Ilmuwan Bikin Peta 219 Juta Bintang di Galaksi



Selama berabad-abad, tidak ada yang mengetahui, bahkan menghitung berapa banyak bintang di langit. Ilmuwan berhasil menjawabnya, bahkan melakukan pemetaan.


Astronom berhasil menciptakan peta bintang di galaksi dengan menggunakan cermin berukuran 2,5 meter dari teleskop Isaac Newton (INT) di Pulau Canary. Mereka adalah ilmuwan perbintangan dari University of Hertfordshire.


Dilansir melalui Daily Mail, Jumat 19 September 2014, para ilmuwan itu menghabiskan waktu selama 10 tahun untuk membuat peta dari 219 juta bintang tersebut. Program INT memetakan semua bintang yang lebih terang dari magnitudo ke-20, atau sekitar satu juta kali lebih redup daripada yang bisa terlihat oleh mata manusia.


Dalam grafik itu ditunjukkan bagian yang cukup terlihat dari wilayah utara galaksi, termasuk detail tentang fitur yang berbeda dari masing-masing 219 juta objek yang terdeteksi.


"Area yang terang adalah wilayah bintang. Semakin terang wilayah tersebut, semakin banyak bintang yang ada di dalam area itu," menurut peneliti dari University of Hertfordshire.


Mereka menyebutkan, jika peta baru ini bisa memberi mereka wawasan yang lebih baru dan nyata ke dalam struktur bintang, gas dan debu luar angkasa yang luas ini.


Temuan ini secara tidak langsung melengkapi apa yang telah ditemukan oleh astronom lainnya beberapa waktu lalu. Dalam temuan sebelumnya, ilmuwan menunjukkan adanya Laniakea, sebuah super-cluster raksasa di galaksi yang menaungi seluruh semesta, termasuk Bima Sakti.


Laniakea adalah bahasa Hawaii yang berarti "surga yang beragam". Kata itu mendeskripsikan struktur 500 juta tahun cahaya sepanjang wilayah yang berisi 100.000 galaksi dan massa dari ratusan kuadriliun Matahari.


Para ilmuwan telah lama menyadari jika galaksi tidak terdistribusikan secara acak tapi mereka berkelompok. Pada skala besar, galaksi membentang seperti mutiara, membentuk cahaya filamen. Kelompok tersebut menghasilkan superkluster galaksi yang bergerak dipengaruhi gravitasi.

Galaksi Bima Sakti berlokasi di pinggir salah satu cluster.


Fakta Bima Sakti


Milky Way diperkirakan berjarak 120.000 tahun cahaya dan terdiri lebih dari 200 miliar bintang.

Bima Sakti termasuk dalam galaksi berukuran "middle-weight". Sebab, galaksi yang terbesar, yang dikenal dengan nama IC 1101 terdiri atas sekitar 100 triliun bintang.

Dalam sebuah malam yang gelap, lalu melihat ke langit, jika terlihat sesuatu yang terang, bisa jadi itu merupakan kumpulan sekitar 2.500 bintang.

Seperti halnya dua per tiga galaksi yang bisa dikenali, Bima Sakti juga memiliki bentuk seperti spiral. Di tengah spiral itu banyak terdapat energi. Bahkan kadang-kadang sering tercipta pancaran sinar yang tajam.

Astronom percaya jika Bima Sakti tidak selalu memiliki pola spiral yang menakjubkan. Ukuran Bima Sakti dibentuk dengan cara memakan galaksi lainnya.


Panen Asteroid ala NASA



Asteroid yang menghantam Chelyabinsk, Rusia, membuktikan betapa hebatnya kekuatan benda luar angkasa itu. Meski diameternya hanya 20 meter dan bergerak dengan kecepatan 66.000 kilometer per jam, asteroid yang jatuh ke bumi Februari 2013 lalu itu mampu menghancurkan wilayah sekitarnya.

Bahkan dipercaya jika letusan asteroid bisa mencapai 20 sampai 30 kali lipat lebih dahsyat dari bom atom Hiroshima yang dijatuhkan Amerika ke Jepang saat perang dunia ke-2 lalu.

Asteroid merupakan ancaman terbesar bagi kepunahan bumi. Beberapa juta tahun lalu, sebuah asteroid pernah bertabrakan dengan bumi dan memusnahkan kehidupan dinosaurus beserta penghuni lainnya. Ancaman ini telah menjadi perhatian serius PBB. Bahkan mereka menyerukan badan antariksa negara-negara di dunia untuk bisa memikirkan cara menghalau serangan asteroid.

Softpedia menyebutkan, Februari 2014 lalu, PBB memberi mandat ke Badan Antariksa Eropa (ESA) untuk memastikan semua lembaga antariksa di dunia turut dalam inisiatif kerja sama internasional yang tergabung dalam Space Mission Planning and Advisory Group (SMPAG). Saat ini, diperkirakan NASA, ada 600 ribu sampai 1 juta asteroid yang terdapat di alam semesta. Dari angka tersebut, lebih dari 10.000 asteroid masuk dalam kategori NEO (Near Earth Object/ benda terdekat dengan bumi). 

Tahun ini NASA pun berencana untuk mencoba teknologi yang bisa sekaligus dijadikan upaya untuk meneliti asteroid. Jika teknologi ini sukses menangkap asteroid, ini bisa juga menjadi upaya berikutnya dalam melanjutkan misi menempatkan manusia ke Mars. Yang paling penting, penelitian ini akan menjadi upaya untuk mencari cara mencegah asteroid jatuh atau bertabrakan dengan bumi.
Dua Cara Memanen Asteroid


Program untuk memanen dan mengambil sampel asteroid ini disebut Nasa dengan namaAsteroid Redirect Mission (ARM). Target pelaksanaannya adalah akhir dekade ini atau sekitar 2020.

Dalam sebuah sidang dengar pendapat yang bertajuk From Here to Mars, William Gerstenmaier, rekan administrasi NASA, mengatakan terdapat skema menangkal batu antariksa itu dan membuangnya ke Bulan. Setidaknya ada dua proses yang diusulkan bisa digunakan, yakni dengan menggunakan robot penjepit atau dengan robot gelembung.

Opsi pertama, ARM mengambil sampel bongkahan batu-batuan pada asteroid raksasa, sedangkan opsi kedua, ARM menangkap asteroid dalam ukuran besar dengan menggunakan layar gelembung. Pada dua skema itu, setelah sampel asteroid bisa diambil, maka ARM akan membawa sampel ke orbit stabil bulan, dan di sana astronot akan 'memanen' sampel batu antariksa untuk dibawa ke bumi.

Untuk opsi pertama ini, ARM akan mendatangi asteroid besar setelah sebelumnya mengawasi asteroid dari jarak 1 kilometer. Selanjutnya ARM akan mendarat ke permukaan asteroid untuk mengangkut bongkahan batu astroid dengan menggunakan kaki penjepit. Proses pengangkutan bongkahan batu diperkirakan memakan waktu 30 menit saja. Setelah itu ARM akan membawa batu astroid itu ke orbit stabil bulan untuk diambil sampelnya.

Sementara untuk opsi kedua, ARM akan menangkap asteroid besar dengan memanfaatkan gelembung layar raksasa. Begitu melihat target asteroid, layar akan dikembangkan dan menangkap asteroid. Setelah asteroid tertangkap, layar gelembung akan mengunci batu antariksa itu, layar akan menyusut dan tali penghubung akan memastikan layar sudah mencengkeram kuat asteroid. Kemudian ARM akan membawa ke orbit bulan yang aman.

Begitu sampel sudah didapatkan dan ARM menuju orbit aman bulan, NASA meluncurkan pesawat berawak, Orion, yang akan menjemput sampel di orbit bulan. Nantinya pesawat Orion akan mendekati ARM, dengan menghubungkan sebuah pipa hidrolik. Setelah itu dua astronot bakal keluar dari Orion dan mendekati gelembung ARM. Keduanya akan memanen sampel batu dan membawa masuk ke Orion. Setelah itu pesawat Orion akan meluncur kembali ke bumi.

Untuk pengiriman pesawat Orion, NASA bakal menggunakan roket Space Launch System (SLS). Roket ini dlengkapi dengan tenaga pendorong canggih, Solar Electric Propulsion (SEP) yang merupakan tenaga pendorong ion. SEP mampu menciptakan daya dorong yang didukung satuan tenaga surya. SEP mengubah sinar matahari menjadi medan elektromagnetik yang mempercepat dan mengeluarkan atom bermuatan (ion). 

Pemanfaatan ion merupakan cara yang efisien untuk mentenagai pesawat antariksa dan secara signifikan menghemat jumlah bahan bakar. Studi terkini NASA juga tengah meneliti skema SEP apakah bisa digunakan untuk mentenagai misi ARM.
Pijakan ke Mars


Misi ini kelihatannya sangat penting. Pasalnya, jika berhasil, NASA bisa mempercepat target mereka membawa manusia pindah ke Mars, atau untuk bolak-balik Bumi-Mars dan kembali dengan selamat. Oleh karena itu NASA akan melibatkan astronot untuk melakukan perjalanan ke batu asteroid yang telah ‘dipanen’ itu. Perjalanan astronot ini akan menumpang pesawat kru Orion Multi-Purpose.

Dari penelitian asteroid ini, seperti dikutip dari Daily Mail, NASA bisa memprediksi seberapa lama proses pulang pergi bisa dilakukan, berapa biaya yang dibutuhkan dan teknologi apa yang mampu membuat mereka bisa bertahan melayang di angkasa selama yang diinginkan. Jika semua estimasi itu telah didapat maka secara tidak langsung, NASA bisa memperkirakan teknologi dan estimasi berikutnya untuk menuju Mars.

“Setelah misi asteroid selesai, Orion akan kembali ke bumi melalui cara yang sama dengan saat mereka menuju asteroid itu, termasuk berputar di sekitar Bulan, untuk kemudian menyentuh laut seperti Pasifik, 10 hari kemudian,” ujar peneliti NASA dalam laman resmipenerbangan antariksa Amerika itu.

Sedangkan untuk menyelamatkan bumi, kata peneliti NASA dalam makalah yang berjudul ‘The Asteroid Redirect Mission and Sustainable Human Exploration’, banyak cara yang bisa digunakan untuk mencegah potensi ancaman asteroid terhadap bumi. Bahkan ARM bisa digunakan untuk menguji coba teknologi pertahanan bumi dari ancaman planet. Beberapa teknik di antaranya adalah Ion Beam Deflection, Enhanced Gravity Tractor, dan tabrakan meteor secara kinetis.

Ion Beam Deflection adalah menahan ekor asteroid untuk mendorongnya secara perlahan ke wilayah yang lebih luas. Sebuah tembakan pendorong ke arah berlawanan akan diperlukan untuk menjaga pesawat luar angkasa pada jarak yang konstan dari asteroid.

Sedangkan pendekatan dengan Enhanced Gravity Tractor dengan melibatkan pesawat luar angkasa yang mendekati asteroid. Pesawat akan mengorbit di lingkaran halo di sekitar garis vektor kecepatan asteroid. Massa asteroid dengan massa pesawat luar angkasa akan meningkatkan daya gravitasi antara keduanya. Formasi yang dekat ini akan berlangsung selama beberapa bulan dan memperkecil gaya gravitasi sehingga berpotensi mengubah lintasan asteroid.

Cara yang paling mudah adalah dengan menciptakan tabrakan secara kinetis. Impaktor Kinetis ini bisa juga diluncurkan sebagai daya angkut cadangan yang datang bersama pesawat luar angkasa atau terpisah. Impaktor itu akan ditabrakkan dengan asteroid yang ditarget sehingga tidak sempat tabrakan dengan bumi.
Asteroid-Asteroid Pengancam Bumi


NASA telah mendeteksi banyak asteroid pengancam bumi. Yang terbaru adalah 2014 RC yang berjarak 25.000 mil (40.000 kilometer) dari Bumi. Tahun sebelumnya, bumi sempat terancam tabrakan dengan asteroid 2013 LR6 dengan jarak 104.607 kilometer dari Samudera Selatan. Sebelumnya, asteroid QE2 juga sempat melintas dekat dengan bumi di jarak 5,8 juta kilometer.

2012 lalu, ada asteroid dengan kode nama 2012 XE54 berjarak 140 ribu mil dari bumi. Ada juga Toutatis 4179, jaraknya 4,4 juta mil atau 18 kali lipat jarak Bumi dengan Bulan. Atau 2012 DA14 dengan diameter 45 meter dan berjarak 36 ribu kilometer dari bumi. Asteroid 2012 TC4 melintas dengan jarak 59.000 mil

NASA juga memprediksi jika asteroid Apophis atau ‘Setan Mesir’ akan melintas sangat dekat dengan bumi, atau 31 ribu kilometer dari bumi, pada 2036 nanti. Isu lainnya, pada 2040 ada asteroid 2011 AG5 dengan diameter 140 meter dan jarak 890 ribu kilometer dari bumi berpotensi membuat kiamat di bumi.

Yang paling dahsyat adalah isu mengenai asteroid raksasa yang diramalkan akan menghantam bumi pada 2880. Asteroid dengan kode 1950 DA ini berdiameter dua per tiga mil atau 1.07 kilometer dari bumi dengan kecepatan gerak 38.000 mil per jam. Kekuatan ledakannya setara dengan 44.800 megaton TNT.


Bumi Dihujani Meteor Orionid pada 21 Oktober




Bulan Oktober ini akan diwarnai oleh dua fenomena alam. Satu fenomena Blood Moon dan hujan meteor Orionid.

Blood Moon akan berlangsung pada 8 Oktober nanti, dimana bulan akan tampak berwarna kemerahan saat gerhana matahari total. Setelah Bulan Merah ini, menyusul hujan meteor.

"Hujan meteor orionid tersebut akan terjadi pada tanggal 21 Oktober," ungkap Profesor Thomas Djamaluddin selaku Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa (Lapan) kepada VIVAnews, Selasa 7 Oktober 2014.

Thomas melanjutkan, fenomena alam tersebut merupakan peristiwa tahunan yang sering terjadi pada akhir Oktober. Kata dia, hujan meteor orionid tersebut berasal dari gugusan komet halley yang melintasi bumi.

Diperkirakan ada sekitar 15 meteor per jam yang akan tampak di langit-langit malam. Perisitiwa tersebut, ungkap ahli astronomi itu, sudah mulai terlihat sejak pukul 22.00 WIB malam sampai subuh nanti.

"Tapi yang paling bagus untuk melihat hujan metor orionid itu adalah dini hari atau sekitar jam 12 malam hingga menjelang subuh," ungkap dia.

Ketika ditanya, apakah Indonesia bisa menikmati pertunjukkan alam tersebut, Thomas mengatakan di seluruh Indonesia bisa melihat fenomena tersebut.

"Asal kondisi langit malam waktu nanti dalam kondisi cerah. Kita bisa melihatnya tepat di atas kepala kita karena lokasi negara kita termasuk ada di belahan bumi bagian utara," jelasnya.


Fenomena Bulan Darah di Langit Oktober



Pekan ini bulan akan tampak tidak biasa. Pada 9 Oktober nanti bulan akan diselimuti cahaya berwarna merah. Ini merupakan fenomena yang disebut Blood Moon kedua tahun ini.

Bulan Merah akan terlihat sangat jelas di beberapa bagian wilayah di Amerika, khususnya Amerika Utara. Fenomena ini akan berlangsung sejak sore, dimana bulan akan melewati bayangan Bumi sehingga cahaya merah pun muncul.

Peristiwa ini akan berlangsung selama kurang lebih satu jam. Posisi bulan akan sedikit melewati orbit biasa.

Ini merupakan fenomena Blood Moon kedua yang terjadi tahun ini. Ukuran bulan juga akan lebih besar 5,3 persen ketimbang Blood Moon sebelumnya yang terjadi 15 April lalu.

Blood Moon merupakan fenomena yang disebut tetrad, atau muncul selama 4 kali berturut-turut. Namun kemunculannya akan berlangsung dengan interval 6 bulan. Dua fenomena berikutnya akan muncul pada 4 April 2015 dan terakhir pada 28 September 2015.

Untuk Bulan Merah nanti, tampilan bulan akan terlihat penuh. Warna merah yang menyelimuti akan muncul pukul 7 sore waktu setempat dan berlangsung selama 59 menit. Saat terjadi Blood Moon, setengah wilayah selatan akan terlihat lebih gelap ketimbang sebagian wilayah utara. Wilayah tersebut akan diselimuti oleh bayangan bumi.

Fenomena ini akan terlihat jelas di sepertiga wilayah barat laut amerika. Namun di beberapa wilayah seperti Eropa, Afrika dan Timur Tengah, fenomena ini sepertinya tidak akan terlalu kentara.

Warna merah di bayangan bulan itu terjadi karena puncak gerhana bulan memasuki bayangan penuh dari bumi yang bernama Umbra. Dalam tahap ini, atmosfer bumi akan menghamburkan cahaya merah dari matahari. Proses ini sama dengan yang terjadi saat langit berwarna merah ketika matahari mulai terbenam. Sebagai akibatnya, cahaya merah ini akan terpantul ke permukaan bulan dan memperlihatkan bulan berwarna merah jika dilihat dari bumi.

Meskipun fenomena ini terjadi selama 4 kali namun secara umum tampilannya tidak pernah sama. Rata-rata ada 2 gerhana dalam satu tahun namun sebagian lain hanyalah Penumbra, dimana bulan hanya melewati bagian terluar dari bayangan bumi. Hal ini mengakibatkan warna merah pada bulan tidak terlalu terlihat. Sedangkan fenomena lainnya hanya memperlihatkan bayangan di bulan tanpa ada efek warna merah.

Warna merah dara ini muncul sebagai hasil dari refraksi cahaya matahari melewati atmosfir bumi, mirip dengan peristiwa memerahnya langit saat matahari terbit atau terbenam. Gerhana terkadang tidak pernah mengikuti pola tertentu sehingga mendapati empat kali Blood Moon bisa jadi merupakan hal yang sangat langka.

Stephen Hawking: Partikel Tuhan Bisa Hancurkan Semesta



Fisikawan kondang dunia, Stephen Hawking, memperingatkan potensi buruk Partikel Tuhan yang ditemukan pada 2012 lalu.

Hawking mengatakan partikel itu memimiliki kekuatan yang mampu menghancurkan alam semesta. Hal itu disampaikan Hawking dalam komentar di buku Starmus: 50 years of Man in Space, sebuah koleksi esai para ilmuwan dan astronom.

Melansir IB Times, Senin 8 September 2014, menurut fisikawan Universitas Oxford itu, pada tingkat energi yang sangat tinggi, Partikel Tuhan bisa menjadi tak stabil dan menyebabkan 'bencana dan kerusakan yang memusnahkan' antariksa dan waktu, alias alam semesta.

"Potensi Higgs (Partikel Tuhan) memiliki fitur mengkhawatirkan yang mungkin menjadi sangat stabil pada energi di atas 100 miliar giga elektron volt (GeV)," tulis Hawking dalam buku itu.

Dengan perkiraaan potensi energi dahsyat itu, menurutnya alam semesta bisa mengalami bencana kemusnahan secara sangat cepat.

"Ini berarti alam semesta bisa menjalani peluruhan bencana kemusnahan, yang terjadi kapan saja dan kami tidak melihatnya itu akan datang," tambahnya.

Ia meramalkan bencana yang dimaksud itu tak mungkin terjadi dalam waktu dekat. Sebab, energi dahsyat itu belum bisa terpenuhi dalam waktu dekat ini.

"Sebuah akselerator partikel yang mencapai energi 100 miliar GeV akan lebih besar dari Bumi, dan itu tidak akan dipasok oleh iklim ekonomi saat ini," jelas Hawking.

Kendati menyampaikan potensi Partikel Tuhan memberikan bencana mengerikan, Hawking melanjutkan, pengetahuan tentang partikel itu bisa memberikan wawasan penting. Sebab, partikel itu menempatkan hambatan penting pada evolusi alam semesta.

Partikel Tuhan ditemukan ilmuwan pada fasilitas Large Hadron Collider (LHC) di CERN, Swiss pada 2012 lalu. Ilmuwan menggunakan akselerator partikel untuk bisa melihat partikel kecil yang terpisah dalam skenario tabrakan.

Temuan partikel usai tabrakan itu cocok dengan prediksi ilmuwan Inggirs, Peter Higgs pada 1960-an. Partikel Tuhan diyakini berkontribusi memberikan materi pada massa, tapi ilmuwan belum memahani peran partikel itu.

Blood Moon Muncul di Langit Indonesia 8 Oktober




Pada pertengahan pekan ini masyarakat dunia akan menikmati fenomena alam dimana bulan akan tampak kemerahan saat gerhana bulan. Media menyebutnya sebagai istilah Blood Moon dan akan terjadi 9 Oktober 2014 waktu Amerika.

Fenomena tersebut merupakan kali kedia, setelah sebelumnya pernah terjadi 15 April lalu. Di Indonesia, Blood Moon diperkirakan akan terjadi 8 Oktober sore.

Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Profesor Thomas Djamaluddin menjelaskan bahwa Blood Moon sendiri bukanlah istilah astronomi. Dia lebih suka menyebutnya sebagai bulan yang tampak kemerahan saat gerhana bulan total.

"Pukul 16.15 WIB merupakan perkiraan awal peristiwa tersebut, dimana akan memasuki gerhana bulan total pada pukul 17.25 sampai 18.24 WIB," kata Thomas kepada VIVAnews, Senin 6 Oktober 2014.

Thomas melanjutkan, pukul 19.34 WIB menjadi titik terakhir terjadinya gerhana bulan total tersebut. 

Namun sayang, Thomas menjelaskan, tidak semua daerah di Indonesia bisa melihat fenomena alam tersebut, hanya daerah-daerah tertentu saja.

"Untuk daerah Indonesia bagian barat mungkin agak susah, tapi untuk Indonesia bagian timur khususnya Papua akan bisa melihatnya," jelasnya.

Thomas melanjutkan, sekitar pukul 18.15 WIT sudah memasuki gerhana bulan total, yang dimana pada pukul 19.25 WIT sudah mengalami fase setengah bulan, yang akan mencapai akhir pukul 20.24 WIT.

"Dan pada pukul 21.34 WIT tersebut perkiraan waktu terjadinya gerhana bulan total," ucapnya.

Blood Moon sendiri bisa dinikmati oleh masyarakat apabila pada saat terjadinya didukung dengan kondisi langit yang cerah. Thomas menuturkan warna merah yang terjadi, tidak akan selalu sama seperti yang diperkirakan.

"Jadi, tergantung atmosfernya. Kalau cerah maka akan terlihat merah yang berasal dari pembiasan cahaya matahari oleh atmosfer bumi yang mengenai bulan yang berada di bayangan bumi. Sedangkan, bila terjadinya letusan gunung, maka warnanya akan cenderung gelap," paparnya.

Ahli astronomi itu juga mengatakan bahwa tidak ada dampak apapun terhadap fenomena alam tersebut kepada manusia ataupun lainnya.

"Nggak ada dampak apapun, kayak seperti biasa saja," ungkap dia.

Siap-siap Lihat Gerhana, Hujan Meteor, dan Jupiter Oktober Ini

Sepanjang Oktober 2014 ini akan terjadi beberapa fenomena langka di langit, karena itu siapkan mata untuk memandang keindahan yang bakal menghiasi angkasa malam demi malamnya.

Dari gerhana bulan total hingga hujan meteor bisa disaksikan pada bulan ini. Tak cuma itu, keindahan planet-planet juga disuguhkan di langit. Beberapa di antaranya bahkan bisa dilihat dengan mata telanjang.

Astronom sekaligus Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin kepada Liputan6.com, Jumat (3/10/2014), mengatakan, beberapa fenomena langit yang bisa disaksikan sepanjang Oktober 2014, yakni: 

1. Gerhana Bulan Total

Pada gerhana bulan total ini, bulan akan terlihat kemerahan seperti berdarah. Ini karena bulan tertutup oleh bayangan bumi namun cahaya matahari terbiaskan hingga menimbulkan kesan kemerah-merahan.

Fenomena ini terjadi pada 8 Oktober 2014. Thomas mengatakan, gerhana bulan ini mulai terjadi pada pukul 16.15 WIB. Namun untuk wilayah Indonesia barat, seperti Jakarta, tak bisa melihat awal mula terjadinya gerhana lantaran bulan ketika itu belum terbit. 

Gerhana total baru terjadi pada pukul 17.25-18.24 WIB. Dan secara keseluruhan gerhana berakhir pada 19.34 WIB. Wilayah Indonesia barat baru bisa menyaksikan gerhana ini ketika gerhana total sudah terjadi. Namun untuk wilayah timur Indonesia dapat menyaksikan keseluruhan proses gerhana bulan total ini.

"Seluruh wilayah Indonesia bisa mengamatinya seperti mengamati purnama," kata Thomas.

2. Hujan Meteor Orionids

Hujan meteor ini bisa diamati dari Indonesia. Karena ketika puncak peristiwa ini terjadi pada 21 Oktober 2014, bulan tengah tua alias tak purnama. 

Akan ada 15 meteor yang jatuh per jamnya. Bentuknya seperti atraksi bintang jatuh. Thomas memprediksi, beberapa di antara meteor itu ada yang berukuran cukup besar.

3. Hujan Meteor Draconids

Berbeda dengan Orionids, hujan meteor draconids puncaknya terjadi pada 7 Oktober 2014. Hujan meteor draconids ini merupakan hujan meteor di langit utara.

Namun Thomas mengatakan, fenomena ini bakal sulit diamati dari Indonesia. Karena hujan meteor ini termasuk kecil skalanya. Ditambah lagi pada 8 Oktober terjadi purnama. Jadi luncuran meteor bakal terhalang oleh cahaya bulan yang terang benderang. 

"Hujan meteor dikalahkan cahaya bulan," ujar Thomas.

4. Jupiter dan Mars Terang Benderang

Bulan ini, beberapa planet bisa dilihat dengan mata telanjang. Salah satunya Jupiter. Cahaya planet terbesar di tata surya ini sangat terang sekali.

Jupiter bisa dilihat mulai dari dini hari hingga subuh menjelang dari langit timur. "Kebetulan posisinya memungkinkan cahaya yang kuat. Posisinya hampir dekat dengan Matahari," papar Thomas.

Selain Jupiter, planet lain yang juga cukup terang pada bulan ini adalah Mars. Planet yang sering disebut kembaran Bumi ini bisa dilihat mulai pukul 22.00 WIB hingga subuh.

"Tergolong paling terang, ciri warnanya merah," ujar dia.

Saturnus juga tak mau kalah. Planet bercincin ini kondisinya cukup terang pada bulan ini. Meski begitu, Saturnus harus dilihat menggunakan bantuan teleskop agar cincinnya nampak. Jika tidak menggunakan teleskop, Saturnus hanya terlihat seperti titik cahaya bintang saja.

Sementara Planet Uranus tergolong redup penampakannya. Namun dia tetap bisa dilihat sepanjang malam meski harus menggunakan teleskop. 


Flag Country

free counters