecil, meteor itu bisa membuat lubang kawah berukuran 20 meter. Meteor itu dipercaya berasal dari serpihan Asteroid RC 2014 yang melintas dekat dengan bumi. Jika meteor kecil saja bisa membuat lubang besar, bagaimana jika asteroid induknya yang menghantam bumi?

Sebuah proyek bernama The Killer Asteroid dibuat oleh National Science Foundation di Washington bersama dengan NASA. Proyek itu bisa mendemonstrasikan efek dan kekuatan ledakan, serta seberapa besar kerusakan yang terjadi saat asteroid menghantam bumi.

Dengan menggunakan plugin Google Earth, kalkulator Asteroid itu memungkinkan pengguna memilih jenis penghancur bumi, baik komet maupun asteroid, berikut dengan pilihan ukuran, mulai dari kecil, medium hingga besar. "Kalkulator" itu akan memprediksikan ledakan dan dampak kerusakan sesuai dengan ukuran benda langit yang dipilih.

Untuk memudahkan pengenalan secara umum, proyek ini menamakan asteroid-asteroid itu sesuai dengan ukuran. Asteroid kecil disamakan dengan ukuran sebesar bus dengan lebar sekitar 2,4 meter dan terbuat dari baja. Sedangkan ukuran medium disamakan dengan tiga kali ukuran lapangan bola dengan lebar 329 meter. Untuk asteroid ukuran lebar berukuran 1.931 meter dengan kecepatan 20 kilometer per detik.

Dalam simulasi itu juga ada komet es kecil dengan ukuran 109 meter dan berjalan 50 kilometer per detik. Komet ukuran medium, yang juga terbuat dari es dan bergerak 50 kilometer per detik, memiliki lebar 965 meter. Sedangkan komet es besar dalam proyek itu berukuran lebar 9.656 meter.

Dilansir melalui Daily Mail, Rabu, 10 September 2014, pengguna bisa memilih satu di antara asteroid atau komet tersebut. setelah itu tentukan sendiri lokasi perhentian benda luar angkasa itu secara sembarang. Usai memilih lokasi pendaratan, tekan tombol "Go" maka sebuah animasi akan menampilkan simulasi ledakan dan dampak yang ditimbulkan dari hantaman asteroid.

Estimasi asteroid RC 2014 hantam bumi

Sebagai contoh, jika ada komet besar yang menghantam wilayah Atlanta maka akan banyak serpihan yang terlempar di udara dan cukup membuat langit di wilayah itu gelap. Peta ini juga menunjukkan bila komet besar bisa membuat kepunahan di bumi. Komet inilah yang telah memusnahkan dinosaurus. Untungnya, fenomena ini hanya terjadi miliaran tahun sekali.

Simulasi lain, dengan menggunakan asteroid kecil yang menghantam London, memunculkan kawah seukuran taman Saint James di wilayah barat dan sekitarnya.

Semua estimasi ini didasari perhitungan yang dirancang oleh Prof. Robert Marcus dan tim peneliti lainnya di Purdue University, London. Perangkat kalkulasi ini memungkinkan pengguna memilih ukuran dan kecepatan benda luar angkasa.

Simulai itu pun mempertunjukkan adanya ledakan dahsyat saat asteroid 2014 RC menghantam bumi. Jika disesuaikan dengan hitungan kecepatan, sudut dan kepadatan saat menuju bumi maka asteroid itu akan hancur di ketinggian 63.100 meter dari permukaan bumi.

Ledakan itu akan memenuhi lapisan awan di ketinggian 23.100 meter. Semua menjadi gelap. Dampak ledakan itu akan memenuhi udara dalam waktu 1.17 menit. Intensitas suara ledakan pun akan mencapai 51dB.


Manajemen Buruk, NASA Tidak Bisa Selamatkan Bumi



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) diprediksi akan gagal memenuhi target penemuan objek terdekat yang mengancam bumi. Target tersebut adalah asteroid dengan diameter lebih dari 140 meter.

Manajemen lembaga yang tidak bagus membuat kegagalan ini akan terjadi. Prediksi kegagalan itu disampaikan seorang inspektur jenderal NASA dalam sebuah laporan kemarin. Demikian mengutip Guardian, Selasa 16 September 2014.

Padahal lembaga pemerintah Amerika itu sudah mendapatkan kenaikan dalam hal pendanaan untuk mendeteksi dan menemukan benda objek dekat bumi. 

Menurut laporan, dalam 5 tahun terakhir, anggaran untuk melacak benda objek dekat bumi telah meningkat 10 kali lipat dari US$4 juta pada 2009 menjadi US$40 juta pada 2014. 

"NASA memperkirakan mereka telah mengidentifikasi sekitar 10 persen dari semua asteroid berdiameter 140 meter dan di atasnya. Dengan mempertimbangkan kecepatan dan sumber daya saat ini, NASA tidak akan memenuhi target temuan 90 persen dari benda objek dekat bumi sampai 2020," tulis Paul Martin, Inspektur Jenderal NASA dalam laporannya. 

Martin menyebutkan faktor kegagalan itu diakibatkan manajemen pengelolaan NASA yang buruk. Lembaga itu dianggap 'terlalu memberikan kelonggaran' dalam penyusunan aktivitas riset. Kebanyakan riset tak terintegrasi dengan program pengawasan, tujuan dan pelacakan untuk kemajuan misi.

Pada Juli 2014, NASA mengklaim telah menemukan sekitar 11.230 objek dekat bumi, termasuk 862 asteroid raksasa. Jumlah temuan itu hanyalah 10 persen dari asteroid terdekat bumi yang berdiameter lebar kurang dari 140 meter. 

NASA bahkan mengklaim telah menemukan sekitar 95 persen objek terbesar, asteroid berdiameter 1 Km atau lebih yang paling berpotensi merusak bumi. 

Mengingat potensi kegagalan program deteksi objek dekat bumi itu, laporan itu merekomendasikan agar NASA segera melakukan langkah perbaikan. Di antaranya dengan menambahkan sedikitnya 4 sampai 6 karyawan untuk mengelola program dan koordinasi proyek dengan badan internasional Amerika dan iniasi lain yang didanai swasta. 

Program deteksi objek dekat bumi akan diperbaharui lagi pada 1 September mendatang.

Di Atas Danau Ini, UFO Sering Menampakkan Diri


Benda terbang yang tak dikenal (UFO) selalu menampakkan diri di tempat yang tak pernah diperkirakan. Seperti halnya, seorang penduduk yang mengklaim telah melihat UFO di Danau Ontario, Kanada.

Seperti diberikan International Business Times, Senin 8 September 2014, seorang penduduk di sekitar Danau Ontario, bernama Gordon, mengaku melihat objek aneh di langit pada 25 Agustus kemarin.

Awalnya, Gordon melihatnya tak sengaja, karena ia sedang bermain dengan hewan peliharaannya. Ia sedang membiarkan anjingnya keluar berlari-lari di halaman belakang rumah. Gordon lalu terkejut, dengan apa yang dilihatnya. Sebuah benda terang berbentuk segitiga, terbang di langit barat di atas Danau Ontario.

Gordon lalu ingin membuktikannnya lebih jauh lagi dengan menggunakan teropong, agar bisa melihat lebih dekat.

"Setelah mengamati beberapa saat, saya melihat benda berbentuk segitiga itu berputar, lalu lampunya berkedip. Lampu itu berwarna merah, putih, biru, dan hijau," jelasnya.

Rasa penasaran yang menggebu dalam diri Gordon membuat dia beranjak dari rumahnya untuk menyusuri jalan menuju pemandangan yang lebih jelas lagi.

Ternyata, bukan hanya satu, Gordon menemukan dua benda aneh lainnya lagi saat di pantai. "Ada satu lagi, rendah di barat laut, sepertinya menuju arah Toronto," kata dia.

Dari penampakan tiga benda yang diduga UFO itu, Gordon mengatakan setidaknya mereka muncul lebih dari satu jam, mulai pukul 11.15 waktu setempat.

"Ketiganya tiba-tiba hilang lalu muncul kembali, lalu menghilang, dan tak kembali," ucap Gordon.

Ternyata, ini bukanlah pertama kalinya terjadi. Sebelumnya, tepatnya awal tahun, warga Kanada bernama Hamilton melaporkan UFO muncul di atas Danau Ontario juga.

"Saat pulang dari tempat kerja, ada perasaan aneh. Aku mendongak dan melihat banyak bola lampu di langit. Kemudian, saya merasakan sakit dan lemah tapi terus fokus pada mereka. Saya mencoba untuk bergerak tapi tak bisa," klaim Hamilton.

Hamilton menambahkan, setidak ada sekitar 10 bola melayang di atas langit selama 11 menit pada saat itu.

"Ini adalah nyata dan saya pikir itu alien yang berusaha untuk berkomunikasi dengan saya, karena saya tampaknya kehilangan kesadaran sekitar 11 menit," ungkapnya.


Penjelasan Penampakan 'Manusia' di Bulan



Misteri penampakan wajah manusia di bulan sudah lama menjadi 'pemanis' kisah di antara para astronom maupun kalangan pemerhati antariksa. Berbagai teori tentang penampakan manusia itu sudah mengemuka sejak 1959 sejak usai pesawat ruang angkasa Soviet Luna 3 memotret bulan saat kembali ke bumi. 


Salah satu teori mengkaji penampakan manusia itu muncul karena perbedaan waktu pembentukan bulan atau dikenal dengan teori Gian Impact. 


Sementara teori lain menganggap penampakan manusia itu karena cekungan di permukaan bulan yang merupakan dampak serangan asteroid. Batu antariksa membentuk cekungan kawah dan tampak lebih gelap dari bumi.


Namun teori itu mendapatkan bantahan dari data Badan Antariksa AS (NASA). Penampakan manusia itu bukan akibat dari cekungan bekas asteroid. Penyebab wajah manusia itu akibat gumpalan magma bulan. 


Melansir Cnet, Kamis 2 Oktober 2014, hal itu dibuktikan oleh gabungan peneliti Institut Teknologi Massachusetts (MIT), Colorado School of Mines dan lembaga lain yang menggunakan data pesawat antariksa GRAIL milik NASA yang mengorbit bulan sejak 2012 silam. 


Dengan data itu, ilmuwan memetakan bagian yang tampak gelap dari bulan atau dikenal wilayah Procellarum. Data peta menunjukkan cekungan yang membentang berdiameter hampir 1.800 mil itu cenderung lebih sudut. Bukan berbentuk melingkar atau elips, yang menjadi dasar ide dampak serangan asteroid. 


"Kami melihat fitur pada Procellarum ini linear membentuk persegi panjang yang besar. Bentuk ini secara kuat menunjukkan asal usul bagian dalam dan menegaskan kekuatan dalam bulan," terang Jim Head, profesor Ilmu Geologi Universitas Brown, yang merupakan salah satu peneliti dalam studi ini. 


Kekuatan internal itu, jelas Head, bisa memunculkan segumpal magma yang naik ke permukaan, yang kemudian didinginkan dan akhirnya mengeras menciptakan formasi yang dengan mudah disalahartikan sebagai kawah, padahal itu bukan dari serangan asteroid. 


"Bagaimana gumpalan itu muncul memang masih misteri, bisa disebabkan peluruhan radioaktif dari unsur penghasil panas di dalam bulan, atau dampak besar asteroid pada masa sangat awal yang memicu gumpalan," kata Head menjelaskan. 


Namun, ia melanjutkan, semua bukti menunjukkan dugaan dampak besar asteroid telah gugur. 


"Orang yang berpikir semua vulkanik bulan terkait degan dampak asteroid harus dipikirkan lagi," tegas dia. 


Ditemukan Bintang yang Lebih "Dahsyat" dari Matahari



Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah menemukan sebuah bintang yang lebih berbahaya dari ledakan pijar matahari, yakni DG Canum Venaticorum atau DG CVn. Setidaknya, NASA mencatat ada sekitar 10.000 kali ledakan yang lebih kuat dari yang pernah ada.

Padahal, diketahui, pijaran matahari saja sudah mampu melumpuhkan energi serta sangat mengganggu sehingga dapat memengaruhi komunikasi di Bumi. Lalu apa yang terjadi dengan bumi jika bintang ini memiliki kekuatan ledakan lebih dari matahari?

NASA merilis, puncak ledakan DG CVn itu mencapai suhu 360 juta derajat fahrenheit atau setara dengan 200 juta celsius. Kekuatan tersebut mengalahkan pusat panas yang terdapat di matahari, sekitar 12 kali lebih panas.

"Ini peristiwa yang sangat kompleks. Kami dulu beripikir DG CVn ini tidak berlangsung lama tapi ternyata kami mencatat setidaknya ada tujuh kali letusan kuat selama sekitar dua minggu ini," kata Astrofisikawan Goddard Space Flight Center NASA, mengutip Daily Mail, Kamis, 2 Oktober 2014.

Meskipun kekuatan ledakannya lebih besar dari matahari, ukuran DG CVn ini malah lebih kecil dari matahari, hanya sekitar sepertiganya.

NASA mengaku kecolongan dengan keberadaan DG CVn ini. Mereka tak mengetahui secara detail apa yang terkandung di dalamnya.

"Sistem ini (DG CVn) kurang dipelajari karena tidak ada dalam daftar. Namun ternyata bintang ini mampu menghasilkan ledakan pijar yang begitu besar," ungkap Rachel Osten seorang astronom dari Space Telecope Science Institute.

Berdasarkan data yang ada, sebagian besar bintang yang berada di tata surya ini berjarak sekitar 100 tahun cahaya dari tata surya. Para astronom memperkirakan DG CVn ini sudah berusia 30 juta tahun yang lalu, dimana umur tersebut sekitar kurang 0,7 persen dari usia tata surya.

NASA sendiri belum memutuskan apakah akan menyelidiki bintang tersebut, dengan meluncurkan instrumen lainnya seperti pesawat ulak alik, atau tidak.

NASA mencatat, ledakan pijaran terbesar yang terjadi pada matahari itu terjadi pada November 2003 yang dinilai sebagai X 45. Sedangkan, pada DG CVn, bila dilihat dari jarak planet yang sama dengan bumi dan matahari, akan menjadi 10.000 lebih besar, dengan kata lain sekitar X 100.000.

Namun, Osten mengatakan untuk 11 hari ke depan, ledakan pijaran yang berada di DG CVn itu akan berangsur-angsur melemah.

Flag Country

free counters