Ciri-Ciri Pembelajaran Aktif di Kelas

Pembelajaran aktif atau active learning adalah segala bentuk pembelajaran yang memungkinkan siswa berperan secara aktif dalam proses pembelajaran. Saat ini pembelajaran aktif telah diyakini oleh sebagian besar para teoritisi, praktisi dan pemegang kebijakan di hampir seluruh belahan muka bumi ini sebagai sebuah konsep pembelajaran yang memberikan harapan bagi tercapainya mutu pembelajaran. Berpegang pada gagasan yang disampaikan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Kemendiknas (2010). Berikut ini disajikan sejumlah ciri-ciri atau indikator terjadinya pembelajaran aktif pada setting kelas.

  1. Kegiatan belajar suatu kompetensi dikaitkan dengan kompetensi lain pada suatu mata pelajaran atau mata pelajaran lain.
  2. Kegiatan belajar menarik minat peserta didik.
  3. Kegiatan belajar terasa menggairahkan peserta didik.
  4. Semua peserta didik terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar.
  5. Mendorong peserta didik berpikir secara aktif dan kreatif.
  6. Saling menghargai pendapat dan hasil kerja (karya) teman.
  7. Mendorong rasa ingin tahu peserta didik untuk bertanya.
  8. Mendorong peserta didik melakukan eksplorasi (penjelajahan).
  9. Mendorong peserta didik mengekspresi gagasan dan perasaan secara lisan, tertulis, dalam bentuk gambar, produk 3 dimensi, gerak, tarian, dan / atau permainan.
  10. Mendorong peserta didik agar tidak takut berbuat kesalahan.
  11. Menciptakan suasana senang dalam melakukan kegiatan belajar.
  12. Mendorong peserta didik melakukan variasi kegiatan individual (mandiri), pasangan, kelompok, dan/atau seluruh kelas.
  13. Mendorong peserta didik bekerja sama guna mengembangkan keterampilan sosial.
  14. Kegiatan belajar banyak melibatkan berbagai indera.
  15. Menggunakan alat, bahan, atau sarana bila dituntut oleh kegiatan belajar.
  16. Melibatkan kegiatan melakukan, seperti melakukan observasi, percobaan, penyelidikan, permainan peran, permainan (game).
  17. Mendorong peserta didik melalui penghargaan, pujian, pemberian semangat.
  18. Hasil kerja (karya) peserta didik dipajangkan.
  19. Menerapkan teknik bertanya guna mendorong peserta didik berpikir dan melakukan kegiatan.
  20. Mendorong peserta didik mencari informasi, data, dan mencari jawaban atas pertanyaan.
  21. Mendorong peserta didik menemukan sendiri.
  22. Peserta didik pada umumnya berani bertanya secara kritis.

Untuk dapat memenuhi seluruh ciri (indikator) di atas tentu bukan hal yang mudah, khususnya bagi kawan-kawan yang sudah tertiasa dengan pola pembelajaran pasif. Oleh karena itu, mari kita mencoba memenuhi dan mempraktikannya di kelas, mulai dari hal yang paling mungkin untuk dilaksanakan.

Perbedaan Pendekatan, Metode, Teknik, Model, dan Strategi Pembelajaran

1.        PENDEKATAN 
Pendekatan dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran. Pendekatan yang berpusat pada guru menurunkan strategi pembelajaran langsung (direct instruction), pembelajaran deduktif atau pembelajaran ekspositori. Sedangkan, pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa menurunkan strategi pembelajaran discovery dan inkuiri serta strategi pembelajaran induktif  (Sanjaya,  2008:127).

2.        METODE
Metode merupakan jabaran dari pendekatan. Satu pendekatan dapat dijabarkan ke dalam berbagai metode. Metode  adalah prosedur pembelajaran yang difokuskan ke pencapaian tujuan. Teknik dan taktik mengajar merupakan penjabaran dari metode pembelajaran.

3.        TEKNIK
Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode. Misalnya, cara yang bagaimana yang harus dilakukan agar metode ceramah yang dilakukan berjalan efektif dan efisien? Dengan demikian sebelum seorang melakukan proses ceramah sebaiknya memperhatikan kondisi dan situasi.

4.        MODEL
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru di kelas. Dalam model pembelajaran terdapat strategi pencapaian kompetensi siswa dengan pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.Nah, berikut ini ulasan singkat tentang perbedaan istilah tersebut.

5.        STRATEGI
Strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai perencanaan yang berisi tentang rangkaian kegiatan yang didisain untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu (J.R. David dalam  Sanjaya, 2008:126).  Selanjutnya dijelaskan strategi pembelajaran adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien (Kemp dalam Sanjaya, 2008:126).  Istilah strategi sering digunakan dalam banyak konteks dengan makna yang selalu sama. Dalam konteks pengajaran strategi bisa diartikan sebagai suatu pola umum tindakan guru-peserta didik dalam manifestasi aktivitas pengajaran (Ahmad Rohani, 2004 : 32). Sementara itu, Joyce dan Weil lebih senang memakai istilah model-model mengajar daripada menggunakan strategi pengajaran (Joyce dan Weil  dalam Rohani, 2004:33.

Nana Sudjana menjelaskan bahwa strategi mengajar (pengajaran) adalah “taktik” yang digunakan guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar (pengajaran) agar dapat mempengaruhi para siswa (peserta didik) mencapai tujuan pengajaran secara lebih efektif dan efisien (Nana Sudjana dalam Rohani, 2004:34). Jadi menurut Nana Sudjana, strategi mengajar/pengajaran ada pada pelaksanaan, sebagai tindakan nyata atau perbuatan guru itu sendiri pada saat mengajar berdasarkan pada rambu-rambu dalam satuan pelajaran.  Berdasarkan pendapat di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung. Dengan kata lain, strategi pembelajaran mempunyai arti yang lebih luas daripada metode dan teknik. Artinya, metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran.  Dari metode, teknik pembelajaran diturunkan secara aplikatif, nyata, dan praktis di kelas saat pembelajaran berlangsung.


Sumber::  http://jaririndu.blogspot.com/2012/09/pengertian-pendekatan-metode-teknik.html

Tahap Proses Mengajar


1.          Tahap Prainstruksional, yaitu persiapan sebelum mengajar dimulai. Langkah ini dilakukan oleh guru saat mulai memasuki kelas dan hendak mengajar. Pada tahap ini guru dianjurkan untuk memeriksa kehadiran siswa, kondisi kelas, dan kondisi peralatan yang tersedia dengan alokasi waktu yang singkat. Setelah itu, guru perlu melakukan ”pemanasan” dengan menanyakan perihal materi yang disajikan sebelumnya, serta materi yang akan diajarkan (pre-test). Kemudian guru melakukan kegiatan apersepsi dengan mengungkapkan kembali secara sekilas materi yang diajarkan sebelumnya lalu menghubungkannya dengan materi palajaran yang akan segera diajarkan. Kegiatan ini penting, karena kediatan belajar dan memahami materi pelajarn itu kebanyakan bergantung pada pengenalan siswa terhadap hubungan antar pengetahuan yang telah ia miliki dengan pengetahuan yang akan diajarkan.

2.          Tahap Intruksional, yaitu saat-saat mengajar. Tahap ini merupakan tahap inti dalam proses pengajaran. Pada tahap ini, guru menyajikan materi pelajaran (pokok bahasan) yang disususn lengkap dengan persiapan model, metode, dan strategi mengajar yang dianggap cocok. Seperti jika guru menggunakan metode ceramah atau metode ceramah plus, maka pada tahap pelaksanaan pengajaran ini, guru sangat dianjurkan menjelaskan pokok-pokok materi dan tujuannya. Sebelum menguraikan pokok-pokok materi tersebut lebih lanjut, setiap uraian seyogyanya dilengkapi dengan cotoh dan peragaan seperlunya. Terakhir guru hendaknya membuat kesimpulan mengenai uraian yang yang telah disampaikan. Jika memungkinkan, penulisan kesimpulan ada baiknya dilakukan oleh para siswa.

3.          Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut, yaitu penilaian atau hasil belajar siswa setelah mengikuti pengajaran dan penindaklanjutannya. Tahap terakhir proses mengajar terdiri atas kegiatan evaluasi dan tindak lanjut (follow up). Pada tahap ini guru melakukan penilaian keberhasilan belajar siswa yang berlangsung pada tahap instruksional. Caranya ialah dengan mengadakan post test (alat pengukuran prestasi belajar siswa) sesudah menyajikan materi pelajaran. Kadar hasil pembelajaran (proses mempelajari sesuatu) siswa dapat digunakan sebagai pedoman penindak- lanjutan, baik yang bersifat pengayaan maupun perbaikan.

Ketiga tahapan yang telah dibhas di atas merupakan satu rangkaian kegiatan terpadu, tidak terpisahkan satu sama lain. Guru dituntut untuk mampu dan dapat mengatur waktu dan kegiatan secara fleksibel. Sehingga ketiga rangkaian tersebut diterima oleh siswa secara utuh.

Akhirnya, sebelum meninggalkan kelas, guru dianjurkan untuk memberitahukan pokok bahasan yang akan diajarkan kepada siswa pada pertemuan berikutnya. Langkah ini yang sangat sering dilupakan para guru itu cukup penting artinya bagi para siswa dalam mempersiapkan diri dalam menghadapi materi baru dengan cara membaca sumber yang ada di rumah atau di perpustakaan

Strategi Mengajar SPELT

Strategi ini berdasarkan strategi kognitif yang relatif masih aktual. Strategi ini bernama strategy program for effective learning/ teaching disingkat SPELT. Strategi ini sengaja direkayasa untuk memperbaiki dan meningkatkan efektivitas belajar dan berfikir siswa, terutama yang menduduki kelas akhir sekolah dasar dan kelas-kelas sekolah menengah. Secara eksplisit tujuan strategi ini ialah membuat siswa menjadi:

a.       Penuntut ilmu yang aktif sebagai pemikir dan pemecah masalah
b.      Penuntut ilmu yang mandiri, memiliki rencana dan strategi sendiri yang efisien dalam mendekati belajar
c.       Penuntut ilmu yang lebih sadar dan lebih mampu dalam mengendalikan proses berpikirnya sendiri (metacognitive awareness).

Dalam melaksanakan strategi SPELT, guru perlu mengikuti tiga macam langkah panjang dan terpisah dalah arti mengambil waktu yang berbeda tetapi berurutan.
1.      Direct strategy instruction (pengajaran dengan strategi langsung)
2.      Teaching for transfer ( mengajar untuk mentransfer strategi)
3.      Generating elaborative strategies (pembangkitan strategi belajar siswa yang luas dan rinci)

Langkah-langkah ini dapat diberlakukan untuk semua program pengajaran, khususnya program pengajaran yang pelaksanaannya menggunakan metode ceramah, ceramah campuran/ ceramah plus. 

Pembelajaran Direct Instruction (Pembelajaran Langsung/ Metode Exspositori)

Berbeda dengan metode ceramah, dalam metode ekspositori dominasi guru banyak dikurangi. Guru tidak terus bicara, tapi hanya memberi informasi kepada bagian atau saat-saat diperlukan. Namun pembelajaran ini berpusat pada guru, tetap tetap menjamin terjadinya keterlibatan siswa. Metode ini dirancang untuk menunjang proses belajar siswa yang berkenaan dengan pengetahuan prosedural, yaitu pengetahuan mengenai bagaiman orang melakukan sesuatu.

Fase-fase pada model pembelajaran langsung adalah:
1)      Menyampaikan tujuan dan mempersiapkan siswa
2)      Mendemonstrasikan pengetahuan dan ketrampilan
3)      Membimbing pelatihan
4)      Mengecek pemahaman dan memeberikan umpan balik
5)      Memberikan latihan dan penerapan konsep.

Beberapa keuntungan dari strategi pembelajaran langsung:
1)      Dapat mengontrol isi dan urutan informasi yang diterima siswa, sehingga kita dapat mencapai fokus hasil yang dicapai siswa
2)      Dapat digunakan secara efektif di kelas besar maupun kecil
3)      Pembelajaran ini menekankan pada pendengaran dan observasi, keduanya dapat membantu siswa yang suka belajar dengan cara ini
4)      Guru dapat menguasai seluruh arah kelas. Dalam hal ini guru dapat menentukan arah dengan jalan menetapkan sendiri apa yang akan dibicarakan
5)      Oraganisasi kelas sederhana.

Beberapa keterbatasan dari strategi pembelajaran langsung:
a)      Agak berat bagi siswa untuk mengasimilasi informasi melalui mendengar, observasidan mencatat (note-taking), karena tidak semua siswa mempunyai ketrampilan ini
b)      Sangat susah melayani perbedaan individu antara siswa, pengetahuan awal, tingkat pemahaman, gaya belajar, atau minat belajar selama pembelajaran
c)      Pembelajaran ini sangat tergantung dari gaya berkomunikasi oleh guru. Komunikasi yang kaku cenderung menghasilkan pembelajaran pembelajaran pasif
d)     Murid kurang aktif dan lebih banyak mengharapkan bantuan guru
e)      Murid kurang diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berpikir.

Aspek kunci agar pembelajaan ini efektif:
1)      Katakanlah pada siswa bahwa belajarlah apa yang mampu dipelajari
2)      Sajikan materi pelajaran secara urutan logis
3)      Berikan contoh yang tepat saat menjelaskan
4)      Jelaskan kembali segala sesuatu jika siswa mendapatkan kebingungan
5)      Jelaskan arti dari istilah-istilah baru
6)      Jawablah pertanyaan siswa sampai mereka puas

Biasanya strategi ini dipakai di sekolah menengah atas atau perguruan tinggi.

Diskusi dalam Strategi Pembelajaran

Adalah suatu proses tatap muka interaktif dimana siswa menukar ide tentang persoalan dalam rangka pemecahan masalah, menjawab suatu pertanyaan, meningkatkan pengetahuan dan pemahaman, atau membuat keputusan. Dalam diskusi siswa dituntut untuk selalu aktif  berpartisipasi siswa dilatih berpikir kritis, siap mengemukakan pendapat secara tepat, berpikir secara objektif, dan menghargai pendapat orang lain.

Beberapa keuntungan dari penggunaan Diskusi:
a)      Memaksa anak untuk berbicara dengan bahasa yang baik, belajar mengemukakan pendapat dengan tepat dalam waktu relatif singkat, dan belajar menanggapi pendapat orang lain secara benar
b)      Berlati memecahkan masalah
c)      Lebih efektif dalam mengubah sikap siswa dibanding dengan ceramah,  siswa menjadi aktif, lebih mengerti, kreatif, berfikir kritis dan objektif
d)     Diskusi membangun kemampuan siswa untuk menganalisiskan isi pelajaran, mengungkapkan ide secara lisan, dan berfikir ke depan (Fergusson, 1977)
e)      Dapat menghasilkan aktivitas belajar yang lebih dinamis, dibanding strategi lain. Ini terjadi karena mereka mampu mengkonstruk atau mengkonstruk kembali pengetahuan dengan cara mereka sendiri
f)       Dapat membangkitkan ide baru atau menghasilkan pnyelesaian yang asli.

Beberapa keterbatasan diskusi:
1)      Diskusi tidak mungkin produktif kalau siswa tidak mempersiapaka diri dengan baik, dan ini biasanya syarat untuk mulai diskusi
2)      Beberapa siswa mungkin enggan mengeluarkan ide atau pendapatnya. Mereka cenderung menurut
3)      Diskusi kelompok dapat memudahkan seseorang berkompetisi secara emosional dan ini akan menyulitkan pemimpin diskusi
4)      Beberapa siswa mungkin akan mengeluarkan pendapat yang tidak sesuai dengan alur diskusi, atau beberapa siswa mungkin terlalu banyak berbicara dan cenderung merendahkan orang lain.

Strategi ini sering digunakan di sekolah menengah pertama sampai perguruan tinggi.

Penggunaan Small-Group Work dalam Strategi Pembelajaran

Apa itu Group-Work (kerja kelompok)? Suatu waktu kamu pernah menyuruh siswa bekerja bersama-sama dalam suatu kelompok, dari pada kamu menjelaskan persoalan ini kepada seluruh kelas (klasikal). Hal ini dapat dikatakan bahwa kamu telah menggunakan group work (Killen, 1998).

Keberhasilan group work tergantung dari banyak faktor yang tentu dapat membantu diskusi kelas, misalnya:

1)      Fokus pembelajaran bagi siswa harus jelas
2)      Persiapan siswa harus memadai
3)      Bimbingan guru pada siswa harus jelas
4)      Arahan,tapi tidak intervensi oleh guru
5)      Monitoring dan feedback oleh guru
6)      Pengaturan waktu yang bagus dan kesimpulan yang logis

Kalau digunakan secara efektif, strategi ini banyak keuntungannya dibandingkan dengan pembelajaran langsung, diskusi dalam kelompok besar, (klasikal) dan bekerja secara individual, antara lain:

a)      Group work memperbolehkan merubah materi pelajaran sesuai latar belakang perbedaan antar group. Hal ini bertujuan untuk mengadaptasi kebutuhan siswa, minat, dan kemampuan tanpa memperhatikan perbedaan antar siswa
b)      Group work mendorong siswa untuk secara verbalisme mengungkapakan idenya, dan ini dapat membantu mereka memahami materi pelajaran
c)      Beberapa siswa akan sangat efektif ketika menjelaskan idenya pada yang lain, dalam bahasa yang mudah mereka mengerti. Ini dapat membantu pemahaman bagi anggota group untuk ketuntasan materi pelajaran
d)     Group work memberikan kesempatan kepada seluruh siswa untuk menyumbangkan ide dan menuntaskan materi dalam suasana lingkungan yang aman dan nyaman
e)      Group work melibatkan siswa secara aktif dalam belajar dan ini dapat meningkatkan prestasi mereka serta retensi (Peterson, 1981)
f)       Group work membantu siswa belajar menghormati siswa lain, baik yang pintar maupun yang lemah dan bekerja sama satu dengan lainnya.

Beberapa keterbatasannya:

1)      Siswa harus belajar bagaimana belajar dalam lingkungan
2)      Beberapa siswa mungkin pada awalnya mendapatkan kesulitan seperti yang dialami anggota group lainnya (mungkin karena mereka tidak populer atau berbeda antara satu anggota dengan anggota lainnya dalam group)
3)      Seandainya dimonitoring interaksi siswa dalam setiap group, beberapa siswa akan menghabiskan waktu diskusi dengan persoalan yang tidak relevan
4)      Beberapa siswa lebih suka belajar secara langsung dan tidak senang ketika guru menyuruh mereka untuk ”mengajar sesama mereka”
5)      Beberapa guru merasa tidak mudah mengontrol semua siswanya dalam group
Karena membutuhkan pemahaman yang lebih mendalam, strategi ini banyak digunakan di sekolah menengah atas dan perguruan tinggi.

Penggunaan Co-Operative Learning dalam Strategi Pembelajaran

Merupakan model pembelajaran yang mengutamakan kerja sama diantara siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pembelajaran kooperatif dapat menciptakan saling ketergantungan antar siswa, sehingga sumber belajar bagi siswa bukan hanya guru dan buku ajar tetapi juga sesama siswa.

Ciri-ciri pembelajaran kooperatif adalah:
1.  Siswa belajar dalam kelompok kecil, untuk mencapai ketuntasan belajar
2.  Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi, sedang, dan rendah
3.  Diupayakan agar dalam setiap kelompok siswa terdiri dari suku, ras, budaya, dan jenis kelamin yang berbeda
4.  Pengahargaan lebih diutamakan pada kerja kelompok dari pada individual.

Terdapat beberapa pendekatan dalam belajar Cooperative learning yaitu Student Team Achievement Divisions (STAD), Team-Games-Tournaments (TGT), JigsawGroup Investigation (GI), dan Dyadic.

 Beberapa keuntungan dari penggunaan Co-Operative Learning sebagai suatu Strategi Pembelajaran adalah:
1)      Co-Operative Learning mengajarkan siswa menjadi percaya pada guru dan lebih percaya pada guru dan lebih percaya lagi pada kemampuan sendiri untuk berpikir, mencari informasi dari sumber lain, dan belajar dari siswa lain
2)      Co-Operative Learning mendorong siswa untuk mengungkapkan idenya secara verbal dan membandingkan dengan ide temannya. Ini secara khusus bermakna ketika dalam proses pemecahan masalah
3)      Co-Operative Learning membantu siswa belajar menghormati siswa yang pintar dan siswa lemah serta menerima dan saling menghargai perbedaan ini
4)      Co-Operative Learning suatu strategi efektif  bagi siswa untuk mencapai hasil akademik dan sosial termasuk meningkatkan prestasi, percaya diri, dan hubungan interpesonal positif antara satu siswa dengan yang lain, meningkatkan ketrampilan manajemen waktu dan sikap positif terhadap sekolah
5)      Co-Operative Learning meningkatkan kemampuan berpikir kreatif.

Sedangkan beberapa keterbatasannya ialah:
a)      Beberapa siswa mungkin pada awalnya segan mengeluarkn ide, takut dinilai temannya dalam group
b)      Tidak semua siswa secara otomatis memahami dan menerima philosophy Co-Operative LearningGuru banyak tersita waktu untuk mensosialisasikan siswa belajar dengan cara ini
c)      Penggunaan Co-Operative Learning harus sangat rinci melaporkan setiap penampilan siswa dan tiap tugas siawa, dan banyak menghabiskan waktu menghitung hasil prestasi group
d)     Meskipun kerja sama sangat penting untuk ketuntasan belajar siswa, banyakl aktivitas kehidupan didasarkan pada usaha individual. Namun siswa harus belajar menjadi percaya diri. Itu susah untuk dicapai karena memiliki latar belakang berbeda
e)      Sulit membentuk kelomok yang solid yang dapat bekerja sama dengan secara harmonis
f)       Penilaian terhadap murid sebagai individu menjadi sulit karena tersembunyi dibelakang kelompok.

Strategi ini bisa digunakan dalam mengajar siswa pada tingkatan manapun, tergantung jenis strategi yang digunakan. Baik dari tingkat dasar maupun tingkat atas.

Penggunaan Problem Solving sebagai suatu Strategi Pembelajaran


Menurut Gagne (1996) problem solving atau pemecahan masalah adalah tipe belajar yang tingkahnya paling tinggi dan kompleks dibandingkan dengan tipe belajar lainnya. Ciri-ciri pokok problem solving adalah:

a)      Siswa bekerja secara individual atau dalam kelompok kecil
b)      Tugas yang diselesaikan adalah persoalan realistik untuk dipecahkan, namun lebih disukai soal yang memiliki banyak kemungkinan jawaban
c)      Siswa menggunakan beberapa pendekatan belajar
d)     Hasil pemecahan masalah didiskusikan antara semua siswa.
Strategi ini banyak dipraktekkan pada siswa sains, terutama untuk pelajaran matematika.

Penggunaan Strategi Think-Talk-Write sebagai suatu Strategi Pembelajaran

Suatu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat menumbuh kembangkan kemampuan pemahaman dan komunikasi matematik siswa adalah strategi think-talk-write (TTW). Strategi yang diperkenalkan oleh Huinker & Laughlin (1996:82) ini pada dasarnya dibangun melalui berfikir, berbicara, dan menulis. 

Alur kemajuan strategi TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau bedialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis.

Langkah-langkah pembelajaran dengan strategi TTW:

1.  Guru membagi teks bacaan berupa lembaran aktivitas siswa yang memuat situasi masalah bersifat open-ended dan petunjuk serta prosedur pelaksanaannya
2.  Siswa membaca teks dan membuat catatan dari hasil bacaan secara individual, untuk dibawa ke forum diskusi (think)
3.   Siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman untuk membahas isi catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar
4.   Siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan sebagai hasil kolaborasi (write).
Strategi ini dapat digunakan untuk melatih suswa dari sekolah menengah pertama sampaai ke jenjang yang lebih tinggi.

Strategi Pembelajaran Berbasis Konstruktivis

Strategi pembelajaran berbasis konstruktivisme menurut Peaget, dapat dikatakan berkenaan dengan bagaiman anak memperoleh pengetahuan dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Pola intelektual untuk berinteraksi dengan lingkungannya adalah melalui asimilasi.

 Bila seorang siswa tidak memiliki pengetahuan memadai untuk menanggapi suatu situasi yang datang dari lingkungannya, maka ia harus mengubah pola intelektualnya, sehingga melakukan akomodasi terhadap lingkungannya. Manakala siswa sudah mampu menyatukan atau mengintegrasikan antara pengetahuan yang ada pada dirinya atau pengalamannya dengan pengetahuan yang timbul dari lingkungannya (keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi), dikatakan siswa telah mengadakan adaptasi.

Selain Piaget, konstruktivis yang lain yaitu Vygotsky berpendapat bahwa, perkembangan intelektual anak dipengaruhi oleh faktor sosial. Lingkungan sosial dan pembelajaran secara natural mempengaruhi perkembangan anak dalam meningkatkan kekomplekan dan kesitematikan kognitif (Ginsburg at al. 1998: 409). Strategi ini banyak digunakan untuk bermacam-macam mata pelajaran, terutama matematika. Dan bagus dipakai untuk siswa menengah atas.

Macam-Macam Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah suatu rangkaian kegiatan yang telah dirancang guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien yang dilakukan oleh guru dan siswa. Macam-macam strategi pembelajaran meliputi :

  1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE),
  2. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI),
  3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM) ,
  4. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK),
  5. Strategi Pembelajaran Kontekstual (CTL),
  6. Srategi Pembelajaran Afektif,
  7. Strategi Pembelajaran Kreatif Produk, S
  8. trategi Pembelajaran Inkuiriktif ,
  9. Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek,
  10. Strategi Pembelajaran Kuantum,
  11. Strategi Pembelajaran Siklus,
  12. Srategi Pembelajaran Berbasis Komputer dan Berbasis Elektronik (E-Learning),
  13. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berfikir (SPPKB).

METODE POKOK MENGAJAR

Metode secara harfiah artinya “ cara “ .Metode mengajar adalah cara yang berisi prosedur baku untuk melaksanakan kegiatan pendidikan.Metode mengajar berbeda dengan strategi mengajar (teaching strategy).Metode belajar tidak berhubungan langsung dengan hasil belajar yang diehendaki. Metode merupakan konsep yang  lebih luas cakupannya dibanding dengan strategi.Strategi mengajar itu terangkum dalam metode mengajar. Contoh : Metode ceramah yang digunakan guru , strategi untuk mendapatkan perhatian murid-muridnya ia dapat menyampaikan dengan lucu atau sedih.
Ragam Metode Mengajar

Ada 4 metode yang dipandang representative dan dominan dalam arti digunakan secara luas sejak dahulu hingga sekarang pada jenjang pendidikan formal.

1.      Metode ceramah
Metode ceramah adalah cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan penuturan atau penjelasan secara langsung terhadap peserta didik.Sampai saat ini metode ini masih dipergunakan. Hal ini dapat dimaklumi karena metode ini paling mudah dilakukan dan sevara ekonomis menguntungkan. Banyak guru yang belum merasa puas jika belum memberikan penjelasan secara langsung kepada murid-murid.Begitupun para siswa ,merasa belum belajar dan memahami materi jika tidak mendengarkan penjelasan guru secara langsung.
Kelebihan:
·         Murah dan mudah.
·         Materi yang banyak dapat dijelaskan guru dalam waktu singkat.
·         Guru dapat dengan mudah mengusai kelas
·         Guru dapat menjelasakan dengan menonjolkan bagian-bagian yang penting.
Kelemahan :
·         Membuat siswa pasif
·         Mengandung unsur paksaan kepada siswa
·         Menghambat daya kritis siswa
Usaha mengefektifkan metode ini
·         Guru menguasai materi dengan baik
·         Menggunakan berbagai alat peraga
·         Mengkombinasikan dengan metode metode lain
·         Menguasai tekhnik-tenik didaktif dalam  penceramahan.

2.      Metode diskusi
Metode diskusi yaitu cara penyajian pelajaran di mana siswa-siswa dihadapkan kepada suatu masalah yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat problematic untuk dibahas dan dipecahkan bersama, 

Kelebihan :
·         Merangsang kreativitas siswa
·         Membiasakan siswa bertukar pikiran dengan yang lain
·         Keterampilam menajikan pendapat , memertahankan pendapat ,menghargai dan menerima pendapat orang  lain serta bersikap demokratis
·         Cakrawala berpikir menjadi lebih luas
Kelemahan
·         Memerlukan waktu yang lama
·         Diskusi hanya dipegang 2-3 oarang yang telah terbiasa dan terampil mengemukakan pendapat
·         Pembahasan dapat meluas dan mengambang sehingga  sasaran pemecahan masalah pokok tidak tercapai
·         Dapat memicu konflik akibat perbedaan pendapat yang emosional
Upaya mengefektifkan diskusi
·         Masalah yang dikemukakan harus controversial
·         Guru menempatkan didrinya sebagai pemimpin diskusi
·         Guru memperhatikan jalannya diskusi

Jenis-jenis diskusi

a.           Diskusi Formal            : Memakai aturan-aturan yang resmi dalam berdiskusi.Ada notulen. Moderator, dan penyaji. Biasanya melibatkan seluruh kelas.
b.          Diskusi Informal         : Diskusi tidak resmi.Tanpa aturan-aturan yang baku. Biasanya hanya berupa kelompok kecil.
c.           Diskusi Panel              : Diskusi yang terdiri dari peserta aktif dan peserta pasif. Peserta aktif langsung melibatkan diri dalam diskusi.Peserta pasif tidak.
d.          Diskusi Simposium     : Sama dengan iskusi lain,hanya saja dalam diskusi ini masalah dapat disajikan oleh seorang penyaji atau lebih.

3.          Metode Demonstrasi
Metode demonstrasi adalah cara penyajian pelajaran dengan meragakan atau mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi atau benda tertentu yang sedang dipelajari baik sebenarnya ataupun tiruan yang sering disertai dengan penjelasan lisan.
Kelebihan :
·         Pengajaran menjadi lebih jelas dan lebih konkret
·         Siswa lebih mudah memahami apa yang diajarkan
·         Proses pengajaran lebih menarik
·         Siswa dirangsang untuk aktif
·         Menjadikan hasil belajar yang lebih mantap dan permanen
Kelemahan:
·         Memerlukan keterampilan guru secara khusus
·         Fasilitas dan biaya yang mahal
·         Memerlukan waktu yang panjang.
Upaya mengefektifkan metode demonstrasi
·         Kerjasama pihak sekolah dengan kalangan bisnis dan industry  untuk mendapatkan sumbangan peralatan
·         Pelatihan guru dalam meningkatkan keterampilannya

4.      Metode ceramah plus
Metode ceramah masih dianggap metode yang relevan dengan pembelajaran sampai sekarang. Hanya saja harus dikombinasikan dengan metode-metode lain  agar sesuai dan efektif dalam proses pembelajaran.
Tiga macam metode ceramah plus menurut Muhibbin Syah
a)      Metode ceramah plus Tanya jawab dan tugas
Implementasi dari metode ini yaitu :
·         Penyampaian uraian materi oleh guru
·         Pemberian peluang  Tanya jawab antara guru dan siswa
·         Pemberian tugas  kepada siswa
b)      Metode ceramah plus diskusi dan tugas
Implementasi metode ini yaitu :
·         Guru menguraikan materi pelajaran
·         Mengadakan diskusi
·         Memberikan tugas
c)      Metode ceramah plus demonstrasi dan latihan
Implementasi dari metode ini yaitu :
·         Penyampaian  materi oleh guru
·         Melakukan demonstrasi
·         Penyelenggaraan latihan   materi yang telah didemonstrasika
Pada dasaranya metode pokok  yang digunakan dalam mengajar adalah sama. Hanya saja metodologi yang kita gunakan harus berbeda , dalam menghadapai objek ( siswa ) yang berbeda  maupum materi pelajaran yang berbeda. Metodologi Mengajar siswa SD tidak sama dengan siswa SMP, mengajar  akidah akhlak berbeda dengan mengajar geografi.

Metode mengajar  Anak-anak
1. Ceramah  
Ceramah pada anak –anak yang notabenenya masih suka bermain dan tidakmemperhatikan  guru harus dilakukan menarik. Misalnya anak-anak duduk melingkar dan guru ada di tengah lingkaran. Penyamapian harus menarik agar perhatian anak dapat terpusat ke guru
2. Diskusi
Diskusi anak-anak tentu berbeda dengan para mahasiswa. Metodologi yang dapat digunakan misalnya anak disuruh bercerita tentang cita-citanaya di depan kelas, kemudian teman-teman boleh menanyakan kepada pencerita itu. Saya rasa inilah contoh diskusi pada anak=anak.Mereka mendiskusikan hal-hal yang konkret .
3. Demonstrasi
Metodolgi yang digunakan dalam netode ini misalnya.Dalam menunjukkan bangun bangun pada mata pelajaran matematika. Guru menunjukkan balok. Dan cara memasukkan balok–balok ke tempatnya. Lalu anak-anak menirukan apa yang dilakukan guru.

Flag Country

free counters