Ilmuwan Temukan Senyawa Misterius Perusak Ozon



Ilmuwan Temukan Senyawa Misterius Perusak Ozon

14 Januari 2013 TEMPO.CO, York - Ilmuwan dari dua universitas di Inggris menemukan molekul misterius perusak ozon di daerah yang jauh dari perkotaan.

Bahwa lapisan ozon bisa berlubang karena polusi udara, peneliti atmosfer sudah tahu. Molekul seperti chlorofluorocarbon (CFC) yang terdapat pada freon bisa merusak ikatan tiga atom oksigen. Terlepasnya zat pendingin ini ke udara dari rumah dan pabrik terbukti melubangi ozon di atas kawasan yang dihuni manusia.

Namun, yang membingungkan para peneliti, di beberapa daerah yang jauh dari kota, juga ditemukan adanya lapisan ozon yang bolong. Salah satunya pada lapisan atmosfer bawah di atas Samudra Atlantis bagian khatulistiwa.

Misteri inilah yang coba dijelaskan oleh Lucy Carpenter, peneliti dari Departement of Chemistry, University of York, bersama rekan-rekannya dari University of Leeds. Simulasi yang mereka lakukan menunjukkan bahwa yang "bertanggung jawab" atas perusahan lapisan ozon tersebut adalah iodin. "Hasil pemodelan menunjukkan ozon dirusak iodida di dekat permukaan laut," ujar dia.

Melalui penelitian yang diterbitkan pada jurnal Nautre Geoscience itu diketahui bahwa kerusakan yang ditimbulkan iodin 50 persen lebih besar ketimbang prediksi model iklim. Selain iodin, mereka juga menemukan senyawa bromin yang turut merusak ozon.

Iodin seperti metil iodida (CH3I) diketahui melimpah di samudra. Senyawa ini dihasilkan sumber organik seperti tumbuhan mikroskopik laut alias fitoplankton.

Iodin oksida merupakan produk hasil perusakan ozon oleh iodin. Di laboratorium, peneliti menemukan 75 persen iodin oksida di lautan yang dihasilkan setelah proses perusakan ini.

Permasalahannya, perusakan ozon sejalan dengan penciptaan lebih banyak senyawa perusak lainnya. "Seperti mekanisme menghancurkan diri sendiri," kata Carpenter.

John Plane dari School of Chemistry, University of Leeds, mengatakan, mekanisme perusakan atmosfer di atas samudra terjadi lebih cepat di daerah panas. Semakin panas suhu permukaan air laut, semakin banyak iodida tercipta. Akibatnya, lebih banyak lubang ozon di atas samudra tropis terpencil.

India Datang ke Australia Sejak 4.000 Tahun Lalu


India Datang ke Australia Sejak 4.000 Tahun Lalu


15 Januari 2013 TEMPO.CO, Canberra - Ribuan tahun sebelum era kolonialisme, bangsa India sudah menginjakkan kaki di Benua Australia. Penelitian membuktikan, manusia dari subbenua India bermigrasi ke Australia dan berbaur dengan suku Aborigin sejak 4.000 tahun lalu.

Selama ini kebanyakan ilmuwan percaya nenek moyang Aborigin modern hidup terisolasi dari populasi lain sampai bangsa Eropa muncul pada akhir abad ke-18.

Namun, analisis genetika yang dilakukan tim peneliti dari Max Planck Institute for Evolutionary Anthropology di Leipzig, Jerman, menemukan fakta berbeda. Dalam penelitian genetika atas 300 orang Aborigin, India, Papua Nugini, dan beberapa negara Asia Tenggara lainnya, mereka menemukan "aliran gen yang signifikan" dari India ke Australia 141 generasi lalu, atau sekitar 4.230 tahun lalu.

Penelitian yang dipimpin Irina Pugach ini menyatakan, kedatangan mereka dimulai pada zaman Holocene, bertepatan dengan banyaknya perubahan dalam catatan arkeologi Australia. "Terdapat perubahan dengan cepat dalam teknologi peralatan dari batu dan fosil dingo muncul untuk pertama kalinya," kata Pugach. "Ada kemungkinan perubahan itu terkait dengan migrasi ini."

Para peneliti menyatakan keturunan India mungkin tak datang langsung, melainkan populasi mereka yang sudah lebih dulu ada di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia.

Studi juga menemukan asal mula yang sama antara Aborigin Australia, pupulasi Papua Nugini, dan Mamanwa, kelompok Negrito dari Filipina. Para peneliti memperkirakan kelompok ini memisahkan diri satu sama lain sekitar 36 ribu tahun yang lalu.

Temuan ini diterbitkan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences.

Spesies Baru Katak Terbang Ditemukan di Vietnam


Spesies Baru Katak Terbang Ditemukan di Vietnam


15 Januari 2013- TEMPO.CO, Ho Chi Minh - Ahli biologi Australia menemukan spesies katak baru yang bisa terbang di Vietnam. Katak ini termasuk besar ukurannya, dengan panjang tubuh sekitar 10 cm.

Dr Jodi Rowely, seorang ahli biologi dari Australian Museum yang memimpin penelitian spesies baru itu, tertegun dengan apa yang dijumpainya. Ia menemukannya sekitar 100 kilometer dari Ho Chi Minh City, salah satu ibu kota terbesar di Asia Tenggara dengan populasi lebih dari 9 juta orang.

"Untuk menemukan spesies katak yang sebelumnya tidak diketahui, saya biasanya harus naik pegunungan terjal, ada air terjun besar, dan menempuh perjalanan melalui vegetasi hutan hujan lebat dan berduri," kata Rowely.

Namun di Vietnam, ia mendapatkannya dengan mudah. "Spesies katak baru ini ada di mana saja; di sebuah pohon tumbang di hutan dataran rendah, di tengah sawah," kata Rowely.

Katak berwarna hijau terang dengan perut putih itu kini dinamai katak pohon Helen (Rhacophorus helenae), merujuk pada nama gadis ibu Jodi. Penemuan ini diterbitkan bulan lalu dalam The Journal of Herpetology.

Rowely mengatakan katak besar itu menjaga dirinya dengan berlindung di atas pohon-pohon besar. Binatang ini memiliki tangan dan kaki berselaput mirip parasut, yang membuatnya mudah meluncur dari satu pohon ke pohon lainnya.

Sampai saat ini, spesies ini hanya ditemukan di dua hutan dataran rendah dekat Ho Chi Minh. Hutan dataran rendah adalah salah satu habitat yang paling terancam di dunia. Pada 2011, badak Jawa dinyatakan punah di Vietnam.

Flag Country

free counters