Dahlan: Dulu jual, sekarang beli satelit



Merdeka.com - Menteri BUMN Dahlan Iskan mengaku bangga atas prestasi yang berhasil ditorehkan oleh BRI. Bank dengan laba terbesar di Indonesia ini mampu membeli satelit dari Amerika dan akan diluncurkan dari Perancis tahun 2016 nanti.
Dia menyebut proses pembelian satelit tersebut sebagai perjuangan lantaran cukup rumit. Pemerintah pun perlu turun tangan untuk mendapatkan ruang orbit di luar angkasa dengan memakan waktu hingga 2 tahun.
Satelit baru ini akan menggunakan ruang orbit Indosat yang telah habis masa berlakunya. Orbit tersebut milik pihak asing karena Indosat dijual keluar negeri beberapa tahun lalu.
"Pepatahnya dari Tual ke Bali, dulu jual sekarang beli. Satelit Indosat itu akan habis. Perjuangan kita itu dua tahun. Tapi memang tidak pernah kita buka karena agak sensitif. Sekarang sudah jadi, kita buka," ujar Dahlan di markas band Slank, Gang Potlot, Jakarta, Kamis (1/5).
Dahlan bercerita Indosat telah dimiliki asing karena dijual pemerintah pada 15 tahun silam. Komoditas yang dijual juga termasuk jalur orbit yang digunakan satelit Indosat.
Sehingga, terang Dahlan, pembelian satelit ini juga bermaksud untuk mengembalikan kepemilikan orbit satelit dari asing ke pangkuan Ibu Pertiwi.
"Indosat dulu dijual, sekarang BUMN bank besar akan meluncurkan satelit sendiri. Kita sudah punya kavling milik Indonesia sendiri yang dulu kita jual sekarang dibeli," tegasnya.
Rencananya, setelah selesai dirakit, satelit tersebut akan dibawa diangkut dari Amerika menuju sebuah pulau di kawasan Perancis. Dari pulau tersebut nantinya satelit akan diluncurkan ke ruang orbitnya.
"Dalam waktu 29 menit, satelit itu akan mencapai ketinggian 35.000 Km. Satelit ini kita pakai untuk kemajuan Indonesia," tutupnya.

Penakluk Tikus Itu Bernama TBS


                            Foto: Penakluk Tikus Itu Bernama TBS

Jum'at, 03 Januari 2014 , 22:31:00


MEMANEN PADI - Petani menunjukkan hama tikus dalam panen raya di Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Sleman, Jumat (3/1/2014). Kegiatan yang dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan tersebut merupakan panen perdana setelah gagal panen dalam kurun waktu hampir empat tahun terakhir akibat serangan hama tikus. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja/JPNN.com

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Dr Sudarmaji menjadi tokoh paling sering disebut namanya oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan saat panen raya padi di Sidoluhur, Godean, Jumat kemarin (3/1).

Sudarmaji disebut-sebut sebagai sosok dibalik sukses pemberantasan tikus. “Beliau ini satu-satunya doktor ahli tikus di Indonesia,” kata Dahlan mengenalkan Sudarmaji kepada para petani.

Metode Trap Barrier System (TBS) adalah teknologi sederhana yang tak makan banyak biaya. Namun cukup efektif membasmi tikus dengan pengendalian terpadu. Bukan single teknologi.

“Ada rekayasa sosial disini. Menangani tikus tak bisa sendirian,” ungkap Sudarmaji kepada Radar Jogja (JPNN Group), Jumat (3/1).

Hal paling utama untuk menyukseskan metode tersebut berupa perubahan mindset (pola) pikir petani mengenai tikus. Hama pengerat tanaman itu bukan mitos sehingga bisa dibasmi dengan teknologi. Petani dituntut paham ekologi terkait luas lahan. Itu berpengaruh untuk melakukan aksi. “Aksi tanpa dasar ilmu, tak bisa dilakukan,” ungkapnya.

Sudarmaji menjelaskan bahwa prinsip TBS adalah memasang bubu (jebakan tikus) di titik-titik tertentu pada area sawah. Nah, di bagian bawah tanaman dipasang plastik. Plastik ditegakkan dengan bubu dibuat menyerupai labirin. Plastik dilubangi, dibuatkan semacam pintu masuk mengarah pada bubu.

Menurut Sudarmaji, plastik itulah yang akan mengarahkan tikus masuk ke bubu sebelum menyerang sawah. “Tikus memiliki karakteristik, tak mau lewat jika terhalang plastik meskipun tipis,” paparnya.

Sudarmaji mengingatkan bahwa metode ini tak bisa dilakukan secara instan dalam waktu singkat. Untuk menurunkan tingkat polulasi tikus, Sudarmaji memperkirakan butuh waktu sekitar 3-4 musim menerapkan TBS secara berturut-turut. Hasil akan lebih optimal jika petani juga berupaya melakukan tanam serempak dengan pola padi-padi-palawija.

“Padi-padi-pantun tak boleh sepanjang tahun,” tandasnya.(yog)

http://m.jpnn.com/news.php?id=208895

MEMANEN PADI - Petani menunjukkan hama tikus dalam panen raya di Desa Sidoluhur, Kecamatan Godean, Sleman, Jumat (3/1/2014). Kegiatan yang dihadiri Menteri BUMN Dahlan Iskan tersebut merupakan panen perdana setelah gagal panen dalam kurun waktu hampir empat tahun terakhir akibat serangan hama tikus. Foto : Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja/JPNN.com

Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Dr Sudarmaji menjadi tokoh paling sering disebut namanya oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan saat panen raya padi di Sidoluhur, Godean, Jumat kemarin (3/1).

Sudarmaji disebut-sebut sebagai sosok dibalik sukses pemberantasan tikus. “Beliau ini satu-satunya doktor ahli tikus di Indonesia,” kata Dahlan mengenalkan Sudarmaji kepada para petani.

Metode Trap Barrier System (TBS) adalah teknologi sederhana yang tak makan banyak biaya. Namun cukup efektif membasmi tikus dengan pengendalian terpadu. Bukan single teknologi.

“Ada rekayasa sosial disini. Menangani tikus tak bisa sendirian,” ungkap Sudarmaji kepada Radar Jogja (JPNN Group), Jumat (3/1).

Hal paling utama untuk menyukseskan metode tersebut berupa perubahan mindset (pola) pikir petani mengenai tikus. Hama pengerat tanaman itu bukan mitos sehingga bisa dibasmi dengan teknologi. Petani dituntut paham ekologi terkait luas lahan. Itu berpengaruh untuk melakukan aksi. “Aksi tanpa dasar ilmu, tak bisa dilakukan,” ungkapnya.

Sudarmaji menjelaskan bahwa prinsip TBS adalah memasang bubu (jebakan tikus) di titik-titik tertentu pada area sawah. Nah, di bagian bawah tanaman dipasang plastik. Plastik ditegakkan dengan bubu dibuat menyerupai labirin. Plastik dilubangi, dibuatkan semacam pintu masuk mengarah pada bubu.

Menurut Sudarmaji, plastik itulah yang akan mengarahkan tikus masuk ke bubu sebelum menyerang sawah. “Tikus memiliki karakteristik, tak mau lewat jika terhalang plastik meskipun tipis,” paparnya.

Sudarmaji mengingatkan bahwa metode ini tak bisa dilakukan secara instan dalam waktu singkat. Untuk menurunkan tingkat polulasi tikus, Sudarmaji memperkirakan butuh waktu sekitar 3-4 musim menerapkan TBS secara berturut-turut. Hasil akan lebih optimal jika petani juga berupaya melakukan tanam serempak dengan pola padi-padi-palawija.

“Padi-padi-pantun tak boleh sepanjang tahun,” tandasnya.

Semen Indonesia Ekspansi ke Myanmar Kuartal III

                           Foto: Setelah Semen Thang Long Vietnam di akusisi PT. Semen Indonesia. Kini mulai mulai berekspansi ke Myanmar dengan membeli Saham Perusahaan Semen Asal Myanmar meskipun masih minoritas.

Dulu BUMN untung Dijualin. Sekarang BUMN berekspansi "Menjajah" Luar Negeri.

Terus Kawal BUMN negeri ini untuk terus memberi kontribusi untuk negeri ini pak Dahlan.

Biarlah orang politikus menghujat anda. Biarlah anda di fitnah. Terus bekerja dan berkarya Calon Presidenku.
----------------

Semen Indonesia Ekspansi ke Myanmar Kuartal III

PT Semen Indonesia (persero) Tbk (SMGR) menjalin kemitraan dengan perusahaan semen asal Myanmar pada kuartal ketiga 2014. Semen Indonesia akan memiliki saham pada perusahaan swasta tersebut. Kepemilikan dalam jumlah minoritas.

"Semen Indonesia berharap bisa mayoritas, tetapi situasi pasar di Myanmar belum dikuasai," ujar Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto di Jakarta, Kamis (9/1) malam. Semen Indonesia berencana menjadi mayoritas kepemilikan saham pada perusahaan setelah memahami kondisi pasar di Myanmar. Proses ini membutuhkan jangka waktu dua tahun.

"Situasi Myanmar berbeda dengan Vietnam. Permintaan semen Myanmar belum besar tapi di sana posisinya masih impor," ungkap Dwi. Semen Indonesia juga membuka peluang kerja sama untuk status mayoritas dalam kepemilikan saham perusahaan. Langkah ini untuk mengatur penawaran atau berperan dalam industri semen di Myanmar.

"Meskipun Semen Indonesia belum mayoritas tetapi berpengalaman di bidang teknologi semen. Dalam penetapannya mampu mengendalikan aspek produksi dan pemasaran," kata Dwi. Permintaan semen di Myanmar sebanyak 8 juta ton per tahun.

Semen Indonesia menganggarkan dana investasi sebesar US$200 juta untuk ekspansi di Myanmar. "Butuh equity sekitar US$50 juta," ucap Dwi. (Wibowo)

http://m.metrotvnews.com/read/news/2014/01/10/206758/Semen-Indonesia-Ekspansi-ke-Myanmar-Kuartal-III?utm_source=metrotvnews&utm_medium=twitter#.Us-svO0WTsM.twitter




PT Semen Indonesia (persero) Tbk (SMGR) menjalin kemitraan dengan perusahaan semen asal Myanmar pada kuartal ketiga 2014. Semen Indonesia akan memiliki saham pada perusahaan swasta tersebut. Kepemilikan dalam jumlah minoritas.

"Semen Indonesia berharap bisa mayoritas, tetapi situasi pasar di Myanmar belum dikuasai," ujar Direktur Utama Semen Indonesia Dwi Soetjipto di Jakarta, Kamis (9/1) malam. Semen Indonesia berencana menjadi mayoritas kepemilikan saham pada perusahaan setelah memahami kondisi pasar di Myanmar. Proses ini membutuhkan jangka waktu dua tahun.

"Situasi Myanmar berbeda dengan Vietnam. Permintaan semen Myanmar belum besar tapi di sana posisinya masih impor," ungkap Dwi. Semen Indonesia juga membuka peluang kerja sama untuk status mayoritas dalam kepemilikan saham perusahaan. Langkah ini untuk mengatur penawaran atau berperan dalam industri semen di Myanmar.

"Meskipun Semen Indonesia belum mayoritas tetapi berpengalaman di bidang teknologi semen. Dalam penetapannya mampu mengendalikan aspek produksi dan pemasaran," kata Dwi. Permintaan semen di Myanmar sebanyak 8 juta ton per tahun.

Semen Indonesia menganggarkan dana investasi sebesar US$200 juta untuk ekspansi di Myanmar. "Butuh equity sekitar US$50 juta," ucap Dwi.

Dengan Grobogan Tidak Perlu Impor Manufacturing Hope 111

                              Foto: Dengan Grobogan Tidak Perlu Impor
Manufacturing Hope 111

Kita belum tahu siapa yang akan jadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun ini. Minggu depan, dalam acara yang biasanya dihadiri 5.000 wirausaha muda, kita baru tahu siapa dia. Tiap tahun Bank Mandiri memang mengadakan lomba wirausaha untuk anak muda. Juaranya selalu hebat.

“Saya juara tahun lalu, Pak,” ujar Adi Widjaja saat menyalami saya di sebuah desa di Purwodadi, Jateng. Saya memang ke desa Krangganrejo untuk bertemu warga di situ.

Desa ini dekat stasiun yang akan dirancang untuk disinggahi KA kelak. Saat ini stasiun yang dulunya tidak disinggahi KA itu sedang dibangun dan sudah kelihatan gagahnya.

Adi Widjaja datang ke Krangganrejo dengan membawa dua bungkus plastik kedelai. Satu bungkus berisi kedelai impor dari Amerika Serikat. Satunya lagi berisi kedelai hasil tanamannya sendiri yang dibiayai dari hadiah Rp 1 miliar yang dia dapat dari Bank Mandiri.

Adi ingin agar saya melihat sendiri bahwa kedelai hasil tanamannya lebih bagus dari kedelai Amerika.

Waktu ikut lomba di Bank Mandiri dulu Adi memang mengajukan proposal bisnis kedelai yang menguntungkan. Proposal ini menarik perhatian, terutama di saat Indonesia kekurangan kedelai. Kita harus impor kedelai besar-besaran karena produksi kedelai kita sangat kecil.

Itu karena petani tidak mau tanam kedelai yang hasilnya kalah dari tanam padi atau palawija. Produktivitas tanaman kedelai kita hanya sekitar 1,5 ton/hektar. Kalau harga kedelai hanya Rp 7.000/kg, berarti satu hektar sawah hanya menghasilkan uang sekitar Rp 11 juta/hektar.

Adi Widjaja mengajukan proposal mengejutkan: bisa 3 ton/hektar. Bahkan bisa 3,4 ton/hektar. Kalau ini benar berarti satu hektar sawah bisa menghasilkan Rp 21 juta lebih. Cukup bersaing dengan tanaman padi. Apalagi kedelai Adi ini sudah bisa dipanen dalam 75 hari.

Adi yang lulusan S1 Biologi Universitas Satya Wacana Salatiga dan S2 di Victoria University Melbourne, Australia, itu mengaku bahwa dia hanya mengembangkan penemuan bapaknya. Sang ayah, drh Tjandramukti yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) meninggal dunia tiga tahun lalu dalam usia 75 tahun.

Kalau penemuan Adi ini dikembangkan, maka gugurlah tesis selama ini bahwa kedelai tidak cocok ditanam di negara tropis seperti Indonesia. Selama ini text book mengatakan bahwa kedelai hanya cocok ditanam di negara subtropik yang mataharinya bersinar lebih panjang.

Dari logika “sinar yang lebih panjang” itulah Tjandramukti berangkat melakukan penelitian. Sang ayah ingin membuktikan bagaimana sinar yang pendek bisa ditangkap maksimal sehingga hasilnya sama dengan sinar yang panjang.

Tjandramukti fokus membuat daun kedelai yang mampu menangkap sinar dalam waktu yang lebih pendek tapi daya serapnya lebih besar. Dalam kasus singkong, para penemu membuat daun singkongnya lebih banyak dan tidak cepat rontok.

Dalam hal kedelai ini, ayah Adi tidak ingin membuat daun kedelai yang lebar dan banyak. Ini karena daun yang lebar cenderung melengkung kalau terkena terik matahari yang sangat panas. Kalau daun itu melengkung daya serapnya terhadap sinar berkurang.

Tjandramukti justru ingin menciptakan daun kedelai yang tebal. Agar posisi daun tidak mudah melengkung saat ditimpa terik matahari. Lalu ruas-ruas batang kedelai dia buat pendek untuk efektivitas sistem transportasi. Untuk menciptakan dua hal itu (daun tebal dan ruas pendek) harus diciptakan pupuk khusus.

Walhasil pupuk khusus inilah yang ditemukan Tjandramukti. Jenis pupuk yang bisa mengubah tanah dan mengubah tanaman.

Adi yang meneruskan penelitian sepeninggal ayahanda merahasiakan formula pupuknya. Tapi dia mau menjelaskan bahwa semua itu berbasis kotoran sapi. “Hanya saja makanan sapinya kami atur secara khusus,” kata Adi. “Tetap ada unsur serat, protein, dan karbohidrat, tapi kami campur dengan ramuan khusus,” tambahnya.

Begitu mendapat hadiah Rp 1 miliar dari Bank Mandiri, Adi langsung bergerilya mencari petani yang mau sawahnya ditanami kedelai dengan benih dan pupuk khusus. Dia dapat sawah seluas 950 hektar. Minggu lalu kedelai hampir 1.000 hektar itu panen. Hasilnya 3,4 ton/hektar. Sama dengan produktifitas kedelai Amerika.

Hebatnya kedelai Adi ini bukan teknologi transgenik. Ini kedelai organik. Butirannya lebih seksi dan sedikit lebih besar dari kedelai Amerika.

Mengapa hanya tanam 950 hektar? “Itulah maksimum volume pupuk yang bisa kami buat. Kami hanya punya 50 ekor sapi,” ujar Adi. “Kami perlu beli sapi tambahan untuk bisa bikin pupuk khusus yang lebih banyak.”

Sambil meninggalkan Purwodadi kemarin, saya merasa bersyukur Bank Mandiri bisa “menemukan” Adi Widjaja. Tantangan berikutnya tinggal mengembangkannya. Kita sudah mendapat kendaraan untuk swasembada kedelai. Kita tinggal menyediakan jalannya. Kita bisa!


Oleh Dahlan Iskan
Menteri BUMN

***

http://www.dahlaniskan.net/dengan-grobogan-tidak-perlu-impor/

http://kabardahlaniskan.wordpress.com/2014/01/12/dengan-grobogan-tidak-perlu-impor/

https://www.facebook.com/groups/DemiIndonesiaJaya/permalink/439903472804111




Kita belum tahu siapa yang akan jadi juara Wirausaha Muda Mandiri tahun ini. Minggu depan, dalam acara yang biasanya dihadiri 5.000 wirausaha muda, kita baru tahu siapa dia. Tiap tahun Bank Mandiri memang mengadakan lomba wirausaha untuk anak muda. Juaranya selalu hebat.

“Saya juara tahun lalu, Pak,” ujar Adi Widjaja saat menyalami saya di sebuah desa di Purwodadi, Jateng. Saya memang ke desa Krangganrejo untuk bertemu warga di situ.

Desa ini dekat stasiun yang akan dirancang untuk disinggahi KA kelak. Saat ini stasiun yang dulunya tidak disinggahi KA itu sedang dibangun dan sudah kelihatan gagahnya.

Adi Widjaja datang ke Krangganrejo dengan membawa dua bungkus plastik kedelai. Satu bungkus berisi kedelai impor dari Amerika Serikat. Satunya lagi berisi kedelai hasil tanamannya sendiri yang dibiayai dari hadiah Rp 1 miliar yang dia dapat dari Bank Mandiri.

Adi ingin agar saya melihat sendiri bahwa kedelai hasil tanamannya lebih bagus dari kedelai Amerika.

Waktu ikut lomba di Bank Mandiri dulu Adi memang mengajukan proposal bisnis kedelai yang menguntungkan. Proposal ini menarik perhatian, terutama di saat Indonesia kekurangan kedelai. Kita harus impor kedelai besar-besaran karena produksi kedelai kita sangat kecil.

Itu karena petani tidak mau tanam kedelai yang hasilnya kalah dari tanam padi atau palawija. Produktivitas tanaman kedelai kita hanya sekitar 1,5 ton/hektar. Kalau harga kedelai hanya Rp 7.000/kg, berarti satu hektar sawah hanya menghasilkan uang sekitar Rp 11 juta/hektar.

Adi Widjaja mengajukan proposal mengejutkan: bisa 3 ton/hektar. Bahkan bisa 3,4 ton/hektar. Kalau ini benar berarti satu hektar sawah bisa menghasilkan Rp 21 juta lebih. Cukup bersaing dengan tanaman padi. Apalagi kedelai Adi ini sudah bisa dipanen dalam 75 hari.

Adi yang lulusan S1 Biologi Universitas Satya Wacana Salatiga dan S2 di Victoria University Melbourne, Australia, itu mengaku bahwa dia hanya mengembangkan penemuan bapaknya. Sang ayah, drh Tjandramukti yang lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) meninggal dunia tiga tahun lalu dalam usia 75 tahun.

Kalau penemuan Adi ini dikembangkan, maka gugurlah tesis selama ini bahwa kedelai tidak cocok ditanam di negara tropis seperti Indonesia. Selama ini text book mengatakan bahwa kedelai hanya cocok ditanam di negara subtropik yang mataharinya bersinar lebih panjang.

Dari logika “sinar yang lebih panjang” itulah Tjandramukti berangkat melakukan penelitian. Sang ayah ingin membuktikan bagaimana sinar yang pendek bisa ditangkap maksimal sehingga hasilnya sama dengan sinar yang panjang.

Tjandramukti fokus membuat daun kedelai yang mampu menangkap sinar dalam waktu yang lebih pendek tapi daya serapnya lebih besar. Dalam kasus singkong, para penemu membuat daun singkongnya lebih banyak dan tidak cepat rontok.

Dalam hal kedelai ini, ayah Adi tidak ingin membuat daun kedelai yang lebar dan banyak. Ini karena daun yang lebar cenderung melengkung kalau terkena terik matahari yang sangat panas. Kalau daun itu melengkung daya serapnya terhadap sinar berkurang.

Tjandramukti justru ingin menciptakan daun kedelai yang tebal. Agar posisi daun tidak mudah melengkung saat ditimpa terik matahari. Lalu ruas-ruas batang kedelai dia buat pendek untuk efektivitas sistem transportasi. Untuk menciptakan dua hal itu (daun tebal dan ruas pendek) harus diciptakan pupuk khusus.

Walhasil pupuk khusus inilah yang ditemukan Tjandramukti. Jenis pupuk yang bisa mengubah tanah dan mengubah tanaman.

Adi yang meneruskan penelitian sepeninggal ayahanda merahasiakan formula pupuknya. Tapi dia mau menjelaskan bahwa semua itu berbasis kotoran sapi. “Hanya saja makanan sapinya kami atur secara khusus,” kata Adi. “Tetap ada unsur serat, protein, dan karbohidrat, tapi kami campur dengan ramuan khusus,” tambahnya.

Begitu mendapat hadiah Rp 1 miliar dari Bank Mandiri, Adi langsung bergerilya mencari petani yang mau sawahnya ditanami kedelai dengan benih dan pupuk khusus. Dia dapat sawah seluas 950 hektar. Minggu lalu kedelai hampir 1.000 hektar itu panen. Hasilnya 3,4 ton/hektar. Sama dengan produktifitas kedelai Amerika.

Hebatnya kedelai Adi ini bukan teknologi transgenik. Ini kedelai organik. Butirannya lebih seksi dan sedikit lebih besar dari kedelai Amerika.

Mengapa hanya tanam 950 hektar? “Itulah maksimum volume pupuk yang bisa kami buat. Kami hanya punya 50 ekor sapi,” ujar Adi. “Kami perlu beli sapi tambahan untuk bisa bikin pupuk khusus yang lebih banyak.”

Sambil meninggalkan Purwodadi kemarin, saya merasa bersyukur Bank Mandiri bisa “menemukan” Adi Widjaja. Tantangan berikutnya tinggal mengembangkannya. Kita sudah mendapat kendaraan untuk swasembada kedelai. Kita tinggal menyediakan jalannya. Kita bisa!

Rapat Awal Akuisisi PGN oleh Pertamina Dilakukan Dahlan Lewat BlackBerry Group

                             Foto: Bagi seorang Menteri Dahlan Iskan, Rapat di parkiran oke. Rapat di bawah anak tangga ok. Rapat lesehan udah biasa.
Ternyata akuisisi PGN oleh pertaminan rapatnya cuma lewat Blackberry Group.

Murah, meriah, solutif tidak bertele-tele. Tidak menghambur-hamburkan uang negara.

----
Rapat Awal Akuisisi PGN oleh Pertamina Dilakukan Dahlan Lewat BlackBerry Group 

Pembahasan akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) oleh PT Pertamina (Persero) ternyata telah dilakukan sebanyak 3 kali. Rapat awal telah dilakukan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan direksi Pertamina dan PGN lewat BlackBerry Group.

"Pertemuan ini sudah 3 kali. Pertama pertemuan lewat teknologi antara Dirut Pertamina, PGN, dan Kementerian BUMN lewat BlackBerry Group," kata Dahlan saat jumpa pers di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (16/1/2014).

Pada rapat kedua, pembahasan dilakukan di Kementerian BUMN. Rapat ini dihadiri oleh Dahlan, pejabat eselon I Kementerian BUMN, serta direksi Pertamina dan PGN yang merupakan emiten berkode PGAS.

"Rapat kedua di sini (Kementerian BUMN), dihadiri eselon satu Kementerian BUMN. Dihadiri direksi PGN dan Pertamina," jelasnya.

Kemudian, rapat ketiga dilakukan di kantor pusat Pertamina. Pada rapat ini dilakukan antara Dahlan, petinggi Kementerian BUMN, dan direksi Pertamina. Dahlan menegaskan, PGN pada rapat ini sengaja tidak diikutsertakan karena fokus mendengarkan kesiapan Pertamina.

"Rapat ketiga di Pertamina antara pejabat Kementerian dan Pertamina," jelasnya.

Baru dalam waktu dekat akan dilangsungkan rapat antara Kementerian BUMN dan direksi PGN. Rapat ini tidak melibatkan direksi Pertamina. "Rapat keempat, rapat antara Kementerian BUMN dan PGN," sebutnya.

Selain rapat, juga dilakukan kajian independen tentang skema akuisisi PGN oleh Pertamina. Kajian bisnis ini dilakukan oleh PT Bahana dan PT Danareksa. Dahlan mengaku pemegang saham akan mengikuti hasil terbaik yang direkomendasikan oleh Bahana dan Danareksa terkait opsi akuisisi PGN oleh Pertamina.

"Hasil apa kita ikut. Mana yang terbaik untuk bangsa," katanya.

http://finance.detik.com/read/2014/01/16/172823/2469279/6/rapat-awal-akuisisi-pgn-oleh-pertamina-dilakukan-dahlan-lewat-blackberry-group?f9911013




Pembahasan akuisisi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) oleh PT Pertamina (Persero) ternyata telah dilakukan sebanyak 3 kali. Rapat awal telah dilakukan oleh Menteri BUMN Dahlan Iskan dengan direksi Pertamina dan PGN lewat BlackBerry Group.

"Pertemuan ini sudah 3 kali. Pertama pertemuan lewat teknologi antara Dirut Pertamina, PGN, dan Kementerian BUMN lewat BlackBerry Group," kata Dahlan saat jumpa pers di kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Kamis (16/1/2014).

Pada rapat kedua, pembahasan dilakukan di Kementerian BUMN. Rapat ini dihadiri oleh Dahlan, pejabat eselon I Kementerian BUMN, serta direksi Pertamina dan PGN yang merupakan emiten berkode PGAS.

"Rapat kedua di sini (Kementerian BUMN), dihadiri eselon satu Kementerian BUMN. Dihadiri direksi PGN dan Pertamina," jelasnya.

Kemudian, rapat ketiga dilakukan di kantor pusat Pertamina. Pada rapat ini dilakukan antara Dahlan, petinggi Kementerian BUMN, dan direksi Pertamina. Dahlan menegaskan, PGN pada rapat ini sengaja tidak diikutsertakan karena fokus mendengarkan kesiapan Pertamina.

"Rapat ketiga di Pertamina antara pejabat Kementerian dan Pertamina," jelasnya.

Baru dalam waktu dekat akan dilangsungkan rapat antara Kementerian BUMN dan direksi PGN. Rapat ini tidak melibatkan direksi Pertamina. "Rapat keempat, rapat antara Kementerian BUMN dan PGN," sebutnya.

Selain rapat, juga dilakukan kajian independen tentang skema akuisisi PGN oleh Pertamina. Kajian bisnis ini dilakukan oleh PT Bahana dan PT Danareksa. Dahlan mengaku pemegang saham akan mengikuti hasil terbaik yang direkomendasikan oleh Bahana dan Danareksa terkait opsi akuisisi PGN oleh Pertamina.

"Hasil apa kita ikut. Mana yang terbaik untuk bangsa," katanya.

Belajarlah (CNG) Sampai Negeri Cina.

Foto: Belajarlah (CNG) Sampai Negeri Cina.

Dalam acara 1 jam bersama Dahlan Iskan di MetroTV minggu lalu terungkap hobi Dahlan Iskan berbelanja 'ide' ke luar negeri dg negara favorit Amerika dan Cina.

Nah, ternyata ada salah satu ide yang sudah diterapkan sejak Pak Dahlan jadi dirut PLN. Sebuah evolusi pembangkit listrik menggunakan CNG (compressed natural gas).

Seperti yang kita ketahui, salah satu masalah besar PLN adalah inefisiensi akibat tidak mendapatkan gas, sehingga pembangkit PLN terpaksa memakai BBM yang 4 kali lebih mahal. Inilah penyebab utama inefisiensi, yg pernah diaudit BPK sebesar 37,5 trilun pada tahun 2010. Inefisiensi ini oleh musuh politik Pak Dahlan kemudian dipelintir menjadi 'korupsi' dan kerugian PLN.

PLN susah mendapat gas selain karena prioritas gas dalam negeri adalah pupuk dan industri, PLN jarang mendapatkan sumur gas yang sesuai dengan kebutuhan. Padahal sumur gas maunya gas dibeli keseluruhan, yang sering tidak sesuai dengan kebutuhan pembangkit PLN. Kadang kurang kadang lebih. Kurang PLN rugi, lebih juga PLN rugi karena gasnya tidak terpakai. Susahnya PLN dapat gas bisa dibaca dengan gamblang disini: http://dahlaniskan.wordpress.com/2009/11/18/dua-pilihan-akal-sehat-plus-satu-gila/

Salah satu cara mengatasi inefisiensi ini adalah dengan membangun CNG Plant (Terminal CNG). Dirintis sejak Pak Dahlan jadi dirut PLN, 2 tahun kemudian, hasilnya sudah mulai tampak.

Konsep CNG ini adalah  gas dialirkan lalu disimpan dalam tabung gas (gas skid) bertekanan tinggi 250 bar dengan cara dimampatkan atau dikompresi (compressed). Sehingga bisa dipakai sesuai kebutuhan pembangkit. Ide CNG ini setelah ditelusi ternyata berasal dari hasil belanja ide ke Cina dari juli 2011, 4 bulan sebelum Pak Dahlan diangkat jadi menteri BUMN . Tulisan lengkapnya bisa di baca disini: 

http://www.dahlaniskan.net/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/

"Jika gas di Sungai Gelam ini langsung digunakan sebagai pembangkit, hasilnya tidak seberapa atau hanya 18 Megawatt, namun jika ditampung dan dipadatkan (dengan teknologi CNG) dahulu di PLTMG, maka kapasitas produksinya akan mencapai 100 Megawatt," kata Dahlan saat meninjau pembangunan CNG di Sungai Gelam, Jambi.

Saat ini, Pembangkit listrik dengan CNG ini sudah beroperasi di Jakabaring, Sumatera Selatan, untuk menghasilkan tambahan pasokan 50 MW saat beban puncak. Sudah pula dibangun CNG untuk memasok PLTMG Sei Gelam Jambi dan PLTMG Duri (Balai Pungut) Riau yang segera akan beroperasi. Di Jawa juga sedang dibangun instalasi CNG di PLTGU Muara Tawar oleh PT PJB dan  PLTU Tambak Lorok oleh PT Indonesia Power (IP).

Bahkan, PLTU Grati Pasuruan yang diresmikan 14 Juni 2013 adalah CNG Plant terbesar di dunia dengan kapasitas 15 MMSCFD. CNG plant ini memiliki kemampuan menyalurkan gas untuk 3 unit gas turbin pembangkit listrik dengan total kapasitas 300 MW.

http://www.pln.co.id/?p=8343

Dengan evolusi PLTG-PLTG salah makan BBM menjadi PLTMG dan PLTGU yang dipadukan dengan terminal CNG seperti ini, PLN melakukan penghematan puluhan triliun per tahun dibanding menggunakan BBM. PLTGU Jakabaring hemat 4,1 Triliun/tahun. PLTMG Duri riau hemat 30 milyar per bulan! Belum lagi pembangkit lain yang memanfaatkan teknologi CNG ini.

Musuh No.5 PLN memang belum selesai saat Pak Dahlan meninggalkan PLN, tapi PLN tetap on the track. Bahkan PLTG Tambak Lorok yang pernah dihentikan opersionalnya oleh Pak Dahlan karena boros BBM, akhirnya Oktober 2013 beroperasi kembali dengan teknologi CNG. Kedepan PLN akan terus membangun CNG plant di beberapa pembangkit lain. Bayangkan berapa triliun penghematan yang akan dilakukan PLN kalo pembangkitnya sudah tidak memakai BBM lagi!

Belajarlah sampai negeri Cina, Pak Dahlan Iskan dan PLN sudah mempraktekkannya:)

Foto: Pipa-pipa untuk mengkompres gas alam di CNG Plant Jakabaring Palembang.



Foto: Pipa-pipa untuk mengkompres gas alam di CNG Plant Jakabaring Palembang.

Dalam acara 1 jam bersama Dahlan Iskan di MetroTV minggu lalu terungkap hobi Dahlan Iskan berbelanja 'ide' ke luar negeri dg negara favorit Amerika dan Cina.

Nah, ternyata ada salah satu ide yang sudah diterapkan sejak Pak Dahlan jadi dirut PLN. Sebuah evolusi pembangkit listrik menggunakan CNG (compressed natural gas).

Seperti yang kita ketahui, salah satu masalah besar PLN adalah inefisiensi akibat tidak mendapatkan gas, sehingga pembangkit PLN terpaksa memakai BBM yang 4 kali lebih mahal. Inilah penyebab utama inefisiensi, yg pernah diaudit BPK sebesar 37,5 trilun pada tahun 2010. Inefisiensi ini oleh musuh politik Pak Dahlan kemudian dipelintir menjadi 'korupsi' dan kerugian PLN.

PLN susah mendapat gas selain karena prioritas gas dalam negeri adalah pupuk dan industri, PLN jarang mendapatkan sumur gas yang sesuai dengan kebutuhan. Padahal sumur gas maunya gas dibeli keseluruhan, yang sering tidak sesuai dengan kebutuhan pembangkit PLN. Kadang kurang kadang lebih. Kurang PLN rugi, lebih juga PLN rugi karena gasnya tidak terpakai. Susahnya PLN dapat gas bisa dibaca dengan gamblang disini:http://dahlaniskan.wordpress.com/2009/11/18/dua-pilihan-akal-sehat-plus-satu-gila/

Salah satu cara mengatasi inefisiensi ini adalah dengan membangun CNG Plant (Terminal CNG). Dirintis sejak Pak Dahlan jadi dirut PLN, 2 tahun kemudian, hasilnya sudah mulai tampak.

Konsep CNG ini adalah gas dialirkan lalu disimpan dalam tabung gas (gas skid) bertekanan tinggi 250 bar dengan cara dimampatkan atau dikompresi (compressed). Sehingga bisa dipakai sesuai kebutuhan pembangkit. Ide CNG ini setelah ditelusi ternyata berasal dari hasil belanja ide ke Cina dari juli 2011, 4 bulan sebelum Pak Dahlan diangkat jadi menteri BUMN . Tulisan lengkapnya bisa di baca disini:

http://www.dahlaniskan.net/mulai-daging-babi-sampai-mikro-lng/

"Jika gas di Sungai Gelam ini langsung digunakan sebagai pembangkit, hasilnya tidak seberapa atau hanya 18 Megawatt, namun jika ditampung dan dipadatkan (dengan teknologi CNG) dahulu di PLTMG, maka kapasitas produksinya akan mencapai 100 Megawatt," kata Dahlan saat meninjau pembangunan CNG di Sungai Gelam, Jambi.

Saat ini, Pembangkit listrik dengan CNG ini sudah beroperasi di Jakabaring, Sumatera Selatan, untuk menghasilkan tambahan pasokan 50 MW saat beban puncak. Sudah pula dibangun CNG untuk memasok PLTMG Sei Gelam Jambi dan PLTMG Duri (Balai Pungut) Riau yang segera akan beroperasi. Di Jawa juga sedang dibangun instalasi CNG di PLTGU Muara Tawar oleh PT PJB dan PLTU Tambak Lorok oleh PT Indonesia Power (IP).

Bahkan, PLTU Grati Pasuruan yang diresmikan 14 Juni 2013 adalah CNG Plant terbesar di dunia dengan kapasitas 15 MMSCFD. CNG plant ini memiliki kemampuan menyalurkan gas untuk 3 unit gas turbin pembangkit listrik dengan total kapasitas 300 MW.

http://www.pln.co.id/?p=8343

Dengan evolusi PLTG-PLTG salah makan BBM menjadi PLTMG dan PLTGU yang dipadukan dengan terminal CNG seperti ini, PLN melakukan penghematan puluhan triliun per tahun dibanding menggunakan BBM. PLTGU Jakabaring hemat 4,1 Triliun/tahun. PLTMG Duri riau hemat 30 milyar per bulan! Belum lagi pembangkit lain yang memanfaatkan teknologi CNG ini.

Musuh No.5 PLN memang belum selesai saat Pak Dahlan meninggalkan PLN, tapi PLN tetap on the track. Bahkan PLTG Tambak Lorok yang pernah dihentikan opersionalnya oleh Pak Dahlan karena boros BBM, akhirnya Oktober 2013 beroperasi kembali dengan teknologi CNG. Kedepan PLN akan terus membangun CNG plant di beberapa pembangkit lain. Bayangkan berapa triliun penghematan yang akan dilakukan PLN kalo pembangkitnya sudah tidak memakai BBM lagi!

Belajarlah sampai negeri Cina, Pak Dahlan Iskan dan PLN sudah mempraktekkannya:)

Tiga Menteri Tertimbun Beras Bulog

                                               Foto: Begini jadinya kalau Dahlan Iskan sudah beraksi. Menteri yang lelet langsung megap-megap kehabisan nafas. Tertinggal jauh dan tertimbun ...
------------------------------

Tiga Menteri Tertimbun Beras Bulog

Terobosan yang dilakukan Kementerian BUMN untuk membebaskan Indonesia dari impor beras, langsung membuahkan hasil. Semua BUMN yang berpotensi ikut andil meningkatkan produksi beras dikerahkan.

Berbagai program dijalankan. Mulai mencetak sawah baru di Ketapang, Program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Borporasi (GP3K), optimalisasi peran Bulog, penataan sistem distribusi pupuk, membentuk brigade anti hama, dan lain sebagainya. Hanya dalam tempo 2 tahun Indonesia langsung swasembada beras. Pada tahun 2013, beras Bulog mencapai 3,5 juta ton. Tertinggi dalam sejarah.

Prestasi BUMN begitu mengejutkan. Sehingga banyak pihak yang tidak siap dengan keadaan ini.

Kementerian Pertanian masih merekomendasikan impor beras. Kementerian Perdagangan masih mengeluarkan izin impor seperti biasanya. Dengan jumlah yang cukup besar: 16.900 ton. Dan Kementerian Keuangan melalui Dirjen Bea Cukai masih terlena dengan status Indonesia  yang krisis beras.

Kelonggaran-kelonggaran ini yang dimanfaatkan importir nakal. Sehingga membuat Pasar Induk Cipinang kebanjiran beras impor.

Bea Cukai mempermudah prosedur impor. Beras dikategorikan barang  low risk. Masuk lewat jalur hijau. Beras tidak diperiksa fisiknya. Hanya diperiksa dokumennya saja, berupa Surat Persetujuan Impor (SPI) dan Laporan Suveyor (LS). Pemeriksaan fisik barang cukup dilakukan pada negara asal.

Di dokumen tertulis beras premium (beras Japonica dan Basmati), tapi kontainer berisi beras medium. Padahal persediaan beras medium tidak memerlukan impor lagi. Sudah cukup dengan produksi petani dalam negeri. Sudah cukup dengan persediaan yang dimiliki Bulog.

Terlepas dengan adanya keterlibatan oknum pemerintah atau tidak dalam skandal ini. Sekarang Kementan, Kemendag, dan Kemenkeu tergopoh-gopoh dengan kelalaian mereka. Cepat-cepat merubah kebijakan yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan terkini. Cadangan beras Bulog telah menimbun kebijakan mereka. Kebijakan baru harus dibuat.

Indonesia sudah tidak perlu impor beras lagi. Beras impor harus melalui prosedur yang lebih ketat. Beras tidak lagi termasuk barang low risk. Tapi medium risk, bila perlu high risk. Tidak bisa lagi masuk melalui jalur hijau. Tapi menjadi komuditas yang diperiksa ketat.

Terlalu cepat Indonesia mencapai suasembada. Dahlan Iskan membawa BUMN berlari terlalu kencang. Sehingga kementerian yang lain ketinggalan. ***

Referensi utama:  http://dahlaniskan.wordpress.com/2014/01/20/jendral-semut-kebanggaan-bangsa/




Terobosan yang dilakukan Kementerian BUMN untuk membebaskan Indonesia dari impor beras, langsung membuahkan hasil. Semua BUMN yang berpotensi ikut andil meningkatkan produksi beras dikerahkan.

Berbagai program dijalankan. Mulai mencetak sawah baru di Ketapang, Program Gerakan Peningkatan Produktivitas Pangan Berbasis Borporasi (GP3K), optimalisasi peran Bulog, penataan sistem distribusi pupuk, membentuk brigade anti hama, dan lain sebagainya. Hanya dalam tempo 2 tahun Indonesia langsung swasembada beras. Pada tahun 2013, beras Bulog mencapai 3,5 juta ton. Tertinggi dalam sejarah.

Prestasi BUMN begitu mengejutkan. Sehingga banyak pihak yang tidak siap dengan keadaan ini.

Kementerian Pertanian masih merekomendasikan impor beras. Kementerian Perdagangan masih mengeluarkan izin impor seperti biasanya. Dengan jumlah yang cukup besar: 16.900 ton. Dan Kementerian Keuangan melalui Dirjen Bea Cukai masih terlena dengan status Indonesia yang krisis beras.

Kelonggaran-kelonggaran ini yang dimanfaatkan importir nakal. Sehingga membuat Pasar Induk Cipinang kebanjiran beras impor.

Bea Cukai mempermudah prosedur impor. Beras dikategorikan barang low risk. Masuk lewat jalur hijau. Beras tidak diperiksa fisiknya. Hanya diperiksa dokumennya saja, berupa Surat Persetujuan Impor (SPI) dan Laporan Suveyor (LS). Pemeriksaan fisik barang cukup dilakukan pada negara asal.

Di dokumen tertulis beras premium (beras Japonica dan Basmati), tapi kontainer berisi beras medium. Padahal persediaan beras medium tidak memerlukan impor lagi. Sudah cukup dengan produksi petani dalam negeri. Sudah cukup dengan persediaan yang dimiliki Bulog.

Terlepas dengan adanya keterlibatan oknum pemerintah atau tidak dalam skandal ini. Sekarang Kementan, Kemendag, dan Kemenkeu tergopoh-gopoh dengan kelalaian mereka. Cepat-cepat merubah kebijakan yang sudah tidak sesuai lagi dengan perkembangan terkini. Cadangan beras Bulog telah menimbun kebijakan mereka. Kebijakan baru harus dibuat.

Indonesia sudah tidak perlu impor beras lagi. Beras impor harus melalui prosedur yang lebih ketat. Beras tidak lagi termasuk barang low risk. Tapi medium risk, bila perlu high risk. Tidak bisa lagi masuk melalui jalur hijau. Tapi menjadi komuditas yang diperiksa ketat.

Terlalu cepat Indonesia mencapai suasembada. Dahlan Iskan membawa BUMN berlari terlalu kencang. Sehingga kementerian yang lain ketinggalan.

TINS mulai eksplorasi di Myanmar kuartal I-2014

Foto: Di bawah komando Dahlan Iskan, perusahaan-perusahaan BUMN terus menunjukkan keperkasaannya. Dulu Indonesia hanya jadi penonton, bahkan di negeri sendiri. Sekarang sudah mulai menjadi pemain handal sampai ke mancanegara ...
--------------------------

TINS mulai eksplorasi di Myanmar kuartal I-2014

JAKARTA. PT Timah (Persero) Tbk (TINS) segera mewujudkan rencana untuk melebarkan sayap bisnis ke Myanmar. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menargetkan bisa mulai melakukan eksplorasi di Myanmar pada akhir kuartal I 2014 ini. 

Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan TINS menuturkan, keyakinan tersebut didasarkan pada proses pengajuan izin usaha kepada pemerintah Myanmar yang sudah hampir final. TINS optimis bisa mengantongi izin usaha untuk menggelar eksplorasi dalam waktu dekat. 

"Kalau sudah mendapat izin usaha, kami yakin bisa mulai eksplorasi di kuartal I ini," kata dia kepada KONTAN, belum lama ini. TINS sudah mendirikan dua anak usaha, PT Timah Myanmar Mining (TMM) dan PT Timah Myanmar sebagai unit pengembangan bisnis di negara tersebut. 

Dua unit usaha tersebut akan melakukan eksplorasi di lahan konsesi TINS yang berlokasi di Tanithary, Myanmar. Luas lahan konsesi yang diperoleh TINS pada November 2013 lalu itu adalah 10.000 hektare (ha). 

Sejak 2012 lalu, TINS sudah menyiapkan US$ 18 juta untuk menutupi kebutuhan ekspansi awal di Myanmar. "Sejauh ini, kami belum menambah anggaran untuk ekspansi di sana," jelas Agung.

http://investasi.kontan.co.id/news/tins-mulai-eksplorasi-di-myanmar-kuartal-i-2014/?utm_source=twitterfeed&utm_medium=twitter





JAKARTA. PT Timah (Persero) Tbk (TINS) segera mewujudkan rencana untuk melebarkan sayap bisnis ke Myanmar. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu menargetkan bisa mulai melakukan eksplorasi di Myanmar pada akhir kuartal I 2014 ini. 

Agung Nugroho, Sekretaris Perusahaan TINS menuturkan, keyakinan tersebut didasarkan pada proses pengajuan izin usaha kepada pemerintah Myanmar yang sudah hampir final. TINS optimis bisa mengantongi izin usaha untuk menggelar eksplorasi dalam waktu dekat. 

"Kalau sudah mendapat izin usaha, kami yakin bisa mulai eksplorasi di kuartal I ini," kata dia kepada KONTAN, belum lama ini. TINS sudah mendirikan dua anak usaha, PT Timah Myanmar Mining (TMM) dan PT Timah Myanmar sebagai unit pengembangan bisnis di negara tersebut. 

Dua unit usaha tersebut akan melakukan eksplorasi di lahan konsesi TINS yang berlokasi di Tanithary, Myanmar. Luas lahan konsesi yang diperoleh TINS pada November 2013 lalu itu adalah 10.000 hektare (ha). 

Sejak 2012 lalu, TINS sudah menyiapkan US$ 18 juta untuk menutupi kebutuhan ekspansi awal di Myanmar. "Sejauh ini, kami belum menambah anggaran untuk ekspansi di sana," jelas Agung.

Impor beras, bos Bulog siap digantung


Foto: Impor beras, bos Bulog siap digantungJAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan hari ini menegaskan bahwa Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak ikut mengimpor beras murah dari Vietnam. Hal tersebut telah diklarifikasi langsung pimpinan Bulog kepada Dahlan.Bahkan, menurut Dahlan, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, siap digantung di Monas jika ketahuan institusinya mengimpor beras murah dari Vietnam. "Saya agak keras. Saya tahu pak Tarto komitmennya tinggi," kata Dahlan, hari ini.Dahlan mencurigai ada oknum-oknum tertentu yang mengambil kesempatan terkait isu impor beras ini. Dia berharap otoritas terkait mengusut tuntas masalah tersebut, sehingga tidak ada kesimpangsiuran di masyarakat."Saya kan bukan orang yang harus meneliti itu," tambahnya.Yang pasti, Dahlan menegaskan, kebutuhan beras dalam negeri tidak mengalami kekurangan. Persediaan Bulog cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri."Komitmen kita kan tidak ada impor lagi, karena harga sudah stabil dan gudang-gudang Bulog sudah penuh dengan beras. Kenapa ada impor?," tegasnya.http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=314721:impor-beras-bos-bulog-siap-digantung&catid=18:bisnis&Itemid=95



JAKARTA - Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan hari ini menegaskan bahwa Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak ikut mengimpor beras murah dari Vietnam. Hal tersebut telah diklarifikasi langsung pimpinan Bulog kepada Dahlan.

Bahkan, menurut Dahlan, Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso, siap digantung di Monas jika ketahuan institusinya mengimpor beras murah dari Vietnam. "Saya agak keras. Saya tahu pak Tarto komitmennya tinggi," kata Dahlan, hari ini.

Dahlan mencurigai ada oknum-oknum tertentu yang mengambil kesempatan terkait isu impor beras ini. Dia berharap otoritas terkait mengusut tuntas masalah tersebut, sehingga tidak ada kesimpangsiuran di masyarakat.

"Saya kan bukan orang yang harus meneliti itu," tambahnya.

Yang pasti, Dahlan menegaskan, kebutuhan beras dalam negeri tidak mengalami kekurangan. Persediaan Bulog cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri.

"Komitmen kita kan tidak ada impor lagi, karena harga sudah stabil dan gudang-gudang Bulog sudah penuh dengan beras. Kenapa ada impor?," tegasnya.

Manufacturing Hope 113 Mekanisasi Sniper Pemburu Tikus




Asyik sekali temuwicara informal dengan ketua-ketua kelompok tani di Desa Sambitan, Tulungagung, Jawa Timur, tadi malam. Sekali lagi para petani kita itu begitu banyak idenya.

Misalnya dalam hal mekanisasi pertanian. Selama ini yang sudah memasyarakat secara tuntas adalah mesin bajak. Tidak ada lagi petani yang membajak dengan kerbau atau sapi. Tidak ada juga yang mencangkul 100 persen. Mesin bajak sudah sepenuhnya mengganti yang tradisional.

Yang juga semakin dominan adalah penggunaan mesin perontok gabah. Bahkan banyak petani sendiri sudah mampu membuatnya. Teknologi perontok ini memang sederhana.

Yang baru mulai dicoba adalah mesin untuk panen. Perkembangannya juga sangat pesat. Industri mesin panen dalam negeri juga mulai tumbuh. Kalau mesin bajak sudah didominasi produksi dalam negeri, mesin panen pun kelihatannya juga bisa mengikutinya.

Yang masih sulit adalah mesin penanam padi (planter). Padahal mencari orang yang menjadi buruh tanam padi kian sulit. Kalau pun ada sudah tua-tua. Wanita muda sudah jarang yang mau terjun ke sawah. Akibatnya biaya tanam mahal sekali. Bahkan jadwal tanam sering harus mundur: menunggu tenaga yang masih dipakai di tempat lain.

Ancaman bagi peningkatan produksi beras juga ada di sektor ini.

Mesin penanam padi memang sudah ada. Impor. Tapi tidak cocok dengan kebiasaan petani kita. Terutama kebiasaan melakukan pembibitan. Untuk bisa menanam padi dengan mesin, pembibitannya tidak bisa lagi dilakukan di sawah.

Pembibitan harus dilakukan secara modern. Biasanya dilakukan di teras rumah. Agar tidak kehujanan. Benih pun tidak ditabur di tanah sawah, tapi di tanah khusus yang ditaruh di atas nampan.

Tadi malam, dengan cara duduk lesehan di pendopo rumah lurah Sambitan, kami mendiskusikan ini. Bagaimana agar petani kita mau berubah. Semua mengatakan akan sangat sulit.

Mengapa? Petani harus membawa semaian benih itu dari rumahnya ke sawah. Harus ada biaya dan alat transport. Tiba-tiba Pak Imam Muslim, Ketua Kelompok Tani Gempolan angkat tangan. Dia mengutip ide yang pernah dia dengar: pembenihan itu bisa dilakukan di sawah. Caranya: hampar plastik di sawah itu, lalu digelar tanah khusus di atasnya.

Dengan demikian benih yang bisa ditaruh di atas mesin planter sudah tersedia di sawah. Memang ada kendala: kalau hujan bagaimana? Tapi, kata pak Imam, itu bisa dicarikan peneduh.

Menanam dengan mesin memang tidak bisa ditawar lagi. Petani harus benar-benar mau berubah. Kalau penanam udah bisa dilakukan dengan mesin maka mekanisasi pertanian padi sudah terlaksana: bajak, tanam, penggaruk rumput, pemanen, perontok semuanya menggunakan mesin.

Yang tidak kalah menariknya adalah dalam cara memberantas tikus. Petani Tulungagung merasa apa yang dilakukan di Godean, Yogya, masih kalah dengan cara terbaru Tulungagung. Di Godean yang sudah empat tahun gagal panen, memang sudah berhasil panen kembali bulan lalu. Tapi cara yang sama dianggap tidak efektif di Tulungagug.

Di sini petani menemukan cara terbaru: mengerahkan sniper. Penembak jitu. Senjata itu sebenarnya senjata biasa. Yang biasa untuk menembak burung. Tapi kini dianggap sangat efektif untuk menembak tikus. senjata itu dilengkapi sinar laser. Malam-malam sinar itu sangat jitu untuk mengincar tikus.

Kini ada 15 orang penembak tikus jitu di Tulungagung. Komandan detasemen khusus tikus ini: Turmudi dari desa Sanan. Untuk setiap tikus yang ditewaskan mereka mendapat upah Rp 1.500.

Ternyata semua kelompok tani sepakat dengan cara baru ini.

Dahlan: Tucuxi, Sengsara Membawa Nikmat


Dahlan: Tucuxi, Sengsara Membawa Nikmat  


TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mengumpamakan kecelakaan mobil listrik Tucuxi di Temanggung dengan istilah "sengsara membawa nikmat". Kata Dahlan, kecelakaan pada 5 Januari 2013 itu menimbulkan keributan yang bising, tapi memberikan pelajaran berharga.

Dahlan bercerita tentang insiden Tucuxi melalui artikel Manufacturing Hope 60 yang ditayangkan pada Senin, 14 Januari 2014. Menurutnya kesalahan masa lalu tidak boleh terulang. "Kalau mobil listrik tidak kita siapkan sekarang, kita akan menyesal untuk kedua kalinya," tulis Dahlan. "Kelak, kalau dunia sudah berganti ke mobil listrik, jangan sampai kita kembali hanya jadi pasar mobil impor seperti sekarang ini!"

Sebelum kecelakaan Tucuxi, Dahlan menulis, proyek uji coba mobil listrik pernah mengalami beberapa kali kejadian memalukan. Pada awalnya, Dahlan menjajaki mobil listrik buatan Dasep Ahmadi. Ternyata, mobil mogok ketika tiba di Jalan Thamrin, Jakarta dari Depok. Minggu berikutnya, mobil listrik ternyata letoy di tanjakan. "Padahal perjalanan uji coba itu juga diliput langsung oleh media secara luas," Dahlan menulis.

Mobil listrik buatan Dasep terus mengalami perbaikan. Setelah itu, muncullah Tucuxi yang bergaya Ferari. Mobil buatan Danet Suryatama ini dibanderol seharga Rp 3 miliar. Dahlan mengatakan sangat bangga karena Tucuxi buatan Danet bisa meluncur mulus tanpa membuat "malu".

Dahlan lalu membeberkan kronologi uji coba hingga kecelakaan Tucuxi. Saat melewati jalanan curam dengan pinggirnya jurang, Dahlan menginjak rem sekuatnya sehingga blong. Kecelakaan heboh itu akhirnya terjadi. "Saya memang salah dalam cara mengemudi seperti itu," ujarnya.

Kecelakaan lalu lintas dan izin Tucuxi itu bisa saja menghadapi masalah hukum. Dahlan mengatakan siap menjalaninya dengan seikhlas-ikhlasnya. "Tapi, pelajaran teknologi itu akan menyelamatkan banyak orang di masa depan. Saya akan jalani konsekuensi itu, tapi ilmu pengetahuan harus tetap berkembang. Tidak boleh terhenti karena kecelakaan itu." Simak berita Dahlan Iskan dan proyek mobil listriknya.

Usai Bertemu Habibie Dahlan Bimbang

Usai Bertemu Habibie Dahlan Bimbang

Jakarta -Menteri Negara BUMN Dahlan Iskan mempertimbangkan kembali nasib PT Dirgantara Indonesia ke depan. Dahlan hendak memilih melibatkan PT DI dalam kerja sama industri seperti sebelumnya atau memajukan kinerja PT DI terlebih dahulu. 

Menurut Dahlan, ke depannya ia akan rutin bertemu BJ Habibie guna membahas lebih lanjut ide-ide bidang teknologi Habibie yang selama ini justru diadopsi oleh negara lain.

"Kita semua tahu Pak Habibie Suhu-nya teknologi, sudah banyak ide-ide Beliau dituangkan dalam beberapa perusahaan, misalnya teknologi nuklir, PT DI, PT PAL, PT Boma Bisma, PT Pindad, PLTU Merah Putih, Pabrik Gula yang 100 persen buatan dalam negeri semuanya kan menyangkut ide-ide Beliau," ujar Dahlan Iskan usia bertemua Habibie di kediamannya, Selasa, 22 November 2012.

Selain PT DI, Dahlan akan kembali membahas teknologi transportasi dan pangan dengan BJ Habibie. Teknologi pangan itu meliputi jagung, sorgum dan lainnya. "Beliau juga setuju dengan saya yang memasukan pangan ke dalam kelompok strategis dan mengatakan industri strategis tidak hanya melulu diartikan militer," katanya.

Singkatnya waktu pertemuan menjadikan Dahlan terkendala membahas teknologi pangan. Dahlan pun berencana bertemu BJ Habibie lagi. 

Dahlan: Kertas Leces Dapat Pesanan dari Jepang


Dahlan: Kertas Leces Dapat Pesanan dari Jepang  

Menteri BUMN Dahlan Iskan mengapresiasi kinerja Kertas Leces yang menurutnya berangsur-angsur mulai hidup. Bahkan perusahaan kertas itu mendapat orderan dari Jepang. "sudah mulai ada pesanan dari Jepang sebanyak 60 ton. Membuat pulp (bubur kertas) dari jerami padi sebagai bahan baku uang yen Jepang." ujar Dahlan di Kantor Lementerian BUMN, Jakarta Pusat, Kamis, 6 Desember 2012 malam. 

Walaupun jumlahnya tidak banyak, Dahlan mengatakan pesanan Jepang itu dapat menjadi langkah baik untuk ke depannya. "Kalau sudah bisa dipercaya Jepang pesanan itu akan kontinyu dan negara lain juga akan memesannya. Bukti ekspor ke Jepang itu kita jadikan bukti untuk ekpor ke negara lain," kata Dahlan.

Dahlan pun menceritakan bahwa saat ini sudah terdapat tiga orang Jepang mengunjungi Pabrik Leces. "Jadi untuk mensupervisi mengajari bagaimana membuat kertas untuk uang."

Leces merupakan perusahaan pelat merah yang disebut Dahlan termasuk BUMN duafa. Perusahaan ini sempat berhenti beroperasi karena kesulitan pasokan gas dan menunggak utang sebesar Rp 41 miliar. Namun beruntung perusahaan ini masih dapat kembali beroperasi dua tahun kemudian setelah menjual aset di Cibitung, Bekasi.

Pemerintah sempat berinisiatif memberikan penyertaan modal negara sebesar 200 miliar kepada Kertas Leces. Namun, secara mengejutkan perusahaan ini dicoret dari daftar penerima penyertaan modal negara tahun 2012. Ini dilakukan lantaran berdasarkan pengalaman sebelumnya pemberian PMN tidak memberikan pengaruh apa-apa terhadap pabrik kertas tertua nomor dua di Indonesia ini.

Dahlan Iskan: Tucuxi Punya Saya  

TEMPO.CO, Solo - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan mengklaim mobil listrik Tucuxi saat ini sudah menjadi miliknya. Dia mengaku telah membiayai semua riset dalam membuat mobil yang bentuknya mirip Ferrari itu.

Dahlan menyatakan mobil berwarna merah tersebut merupakan karya dari Danet Suryatama. "Sejak awal saya yang membiayai risetnya," kata Dahlan saat melakukan uji coba 1.000 kilometer Tucuxi di Solo, Sabtu 5 Januari 2013. Setelah jadi, mobil tersebut mutlak menjadi miliknya.

Selain Tucuxi, Dahlan juga masih memberikan dukungan riset kepada para pencipta mobil listrik lain, termasuk Ahmadi dari Depok. "April mendatang kami akan memperlihatkan mobil karya Ahmadi yang baru," katanya. 

Salah satu warga Surabaya, bernama Rafi, menurut Dahlan, juga sudah ada yang mulai mengembangkan mobil listrik. "Saya sudah mencoba mengendarai mobil buatan Pak Rafi itu," katanya.

Sebelumnya, pencipta mobil listrik Tucuxi, Danet Suryatama, berencana melaporkan Dahlan Iskan lantaran telah membongkar mesin mobil tersebut. Dia menilai bahwa pembongkaran itu merupakan upaya pencurian hak atas kekayaan intelektual.

Siapa Danet, Perancang Tucuxi Dahlan


Siapa Danet, Perancang Tucuxi Dahlan

TEMPO.CO, Jakarta - Nama Danet Suryatama mulai dikenal masyarakat karena dia mengaku sebagai pencipta mobil listrik Tucuxi yang dimiliki Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Dahlan Iskan.

Danet menganggap Dahlan telah mencuri hak intelektual karena membongkar mesin "ferrari listrik" buatannya. "Saya akan laporkan pencurian hak cipta atau teknologi ini ke pemerintah Amerika Serikat," kata Danet.

Menanggapi tudingan Danet, Dahlan mengatakan telah membiayai semua riset yang dilakukan Danet sampai Rp 3 miliar. Dengan telah membiayai riset itu, Dahlan menganggap bahwa Tucuxi adalah miliknya. "Sejak awal saya yang membiayai risetnya," kata Dahlan.

Terlepas dari perselisihan Danet dengan Dahlan, siapa sebenarnya Danet? 

Danet Suryatama adalah jebolan jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Institut Teknologi 10 November (ITS), Surabaya, tahun 1988. Setahun kemudian, ia mendapat gelar master of science di bidang teknologi bangunan lepas pantai dari University of Starthclyde, Inggris.

Mulai 1992, Danet "hijrah" ke Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu, ia kuliah di jurusan Perkapalan dan Teknik Kelautan dengan bidang riset optimalisasi struktur. Danet kemudian lulus pada 1999 dan mendapat gelar PhD atau doctor of philosophy.

Sembari kuliah, Danet bekerja di perusahaan otomotif di Amerika Serikat pada 1997 dan 2008 menjadi konsultan otomotif di negara itu.

Danet mengatakan putus komunikasi dengan Dahlan Iskan sejak 21 Desember 2012. Saat itu Danet berada di Jakarta untuk melihat proses pengisian energi mobil listrik. “Saya sempat e-mail Pak Dahlan untuk menyampaikan keberatan karena mobil itu dibongkar, diutak-atik, dan dijiplak teknologinya,” kata dia.

Soal teknologi Tucuxi, Danet mengatakan telah mendaftarkan hak paten mobil listrik tersebut di Amerika Serikat. “Saya saat ini menjalankan bisnis otomotif di perusahaan ElectrikCar LCC di Amerika Serikat," ujarnya.

Ganti Direksi, Dahlan Iskan Ogah Heboh


Ganti Direksi, Dahlan Iskan Ogah Heboh  

TEMPO.COJakarta - Menteri Badan Usaha Milik Negara Dahlan Iskan buka suara ihwal alasan penggantian direksi PT Pertamina yang dilakukannya beberapa waktu lalu. "Sebetulnya penggantiannya tidak diam-diam. Prosesnya sudah dua bulan," katanya di istana kepresidenan, Jakarta, Kamis, 19 April 2012.

Penggantian jajaran direksi Pertamina kali ini memang tidak seheboh seperti sebelumnya. "Kalau dulu kan enam bulan sebelumnya sudah heboh. Kalau (pergantian) direksi BUMN kelamaan heboh, tidak akan kerja. Memang akan datang pergantian-pergantian itu seminimal mungkin hebohnya," ujarnya. 

Ihwal penggantian itu, Dahlan menjelaskan sebelumnya ia mengajukan konsep kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan disampaikan dalam sidang kabinet. Konsep itu menguraikan perlunya pembentukan "dream team" di setiap BUMN. "Dream team itu intinya bagaimana agar BUMN maju," ujarnya. "BUMN itu tidak (akan) maju kalau direksinya tidak kompak." 

Untuk bisa kompak, harus dibentuk tim yang kuat. Menurut dia, bisa saja masing-masing direksi BUMN pintar. Tapi belum tentu cocok untuk sebuah tim yang kuat. Dream team itu adalah calon direksi yang dibentuk berdasarkan diskusi antara pihak Kementerian BUMN dan direktur utama masing-masing BUMN. Para direktur utama itu diminta untuk mengajukan konsep tentang tim tersebut. 

Karena itu, ujar Dahlan, Kementeriannya bertanya kepada seluruh BUMN mengenai sudah atau belumnya dibentuk dream team yang diinginkan agar dapat membuat BUMN maju. "Kami harus bertanya kepada direktur utamanya. Direktur utamanya kami ajak diskusi lalu kami minta untuk mengajukan konsep," ujar dia.

Menurut Dahlan, yang mengajukan nama dream team adalah direktur utama dari setiap BUMN. "Direktur utama mengajukan nama, kemudian nama-nama itu kami periksa," ucapnya. "Apakah ada yang tidak memenuhi syarat, misalnya tidak pernah fit and proper test atau ada catatan di bidang integritas. Itu akan kami proses, lalu kami sampaikan kepada dirutnya."

Dahlan mengatakan nama-nama yang tidak memenuhi syarat akan dikembalikan, sedangkan yang memenuhi syarat akan disetujui. Sementara itu, katanya, untuk proses seleksi melalui tim penilai akhir hanya akan diberlakukan kepada calon direktur utama untuk BUMN tertentu. "TPA itu kan ketuanya Presiden, sehingga kalau Presiden setuju, berarti TPA setuju," ujarnya.

Sebelumnya, Dahlan Iskan merombak jajaran direksi PT Pertamina (Persero) melalui Surat Keputusan Nomor SK-186/MBU/2012 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Anggota-anggota Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT Pertamina. Juru bicara Pertamina, M. Harun, dalam siaran persnya mengatakan, melalui surat keputusan tersebut, Menteri BUMN mengangkat lima direksi baru. 

Flag Country

free counters